Dira'S Spy (Mata-mata Dira)

Dira'S Spy (Mata-mata Dira)
Bab 20 DSP


__ADS_3

...-DSP-...


Dengan tenang Dira memasuki ruangan tempat Bellen dan teman-temannya berada, saat memasuki ruangan itu penciumannya di sambut dengan bau asap rokok. Dira benar-benar tidak suka ini.


"Assalamualaikum," ucap Dira memberi salam, untungnya masih ada yang mau menjawab salam Dira.


Melihat kedatangan Dira Bellen tersenyum senang sambil menepuk tangannya, "Wah wah akhirnya anjing kita udah dateng," ucap Bellen.


Sambil menghisap sebatang rokok Bellen berjalan menghampiri Dira sembari mengulurkan tangan kanannya seperti meminta sesuatu.


"Mana barang yang gue minta?" Tanya Bellen.


Bukannya menjawab Dira malah menatap Bellen dengan tatapan dingin.


"Woi mana barang yang gue minta?" tanya Bellen sekali lagi.


"Gak ada, gue gak duit buat beli barang yang lo minta," jawab Dira, kalaupun ada uang dirinya juga tidak akan membeli barang yang di minta oleh Bellen itu. Bayangkan saja Bellen memintanya membeli dua puluh bungkus rokok, Dira benar-benar tidak habis pikir.


Bellen tersenyum remeh, "Gue gak perduli lo ada duit apa gak, yang gue mau baru yang gue minta harus ada di sini SEKARANG!" Ucap Bellen sedikit teriak.


"Kalau gak ada duit, lo bisa nyuri ngerampok atau minta sama nyokap lo. Kan nyokap lo jualan nasi kuning walaupun gak enak sih hahaha," ucap Bellen yang di sambut gelak tawa teman-temannya.


Mendengar ibunya di tertawa kan Dira mengepalkan tangannya geram, jika dirinya yang di rendahkan Dira tidak masalah tapi ini ibunya.


"Jaga mulut busuk lo itu supaya gak ngeluarin kata-kata sampah yang gak berguna, bisa bikin pencemaran udara ngerti lo," ucap Dira yang membuat Bellen mendengus kesal.


"Sekarang gue tanya kenapa lo ngelakuin itu ke Sheila, padahal kita udah sepakat kalau gue gantiin Sheila lo gak bakalan gangguin dia lagi?" tanya Dira.


Bellen tersenyum miring, "Lo tanya kenapa?"


Bellen mendekati Dira dan mencengkeram dagu Dira dengan kasar, "Tentu aja karena anjing gue gak nurut. bener gak guys?"


"Yoi betul sekali," seru mereka yang ada di ruangan tersebut.

__ADS_1


"Yang gue lakuin ke Sheila itu sebagai peringatan ke lo, karena udah berani ngelawan gue. Kalau lo berani ngelawan lagi, gue bakalan ngelakuin hal yang lebih parah dari sebelumnya ke Sheila," Jelas Bellen dan melepaskan cengkeraman tangannya di dagu Dira dengan kasar.


Dira hanya bisa diam sekarang ia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Jika salah bertindak bisa saja Bellen akan melakukan sesuatu lagi kepada Sheila atau bahkan menyebarkan video bugil Sheila. Bahkan sampai sekarangpun Dira masih belum menemukan cara untuk menghapus video itu dari handphone Bellen.


"Sekarang lo mau gue ngelakuin apa?" tanya Dira.


"Aduh muak banget gue ngeliatnya dari tadi, lo beneran bego atau pura-pura bego sih?" Tanya Kirana yang tiba-tiba berdiri dan menghampiri Dira.


"Lo masih gak paham? Nih biar gue contohin,"


Byurr


Kirana menuangkan segelas air kopi di tubuh Dira yang membuat Dira terkejut.


"Nah ini contohnya lo diem jangan ngelawan itu yang harus lo lakuin," jelas Kirana tertawa senang.


"Atau masih belum paham? Contohin Bell," ucap Kirana lagi.


