
...-DSP-...
Dira memfokuskan pandangannya saat kamera akan mengarahkan ke seseorang yang sedang berbicara dengan Fay itu. Tapi tiba-tiba..
"Ngapain lo?" Tanya seseorang.
Cepat-cepat Dira mematikan handphone Bellen setelah mengetahui ternyata orang yang bertanya itu adalah Bellen. Ya Bellen, Kirana dan Sisi sekarang sedang berdiri di depan pintu dengan memberikan tatapan menyelidik ke arah Dira. Dira menarik nafasnya pelan, berusaha untuk tenang agar tidak ketahuan oleh mereka bertiga.
Dira menggoyang-goyangkan handphone milik Bellen di tangannya, "Ngambil hp kak Bellen lah, emang mau ngapain lagi. Kalian kok di sini? Kalau tau gitu tadi gue gak perlu ngambil nih hp,"
"Lo kelamaan, bisa kering kita nungguin lo di sana," ucap Kirana kesal.
"Ya salahin ni rumah, berantakan bener susah gue jadinya buat nyari tuh hp," seru Dira tidak terima.
"Itu derita lo!" Ujar Bellen yang langsung mendudukkan dirinya di sofa, "Siniin hp gue!"
"Noh ambil,"
"Thank you my ubab," ucap Bellen dengan mengirimkan kecupan jauh kepada Dira. Dira yang melihatnya bergidik ngeri.
"Udah gak ada lagi kan yang mau lo suruh? Kalau gitu gue pulang dulu Assalamualaikum," baru saja Dira akan melangkahkan kakinya namun di tahan oleh Bellen.
"Ape lagi?" Tanya Dira.
"Tadi kan lo bilang nih rumah berantakan, jadi sekarang gue mau lo beresin seluruh rumah ini sampai bersih dan kinclong clong clong," tanpa memperdulikan wajah Dira yang sudah masam Bellen kembali memainkan ponselnya dengan santai.
"Selamat bekerja~," ucap Kirana dan Sisi mengejek.
"Cih di kira lucu kali muka nya begitu," lirih Dira sinis dab mulai membereskan rumah yang lumayan besar itu.
Bukan tanpa alasan Dira masih mau menuruti perintah Bellen, padahal dia sudah menghapus video Sheila jadi tidak ada yang perlu dia takuti lagi. Tapi Dira masih penasaran dengan video tentang Fay yang ia lihat tadi, Dira hampir lupa bahwa ia sudah berjanji kepada Sheila untuk membantunya memecahkan masalah Fay ini.
Jadi Dira rasa tugasnya ini masih belum selesai, setidaknya sebelum dia pindah sekolah, ia harus melakukan sesuatu. Jadi nanti Dira harus membicarakan hal ini dengan Sheila, semoga saja Sheila mau mendengarkannya.
"Yang bersih! Malah melamun," titah Bellen ketika melihat Dira bekerja sambil melamun.
"Iya iya haelah bawel amat."
__ADS_1
...🧕🧕🧕...
Di kamar Dira
"Jadi Dir, siapa yang lo lihat?" Tanya Siti dari sebrang telepon.
"Nah itu masalahnya Sit, waktu gue mau lihat tuh orang, eh si bel sekolah malah dateng," ucap Dira lemah, ia meneguk air putih yang terletak di meja belajarnya.
"Tapi yang pasti, gue yakin kak Bellen tau sesuatu tentang jatuhnya Bellen. Kalau dia gak tau gak mungkin dia ada video itu kan?" lanjut Dira.
"Iya juga, pasti dia tahu siapa orang yang bicara dengan Fay malam itu," ucap Siti setuju.
"Jadi lo bakalan ngomongin soal ini dengan Sheila?" tanya Siti, karena yang ia tahu Sheila sedang marah dengan Dira.
"Mau gak mau ya harus gue omongin ke Sheila, karena ini menyangkut dia dan Fay. Lagian kan kita juga udah janji buat bantuin dia," Balas Dira sembari merebahkan tubuhnya di kasur.
"Oh iya hampir lupa, gue juga ada janji ya haha," seru Siti tertawa.
"Haha sama gue juga sempat lupa,"
"Eh Dir, udah jam sepuluh nih. Gue tidur dulu ya, lo juga jangan begadang Assalamualaikum pren,"
Dira meletakkan ponselnya di atas nakas dan setelah itu membaca doa tidur. Setelah selesai Dira langsung baring dan menarik selimutnya. Untuk beberapa saat Dira terdiam menatap langit-langit kamarnya, dengan berbagai pikiran di kepalanya hingga akhirnya ia tertidur lelap.
