
...-DSP-...
Dira berjalan menelusuri lorong sekolahnya sambil termenung, ia masih menerka-nerka apa yang terjadi kepada Sheila. Kenapa gadis itu tiba-tiba seperti marah padanya, apa Dira ada berbuat sesuatu yang membuat Sheila marah? Tapi apa?
Aduh Dira bingung baru saja Dira senang karena Sheila sudah mau berteman dengannya, tapi sekarang Sheila malah cuek lagi dengannya.
"Eh itu Sheila!" Ucap Dira saat melihat Sheila masuk ke dalam kelas.
"Kali ini gue harus tanya ke Sheila kenapa dia jadi berubah," dengan cepat Dira melangkah memasuki kelasnya dan menghampiri Sheila yang sudah duduk rapi di kursinya.
"Sheila gue mau ngomong,"ucap Dira kemudian memperhatikan sekitarnya, "tapi jangan di sini," lanjutnya.
Sheila mendongakkan kepalanya menatap Dira datar untuk beberapa saat dan kemudian berdiri, "Gue juga mau ngomong dengan lo. Ikut gue!" ajak Sheila, tujuannya sekarang adalah belakang sekolah karena ia rasa berbicara di situ lebih nyaman karena tidak ada yang menguping.
Dira terus mengekori Sheila dengan perasaan cemas, entah apa yang akan di katakan Sheila. Tapi Dira rasanya tidak ingin mendengarnya. Setelah beberapa saat sampai lah mereka di belakang sekolah, Sheila menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Dira.
"Dir," panggil Sheila yang membuat Dira mengangkat kepalanya dan menatap Sheila dengan senyuman khasnya.
"Iya Sheil,"
Sheila tersenyum tipis, "Jangan ikut campur urusan gue lagi ya,"
Nahkan benar apa kata Dira kalau ia tidak ingin mendengar apa yang akan di katakan Sheila.
"Maksud lo apaan Seil?"
"Gue gak mau lo celaka cuma karena mau nolongin gue. Jadi gue mohon jangan ikut campur lagi dengan urusan gue dan.." Sheila menghentikan ucapannya.
"Dan jangan deket-deket gue lagi," lanjut Sheila yang membuat Dira terkejut, kenapa Sheila tiba-tiba menjadi seperti ini padahal kemarin dia sudah setuju dan tidak masalah jika Dira membantunya.
__ADS_1
Untuk beberapa saat hanya ada keheningan di antara mereka sampai Dira membuka suara.
"Tapi sorry Sheil gue gak bisa, gue gak bisa ngebiarin orang di sekitar gue apalagi temen gue dalam kesusahan. Selagi gue bisa bantu tentu gue harus bantu kan?" jelas Dira.
Sheila menghela nafasnya kasar harus bagaimana lagi agar Dira mau mendengarkan perkataannya, "Tapi dengan cara nyelakain diri lo sendiri?" ujar Sheila sedikit teriak.
"Lo kenapa sih Dir? Kita baru kenal, belum ada dua bulan lo sekolah di sini. Tapi kenapa lo sampai segitunya nolongin gue?"lanjut Sheila.
"Memang untuk nolongin orang kita harus kenal lama dulu ya Sheil?" tanya Dira yang membuat Sheila terdiam.
Sheila tersenyum miring, "Muak gue dengan akting lo Dir,"
Dira mengernyitkan dahinya bingung, "Akting gimana? Gue gak lagi akting," ucap Dira.
"Segitunya ya lo pengen sekolah di sini? Awalnya gue kasihan sama lo jadi gue biarin aja lo buat ngejalanin tugas dengan tenang. Tapi gue lama-lama muak dengan tingkah lo yang sok baik itu, bahkan sampai sekarang pun lo masih pura-pura baik.." ucap Sheila sedangkan Dira masih diam dengan perasaan kaget dan bingung.
Dira menatap Sheila tak percaya bisa-bisanya Sheila berpikiran seperti itu tentang dirinya, hatinya terasa sakit. Dan lagi apa Sheila sudah tahu kalau Dira bekerja dengan ayahnya, om Arzan.
"Maksud dari semua omongan lo ini apa sih Sheil? Kenapa lo bisa berpikiran seperti itu? Gue gak pura-pura bantuin lo," ucap Dira membuat Sheila sekali lagi memiringkan senyumnya.
