
...-DSP-...
"Alhamdulillah," Dengan senang Dira menghirup udara segar pagi hari di sekolahnya.
Dengan langkah gontai Dira menelusuri lorong sekolah menuju ke kelasnya, ia sangat, sangat bersyukur bisa melanjutkan sekolahnya jadi setiap berangkat sekolah ia selalu senang. Meskipun ia termasuk anak yang tidak terlalu pintar tapi Insya Allah ia akan berusaha sebisanya untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan.
Belum jauh Dira melangkah tiba-tiba ada suara langkah kaki yang berlari ke arah Dira dan berhenti tepat di sampingnya.
"Selamat pagi Dira,"
Saat Dira menoleh ia mendapati Sheila yang sedang tersenyum hangat kearahnya, Dira pun ikut tersenyum.
"Eh Assalamualaikum, Sheila selamat pagi,"balas Dira senang.
"Eh Waalaikumsalam hehe,"
"Alhamdulillah Sheila udah nggak murung lagi sekarang dia lebih ceria,"
"Lo baru dateng?"tanya Dira.
"Iya,"
"Oh sama dong, yuk kita ke kelas bareng!"ajak Dira yang di balas anggukan kecil dari Sheila.
Mereka berdua pun berjalan bersama sambil berbincang-bincang ringan. Semenjak ada Dira, Sheila tidak kesepian lagi di sekolah, semoga saja Fay lekas sembuh jadi mereka bertiga bisa bermain bersama. Sheila tidak sabar menantikan hari itu.
Tinggal beberapa langkah lagi mereka sampai ke kelas namun langkah Sheila terhenti saat tiba-tiba ada seseorang yang merangkulnya orang itu adalah Bellen. Wajah Sheila kembali datar senyum di bibirnya seketika hilang. Kehadiran Bellen telah merusak paginya yang cerah.
Dira yang melihatnya mau tak mau juga ikut berhenti, Bellen melemparkan senyum manis kearahnya.
"Hai Dira,"sapa Bellen ramah.
"Hai kak Bellen,"
Bellen menatap Dira dan Sheila bergantian, "Kalian mau ke kelas?"
"Iya kak,"balas Dira, keningnya mengkerut melihat ekspresi Sheila antara takut dan tidak senang itu.
"Lo ke kelasnya sendiri ya, Sheila nya gue pinjem dulu okay,"
"Hah? Oh iya kak,"
Setelah itu Bellen membawa Sheila yang tampak enggan untuk pergi. Dira berniat untuk mengikuti mereka karena Dira merasa ada sesuatu di antara mereka berdua dan Dira harus memastikan hal itu.
__ADS_1
Namun belum sempat ia melangkah tiba-tiba Fiola datang dan menarik lengannya.
"Astagfirullah, ngagetin aja dah. Mau kemana ni?" Tanya Dira.
"Anter gue ke ruang guru dulu ya sebentar,"ucap Fiola sambil berjalan dengan tergesa-gesa.
"Oh okay."
Dan Dira hanya bisa pasrah mengikuti Fiola menuju ruang guru.
...🧕🏻🧕🏻🧕🏻...
Bellen membawa Sheila menuju rooftop tempat Bellen dan teman-temannya selalu berkumpul, hal itu membuat anak-anak yang lain tak ada yang mau untuk pergi ke rooftop saat Bellen dan teman-temannya berada di tempat itu.
Terlihatlah beberapa anak perempuan dan laki-laki sedang berkumpul sambil duduk di bangku bangku bekas yang sudah tidak dipakai lagi.
"Wah princess udah dateng ni dengan babunya,"ucap seorang anak perempuan bernama Sisi yang sedang santai merokok.
Bellen yang baru tiba itu langsung mendorong Sheila kasar yang membuat Sheila terjerembab kelantai, "Nih babu udah kayak tuan putri aja harus di jemput mulu, capek gue jadinya,"
"Lo kenapa gak ngajak gue sih,"tanya Kirana.
"Lo sih kelamaan datengnya,"ucap Bellen kemudian mengambil sebatang rokok dari tangan Sisi, "Bagi ya Si,"
"Ho'oh,"
"Beliin gue rokok yang kayak biasa, habis itu lo beliin gue bakso di kantin. Buruan gue laper!"titah Bellen.
