Dira'S Spy (Mata-mata Dira)

Dira'S Spy (Mata-mata Dira)
Bab 25 DSP


__ADS_3

...-DSP-...


Mobil milik ibu Fiola berhenti tepat di depan gerbang sekolah, setiap hari Fiola selalu di antar dan jemput oleh ibunya tak terkecuali paginya ini.


"Seminggu lagi kamu ulangan akhir semester kan?" tanya Tania kepada Fiola yang sudah bersiap untuk keluar dari mobil.


"Iya,"


"Mama harap kali ini kamu bisa jadi yang nomor satu bukan nomor dua, karena dia tidak ada gunakan kesempatan ini baik-baik,"


Fiola tidak menjawab ia hanya diam sembari meremas roknya kuat, dadanya serasa sesak seketika berada di dalam mobil membuatnya pengap. Perkataan ibunya benar-benar membuatnya tertekan. Selalu saja seperti ini jika sudah menyangkut nilainya, ia selalu saja di tekankan untuk menjadi nomor satu. Padahal peringkat satu maupun dua sama-sama bagus, tapi orang tuanya ah sudahlah Fiola lelah memikirkannya.


"Ingat jangan bikin malu mama sama papa! kamu tidak mau papa kamu marah kan? Kami tidak mau punya anak bodoh!" Sambung Tania yang membuat Fiola ingin rasanya cepat-cepat keluar dari mobil yang menyesakkan itu.


Fiola menarik nafasnya panjang, "Iya ma aku ngerti, ya udah aku ke kelas dulu," ucap Fiola dan mencium tangan Tania, ia ingin cepat-cepat mengakhiri obrolan yang menyesakkan ini.


"Ya udah jangan lupa pesan mama!" Pesan Tania.


Fiola hanya mengangguk pasrah, "Iya ma Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam."


...🧕🧕🧕...


Di lain tempat Dira dan Sheila sedang berada di belakang sekolah, ya lagi-lagi mereka berdua ada di tempat itu. Tadi Dira yang mengajak Sheila ke belakang sekolah ada sesuatu yang ingin ia sampaikan.

__ADS_1


"Sekarang lo mau ngomong apa lagi Dir? Bukannya gue udah peringatin ke lo ya untuk jangan deket-deket gue lagi. Lo masih mau sekolah di sini kan jadi denger omongan gue!" ucap Sheila memulai pembicaraan. Sejujurnya ia tidak benar-benar membenci Dira, sejak awal dia senang bisa berteman dengan Dira. Tapi demi kebaikan Dira, Sheila harus membuat Dira menjauh darinya agar Dira tidak celaka.


Mendengar ucapan Sheila, Dira tersenyum getir, "Gue tahu kok, lo tenang aja. Gue ngajak lo ke sini buat bilang kalau gue bakalan keluar dari sekolah ini,"


Sontak Sheila terbelalak kaget, ia tidak sampai berpikiran bahwa Dira akan keluar dari sekolah. Sheila juga tidak ingin Dira keluar dari sekolah.


"Tapi gak sekarang. Seminggu lagi kita ulangan, jadi gue bakalan ada di sekolah ini sampai libur pembagian raport tiba. Gue harap lo gak terganggu dengan keberadaan gue, setelah itu gue bakalan menghilang dari hadapan Lo karena gue udah berhenti kerja dengan om Arzan," sambung Dira yang membuat Sheila merasa sedih bukan ini yang dia inginkan. Padahal dia sudah merasa senang bisa berteman dengan orang sebaik Dira, tapi takdir berkata lain. Mau tidak mau Sheila harus menerima hal ini.


"Oke itu lebih bagus," seru Sheila berlagak cuek.


"Dan juga kemarin gue gak sengaja denger obrolan lo dengan Santi waktu di toilet, gue rasa lo udah bisa ngejaga diri lo sendiri. Jadi gue udah gak di perlukan lagi," ucap Dira tersenyum.


Sheila masih diam tak berniat untuk membalas ucapan Dira, ia sedang berusaha untuk menahan diri untuk tidak menangis. Ia benar-benar merasa sedih.


