Dira'S Spy (Mata-mata Dira)

Dira'S Spy (Mata-mata Dira)
Bab 42 DSP


__ADS_3

...-DSP-...


"Wahh ayang Riski dateng juga ternyata," seru Bellen bersemangat saat melihat kedatangan Riski dan Sheila.


Seperti janji mereka untuk bertemu di kafe yang tak jauh dari sekolah. Sheila datang bersama Riski, sedangkan Dira ia tidak bisa pergi karena harus menemani ibunya Di rumah. Kalau Siti, Sheila sengaja tidak mengajaknya karena luka-lukanya belum sepenuhnya sembuh. Dan Fiola tentunya ia harus belajar di rumah.


"Gimana udah ada uang yang gue pinta?" tanya Bellen setelah Riski dan Sheila duduk di depannya.


"Kasih tau dulu sama kita, apa yang lo liat malam itu. Kalau lo udah kasih tau semuanya, gue tinggal transfer uang yang lo mau," jawab Sheila sambil menunjuk layar ponselnya.


"Okay. Tapi kalau lo bohong, tau kan akibatnya?" ancam Bellen.


Sheila mengangguk, "Iya tenang aja."


"Ya udah buruan kasih tau kita!" ucap Riski tak sabar.


"Iya iya gak sabaran bener deh ayang Riski," ucap Bellen yang membuat Riski hanya memutar bola matanya jengah, karena Bellen selalu memanggilnya dengan kata ayang.


Bellen mulai menatap kedua orang di depannya dengan serius, bersiap untuk bercerita.


"Jadi malam itu..."


...🧕🧕🧕...


Malam itu setelah kepergian Fiola dari roof top yang meninggalkan Fay sendiri. Bellen bersembunyi di balik pintu roof top agar tidak ketahuan. Setelah memastikan Fiola telah menghilang dari pandangannya, Bellen berniat ingin keluar dari persembunyiannya.


Namun langkahnya terhenti saat seseorang dengan mengenakan hoodie berwarna hitam sedang menaiki anak tangga. Bellen ingin memastikan siapa orang itu namun wajahnya tak terlihat karena tertutup oleh penutup kepala hoodie. Di tambah keadaan yang tidak terlalu terang membuat nya sulit untuk melihatnya.


Matanya terus mengikuti kemana langkah orang itu pergi. Sampai orang itu berdiri tepat di depan Fay. Terlihat wajah Fay yang terkejut dan ketakutan melihat orang itu.


"Lo? Kenapa lo ke sini?" ucap Fay, ia memundurkan langkahnya ketika orang itu terus mendekatinya.


"Ayang kok gitu sih, aku kan cinta banget sama kamu," ucap orang itu yang membuat Bellen mengernyit.


"Oh cowok ternyata," lirih Bellen setelah mendengar suara orang itu. Ia masih setia di tempatnya untuk mendengarkan obrolan dua orang itu.


Fay memasang wajah kesal, "Udah berapa kali gue bilang, gue gak suka sama lo. Stop ngikutin gue terus!"

__ADS_1


"Oh ya?" lelaki itu semakin mendekat dan mengelus wajah Fay lembut, "Jadi lo sukanya sama siapa? Riski?"


Bellen mengernyit, "Enak aja suka sama ayang Riski gue. Gue rekam kali ya?"


Sayangnya saat Bellen hendak merekam pembicaraan Fay dan orang itu, ponselnya tiba-tiba mati karena lowbat.


"Ah lo mah gak bisa di ajak kerja sama," lirih Bellen kesal sembari memasukkan ponselnya ke dalam saku roknya.


Fay menepis tangan lelaki itu dari wajahnya, "Masih banyak cewek di luar sana, bukan cuma gue."


"Tapi gue mau nya lo. Lo cuma punya gue, gak ada yang boleh miliki lo selain gue."


Fay menatap lelaki itu tak percaya, kenapa ia seperti ini.


"Lo gila ya? Please berhenti bertingkah gak masuk akal begini."


"Iya gue gila. Gila karena lo."


Fay menghela nafasnya lelah, harus bagaimana ia menjelaskan kepada lelaki ini agar mengerti.


"Terserah lo mau ngomong apa, yang pasti gue harap lo berhenti ngikutin gue terus dan maksa-maksa gue buat jadi pacar lo," jelas Fay, ia berniat hendak pergi namun lengannya di tahan oleh lelaki itu.


"Gue mau pulang, udah malem. Lepasin!" Fay berusaha melepaskan lengannya dari cekalan lelaki itu. Tapi ia tidak bisa karena tenaga lelaki itu lebih kuat darinya.


