Dira'S Spy (Mata-mata Dira)

Dira'S Spy (Mata-mata Dira)
Bab 29 DSP


__ADS_3

...-DSP-...


Dira dan Sheila sudah sepakat untuk bersama-sama mencari tahu penyebab jatuhnya Fay. Mereka juga memutuskan untuk berpura-pura masih menjadi suruhan Bellen, dan mencari kesempatan melihat video Fay yang ada di handphone milik Bellen.


Dan sekarang Dira, Sheila dan Siti sedang berkumpul di rumah Sheila. Mereka akan membicarakan tentang rencana mereka kedepannya.


Siti menatap sekeliling kamar Sheila takjub, "Woahh MashaAllah ini kamar lo gede banget Sheil. Bisa di bagi dua ini mah," Siti mendekat ke arah Sheila, "Lo kagak takut di kamar segede ini sendirian, apalagi kalau mati lampu ihh sereem."


Dira memutar bola matanya, "Cailah takut hantu lo?"


"Bukan hantu tapi setan yang pura-pura jadi hantu."


"Heleh."


Sheila terkekeh pelan, "Gak gue udah biasa jadi gak serem."


Mendengar jawaban Sheila Siti hanya ber oh ria sembari meminum teh hangat yang tadi di siapkan oleh art di rumah Sheila.


"Oh jadi, rencana kita apa sekarang?" Dira menyandarkan tubuhnya di samping tempat tidur, "Kita belum ada petunjuk selain, video yang ada di hp Bellen."


"Sebelum itu Sheil," Siti meletakkan gelas tehnya, "Lo bisa ceritain terakhir kali lo bareng dengan si Fay."


Dira mengangguk setuju, "Iya kan waktu itu lo bilang sebelum Fay jatuh sorenya Fay bareng dengan lo kan?"


"Iya dia bareng gue," jawab Sheila kembali mengingat hari di mana ia bersama Fay.


"Jadi waktu itu...."


-


-


-


-


-


-


Hari itu, hari Senin sekitar pukul tiga sore Sheila sudah berada di rumah Fay. Ia menunggu Fay yang sedang bersiap-siap untuk mengajaknya pergi ke sekolah bersama, hari ini mereka akan mengikuti les bahasa Inggris.


"Udah, yuk berangkat," ucap Fay yang baru keluar dari kamarnya.


Sheila yang semula duduk di kursi ruang tamu langsung berdiri dan tersenyum, "Yuk."


"Eh udah mau berangkat ya?" ucap ibu Fay yang bernama Paula, datang dari arah dapur.


Fay mencium tangan ibunya, "Iya ma. aku sama Sheila pergi dulu ya."

__ADS_1


Sheila juga mencium tangan Paula, "Saya pamit ya tante."


Paula mengusap kepala mereka berdua, "Iya hati-hati ya nak!"


Di perlakukan seperti itu membuat hati Sheila senang, ia merasa seperti berada di dekat ibunya.


"*Assalamualaikum."


"Walaikumsalam*."


Mereka berdua pun keluar dari dalam rumah Fay, yang terbilang sederhana. Semula Fay adalah keluarga yang cukup kaya, tapi saat Fay masih SMP ayahnya mengalami kebangkrutan. Dan akhirnya mereka harus kehilangan barang-barang berharga mereka termasuk rumah. Oleh karena itu Fay selalu rajin belajar untuk mempertahankan beasiswa yang ia miliki agar tidak menyusahkan orang tuanya.


Selang beberapa menit akhirnya Sheila dan Fay sampai di sekolahnya, saat memasuki kelas mereka mendapati Fiola dan Santi sudah terduduk rapi di kursi mereka masing-masing. Ya untuk sekarang murid yang mengikuti les hanya lah mereka berempat.


"Halow pren," ucap Fay sembari melambaikan tangannya ke arah Fiola dan Santi yang di balas senyuman oleh mereka.


Sheila yang sudah duduk di kursinya menoleh ke arah Santi di sebelahnya, "Bu Sri belum dateng ya?"


"Udah, tadi ibu mau ke toilet dulu katanya."


Sheila mengangguk-anggukkan kepalanya, "Oh."


"Eh ibu ibu!" ucap Fiola saat melihat bu Sri memasuki kelas mereka.


"Good afternoon everyone," ucap bu Sri yang sudah duduk di kursinya.


"Okay karena semua sudah hadir. Kita mulai pelajarannya ya."


