Dira'S Spy (Mata-mata Dira)

Dira'S Spy (Mata-mata Dira)
Bab 24 DSP


__ADS_3

...-DSP-...


"Lo kenapa Dir? Cerita sama gue!" Tanya Siti khawatir melihat wajah Dira yang murung. Sekarang ia ada di rumah Dira lebih tepatnya kamar Dira, karena Dira yang memintanya.


"Jangan bilang ada yang menyakiti lo karena besok orang itu akan hilang," lanjut Siti dengan nada bicara Dilan. Yang pernah nonton film Dilan sini angkat tangan hehe.


"Gue lagi sedih Sit, lo jangan ngelawak dulu please!" Dira saat ini benar-benar galau ia menyandarkan kepalanya di bahu Siti lesu.


"Yakan gue berusaha untuk menghibur lo biar gak sedih,"ucap Siti sambil melirik Dira yang juga sedang menatapnya sedih.


"Ya udah sini peluk dulu, kalau kata orang-orang tuh pelukan gue bisa mengobati rasa sedih, galau dan sebagainya."lanjut Siti dan memeluk sahabatnya yang sedang bersedih hati itu.


Setelah beberapa saat berpelukan perasaan Dira sedikit tenang mungkin benar kata Siti pelukannya bisa mengobati rasa sedih.


Siti melepaskan pelukannya dan menatap Dira, "Sekarang lo bisa cerita, apa yang membuat sahabat gue ini sedih?" tanya Siti lembut.


Dira pun menceritakan semua yang terjadi padanya beberapa hari terakhir ini dan Siti berusaha menjadi pendengar yang baik untuk sahabatnya itu. Ada rasa kesal, sedih dan khawatir yang Siti rasakan, kenapa semua jahat kepada Dira. Padahal dia hanyalah gadis lugu yang ingin menjalani hidup dengan baik.


Siti mengangguk-anggukkan kepalanya, "Jadi sekarang rencana lo apa? Identitas lo sebagai mata-mata om Arzan udah ketahuan,"


Dira menghela nafasnya sedih, "Mungkin gue bakalan berhenti dari pekerjaan ini dan otomatis gue juga bakalan berhenti dari sekolah,"


"Sheila juga udah benci dengan gue," lanjut Dira menundukkan kepalanya sedih.


"Hah? Harus banget berhenti dari sekolah ya?"tanya Siti kaget.


"Ya mau gimana lagi, kan sekolah gue om Arzan yang bayarin. Kalau gue berhenti kerja tentu gue juga harus berhenti sekolah," ucap Dira.


"Tapi lo perlu sekolah Dir," ucap Siti khawatir.

__ADS_1


"Gue tahu, gue bakalan sekolah kok tenang aja. Tapi gak di sekolah yang sekarang," balas Dira tenang.


Siti mengernyit, "Gimana caranya?"


"Tabungan gue udah cukup buat daftar ke sekolah baru. Mungkin gue bakalan daftar sekolah di sekolah lo," jelas Dira yang membuat Siti tersenyum lebar.


"Serius? Lo bakalan sekolah di tempat gue sekolah? Lo gak bohong kan?" Tanya Siti beruntun, saking senangnya karena ia akan satu sekolah dengan Dira.


Dira merebahkan tubuhnya di kasur dan tersenyum ke arah Siti yang juga ikut rebahan di sampingnya, "Insya Allah,"


"Kalau tahu dari awal gue dukung lo berhenti sekolah haha,"


"Ada-ada aja lo Maimunah,"


"Awokawokawok,"


...🧕🧕🧕...


Pukul 17:30


Sheila baru keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga ia ingin mengambil air minum di dapur. Saat sampai di ruang tengah ia mendapati Ayahnya yang sedang duduk di sofa sambil menonton sinetron di saluran TV ular terbang. Tapi Sheila tidak memperdulikan Ayahnya dan meneruskan langkahnya.


"Sheila!" Panggil Arzan yang membuat Sheila menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah ayahnya.


"Kenapa?" tanya Sheila singkat.


"Kamu tahu dari mana kalau Dira itu suruhan papa?" tanya Arzan to the poin.


