
...-DSP-...
"Jadi gitu ceritanya. Dan malamnya gue dapet kabar kalau Fay udah ada di rumah sakit."
"Dari cerita yang lo bilang. Gue curiga kalau orang yang berkirim pesan dengan Fay itu ada sangkut pautnya dengan masalah ini."
"Nah gue setuju. Kek nya orang yang telponan dengan Fay itu juga orang yang sama yang ngirim pesan ke Fay," ucap Siti yang sudah membaringkan tubuhnya di lantai karena hampir tertidur mendengar cerita Sheila yang panjang.
"Gue juga mikirnya gitu sih. Tapi gimana kita bisa tahu siapa orang itu?" ucap Fay yang juga ikut membaringkan tubuhnya di sebelah Siti.
Dira memegang dagunya dan menyandarkan tubuhnya di samping kasur, "Hhm siapa ya orang itu."
Sheila melirik Dira, "Sebenarnya ada satu orang sih yang gue curigain udah dari lama."
"Siapa?" tanya Dira, ia mendekatkan dirinya ke Sheila.
"Kak Riski," jawab Sheila ragu.
Siti menoleh ke arah Sheila, "Riski teh saha?"
Setelah seperkian detik Siti langsung terduduk, "Oh Riski yang chatan dengan Fay waktu di kelas kan?"
Sheila mengangguk, "Iya."
"Kak Riski yang suka main basket itu?" tanya Dira memastikan.
"Iya. Lo kenal dia?"
"Kenal. Kemarin sempat ngobrol beberapa kali di sekolah."
"Tapi kita gak boleh suudzon dulu kan?" ucap Siti mengingatkan.
"Iya sih," ucap Sheila.
"Selain itu. Kalau kita benar-benar mau tau siapa orang yang ketemuan dengan Fay hari itu. Kita harus dapetin hp punya Fay," Sekarang Dira juga merebahkan tubuhnya di lantai.
"Seharusnya hp Fay ada dengan orang tuanya. Gimana kalau kita coba minta dengan mereka?" lanjut Dira.
Sheila menghela nafasnya lemah, "Gue gak bisa. Orang tua Fay udah terlanjur benci sama gue. Mereka berfikir kalau Fay itu celaka gara-gara gue."
"Gimana kalau gue sama Dira aja yang nemuin orang tua Fay untuk minta hp punya Fay."
Dira mengangguk setuju, "Nah iya nanti gue berdua minta hp punya Fay dengan orang tuanya dan lo coba untuk liat video yang ada di hp Bellen. Riski nanti juga kita selidikin."
__ADS_1
Sheila berpikir beberapa saat, "Oke."
...🧕🧕🧕...
Dira mengetuk-ngetuk jarinya di meja, ia sedang berpikir bagaimana caranya agar bisa menyelesaikan masalah Fay ini dengan cepat. Karena ia sebentar lagi akan keluar dari sekolah itu.
"Mikirin apa sih lo dari tadi Dir?"
Dira yang semula tertunda mengangkat kepalanya menatap Fiola yang sedari tadi menatapnya heran, "Hah?"
Fiola memutar bola matanya, "Lo Dira lagi mikirin apaan?"
"Ooh. Ini gue lagi mikirin masalah Fay itu."
Fiola yang semula biasa saja mendengar nama Fay langsung berubah datar, "Masih?"
"Maksudnya?" tanya Dira bingung.
"Gue kira lo udah berhenti nyari tau tentang Fay, ternyata masih," Fiola menghela nafas kesal, "Harus berapa kali sih Dir gue bilang ke lo, untuk jangan pernah ikut campur tentang masalah Fay itu."
Dira terdiam Fiola tak seperti biasanya, kali ini Fiola benar-benar marah. Dira tak mengerti mengapa Fiola bisa semarah itu jika ia membahas tentang Fay.
"Gue cuma mau bantuin Sheila Fio. Gue gak mau dia terus terusan di tuduh sebagai penyebab celakanya Fay."
Setelah mengatakan kata-kata yang cukup menusuk hati Fiola pergi ke luar kelas meninggalkan Dira yang masih terpaku di tempatnya. Sekarang Dira harus melakukan apa, seperti nya apa yang ia lakukan selalu salah. Dira paham Fiola marah karena menghawatirkan Dira, tapi mau bagaimana lagi Dira juga harus membantu Sheila.
