Dira'S Spy (Mata-mata Dira)

Dira'S Spy (Mata-mata Dira)
Bab 18 DSP


__ADS_3

...-DSP-...


Sudah beberapa hari sejak Dira memutuskan untuk menggantikan posisi Sheila yang selalu di jadikan pembantu dan bahan bullyan dari Bellen dan teman-temannya.


Dira tidak habis pikir melihat tingkah mereka, bisa-bisanya anak sekolah bersikap kejam seperti ini. Dira benar-benar sudah tidak tahan melihatnya, Dira berharap semoga mereka cepat sadar dan menjadi remaja yang baik dan tidak suka membully lagi.


Sekarang saja Dira baru saja menginjakkan kakinya di atap sekolah dengan terengah-engah. Bellen menyuruhnya untuk membeli makanan di kantin dan ia hanya di berikan waktu sebentar untuk membelinya.


"Wih cepat juga Lo," ucap Bellen seraya bertepuk tangan.


Tanpa basa-basi Dira langsung menyodorkan makanan itu ke arah Bellen yang di terima oleh Bellen dengan wajah yang sumringah.


"Bagus bagus, anjing yang pintar gak kayak anjing gue yang lama lelet,"ucap Bellen santai yang di balas gelak tawa teman-temannya.


Setiap mendengar ucapan Bellen selalu membuat Dira beristighfar, ia harus bersabar dalam menghadapi anak-anak nakal di depannya ini.Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Dira hendak melangkah pergi namun Bellen menahannya.


"Mau kemana lo?"


"Kelas," jawab Dira datar, "kenapa?" lanjutnya.


"Merangkak! jadi kursi, gue mau duduk," titah Bellen yang mau tak mau Dira turuti, entah apa yang ada di otak Bellen padahal kursi banyak, tapi masih saja dia menyuruh Dira untuk menjadi kursinya.


Untung saja Bellen tidak terlalu berat jadi Dira tidak terlalu kewalahan menahannya, namun yang membuat Dira hampir tumbang adalah Kirana yang tiba-tiba juga ikut duduk di atas tubuh Dira.


"Astaghfirullah," Dira memalingkan kepalanya ke samping dan melirik Kirana, "Oi bisa turun kagak lu, satu aja udah berat malah nambah-nambahin lu!"titah Dira kesal.


Bukannya turun Kirana bahkan tidak menghiraukan ucapan Dira dan malah asik ngobrol dengan teman-temannya.


"Lah pura-pura budeg?"lirih Dira.


Dira menatap kedua tangannya yang sudah mulai bergetar, sampai kapan ia harus menjadi kursi seperti ini. Bellen dan teman-temannya benar-benar jahat.


Setelah sekian lama menunggu, walaupun terdengar jauh Dira masih bisa mendengar bahwa bell sekolah telah berbunyi. Tanpa basa-basi Dira langsung berdiri tanpa memperdulikan Bellen dan Kirana yang masih duduk di belakangnya, sehingga membuat mereka berdua terjatuh ke lantai.


"Akh, sialan lo!"umpat Bellen sembari menggosok bokongnya yang sakit.


"Bodoh ya lo? sakit bego!"ucap Kirana kesal.


Dira hanya diam memperhatikan Bellen dan Kirana yang sedang di bantu teman-temannya untuk berdiri.

__ADS_1


"Bell udah bunyi gue ke kelas,"ucap Dira dan berjalan meninggalkan Bellen yang masih meringis kesakitan.


Bellen menatap kepergian Dira dengan kesal, "Sialan tuh anak, liat aja gue bakalan buat perhitungan."


......🧕🏻🧕🏻🧕🏻......


"Aduh aduh telat ni gue, ni gara-gara kak Bellen ni," Dira berjalan dengan sedikit berlari di lorong sekolah menuju kelasnya. Murid-murid yang lain sudah masuk ke dalam kelas masing-masing membuat Dira semakin mempercepat langkahnya.


Namun saat melewati ruang guru tiba-tiba Dira di panggil oleh bu Peron. Mau tak mau Dira harus berbelok arah ke ruang guru dan menghampiri bu Peron yang di sampingnya sudah berdiri Riski, anak yang tidak sengaja melemparkan bola basket ke wajah Dira waktu itu.


"Iya bu ada apa ya?"tanya Dira sopan.


