
⚱⚱👉Gays kita masuk Episide 24👈
Pak Sampurna dan pak Sambara berpelukan setelah lama tidak berjumpa.
"Kemana saja kamu menghilang Sambara!" tatap pak Sam.
"Ceritanya panjang sejak pembantaian keluargaku!" jawab Sambara sedih.
"kamu tinggal dimana? disini!" tanya Sambara.
"Aku baru tiga hari disini mencari Tito tapi tidak ketemu alamatnya." jawab pak Sam.
"Tito siapa?"
"putra sulungku!"
Sejak pertemuan itu aku diminta untuk menjaga batu wasiat ini.
"kamu tinggalah disini dan jaga batu ini Baik baik. Jangan sampai batu ini jatuh pada orang yang jahat." wasiat pak Sambara.
Setelah aku disewakan tempat dan dicarikan kerja, Pak Sambara menghilang sampai sekarang.
""Itulah Kisahnya." ucap pak Sam menarik napas Dalam dalam.
Usia menceritakan kisah batu giok yang sekarang ada ditangannya, pak Sam berharap agar semua orang yang hadir, tidak kemana mana. Karena ada permintaan khusus pak Sam pada pak Adzriel.
"Pak Adzriel dan Kawan kawannya juga yang lain mari kita keruang makan!" seru pak Sam.
"Makan apaan ni, makan sore apa makan malam!" celetuk mulut Amir.
"Tak Apa apa kita ajukan makannya. Karena ada hal penting yang mau saya sampaikan sama pak Adzriel!" timbal pak Sam.
"Ayo ayo silahkan duduk!" seru pak Sam.
Sedangkan Givano sejak bertemu kembali dengan pak Adzriel sampai saat ini merasa aneh pada dirinya sendiri.
Dia merasa heran, kenapa? Ya! Ketika bertemu dengan Sarinah dan ibunya Zaripah. Dia merasa nyaman, seolah olah seperti adik dan ibunya. Begitu pula sekarang ketika dekat dengan pak Adzriel dia merasa agak aneh. Seperti sedang bersama bapaknya.
Suasana akrab terjalin diantara mereka. Luka yang diderita oleh pak Sam seperti dilupakan. Pak Sam sangat senang melihat yang hadir tampak gembira. Pak Sam seperti tidak melihat Givano. Padahal Givano ikut mengantarnya pulang dari rumah sakit.
"Mir! Givano mana?"
Pak Sam seperti tidak melihat Givano. Amir tidak menyadari ketidak beradaan Givano.
"perasaan tadi, Givano sama aku ya?"
Mata Amir tidak melihat Givano diantara mereka. Hanya pak Ramlan tadi tidak sengaja melihat Givano pergi dan mengetahui dimana Givano sekarang.
"Givano ada kulihat tuh lagi sendiri."
Semua menoleh kearah luar dimana Givano lagi duduk sendirian melamun.
🌟🌟🌟
Sachio yang tidak ikut mengantar pak Sam pulang dari rumah sakit juga sedang makan bareng sama ibunya. Maura tampak begitu gembira menemani Sachio makan.
"Usai makan kamu pulang!"
Sachio memandang ibunya sebentar sambil menghabiskan makannya.
"iya bu, tapi sepertinya bapak tidak tahu aku pulang!"
"kamu tidak kasih tahu bapakmu?"
__ADS_1
Sachio garuk kepalanya yang tidak gatal, sedikit nyengir dihadapan ibunya.
"sudah bu, hanya bapak pasti tidak yakin."
"kenapa?"
"setiap bapak telpon aku? Aku jawab, ya aku pulang! Tapi aku tidak pulang!"
Maura tersenyum dengan kepolosan Sachio. Lalu dia mencoba memancing putranya benarkah di surabaya ada wanita yang membuatnya lama disana.
"apa yang menyebabkan kamu betah di Surabaya!"
Sachio memandang ibunya sebentar
"Ibu ingin tahu kenapa aku betah di Surabaya?"
"iya?" Maura anggukan kepala dengan Serius.
"nanti aku tunjukan ibu setelah aku pulang!" ucap Sachio sambil ambil tisu didepannya seraya berdiri hendak keluar dari ruang makan.
"bu ... aku langsung pulang!"
Maura berdiri segera menyusul Sachio.
"Sachio tunjukan apa nak!" Maura penasaran.
Sachio hentikan langkahnya menatap Maura ibunya.
"Ibu pasti menyukainya!" tatap Sachio serius pada ibunya.
"Seorang gadis?" tatap Maura memastikan.
Sachio menganggukan kepalanya mengiyakan ibunya. Lalu menyalami ibunya dengan mencium tangan Maura
🔥🔥🔥
Sambil bekerja Haryani tidak Bosan bosannya melirik Sarinah. Ini gadis Betul betul cantik, aku saja yang perempuan senang melihat wajahnya apalagi Sachio. Katanya dalam hati.
Sarinah tidak menyadari kalau Haryani selalu memperhatikannya. Melihat Haryani bekerja sendirian Sarinah dan Ibunya segera membantu.