Sheila tersenyum tipis, "Mau papa pakai mata-mata termahal di dunia ini pun aku juga bakalan tahu pa, kalau papa ngomongin pekerjaan itu di rumah ini yang otomatis itu ada aku," jelas Sheila yang membuat Arzan membulatkan matanya lebar.

__ADS_1


"Apa? Bukannya waktu itu kamu lagi pergi ya?" tanya Arzan, yang benar saja bisa-bisanya dia melakukan kesalahan seperti ini padahal waktu itu dia sudah memastikan bahwa Sheila tidak ada di rumah. Arzan terlalu ceroboh seharusnya dia tidak melakukan hal rahasia itu di rumah. Ah dasar Arzan.


Sheila memutar bola matanya jengah, "Aku gak jadi pergi waktu itu,"


Arzan mengernyitkan keningnya, "Masa sih?"


"Cukup pa! Papa gak perlu mata-matain aku lagi, aku bisa ngejaga diri aku sendiri!" Ujar Sheila yang membuat raut wajah Arzan menjadi serius.


"Kamu di bully di sekolah. Itu yang kamu bilang bisa jaga diri sendiri? Papa ngelakuin semua ini demi kamu Sheil,"


Sheila tersenyum miring, "Sejak kapan papa perduli? Papa kan cuma cinta sama pekerjaan papa. Mungkin papa juga gak merasa kehilangan mama kan?"


"Cukup Sheila! Ucapan kamu udah benar-benar keterlaluan!" Bentak Arzan yang membuat Sheila tersentak kaget air mata sudah siap jatuh dari pelupuk matanya.


Arzan memijat kepalanya, sekarang kepalanya terasa pusing, "Maafin papa nak. Bukan cuma kamu yang merasa kehilangan Sheila, papa juga merasa sangat kehilangan. Saat mama kamu meninggal papa hampir seperti orang gila, rasanya papa tidak ada gunanya lagi hidup di dunia ini dan lebih baik mati supaya bisa nyusul mama kamu. Tapi saat papa berpikiran seperti itu tiba-tiba papa terbayang wajah kamu, ya papa hampir lupa bahwa masih ada orang yang membutuhkan papa dan papa juga membutuhkan dia," Arzan mulai menitikkan air matanya sedangkan Sheila masih berusaha menahan diri untuk tidak menangis.


"Cuma kamu satu-satunya alasan papa hidup sekarang Sheila, tujuan papa hanyalah untuk membahagiakan kamu dan agar mama kamu tenang di alam sana karena melihat putri kesayangannya hidup dengan baik. Tapi ternyata papa malah membuat hidup kamu makin sengsara selepas dari kepergian mama. Maafkan papa nak, belum bisa menjadi orang tua seperti yang kamu inginkan," ucap Arzan badan bergetar masih dengan air mata terus mengalir.


Hancur sudah pertahanan Sheila air mata sekarang sudah mengalir deras di pipinya. Selama ini ia selalu merasa dirinya lah yang paling tersakiti padahal masih ada hati lain yang juga merasa sakit. Selama ini Sheila sudah egois ia selalu menganggap ayahnya tidak perduli padanya, padahal ayahnya sudah berusaha menjadi sosok ayah yang baik tapi Sheila tidak pernah menganggapnya.


Mungkin ini saatnya Sheila untuk merubah cara berpikirnya dan menerima keadaan, selama ini Sheila masih terjerat oleh bayang-bayang masalu dan selalu sedih karena kepergian ibunya.


Sheila berjalan mendekati Arzan yang masih tertunduk menangis, Sheila duduk di samping Ayahnya dan mendekap erat ayahnya. Merasakan pelukan hangat seketika Arzan mengangkat kepalanya dan mendapati Sheila yang menatapnya lekat.


"Maafin Sheila pa. Sheila terlalu egois hanya memikirkan kesedihan yang Sheila rasakan, tapi malah lupa kalau papa juga sedih dan butuh Sheila hiks maafin Sheila ya pak," ucap Sheila tersedu-sedu.


Arzan menghapus air matanya dan juga Sheila, "Gak, kamu gak salah nak," ucap Arzan dan kemudian memeluk Sheila erat sudah lama rasanya ia tidak memeluk putrinya kesayangannya itu.


...-DSP-...

__ADS_1


__ADS_2