"Ini ibu mau minta tolong, tolong kamu sama Riski bawa buku-buku ini ke perpustakaan bisa kan nak?"tanya bu Peron.


Dira melihat ke arah tumpukan buku yang lumayan banyak dan kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Iya bu bisa kok,"balas Dira sambil tersenyum.


Bu Peron tersenyum senang, "Ya sudah bukunya tinggal kalian bagi dua aja, makasih ya nak,"


"Iya bu sama-sama,"ucap Dira dan Riski bersamaan.


"Di bagi rata aja, gue bisa kok,"ujar Dira karena menurutnya buku yang akan di bawa Riski sangat berat masa iya Dira hanya membawa sedikit.


"Gapapa gue bisa, ayok ke perpus,"ajak Riski.


Mau tak mau Dira hanya pasrah dan berjalan mengekori Riski menuju perpustakaan.


Riski melambatkan langkahnya sampai Dira berada tepat di sampingnya, sehingga mereka berjalan beriringan. Selama perjalanan mereka hanya saling diam.


"Lo anak baru ya?"tanya Riski membuka suara.


Dira menoleh ke arah Riski, "Iya, gue murid baru di kelas sepuluh,"jawab Dira ramah.


Riski mengangguk-anggukkan kepalanya, "Oh, gue Riski murid kelas sebelas. Salam kenal ya," ucap Riski sambil tersenyum ke arah Dira.


Melihat senyum Riski yang menambah ketampanan di wajahnya membuat Dira cepat-cepat memalingkan wajahnya ke depan.


"Astaghfirullah Ya Allah lindungi hamba dari godaan orang tampan, kuatkan iman hamba Ya Allah,"batin Dira.

__ADS_1


"Iya kak,"balas Dira tanpa menatap Riski.


Riski yang memperhatikan Dira sedikit heran apa yang terjadi dengan gadis di sampingnya ini.


...🧕🏻🧕🏻🧕🏻...


Setelah selesai mengantarkan buku ke perpustakaan Dira langsung pergi ke kelasnya, Dira pikir ia akan ketinggalan pelajaran namun saat ia sampai ke dalam kelas ternyata tidak ada guru yang mengajar hal itu membuat Dira sedikit lega.


Setelah menyapa Sheila, Dira langsung berjalan menuju bangkunya.


"Dari mana aja lo Dir?" tanya Fiola saat Dira sudah duduk di bangkunya.


"Tadi gue di suruh bu Peron bawa buku ke perpus,"jawab Dira.


"Oh, gue kira lo mau ngebolos,"


"Ya kali gue ngebolos, eh btw pak Tarigan gak masuk?"tanya Dira.


"Gak, kita jamkos sekarang,"balas Fiola senang.


Dira mengerutkan keningnya, "Kok bisa? Ini suatu keajaiban dunia seorang guru matematika tidak masuk saat jam pelajarannya. Padahal biasanya hujan badai sekali pun tetap di lalui," ucap Dira panjang lebar.


"Katanya ada keluarga pak Tarigan yang meninggal jadi bapak gak bisa masuk,"jelas Fiola.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun, pantesan kok lo seneng padahal bapak lagi berduka?"


"Eh eh gue seneng karena jamkos ya bukan karena bapak lagi berduka jangan salah kaprah lo ya,"jelas Fiola panik.


"Iya iya tau gue hahaha,"ucap Dira sambil tertawa.


Fiola menatap Dira sinis, "Ck malah ketawa lagi lo Maimunah,"


Bukannya diam Dira malah semakin tertawa karena melihat ekspresi wajah Fiola yang menurutnya lucu.


Sedangkan Sheila ia sedari tadi menguping percakapan Dira dan Fiola.


"Maafin gue Dir, lo telat pasti gara-gara kak Bellen kan? ini semua salah gue, kenapa juga lo mau gantiin gue dan kenapa lo mau jadi temen gue. Gue ini cuma pembawa sial buat lo," batin Sheila, sorot matanya masih menatap lekat ke arah Dira.


Ini semua tidak bisa di biarkan ia harus melakukan sesuatu agar Bellen berhenti mengganggu dirinya dan Dira. Tapi apa? Sheila benar-benar merasa tidak berguna.

__ADS_1


...-DSP-...


__ADS_2