
...-DSP-...
"Kalian mau pesen apa? Nanti gue yang pesenin."
"G..gue bakso aja iya bakso aja," Dira menyenggol lengan Sheila, "Lo pesen apa Sheil?"
Sheila melirik Dira kemudian menatap Riski canggung, "Samain aja kak."
Riski mengangguk-anggukkan kepalanya sambil meraba saku celana dan bajunya, ia sedang mencari dompetnya.
"Minumnya?"
"Air putih aja kak. Lo juga kan Dir?"
Dira mengangguk, "Iya air putih aja."
"Okay," kata Riski sambil membuka tasnya, ia masih mencari dompetnya.
Riski terus memeriksa tasnya, sampai ia mengeluarkan beberapa barang-barangnya karena masih belum menemukan dompetnya. Sampai Riski mengeluarkan sebuah gelang berwarna hitam dengan bandul huruf F, sontak membuat Sheila melebarkan matanya kaget.
Dira yang memperhatikan perubahan ekspresi Sheila, menatap gadis itu bingung.
"Sheil, lo kenapa?" tanya Dira sedikit berbisik.
Sheila menatap Dira dengan ekspresi yang sulit di jelaskan, kemudian ia menggelengkan kepalanya dan kembali menatap gelang itu.
"Nah ketemu juga nih dompet, gue kira ketinggalan. Ya udah gue mesen dulu, titip tas ya," ucap Riski dan beranjak pergi untuk memesan makanannya.
Setelah kepergian Riski, tanpa pikir panjang Sheila langsung membuka tas lelaki itu dan mengambil gelang yang sedari tadi ia perhatikan.
"Weh weh lo mau ngapain Sheil?" ucap Dira yang terperanjat karena Sheila tiba-tiba membuka tas Riski.
Sheila menatap gelang itu dengan seksama, ia yakin betul kalau itu adalah gelang milik Fay. Karena itu adalah pemberian Sheila untuk Fay. Tapi kenapa gelang ini ada dengan Riski?
"Kenapa? Ada apa dengan gelang ini?" tanya Dira bingung.
Sheila menggenggam gelang itu erat dan menatap Dira, "Ini gelang punya Fay."
"Hah? Lo tau dari mana?"
"Gelang ini pemberian dari gue, gak mungkin gue gak tau."
Dira mengambil gelang itu dari tangan Sheila dan memperhatikannya, "Wah iya sih hurufnya aja F. Tapi kok bisa ada dengan kak Riski?"
"Nah itu masalahnya kenapa gelang ini bisa dengan dia. Padahal terakhir kali gue bareng Fay sore itu, gelang ini masih di pakai dengan Fay," jelas Sheila, ia yakin betul melihat Fay masih memakai gelang itu di pakai oleh Fay sore itu.
"Gue semakin yakin kalau kak Riski adalah dalang di balik semua ini," lanjut Sheila.
__ADS_1
"Untuk sekarang gue juga mikir gitu sih, tapi kita juga harus selidiki lebih dalam lagi, kita harus ngumpulin bukti lebih banyak lagi. Gue rasa masih banyak hal lagi yang dia sembunyiin," ucap Dira.
Sheila mengangguk dan memasukkan lagi gelang milik Fay ke dalam tas Riski.
"Eh eh kak Riski udah dateng. Buruan simpan lagi tasnya," ucap Dira ketika melihat Riski berjalan ke arah mereka dengan membawa makanan yang mereka pesan.
"Iya iya ini gue simpan."
Tak
Riski meletakkan nampan yang ia bawa di atas meja, "Nah ini makanannya, buruan di makan tar dingin lagi."
Dira mengambil semangkuk bakso dan memberikannya ke Sheila, kemudian mengambil semangkuk lagi untuknya.
"Makasih kak, maaf ngerepotin," ucap Dira mengambil sebotol air.
"Iya santai aja," Riski memberikan sebotol air kepada Sheila, "Ya udah yuk kita makan."
"Iya kak!"
...🧕🧕🧕...
Bell pulang sekolah telah usai beberapa menit yang lalu, Dira masih termenung di dalam kelasnya. Ia menatap lurus ke depan, memperhatikan Fiola yang sedang membereskan buku-bukunya. Sedari tadi gadis itu tak menghiraukannya, bahkan Dira panggil pun Fiola tetap tak perduli. Entah h apalagi yang membuat gadis itu marah.
Saat Fiola selesai mengemasi barang-barangnya dan berdiri, Dira juga cepat-cepat ikut berdiri.