...🧕🧕🧕...
Siti menghentikan motornya tepat di depan gerbang SMA Cahaya, pagi ini ia memasak Dira agar mau diantar olehnya.
"Otay sampai!"
Dira turun dari motor sembari melepaskan helm dan memberikannya kepada Siti, "Makasih ya Sit, udah nganterin gue,"
"Iya sama-sama," balas Siti.
"Ya udah gue masuk dulu ya bye bye Assalamualaikum,"
"Walaikumsalam, semangat ngerjain misinya," ucap Siti melambaikan tangannya ke arah Dira yang mulai menjauh.
__ADS_1
Dira mengacungkan jempolnya, "Yoi pren,"
Saat berjalan di lorong sekolah, Dira melihat Sheila yang baru saja menuruni tangga. Tidak ingin membuang waktu cepat-cepat Dira menghampiri Sheila dan mengajaknya untuk berbicara. Walaupun Sheila terlihat cuek tapi dia tetap mau mengikuti Dira untuk berbicara di belakang sekolah karena untuk saat ini tempat itu cukup aman bagi mereka.
"Ngomongin apa lagi Dira? Lo kok gak ngerti ngerti sih dengan omongan gue!" ujar Sheila kesal.
Dira menghela nafasnya pelan berusaha untuk tenang, "Gue mau ngomongin soal Fay," ucap Dira.
"Soal Fay? Kenapa? Lo kan gak ada sangkut pautnya dengan Fay jadi biar gue sendiri yang urus masalah ini. Lo jangan ikut campur!"
"Gak bisa Sheil, gue udah janji buat bantuin lo mecahin masalah Fay ini. Ciri-ciri orang munafik itu adalah salah satunya yang suka ingkar janji dan gue gak mau jadi orang munafik. Jadi gue gak bisa diem aja seperti yang lo suruh," jelas Dira ia harus benar-benar meyakinkan Sheila.
"Dan kemarin gue udah ngehapus video lo yang ada di hp Bellen jadi lo gak perlu pura-pura benci dengan gue lagi Sheil," lanjut Dira.
Mendengar perkataan Dira membuat Sheila sontak kaget, bagaimana caranya Dira bisa menghapus video Sheila yang ada di handphone milik Bellen. Dan kenapa Dira bisa tahu kalau ia hanya berpura-pura membenci Dira.
"Gimana caranya lo bisa ngehapus video gue di hp Bellen dan juga kok lo bisa ngira gue pura-pura benci dengan lo?" Tanya Sheila beruntun.
"Panjang kalau mau di jelasin, kalau masalah gue tahu lo pura-pura. Sorry kemarin gue nguping pembicaraan lo dan Bellen di roof top," jawab Dira.
"Untuk sekarang itu gak penting, gue mau ngasih tau lo kalau kemarin gue gak sengaja ngeliat video Fay di hp Bellen," lanjut Dira yang membuat Sheila kembali kaget.
"Hah? Lo serius?" Tanya Sheila memastikan.
"Serius, di dalam video itu Fay lagi ngomong dengan seseorang di roof top tapi gue gak tau orang itu siapa. Karena waktu mau ngeliat siapa orang itu tiba-tiba Bellen datang, jadi gue gagal," Sheila mendengarkan penjelasan Dira dengan serius tanpa ingin terlewatkan satupun.
Sheila masih diam banyak pikiran yang berlalu lalang di kepalanya. Masih banyak hal yang harus ia cari tahu mengenai jatuhnya Fay dari roof top sekolah.
"Jadi izinin gue buat bantuin lo untuk mencari tahu apa penyebab Fay bisa jatuh dari roof top," pinta Dira.
"Oke gue setuju, tapi lo harus janji satu hal dengan gue!" Mendengar persetujuan Sheila, seketika Dira tersenyum lebar.
"Apa?"
"Lo jangan bertindak tanpa sepengetahuan gue, sebelum ngelakuin sesuatu lo harus kasih tahu gue dulu. Dan jangan.." ucapan Sheila terhenti ia menatap Dira sendu.
"Jangan apa?" Tanya Dira penasaran.
__ADS_1
"Jangan ngelukain diri lo hanya karena gue!"