Dira'S Spy (Mata-mata Dira)

Dira'S Spy (Mata-mata Dira)
Bab 33 DSP


__ADS_3

...-DSP-...


"Diraa tungguin gue!" Fiola mengejar Dira dan Sheila yang sudah duluan berjalan keluar kelas.


"Lo mah maen ninggalin orang aja," ucap Fiola ketika berhenti di samping Dira.


"Hehe sorry. Gue lagi ngobrol serius tadi sama Sheila," ucap Dira melirik Sheila.


Fiola memandang Sheila kemudian membuang muka, "Oh," Fiola menarik tangan Dira, "Ya udah kuy pulang!"


Sheila hanya diam sambil mengikuti Dira dan Fiola berjalan, ia tahu Fiola pasti masih marah dengannya.


Sampai di gerbang sekolah Fiola melihat ibunya yang sudah menjemputnya, "Itu nyokap gue udah jemput, gue pulang dulu ya. Bye Dir assalamualaikum."


"Walaikumsalam hati-hati ya," balas Dira sambil melambaikan tangannya ke arah Fiola.


"Walaikumsalam," ucap Sheila, ia tetap membalas salam Fiola meskipun sedari tadi Fiola tidak memperdulikannya.


"Hhm Dir, kalau gitu gue pulang juga. Udah di jemput soalnya," ucap Sheila sambil menunjuk supirnya yang sudah menunggu.


Dira mengangguk, "Iya hati-hati ya Sheil. Kalau ada apa-apa hubungin gue," Dira memegang kedua tangan Sheila dan menatapnya lekat, "Pokoknya lo harus hati-hati dan jaga diri lo baik-baik."


Sheila mengernyitkan dahinya heran, kenapa Dira terlihat khawatir sekali dengannya. Dira tak seperti biasanya, sepertinya ada sesuatu yang terjadi dan ia tidak mengetahuinya.


"Kenapa Dir? Ada sesuatu?" tanya Sheila yang di balas gelengan pelan oleh Dira.


"Gak ada. Gapapa," Dira mendorong tubuh Sheila pelan agar cepat pulang, "Ya udah sono pulang."


"Ya udah gue pulang ya Assalamualaikum," ucap Sheila, ia berjalan dengan wajah yang masih bertanya-tanya.


"Walaikumsalam."


Beberapa saat kemudian Siti juga sampai di sekolah Dira, tentunya untuk mengajak Dira pulang bersama.


...🧕🧕🧕...


"Makasih ya Sit," kata Dira sembari melepaskan helm dari kepalanya dan memberikannya ke Siti.


"Yoi santai."


"Oh iya hampir lupa gue," ucap Siti.


Dira mengernyit, "Lupa apaan?"


"Tadi waktu di sekolah, gue nemuin kotak di dalam laci meja gue. Lo juga ada kan?"


"Bener dugaan gue lo juga dapet kotak itu. Iya gue juga dapet kotak itu bahkan Sheila juga ada," jelas Dira.

__ADS_1


"Jadi kita bertiga dapat kotak yang isinya ancaman itu. Kira-kira siapa ya yang ngasih kita begituan?"


Dira menggeleng lemah, "Gue juga gak tau. Tapi lo jangan kasih tau Sheila, kotak yang ada di laci mejanya udah gue ambil sebelum dia datang."


"Jadi lo gak mau ngasih tau Sheila tentang ini?" tanya Siti.


"Gak. Biar ini kita yang selesain. Gue rasa orang yang ngirim kotak itu adalah orang yang udah nyelakain Fay. Dia tau kita berusaha mengungkap kebenaran masalah Fay, jadi dia ngancem kita," ucap Dira.


Siti mengangguk-angguk paham, "Iya sih gue juga mikirnya gitu. Tapi dari mana dia tau tentang tujuan kita?"


"Gak jauh jauh sih nih orangnya pasti warga kampung SMA Cahaya. Dia tau tentang gue lagi, ini mah deket banget orangnya," lanjut Siti menerka-nerka.


Mereka berdua terdiam beberapa saat masih memikirkan siapa orang yang telah mengirimkan mereka kotak tersebut.


"Lo ada gak, orang yang lo pikirin?" tanya Siti.


Dira menyipitkan matanya, "Hhm gak ada."