"Eh ayang gue jangan di suruh suruh dong, kasian ntar dia capek," ucap seorang lelaki bernama Rio.
"Dih najis," ucap teman-temannya berbarengan.
Rio berjalan mendekati Sheila dan berniat untuk membantu Sheila berdiri namun tangannya di tepis dengan kasar oleh Sheila.
"Ih kok ayang kasar sih, nanti aku marah lo," Rio berjongkok dan menatap Sheila dengan manis.
Sheila menatap Rio tajam, "Enyah sana,"
Perkataan Sheila berhasil membuat Rio naik pitam ia menjambak rambut Sheila yang membuat Sheila meringis kesakitan, "Di alusin gak mau, ternyata ayang Sheila lebih suka di kasarin ya,"
Sheila berusaha melepaskan tangan Rio dari rambutnya, "Lepasin! Sakit,"
"Gak mau atuh ayang,"
__ADS_1
Mereka yang berada di situ hanya tertawa bahagia melihat Rio menyiksa Sheila, melihat Sheila sengsara adalah suatu kebahagiaan bagi mereka.
"Udah udah, woi pms buruan beliin yang gue suruh tadi lama amat,"
"Gak mau,"ucap Sheila.
Bellen terkejut mendengar perkataan Sheila sepertinya ada yang salah dengan pendengarannya, "Hah? Apa? Barusan lo bilang apa?"
Sheila berdiri dan membersihkan roknya dari debu dan beralih menatap Bellen, "Gue bilang gue gak mau, gue bukan pembantu kalian," ucap Sheila setelah berusaha sekuat tenaga untuk mengumpulkan keberanian kali ini ia harus menghentikan pembullyan yang di alaminya.
Untuk sejenak Bellen dan teman-temannya terdiam sejenak apa yang mereka dengar ini tidak salah?
"Wah gays si pms udah mulai berani ngelawan ni,"ucap Sisi.
"Gila sih salah minum obat kali ya hahaha," seru Kirana.
Bellen berjalan mendekati Sheila tatapan mereka saling beradu, Sheila tak akan menundukkan kepalanya lagi.
Bellen tersenyum miring, "Yakin gak mau?"
Sheila menarik nafasnya panjang, "Gue gak mau di suruh-suruh kalian lag..,"
Plak
Belum Sheila menyelesaikan kalimatnya satu tamparan dari bellen sudah mendarat dengan kasar di pipi kirinya.
"Masih yakin?" Bellen kembali menampar pipi Sheila, ia terus melayangkan beberapa tamparan hingga keluar darah dari hidung dan sudut bibir Sheila.
Ini sangat menyakitkan tapi Sheila tak bisa melawan, ia baru sehari berlatih bela diri tak mungkin ia langsung pandai seperti Siti dan Dira. Di tambah lagi tubuh Sheila yang terbilang cukup lemah.
Bellen menjambak rambut Sheila kasar, Sheila rasa sebentar lagi ia akan botak karena terus-terusan di jambak seperti ini.
"Lo denger gue baik-baik, anjing itu harus patuh dengan tuanya,"ucap Bellen yang mengundang gelak tawa dari teman-temannya.
"Anjing gak tu hahaha,"
Air mata Sheila berlinang tubuhnya sakit hatinya juga sakit, "Kenapa? Kenapa kalian selalu ngebully gue? Gue gak ada salah apa-apa dengan kalian,"
Bellen mengambil cermin kecil yang selalu di bawanya dan mengarahkan ke wajah Sheila, "Nih ngaca, tampang lo itu tampang-tampang minta di bully jadi gak perlu alasan buat ngebully lo ngerti,"
"Di tambah lagi lontay kayak lo ini suka kegatelan ke sana kemari sama kayak temen lo yang hampir mati itu,"
"Lontay gak tu hahaha," Bellen dan teman-temannya kembali tertawa dan tanpa mereka sadari ada seseorang yang datang dan menatap mereka geram.
__ADS_1
"Oh jadi ini yang kalian lakuin ke Sheila selama ini,"
......-DSP-......