Dira'S Spy (Mata-mata Dira)

Dira'S Spy (Mata-mata Dira)
Bab 45 DSP


__ADS_3

...-DSP-...


"Itu pasti dia," ucap Sheila geram, setelah dari pemakaman Fay mereka berempat berkumpul di rumah Sheila. Dengan mata yang sembab karena menangis.


"Gue rasa juga gitu sih. Soalnya kalau memang bukan dia, pasti hp Fay udah ada dengan Dira sekarang," tambah Fiola.


"Besok kita harus temuin dia dan bawa dia kekantor polisi. Dia udah bunuh orang, dia harus tanggung jawab," ucap Dira.


Sheila menghapus air matanya yang kembali menetes, "Gue gak bakal, biarin penjahat kayak dia. Hidup berkeliaran dengan tenang."


"Orang itu pasti bener-bener udah di rasukin setan. Gue gak ngerti dengan jalan pikirannya," ucap Siti. Karena ia berbeda sekolah dengan Dira, ia jadi sulit untuk menemukan orang itu. Padahal Siti sangat ingin menghajarnya.


Dira menatap ketiga temannya dengan serius, "Kita harus pastiin dia bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan selama ini."


...🧕🧕🧕...


Keesokan harinya Dira, Sheila, Fiola dan Riski kembali memeriksa semua kelas untuk mencari sang pelaku. Mereka akan mulai dari kelas sebelas karena kemarin mereka hanya sampai separuh dari kelas sebelas.


Riski yang juga kelas sebelas tentu saja tahu bahwa di dalam kelasnya tidak ada orang dengan ciri-ciri yang di katakan Bellen waktu itu. Setelah mengetahui penyebab kematian Fay, amarahnya semakin memuncak bahkan ia sempat berpikiran untuk membunuh orang jahat itu.


"Permisi gue boleh nanya gak?" tanya Riski salah satu murid perempuan kelas sebelas IPS 1.


"Boleh nanya apa?"


"Di kelas lo murid yang pakai jam tangan Casio G-Shock warna biru tua gak?"


"Casio G-Shock warna biru tua?" Riski mengangguk, "Hhm."


Siswi itu tampak berpikir mengingat-ingat apakah ada teman sekelasnya yang memakai jam tangan seperti itu.


"Gimana ada gak?" tanya Riski.


"Ada," ucap siswi itu yang membuat Riski seketika semangat mendengarnya.


"Oh ya? Cewek apa cowok?"


Siswi itu tersenyum, "Cewek. Tuh orangnya."


Riski mengikuti arah yang di tunjukkan siswi itu, Di mana ada seorang siswi dengan gaya tomboy memakai jam tangan Casio G-Shock warna biru tua.


Seketika wajah Riski berubah datar, "Oh. Makasih atas informasinya."


Setelah mengatakan itu Riski pun langsung undur diri dan kembali memeriksa kelas yang lain.


"Gue kira cowok tadi. Kalau iya langsung gue hajar tuh orang," gumam Riski kesal.


Beberapa saat kemudian mereka telah selesai memeriksa seluruh kelas sebelas. Dan ya mereka tidak menemukan orang itu, yang berarti pelakunya adalah salah satu murid kelas dua belas. Tapi sayangnya bell tanda masuk sekolah berbunyi, terpaksa mereka harus melanjutkannya kembali saat jam istirahat nanti.


...🧕🧕🧕...


Ting Ting Ting

__ADS_1


"Gimana kita lanjut cari lagi?" tanya Dira menghampiri meja Sheila.


"Makan dulu Dir. Muka lo udah pucat banget, nyari penjahat itu juga butuh tenaga,"ucap Fiola yang juga menghampiri mereka.


Sheila mengangguk, "Iya mending kita isi tenaga dulu yuk ke kantin."


"Ya udah yuk!" ucap Dira.


Ya untuk melaksanakan misi mereka ini harus butuh tenaga yang banyak. Jika mereka sakit bagaimana mereka bisa menemukan orang jahat itu. Selang beberapa waktu mereka pun telah selesai mengisi tenaga mereka. Dira mengatakan kepada Sheila dan Fiola bahwa ia akan ke toilet dulu. Jadi Sheila dan Fiola pergi duluan ke kelas dua belas.


Dira keluar dari dalam toilet sambil mengelus perutnya, "Alhamdulillah lega. Padahal gue belum pernah berak di wc sekolah. Tapi tadi udah mules banget, untung gak ada orang."


"Okay mending sekarang gue cus pergi ke kelas dua belas."


Namun belum juga Dira melangkahkan kakinya tiba-tiba ada seorang yang menepuk bahu Dira dari belakang.


