
...-DSP-...
Sheila menatap ngeri luka-luka yang ada di tubuh Siti. Tadi saat mendapat kabar dari Dira bahwa Siti mengalami kecelakaan, ia langsung bergegas ke rumah sakit untuk menjenguk Siti.
"Kok bisa gini sih Sit? Lo pasti gak hati-hati ya nyebrang nya," tanya Sheila.
"Biasalah namanya juga musibah Sheil," jawab Siti sambil memakan jeruk yang sudah di kupas oleh Sheila.
"Jadi gimana nanti lo mau ikut ulangan? Dua hari lagi kan kita mau UAS," tanya Sheila lagi mengingat hari senin mereka akan mulai melaksanakan ulangan akhir semester.
"Ya gue tetep ikut kayak biasalah, kan besok gue udah boleh pulang," jawab Siti santai.
Sheila mengangguk-anggukkan kepalanya, ia melirik Dira yang sedari tadi diam tak seperti biasanya.
"Dir? Lo kenapa?"
"Hah? Oh gapapa kok," jawab Dira sedikit kaget.
"Tau tuh Dira, dari tadi diem terus," ucap Siti ia mengambil segelas air dari nakas dan meneguknya sampai habis, "Alhamdulillah."
"Lo ada masalah?" tanya Sheila.
"Kalau ada masalah cerita Dir," tambah Siti.
Dira menggeleng cepat, "Gak ada elah, kalau ada pasti gue cerita ke kalian kan. Santai aja."
"Assalamualaikum," ucap Lukman dan Aisyah yang membuat mereka bertiga sontak melihat ke sumber suara.
"Walaikumsalam Umi Abi," balas mereka.
"Umiii Abiiii kok lama sih. Nih tangan Siti sakit, kaki jugaaa~," ucap Siti manja.
Dira melirik Siti jengah, "Heleh lo tadi aja sok kuat, giliran umi sama abi dateng langsung sakit."
"Ye iri aja lo Maimunah," ucap Siti.
Mereka hanya tertawa melihat perdebatan antara Dira dan Siti. Saat asik bersenda gurau tiba-tiba terdengar suara notifikasi WhatsApp dari ponsel Dira, dan yang mengirimkan pesan adalah nomor yang sama dengan nomor yang mengirim pesan ancaman kepada Dira.
Dira terkejut saat orang itu mengirimkan foto ibunya yang sedang berjualan.
"Ini ibu lo kan? Hati-hati jaga ibu lo baik-baik"
Dira menggenggam erat ponselnya, siapa orang yang mengirimkan pesan ini? Kenapa dia bisa melakukan hal sejahat ini? Dira sudah tidak bisa menahan emosinya, ia harus mencari orang itu dan untuk saat ini ada satu nama yang ia pikirkan.
"Hm umi abi Dira pulang dulu ya, nanti Dira ke sini lagi," Dira melirik Siti, "Sit gue pulang dulu."
"Iya hati-hati, kalau lo capek jangan ke sini istirahat aja," ucap Siti.
__ADS_1
"Iya Dira istirahat aja di rumah, biar umi dan abi yang nemenin Siti," ucap Aisyah.
"Besok kan sudah boleh pulang, jadi Dira bisa jenguk Siti rumah aja nanti," tambah Lukman.
Dira mencium tangan Aisyah, "Iya umi, abi. Ya udah Dira pulang dulu Assalamualaikum."
"Sit, Sheil gue duluan ya."
Setelah kepergian Dira. Sheila yang merasa ada yang aneh dengan tingkah Dira, juga memutuskan untuk berpamitan dengan Siti dan kedua orang tuanya. Cepat-cepat Sheila mengejar Dira yang berjalan belum jauh.
"Dira!" panggil Sheila berhenti tepat di samping Dira. Dira hanya diam menatap lurus ke depan. Saat ini ia benar-benar marah.
"Lo mau kemana? Gue yakin lo pasti gak pulang kan," ucap Sheila lagi.
"Nyamperin Riski."
Sheila mengernyit bingung, "Hah? Mau ngapain?"
Dira menoleh kearah Sheila, beberapa detik kemudian air mata sudah membasahi pipinya.
Melihat Dira yang tiba-tiba menangis membuat Sheila panik, "Eh lo kenapa nangis?"
"Gue yakin ini semua ulah Riski, pasti pelakunya dia. Gue harus samperin dia sekarang, gue harus beri dia pelajaran," ucap Dira penuh tangis. Untuk sekarang ia bukanlah Dira yang selalu berpikiran positif dan sabar.
Sheila menahan Dira yang hendak pergi, "Tunggu dulu Dir, jelasin dulu ke gue masalahnya. Biar gue ngerti jangan main pergi-pergi aja."