Siti menghela nafas lemah dan menghidupkan mesin motornya, "Ya udah deh, gue pulang dulu aja. Nanti kita bahas lagi."


"Iya pulang deh sono. Perut lo udah bunyi-bunyi dari tadi gue denger."


"Gak peka sih lo, padahal dari tadi gue nunggu lo nawarin makan tapi gak di tawar-tawarin. Mau beli nasi goreng buatan ibu tapi warungnya tutup," ucap Siti sambil terkekeh pelan.


Dira memutar bola matanya, "Umi udah capek-capek masakin lo di rumah. Malah makan di luar mulu."


Siti menggoyang-goyangkan telunjuknya, "No no no, walaupun gue makan di luar tapi pulangnya gue tetep makan lagi. Masakan umi tetep number one."


"Wah ada suara gaib dari mana itu?" ucap Siti sembari memalingkan wajahnya ke sana kemari.


"Ini orangnya ini," ucap Dira menunjuk Nana yang sudah berdiri di sampingnya.


Siti menundukkan kepalanya untuk melihat bocah yang tingginya tak sampai pinggang Dira.


"Owalah Nana rupanya, kak Ti kira tuyul loh tadi Na," ujar Siti dengan nada sok kaget.



Nana hanya melirik Siti sinis dan beralih memandang Dira dengan senyuman yang imut.


"Kak La, pay ama na yuk (Kak Dira play sama nana yuk)!" ucap Nana sambil menarik-narik rok Dira.


"Lah gue di kacangin ama bocil o my god," ucap Siti sambil mengelus dadanya.


Dira sedikit membungkukkan tubuhnya dan mencubit pipi bocah itu gemas, "Nana mau main sama kak La?"


"Yes," ucap Nana mengangguk lucu.

__ADS_1


"Sudahlah aku pulang saja, tidak ada yang menghiraukanku di sini," ucap Siti penuh drama.


Dira ketawa ngakak, "Haha apaan dah lo, udah pulang sono terus makan nanti sakit perut lagi."


"Iya iya. Ya udah gue pulang dulu Assalamualaikum."


"Walaikumsalam. Hati-hati!"


Siti mengancingkan jempolnya, "Yoi. Dadah Nana jelek. Ngeeengggg."


Dira geleng-geleng prihatin melihat tingkah sahabatnya itu kemudian menatap Nana yang sudah menunggunya untuk bermain.


"Ya udah yuk Nana kita masuk!" ucap Dira menggandeng tangan kecil Nana.


"Otay."


...🧕🧕🧕...


Keesokan harinya, Gibran sedang berdiri di depan SMA Cahaya. Kepalanya celingukan ke sana kemari mencari seseorang orang. Dengan ponsel milik Fay berada di genggaman tangannya, ia terus berdiri di situ. Menunggu kehadiran gadis yang tempo hari telah menjenguk putrinya yaitu adalah Dira.


Namun sudah sepuluh menit Gibran menunggu ia tak kunjung melihat Dira. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk menitipkan ponsel itu dengan salah satu siswa yang lewat.


"Permisi nak, saya boleh minta tolong?" ucap Gibran pada seorang Murid.


"Boleh om, minta tolong apa?"


"Ini apa kamu kenal dengan murid yang bernama Dira?"


Murid itu tersenyum ramah, "Oh kenal om."


Gibran tersenyum senang, "Kalau begitu saya minta tolong sama kamu kasih hp ini ke Dira. Bisa kan?"


"Bisa om," ucap murid itu mengangguk.


"Makasih ya nak sudah mau membantu saya."


"Iya om sama-sama."


"Ya sudah saya pamit dulu," ucap Gibran kemudian beranjak pergi.


Murid itu mengangguk, "Iya om hati-hati."


Murid itu menatap kepergian Gibran lekat kemudian ia tersenyum miring.


"Apa? Kasih ke Dira? Maaf ya om, om nitip ke orang yang salah," ucap murid itu menyeringai.


Ia memasukkan ponsel itu kedalam tasnya kemudian menepuk tasnya pelan, "Haa gak perlu susah-susah gue, buat dapetin nih hp. Dateng sendiri ternyata."

__ADS_1


Kemudian ia berjalan memasuki SMA Cahaya sambil tersenyum senang, sepertinya hari ini keberuntungan berpihak padanya.


...-DSP-...


__ADS_2