Bellen melayangkan tangan kanannya dan menampar pipi Dira kuat yang membuat Dira meringis kesakitan.


Bellen menghisap rokoknya dan menghembuskan asapnya di wajah Dira. Sedangkan Dira hanya diam menatap Bellen datar.


Bellen menghela nafas panjang dan menyurai rambutnya kebelakang hal itu membuat tampak cantik, tapi sayang sifatnya tidak secantik parasnya.


"Sekarang lo pergi dari sini muak banget gue ngeliat muka lo bikin sakit mata. Dan ingat jangan bertingkah," ucap Bellen.


Tanpa basa-basi langsung saja Dira melangkah pergi namun di hentikan oleh Bellen.


"Tunggu dulu, siniin tangan lo," Bellen meletakkan rokok yang masih hidup di tangan Dira dan memaksa Dira menggenggamnya.


"Akh Astaghfirullah panas Bell," ucap Dira meringis.


"Jangan lo lepasin sampai lo keluar dari ruangan ini ngerti!" titah Bellen.

__ADS_1


Dira melangkah dengan menahan sakit di tangannya, telapak tangannya terasa perih. Dan saat sudah di keluar ruangan dengan cepat Dira melemparkan puntung rokok yang telah membakar tangannya.


"Astaghfirullah ya Allah perih," Dira meniup pelan telapak tangannya, rasanya saat ini Dira benar-benar ingin menagis bukan hanya karena tangannya yang terluka tapi karena hatinya juga terluka. Dira merasa benar-benar tidak berguna tidak ada hal yang bisa Dira lakukan dengan benar, itu yang Dira pikirkan saat ini.


Dira terus berjalan dengan raut wajah yang sedih menelusuri jalanan yang ramai, sekarang Dira benar-benar ingin menagis tapi Dira takut orang-orang akan memperhatikannya.


"Ya Allah bisa kah Engkau turunkan hujan aku ingin menagis tanpa terlihat dan teriak tanpa terdengar," lirih Dira mengucapkan kata-kata yang pernah viral di aplikasi toktok dan mengubahnya sedikit.


Tiba-tiba saja guntur bergemuruh langit menjadi mendung, Dira menengadahkan kepalanya ke atas butiran butiran kecil air hujan menyentuh wajahnya.


Sontak semua orang yang ada di jalanan dengan cepat melajukan kendaraannya agar cepat sampai ke rumah ataupun mencari tempat berteduh.


Sedangkan Dira malah tersenyum, "Terimakasih Ya Allah Engkau sang maha baik," ucap Dira senang namun beberapa saat kemudian air mata mulai mengalir di wajahnya.


Sekarang tidak ada yang bisa melihat air mata Dira, ia bisa menangis dengan tenang. Dira terus berjalan sambil menangis sampai ada seseorang yang berdiri tepat di depannya, Dira yang semula menunduk kini mengangkat wajahnya untuk melihat siapa orang yang berdiri di hadapannya ini.Dan orang itu adalah Riski kakak kelas Dira.


"Kak Riski?"


Riski mendekatkan dirinya ke arah Dira agar Dira juga bisa berteduh dengan payung yang ia pakai, tapi Dira malah menjauhkan dirinya dari Riski.


"Kenapa lo hujan-hujanan kayak gini? Nih payung gue ada dua," ucap Riski sembari menyodorkan payung berwarna hijau ke arah Dira.


"Eh gapapa kok pak gue emang suka hujan-hujanan," jelas Dira menolak.


"Ambil Dira, ini udah sore," ucap Riski yang membuat Dira terpaksa menerima payung yang di berikan Riski.


"Makasih kak,"ucap Dira.


"Sama-sama, ya udah kalau gitu gue pergi ya. Lo hati-hati pulangnya," ucap Riski.


"Iya kak," Dira hanya terdiam menatap kepergian Riski dan kemudian melihat payung di tangannya. Alhamdulillah ada orang baik yang meminjamkannya payung walaupun Dira masih ingin hujan-hujanan.


"Ya udah deh pakai aja, udah puas juga gue nangis."

__ADS_1


......-DSP-......


__ADS_2