Sheila menatap Dira kesal, "Bukannya gue udah pernah bilang ya Dir. Kalau lo mau bantu gue buat mecahin masalah Fay ini, jangan pernah lo bertindak tanpa sepengetahuan gue. Lo bilang kita tim, tapi lo main rahasia rahasian sama gue."
"Maafin gue Sheil, gue cuma gak mau lo kepikiran nyalahin diri lo sendiri," ucap Dira merasa bersalah.
"Sekarang apa? Gue tetep bakalan nyalahin diri gue, karena yang terjadi dengan Siti itu. Semuanya karena gue, kalau aja dia gak bantuin gue pasti dia gak bakalan celaka kan," ucap Sheila.
"Itu semua bukan salah lo Sheil."
Sheila mengelap air matanya yang mulai jatuh, "Biar gue yang nyamperin kak Riski."
Dira yang semula tertunduk mengangkat kepalanya, terbelalak menatap Sheila yang sudah berjalan menjauh darinya.
"Eh eh Sheila tungguin gue!"
Kini bukan Dira yang marah besar, tapi Sheila. Ia tidak bisa membiarkan orang-orang di sekitarnya selalu celaka karena dirinya. Ia harus menemui Riski untuk memastikan semua kecurigaannya.
...🧕🧕🧕...
Usai menelepon Riski dan menanyakan di mana keberadaan lelaki itu. Sheila dan Dira langsung pergi menuju rumah Riski, sebenarnya Dira sudah menahan Sheila agar tidak terbawa emosi tapi Sheila tidak mau mendengarkannya. Walaupun tadi Dira sempat terbawa emosi tapi sekarang ia sudah bisa menenangkan hati dan pikirannya.
Dira sempat mengajak Sheila untuk melaksanakan sholat isya terlebih dahulu sebelum pergi ke rumah Riski. Dan sekarang mereka sudah berada di depan rumah Riski. Menunggu menunggu orang yang di tuju keluar dari dalam rumah.
__ADS_1
"Eh Sheila, Dira yuk masuk dulu," ucap Riski yang baru saja membuka pagar rumahnya.
"Assalamualaikum," ucap mereka berdua.
"Walaikumsalam. Lo mau ngomongin apa Sheil malam-malam begini? Yuk masuk dulu, di luar dingin," ucap Riski.
Sheila menatap Riski datar, "Di sini aja."
Dira memegang lengan Sheila, menahannya agar tidak marah.
Sheila melepaskan tangan Dira dari lengannya, dan melangkah mendekati Riski.
"Lo kan?"
Riski mengernyit bingung, "Gue kenapa?"
"Lo kan yang udah ngelakuin semua ini? Lo kan yang udah nyelakain Fay? Dan lo juga yang ngirim teror-teror yang selama ini kita dapat," Sheila mengeluarkan semua yang ingin ia katakan dengan penuh amarah.
"Hah?"
"Dan terakhir lo juga kan yang nyelakain Siti?" ucap Sheila, ia sudah tidak bisa membendung air matanya.
Riski menatap Sheila tak percaya, "Maksud lo apaan? Bisa-bisanya lo berpikiran kalau gue yang udah nyelakain Fay. Teror? Gue gak ngerti. Dan Siti itu siapa gue gak kenal."
"Kalau bukan lo siapa lagi? Di hari sebelum Fay jatuh dari roof top. Dia ketemuan dengan lo kan, terus setelah itu dia jatuh dari roof top. Iya kan?" pekik Sheila.
"Hanya karena itu lo nuduh gue sebagai pelakunya? Hari itu dia juga bareng lo kan? Jadi apa lo juga pelakunya?" ucap Riski tak habis pikir.
"Terus kenapa gelang Fay ada dengan lo? Jelas-jelas di hari terakhir gue bareng dia, gelang itu masih dia pakai."
Riski terdiam sesaat yang membuat Sheila semakin yakin lelaki itu lah pelakunya, sedangkan Dira ia hanya diam mendengarkan percakapan mereka. Dira juga marah tapi ia takut salah menuduh orang, walaupun tadi ia sempat berpikiran bahwa Riski lah pelakunya.
"Jawab! Kenapa diam?" desak Sheila.
Riski menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan, ia berusaha untuk menenangkan dirinya.
"Gelang itu gue temuin di tempat Fay jatuh. Biar gak ada salah paham, gue bakalan ceritain semua yang gue alamin sore itu bareng Fay. Jadi lo tenang dulu."
Sheila terdiam, ia tidak tahu harus berkata apalagi. Ia sudah mengeluarkan semua amarah nya, tapi apa ia telah melampiaskan kepada orang yang salah?
"Mending kita masuk dulu deh, biar gue ceritain semua nya," ucap Riski mempersilahkan Sheila dan Dira untuk masuk ke dalam rumahnya.
Akhirnya mereka duduk di kursi depan rumah Riski untuk mendengarkan penjelasan dari Riski.
"Jadi waktu itu...."
...-DSP-...
__ADS_1