Dira menghela nafasnya pasrah dan melangkah keluar kelas, "Fiola, Fiola."
Sampai di gerbang sekolah Dira menoleh ke belakang dan mendongakkan kepalanya menatap roof top, di mana Sheila dan Bellen berada. Ya tadi saat bell pulang berbunyi Sheila langsung pergi untuk menemui Bellen.
...🧕🧕🧕...
Plak
Satu tamparan melayang di pipi kiri Sheila, baru saja ia sampai tiba-tiba Bellen langsung menampar pipinya dengan kasar.
"Gue benci banget sama lo," Bellen mendorong tubuh Sheila dan kembali menampar pipi gadis itu.
"Dasar cewek gatel, gak tau malu!"
Bellen terus menampar pipi Sheila berkali-kali sampai pipi gadis itu merah dan darah keluar dari sudut bibirnya. Sheila masih diam menahan amarahnya, ia ingin sekali membalas tamparan Bellen tapi ai harus menyelesaikan tujuannya.
"Rio lo gak mau bantu ayang lo tuh, biasanya juga sok sokan bantuin," ucap Kirana melirik Rio yang sedang santai merokok.
Rio memutar bola matanya tak perduli, "Gak ah dia bukan ayang gue lagi. Ayang gue tuh sekarang cuma ayang Dira."
Sisi menatap Rio sinis, "Idih najis mereka juga gak mau sama lo kali."
__ADS_1
"Sewot aja lu, cemburu bilang."
"Dih najis." sinis Sisi.
"Cantikan juga gue," gumam Sisi sembari menatap sebal ke arah Rio.
"Dulu kan gue udah pernah kasih peringatan ke lo, untuk jangan pernah deketin Riski lagi. Iya kan?" Bellen menjambak rambut Sheila kuat.
Bellen tersenyum sinis, "Lo dengan Fay itu sama aja, sama-sama kegatelan. Makanya dia sampai koma sekarang kan," Bellen mendekatkan wajahnya ke telinga Sheila, "Lebih bagus lagi kalau dia mati."
Mendengar perkataan Bellen sontak Sheila langsung menendang tubuh Bellen, yang membuat Bellen terjerembab ke lantai.
"Jaga mulut lo. Lo gak pantes ngomong seperti itu tentang Fay," ucap Sheila geram.
"Akh."
"Bellen," ucap Kirana bergegas membantu Bellen untuk berdiri.
Sisi menarik kerah baju Sheila, "Sialan. Maksud lo apaan hah?"
"Lepasin gue," ucap Sheila melepaskan tangan Sisi dari bajunya.
Bellen yang sudah berdiri, menatap Sheila tajam ia berjalan ke arah Sheila dan langsung menampar gadis itu dengan kasar. Tak tinggal diam Sheila juga menampar balik wajah Bellen. Kali ini ia tak bisa diam saja, kata-kata Bellen sangat tidak pantas untuk di ucapkan.
"Oh udah berani ya lo," ucap Bellen memegangi pipinya yang sakit, ia berniat menyerang Sheila lagi namun gadis itu menahannya dan melayangkan tinju di wajah Bellen.
"Woi lo gila ya," ucap Kirana ikut menyerang Sheila saat Sheila meninju Bellen berkali-kali.
Beberapa dari mereka ada yang menahan tangan Sheila, agar ia berhenti memukul Bellen.
"Lepasin gue!"
Sekarang mereka beramai-ramai mengeroyok Sheila, yang sudah pasti membuat Sheila kalah. Ia hanya seorang diri sedangkan Bellen dan teman-temannya sangat banyak.
Setelah beberapa saat Sheila akhirnya tumbang, ia terkapar dengan wajah yang sudah babak belur.
"Sekali lagi lo berani ngelawan gue, gue bakalan buat lo tersiksa lebih dari pada ini," Bellen menendang kaki Sheila, "Sialan sakit muka gue, yuk guys kita cabut."
Setelah kepergian mereka, Sheila terdiam menatap langit, tubuhnya bergetar air mata jatuh dari matanya. Beberapa saat kemudian ia tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha hahaha hahaha," ia merasa legah karena bisa menghajar Bellen, dan juga ponsel Bellen sekarang ada di genggamannya.
Saat berkelahi tadi ia sempatkan untuk mengambil ponsel Bellen yang jatuh dari saku seragam Bellen.
"Ahahahahhahaha."
...-DSP-...
__ADS_1