"Ee..eh jangan non, tidak boleh! nanti tangannya kotor!"
Haryani mencegah Sarinah. Zaripah yang tadinya juga hendak membantu mengurungkan niatnya.
"aku sudah terbiasa kok kerja seperti ini." ucap Sarinah tersenyum.
"Majikan kalau seperti ini? Ma .. siapapun pasti betah!"
Haryani semakin semangat bekerja. punya Majikan tidak cerewet dan tidak banyak maunya. Tidak seperti majikannya yang dahulu tunjuk sana tunjuk sini Sedikit dikit marah sedikit dikit main ancam.
Rasanya tidak tega melihat Haryani bekerja sendirian. Sarinah kembali mencoba membantu.
"aku bantu ya? aku sudah terbiasa kok kerja seperti ini." ucap Sarinah
Haryani akhirnya membiarkan Sarinah dan ibunya bekerja. Alangkah terkejut dan kagumnya Haryani melihat cara kerjanya ibu dan anak ini.
"uwao ... non! Udah cantik. Tapi, kerjanya kalah saya non. Cepat dan bersih lagi, ini paket komplit ini."
"terimakasih...." ucap Sarinah tetap ceria dan tersenyum.
🔥🔥🔥
Mereka telah berkumpul diruang tengah. Givano duduk didekat pak Adzriel didampingi pak Kimin dan pak Ramlan.
__ADS_1
Pak Sam muncul dari dalam dipapah oleh Tito dan Tina. sementara istrinya berjalan di belakangnya.
"Terimakasih kalian masih disini."
Sambil menahan Sakit pak Sam sempat tersenyum kearah pak Kimin dan pak Ramlan.
Pak Kimin dan pak Ramlan balas tersenyum sambil memberi hormat dengan menganggukan kepalanya.
"Sudah lama bareng dengan pak Adzriel." tanya pak Sam.
"lebih dua tahun!" bilang pak Kimin.
Pak Adzriel hanya mendengarkan kedua kawannya sambil tersenyum.
"Sekarang waktunya aku menyampaikan sesuatu kepada pak Adzriel. Jadi yang lain keluar."
"tunggu dulu pak! kenapa kami tidak boleh tahu" tahan Givano.
"Ini rahasia penting dan ... hanya pak Adzriel yang dapat kupercaya!" jawab pak Sam.
Karena ini katanya rahasia penting jadi tak ada alasan untuk yang lain harus tahu kecuali yang dipercaya. Merekapun satu persatu meninggalkan pak Adzrie dan pak Sam.
Sekarang hanya tinggal pak Sam dan pak Adzriel.
"Sebelum kepada topik yang akan kita bicarakan aku ada pertanyaan." kata pak Adzriel yang semenjak dari rumah sakit dia menyimpannya.
Pak Sam tersenyum gembira dengan pernyataan pak Adzriel.
"Akhirnya kamu angkat bicara juga. Ini yang kumau, ayo katakanlah apa yang kamu tanyakan!"
"Dirumah Sakit kamu menyebut nama Rangrang dan Sambara."
"kenapa dengan nama itu!" tatap pak Sam ingin tahu.
"Rangrang dan Sambara kebetulan namanya dengan nama kakek dan bapakku!"
pak Sam terkejut dengan pengakuan pak Adzriel. Tapi, nama itu bisa saja kebetulan sama. Menurut pemikiran pak Sam tak mungkin pak Adzriel mengaku ngaku. Buktinya ditawari gaji tinggi dan fasilitas yang menggiurkan oleh kakek tua bongkotan yang bernama pak Ruyung itu ditolak oleh pak Adzriel.
"kamu tahu dari mana Rangrang dan Sambara berasal?" tanya pak Sam untuk mencocokkan apakah kedua nama tersebut adalah nama yang sama.
"kami berasal dari Sikumana nusa tenggara timur." jawab pak Adzriel.
Pak Sam sangat yakin kalau pak Adriel adalah putra pak Sambara sahabatnya dan cucu dari pak Rangrang.
"Berarti barang yang akan aku minta untuk dijaga dan lindungi pada orang yang tepat bukan pada orang yang salah." kata pak Sam.
"Maksud pak Sam!" tanya pak Adzriel tidak paham.
"Itulah sebabnya aku mengundangmu untuk menawarkan agar kamu mau menjaga dan melindungi batu giok buatan pak Rangrang."
Pak Adzriel sekarang baru paham apa maksud pak Sam mengundang dan berbicara empat mata dengannya.
Apalagi batu giok ini adalah termasuk miliknya sendiri.
"Bagaimana apakah kamu bersedia batu giok itu aku berikan kepadamu agar kamu jaga dan rawat Baik baik."
"Aku bersedia pak Sam!" jawab pak Adzriel.
"kalau begitu mulai sekarang kamu tidak lagi bekerja sebagai tukang sapu jalanan begitu juga dengan kedua kawanmu itu." ucap pak Sam.
💘💘💘💘💘
BERSAMBUNG.
__ADS_1