Untuk beberapa saat Dira merasakan sakit di kepalanya, untuk di sebabkan akhir-akhir ini terlalu banyak hal yang ia pikirkan.
Dira memijat-mijat keningnya, "Aduh pusing kepala gue."
"Gue harus samperin Fiola. Pasti dia marah nih sama gue," ucap Dira dan beranjak keluar kelas.
Dira mencari Fiola ke sana kemari dan ia mendapati Fiola sedang berbicara dengan seseorang di taman. Setelah Dira perhatikan ternyata orang itu adalah Riski. Dira baru ingat kalau waktu itu Fiola pernah bilang ia menyukai salah satu anak basket dan orang itu adalah Riski.
Dira terus memperhatikan mereka berdua sampai akhirnya Riski pergi meninggalkan Fiola yang masih tersenyum senang menatapnya.
Dira berjalan perlahan menghampiri Fiola, "Fio."
Fiola mendongak menatap Dira dan kemudian membuang mukanya, "Ngapain lo ke sini. Urus aja tuh temen lo Sheila, gue kan bukan temen lo jadi jangan lo perduliin."
"Kok ngomong gitu sih. Lo berdua itu temen gue," Dira duduk di sebelah Fiola, berusaha untuk membujuknya.
Melihat Fiola yang tidak ingin menatapnya, Dira tersenyum tipis, "Jangan marah-marah dong dengan gue. Gue mau ngasih tau lo sesuatu nih."
__ADS_1
Fiola masih diam tak berniat untuk berbicara.
"Semester depan gue udah gak sekolah di sini lagi," lanjut Dira yang membuat Fiola sontak melebarkan matanya.
"Maksud lo apa? Lo mau pindah?" tanya Fiola kaget. Ya kaget lah gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba Dira bilang mau pindah.
Dira mengangguk, "Iya. Makanya lo jangan marah-marah dong."
"Gue gak bakalan marah lagi, asal lo gak membahayakan diri lo sendiri dengan ikut campur urusan yang sama sekali gak ada sangkut pautnya sama lo. Gue bilang begini karena gue sayang sama temen gue yaitu lo Dir," ucap Fiola, ia benar-benar tidak ingin temannya ini terluka.
"Biarin masalah ini terkubur dalam-dalam jangan di bahas lagi. Gue yakin lama-lama orang bakal ngelupain itu dan gak nuduh Sheila lagi," sambung Fiola.
Dira terdiam untuk beberapa sebelum menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Untuk saat ini ia ikuti saja dulu kemauan Fiola, walaupun Dira terpaksa harus berbohong kepada Fiola.
"Iya gak deh gak. Lo tenang aja," ucap Dira sambil tersenyum ke arah Fiola.
Fiola mengembangkan senyumnya senang, "Nah gitu dong. Sekali-kali gitu dengerin gue jangan Sheila mulu. Kan gue juga temen lo."
"Tapi lo seriusan mau pindah?" tanya Fiola memastikan.
"Iya serius."
"Kenapa?"
"Lo tau sendiri kan nih sekolah mahal. Gue gak sanggup buat bayar biayanya sampai lulus nanti. Jadi gue mutusin buat pindah ke sekolah yang lebih murah," jelas Dira.
Fiola mengangguk-anggukkan kepalanya paham, "Oh gitu. Tapi nanti kalau lo udah pindah jangan lupa sama gue ya. Nanti kita sering-sering meet okay.."
"Iya insya Allah tenang aja. Eh gue mau nanya, tadi laki-laki yang ngobrol dengan lo itu Riski anak basket yang lo suka itu kan?"
"Loh kok lo tau? Padahal gue cuma bilang kalau ada anak basket yang gue suka. Tapi gue gak ngasih tau siapa orangnya," tanya Fiola heran.
"Hah? Oh itu gue nebak doang habisnya lo tadi kek tersipu-sipu malu gitu," ucap Dira sedikit meledek.
Pipi Fiola memerah karena malu, "Ish lo tadi merhatiin gue sama kak Riski ya. Dasar Dira kan gue jadi malu."
"Haha sorry gue gak sengaja tadi."
"Halah bilang aja sengaja tuyul."
"Kagak botak gue."
"Bodoh amaaat."
__ADS_1
...🧕🧕🧕...