Sekitar pukul setengah lima sore kegiatan belajar-mengajar bahasa Inggris mereka akhirnya selesai. Sheila sedang mengemaskan barang-barangnya ke dalam tas, sampai netra nya tertuju pada Fay yang sedang menatap layar ponselnya sambil senyum-senyum.


Sheila mengernyit, cepat-cepat ia mengemaskan barang-barangnya dan mendekati Fay diam-diam. Ia ingin memastikan hal apa yang telah membuat temannya itu senyum-senyum seperti itu.


Setelah melihat layar ponsel Fay Sheila tersenyum jahil, "Ohh chatan dengan kak Riski ternyata."


Sontak Fay langsung menyembunyikan ponselnya dan menatap Sheila tajam.


"Gak ada ya. Pitnah aja lu," elak Fay.


"Heleh bilang aja iya," ledek Sheila yang membuat wajah Fay salah tingkah karena tertangkap basah sedang berkirim pesan dengan kakak kelasnya bernama Riski itu.


Santi yang melihat pertengkaran mereka hanya terkekeh pelan sembari berdiri bersiap-siap untuk pulang.


"Gue pulang duluan yak, bye bye," ucap Santi sambil mengirimkan ciuman jarak jauh ke arah mereka bertiga yang di balas lambaian tangan oleh teman-temannya.


Sedangkan Fiola setelah mendengar Fay sedang berkirim pesan dengan Riski wajahnya langsung berubah masam. Karena Riski yang sedang dekat dengan Fay itu adalah kakak kelas sekaligus anak basket yang di sukai Fiola. Sejak pertama kali masuk ke SMA Cahaya Fiola jatuh cinta pada pandangan pertama dengan kakak kelasnya itu.


Belum juga Fiola sempat mendekati Riski sudah keduluan dengan Fay. Hah ini sangat menyedihkan, selalu saja ia di kalahkan dengan teman sejak SMP nya itu.


Fiola berdiri dan menoleh ke arah dua orang yang masih asik bercanda itu, "Gue duluan ya."

__ADS_1


Fay dan Sheila menatap Fiola dan serempak menjawab, "Iya hati-hati ya Fio!"


"Iya," ucap Fiola dan melangkah ke luar kelas.


"Ya udah kita pulang juga yuk, ke sorean ntar," ajak Sheila sembari menggendong tasnya.


"Yuk."


"Eh bentar-bentar," ucap Fay menghentikan langkahnya tepat di depan gerbang sekolah sembari menatap layar ponselnya.


Sheila mendekatkan dirinya ke Fay niatnya ingin mengintip ponsel Fay, tapi cepat-cepat Fay menjauhkannya dari Sheila.


"Kepo aja lo tuyul."


Sheila mencebikan bibirnya, "Pelin amatt."


"Biarin wlee," ucap Fay masih mengotak-atik ponselnya dan sesekali tersenyum hm ini sungguh aneh pikir Sheila.


Sheila mengernyit semakin penasaran, "Ada apa sih?"


Fay mengangkat kepalanya menatap Sheila dan menyimpan ponselnya di dalam tas, "Lo pulang duluan ya. Gue masih ada urusan bentar."


"Urusan apaan? Kalau gak lama gue tunggu," tanya Sheila.


Fay menggeleng, "Gapapa gak usah nanti lo ke sorean. Gue pulang sendiri aja."


"Beneran? Padahal gue gapapa loh kalau nunggu," tanya Sheila lagi memastikan.


"Udah gapapa pulang aja. Noh lo udah di jemput pulang gih," ucap Fay menunjuk mobil jemputan Sheila yang sudah datang.


"Ya udah lo hati-hati ya pulangnya!"


Fay mengangguk, "Iya tenang aja."


"Gue pulang dulu Assalamualaikum."


"Iya hati-hati Walaikumsalam."


Setelah memasuki mobilnya Sheila kembali menatap Fay yang sudah berjalan masuk ke dalam sekolah dengan telepon yang menempel di telinganya, sepertinya Fay sedang menelepon seseorang.


"Non Fay gak ikut pulang non?" tanya pak supir yang sudah terbiasa mengantar Fay dan Sheila pulang dan pergi sekolah.


Sheila menggeleng, "Gak dia lagi ada urusan katanya."


"Oh gitu. Jadi kita langsung pulang ya non?"


"Iya langsung pulang aja."


...-DSP-...

__ADS_1


__ADS_2