"Astaghfirullah," Dira membalikkan tubuhnya dan mendapati seorang laki-laki berkaca mata dengan gaya yang sedikit culun sedang menatapnya.


Lelaki itu menggaruk tengkuknya kikuk, "Eh maaf udah ngagetin."


"Iya gapapa. Tapi lain kali jangan gitu lagi, panggil aja," Lelaki itu hanya mengangguk malu.


Dira mengernyit saat melihat lelaki itu melirik kesana-kemari seperti orang yang ketakutan.


"Ada apa?" tanya Dira heran.


"Hhm," ia menjeda ucapannya kemudian menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada orang yang akan mendengar ucapannya ini.


Dira terbelalak dari mana orang ini tahu tentang misi Dira. Melihat Dira yang tampak terkejut dengan ucapannya, lelaki itu kembali membuka suara berniat untuk menjelaskan.


"Maaf. Gue gak sengaja denger obrolan lo dengan Sheila saat di kantin waktu itu," jelas lelaki itu yang membuat Dira menghela nafasnya. Seharusnya mereka tidak membicarakan hal rahasia di tempat terbuka, teledor sekali mereka.


"Lo tau sesuatu?" tanya Dira memastikan. Jika orang ini sampai mendatangi nya, pasti dia tahu sesuatu kan?


Lelaki itu berbicara dengan ragu, lagi-lagi ia melirik ke sana kemari entah apa yang ia takutkan.


"Kita gak bisa ngomongin hal itu di sini. Dia selalu ngawasin kita."


Dira mengernyit, kemudian ia juga ikut memperhatikan sekitar, "Jadi lo mau ngomongin nya di mana?"


"Siniin hp lo."


Dengan ragu Dira memberikan ponselnya kepada lelaki di hadapannya ini. Setelah itu lelaki itu mengetikkan sesuatu di ponsel Dira.


"Nih."


Dira mengambil ponselnya dan membaca apa yang di ketikkan lelaki itu.


Kita obrolin ini di roof top, gue duluan ke sana setelah itu baru lo nyusul. Supaya gak ada yang curiga.


Dira mengangguk paham.

__ADS_1


Kemudian mereka berdua berpisah. Dira tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, tapi Dira rasa orang itu tahu siapa pelaku dari semua ini. Dan Dira harus memastikan hal itu.


...🧕🧕🧕...


Sheila selesai memeriksa kelas dua belas IPA 1 dan di situ juga tidak ada orang yang dia cari. Sheila melirik Riski yang sedang memeriksa kelas dua belas IPA 2. Sheila berjalan menghampiri Riski yang sedang berbicara dengan seorang siswa.


"Kak Riski. Gimana? ada?" tanya Sheila setelah sampai di kelas dua belas IPA 2.


Riski mengangguk, "Ada Sheil."


"Hah? Serius?" Sheila langsung menerobos masuk ke dalam kelas, "Mana?"


Tapi karena jam istirahat jadi kelas sepi, karena murid-murid pergi ke kantin. Ia kembali mendekati Siswa yang tadi berbicara dengan Riski.


"Siapa namanya?" tanya Sheila yang membuat Siswa itu sedikit bingung. Karena Sheila yang terlalu bersemangat.


"Nama dia Devan," jawab siswa itu.


"Sekarang dia kemana?" tanya Riski.


"Tadi sih ke kantin."


"Kak kita harus cepat temuin dia kak," ucap Sheila.


"Sabar Sheil, kita harus pastiin dulu. Nanti kita salah tuduh orang," ucap Riski.


"Gak. Pasti itu dia, gue yakin."


"Hay Sheil tenang dulu jangan gegabah," ucap Riski menenangkan.


Sheila menghela nafas pasrah, "Terus sekarang kita harus ngapain?"


Riski menatap Sheila kemudian beralih menatap siswa yang sedari tadi berdiri di depan mereka.


"Gue boleh tua gak dia duduk di mana?"


Siswa itu menunjuk ke arah bangku sebelah kanan paling belakang, "Tuh di ujung belakang sana."


"Oh makasih ya kak."


"Iya sama-sama," jawab siswa itu dan berlalu pergi.


"Mau ngapain kak?" tanya Sheila saat Riski melangkah menuju meja Devan.


"Kita periksa tas dia. Pasti ada petunjuk."


Riski pun menggeledah isi tas milik Devan. Tak di sangka mereka menemukan dua buah ponsel dari dalam tas Devan.


"Kak ini hp Fay," ucap Sheila meraih sebuah ponsel yang sangat ia kenal.


"Ternyata memang dia," ucap Riski menunjukkan sederetan chat dari ponsel yang satunya. Dimana berisi macam-macam yang ia kirimkan ke pada Dira dan teman-temannya.

__ADS_1


...-DSP-...


__ADS_2