"Jangan pura-pura bego deh Dir, gue tau kalau lo itu orang suruhan bokap gue. Bahkan gue udah tau dari pertama lo masuk sekolah," ucap Sheila.
"Lo tau dari mana?" Tanya Dira berusaha tenang.
"Itu lo gak perlu tahu! Yang terpenting sekarang kalau lo masih mau sekolah di sini, jangan ikut campur urusan gue! Paham?" Ucap Sheila dan pergi meninggalkan Dira yang masih terpaku di tempatnya. Sheila sempat menitikkan air matanya tapi cepat-cepat ia menghapusnya.
Sampai Sheila menghilang dari hadapannya Dira masih terdiam dengan tatapan nanar, ia menundukkan kepalanya dan tanpa di sadari buliran bening sudah mengalir bebas di pipinya. Ucapan Sheila kali ini sangat menusuk hatinya, Dira sudah tidak bisa membendung air matanya lagi.Kali ini apalagi yang harus Dira lakukan? Kenapa tidak ada yang benar Dira lakukan? Lagi-lagi Dira gagal.
"Apa yang harus Dira lakukan ya Allah hiks," ucap Dira dengan sesegukan.
__ADS_1
...🧕🧕🧕...
Sheila baru saja keluar dari toilet dan mendapati Santi teman kelasnya sedang mencuci tangan di wastafel, Sheila juga mencuci tangannya tanpa memperdulikan Santi yang tengah meliriknya sinis.
"Aduh heran deh gue gak di kelas gak di toilet ketemu mulu gue sama si pms, nanti gue bisa-bisa kena sial sama kayak Fay lagi," seru Santi sambil memutar bola matanya.
Sheila menghentikan kegiatannya mencuci tangan, ia mengepalkan tangannya kuat, ia tidak bisa diam terus seperti ini. Dirinya benar-benar sudah tidak tahan dengan hinaan yang selalu di berikan oleh teman-temannya. Terutama Santi walaupun ia tidak menyakiti fisik Sheila tapi dia menyakiti batin Sheila. Di kelas Santi adalah orang yang selalu mengompor-ngompori teman-temannya untuk membenci Sheila, padahal Sheila tidak pernah berbuat jahat kepada Santi tapi Santi sangat membenci dirinya.
"Kenapa lo kayak gitu? marah? Udah berani ngelawan?" Tanya Santi songong.
"Cih dasar pembawa sial,"lanjutnya.
Sheila memukul dinding toilet di sampingnya dengan kuat yang membuat Santi terperanjat, ia menolehkan kepalanya ke arah Santi dan menatapnya tajam.
"Cukup San! Udah cukup lo ngehina dan fitnah gue dengan mulut busuk lo itu!" ucap Sheila dan melangkah mendekati Santi hingga jarak mereka hanya satu langkah. Tatapan tajam mereka saling beradu.
Santi memiringkan senyumnya, "Lo pikir dengan lo sok berani begitu gue bakalan takut? Gak Sheil sorry dan juga gue gak fitnah karena semua yang gue omongin itu fakta kalau lo itu pembawa sial,"
"Lo punya bukti? Kalau ada tunjukkin ke gue!" Tanya Sheila yang membuat Santi terdiam.
Melihat Santi yang terdiam tak bisa menjawab Sheila tertawa renyah"Kenapa diam? Gak ada bukti kan lo? Jadi berhenti ngomongin hal-hal yang gak berguna pakai mulut busuk lo itu, bau sampah tau gak!"
Karena geram Santi hendak menampar pipi Sheila namun dengan cepat Sheila menahannya. Sheila memegang tangan Santi sedikit kuat sehingga membuat Santi meringis kesakitan.
"Gue peringatin ke lo, jangan macem-macem lagi sama gue! Kalau bisa jangan pernah ajak gue ngomong atau sebut nama gue ngerti lo?" Ucap Sheila dan menghempaskan tangan Santi kasar kemudian berlalu pergi meninggalkan Santi yang masih meratapi tangannya yang sakit.
"Akh. Sialan sejak kapan dia jadi berani begitu?" lirih Santi.
...-DSP-...
__ADS_1