Dira menarik nafasnya panjang, "Terus satu hal lagi, gue cuma mau bilang kalau gue tulus temenan dengan lo kalaupun om Arzan gak ngebayar gue buat mata-matain lo. Gue tetep bakalan temenan dan ngebantuin lo, terserah lo mau mikir apa tentang gue tapi itu kenyataannya," Dira menundukkan kepalanya ia rasa air matanya akan menetes tapi cepat-cepat ia menghapusnya.


"Waalaikumsalam Dir," jawab Sheila bersamaan dengan air matanya yang jatuh.


Tak apa ini demi kebaikan Dira, Sheila tidak boleh egois jika terus berada di sini Dira akan terus terkena sial karena ada di dekatnya.


...🧕🧕🧕...


"Kamu yakin ingin keluar dari sekolah Dira?" tanya Arzan memastikan, sekarang ia dan Dira sedang berada di salah satu kafe tak jauh dari rumah Dira.


Dira mengangguk-anggukkan kepalanya yakin, "Yakin om, kan saya sudah gagal menjalankan misi yang om berikan otomatis saya berhenti jadi anak buah om. Lagian Sheila juga udah tahu semuanya, gak ada yang bisa saya lakuin lagi. Dia juga udah benci dengan saya om, makanya lebih baik saya keluar dari sekolah," balas Dira yakin.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu sampai keluar dari sekolah Dira, kan kamu sangat ingin masuk sekolah. Om yakin Sheila hanya marah sebentar saja dengan kamu," ucap Arzan meyakinkan.


"Om juga sangat berterima kasih sama kamu karena sudah mau membantu om menjaga Sheila di sekolah. Berkat kamu om dan Sheila bisa menjadi dekat lagi dan Sheila tidak semurung dulu, sekarang dia menjadi pribadi yang lebih ceria," lanjut Arzan.


"Ah gak om itu semua karena om sendiri, om sangat sayang dengan Sheila dan berusaha untuk menjaganya. Seharusnya saya yang berterimakasih dengan om, berkat om saya jadi bisa sekolah terimakasih banyak om," ucap Dira tersenyum.


"Sama-sama, tapi om serius Dira kamu tidak harus keluar dari sekolah. Om akan terus membiayai sekolah kamu sampai lulus nanti ini sebagai ucapan terima kasih om ke kamu,"


"Gak papa om terimakasih atas tawarannya tapi saya gak bisa. Untuk masalah sekolah om tenang aja, gaji saya selama kerja dengan om cukup untuk daftar di sekolah baru," ucap Dira mayakinkan, bukan dia tak ingin menerima tawaran yang di beri Arzan, itu adalah kesempatan emas kapan lagi bisa sekolah gratis di tempat mahal lagi. Tapi Dira memikirkan kata-kata Sheila, jika Dira terus berada di situ Sheila akan semakin membencinya.


Arzan diam beberapa saat, ia rasa keputusan Dira sudah tidak bisa di ganggu gugat lagi. Kalau begitu Arzan sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Padahal ia benar-benar tulus ingin membantu Dira, karena Dira anak yang sangat baik dan rajin. Arzan menganggapnya seperti anaknya sendiri.


"Ya sudah kalau itu yang kamu mau, tapi kalau kamu berubah pikiran kamu bisa hubungi om kapanpun," ucap Arzan.


"Iya terimakasih om," ucap Dira mengangguk-anggukkan kepalanya.


Arzan melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul setengah empat sore. Ia teringat ada pekerjaan yang harus ia lakukan.


Arzan membenarkan kerah jasnya, "Kalau begitu pembicaraan kita sampai di sini dulu karena om ada sedikit pekerjaan untuk di lakukan," ucap Arzan sambil tersenyum dan menyesap kopinya yang hampir habis.


"Iya om saya juga udah mau pulang,"ucap Dira sopan.


"Ya sudah kalau begitu om duluan ya Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam om," balas Dira menatap kepergian Arzan.

__ADS_1


...-DSP-...


__ADS_2