"Gak semudah itu. Kalau gue gak bisa dapetin lo, maka orang lain juga gak bisa dapetin lo."


"Ma maksud lo?" Fay mulai merasa takut, lelaki itu terus mendorongnya sampai ke bagian tepi roof top.


"Lo mau ngapain?" pekik Fay, sekarang ia sudah bisa melihat betapa tingginya tempat ia berdiri. Yang membuatnya merinding.


"Lo harus mati agar gak ada yang bisa miliki lo."


"Gak gak lo gak boleh begini, ini salah," ucap Fay, ia mencekram kuat Hoodie milik lelaki itu karena jika ia melepasnya ada kemungkinan ia akan jatuh.


Bellen yang memperhatikan kejadian ini sedari tadi juga ikut panas dingin. Ia bingung harus melakukan apa, jika ia keluar untuk membantu Fay. Ia juga bisa mati di bunuh lelaki itu. Pada akhirnya Bellen memutuskan untuk membantu Fay. Walaupun ia membenci Fay tapi ia tidak setega itu, membiarkan Fay dalam bahaya. Namun baru saja beberapa langkah ia berjalan, kejadian yang tidak di inginkan pun terjadi.


"Gak ada bener dan salah dalam kamus kehidupan gue."

__ADS_1


"Gue mohon jangan begi aaaaaaaaaa," ya Fay telah di dorong oleh lelaki itu hingga jatuh ke bawah.


Bellen menelan ludahnya dengan susah paya, merasa tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. Untuk sesaat ia mematung, sampai ia tersadar lelaki itu akan membalikkan tubuhnya. Cepat-cepat Bellen kembali ke tempatnya bersembunyi, bisa-bisa ia juga di lemparkan oleh lelaki itu jika ketahuan.


Setelah memastikan lelaki itu sudah menghilang dari situ. Cepat-cepat Bellen mengambil tasnya yang ketinggalan di situ. Jika bukan karena tas itu ia pasti tidak akan melihat kejadian mengerikan seperti tadi. Sebelum itu ia sempatkan untuk melihat Fay dari atas, di mana Fay sudah terkapar dengan darah yang sudah menggenang di dekat kepalanya.


Cepat-cepat Bellen berlari untuk membantu Fay, ia jadi merasa sedikit kesal karena sekolahnya ini sangat luas. Sehingga membuatnya lama untuk sampai. Namun saat akan menolong Fay, ternyata di situ sudah ada penjaga sekolah yang lebih dulu menemukan Fay. Perlahan Bellen memundurkan langkahnya, ia rasa sudah tidak perlu untuk membantu Fay lagi karena sudah ada orang dewasa yang mengurusnya.


"Semoga lo gapapa," lirih Bellen dan pergi dari situ.


...🧕🧕🧕...


Riski menatap Bellen kesal, "Jadi lo selama ini tau apa penyebab Fay celaka. Tapi lo diem aja, gak habis pikir gue."


"Terus gue harus gimana? Laporin ke polisi? Lo tau sendiri kan pihak sekolah bilang apa, jangan sampai kasus Fay ini nyebar ke mana-mana. Karena takut memengaruhi nama baik sekolah," ucap Bellen tidak terima.


"Lagi pula gue gak tau siapa orang itu," lanjut Bellen pelan.


"Bodo amat sama pihak sekolah, gue gak perduli. Jelas-jelas ini pembunuhan berencana," geram Riski.


Sheila masih terdiam hatinya merasa sakit mendengar cerita dari Bellen. Siapa orang jahat yang tega-teganya menyakiti gadis baik itu. Andai saja waktu itu ia memaksa Fay untuk pulang bersama, pasti kejadiannya tidak akan seperti ini.


"Jadi lo sama sekali gak tau siapa orang itu?" tanya Sheila yang di balas anggukan kecil dari Bellen.


"Gak ada sesuatu petunjuk yang bisa membuat kita yakin kalau itu dia, gitu?" tanya Sheila lagi.


"Bentar gue ingat-ingat dulu," ucap Bellen sembari mengingat hal apa yang bisa mereka jadikan petunjuk untuk menemukan orang itu.


"Nah gue tau," ucap Bellen.


"Apa apa?" ucap mereka berdua.


"Walaupun dia pakai Hoodie dan malam itu gak terlalu terang. Tapi gue bisa lihat kalau dia itu pakai jam tangan," ucap Bellen.


"Jam tangan apa?" tanya Riski.


"Gue kurang yakin sih, tapi kayaknya itu jam tangan Casio G-Shock warna biru tua."

__ADS_1


...-DSP-...


__ADS_2