
Mobil Givano sudah tiba dirumah bi Anah. Dia disambut senang oleh putra, menantu dan Cucu cucunya.
"Ini adalah putra saya yang bungsu namanya Hambali dan yang ini adalah putra putrinya, Sakina dan Marlin serta yang ini istrinya namanya Rawdah." ucap Rianah memperkenalkan putra menantu dan Cucu cucunya kepada Givano.
"Salamualaikum...!" sapa Givano menyalami Hambali dan Rawdah.
"Ini adalah majikan Mama di Jakarta!" ucap Rianah kepada Putra dan menantunya disela sela mereka bersalaman.
"Wa alaikumsalam," jawab Hambali menyambut salam Givano.
"Ma, kenapa tidak bilang dulu kalau kemari?!" kata Hambali kepada Mamanya yang datang Tiba tiba.
"Mama datang kemari mendadak!" timbal Rianah.
"Mari pak! masuk...." kata Hambali langsung mempersilahkan Givano.
"Bapakmu mana!" tanya Rianah.
"Bapak kelaut ma," jawab Hambali.
"Kelaut?" Givano nampak bingung.
"Kelaut maksudnya sedang pergi ketengah laut menangkap ikan." kata Rianah menjelaskan kepada Givano.
"O...," Givano mengangguk paham sekarang.
Pemandangan laut tidak terlihat dari rumahnya Rianah tapi suara gelombang laut terdengar jelas. ini berarti laut tidak terlalu jauh dari rumah Rianah hanya saja terhalang oleh Rumah rumah penduduk.
Givano masuk dan duduk dikursi yang terbuat dari rotan ditemani Hambali. Sementara Rawdah pergi kedapur memanaskan air untuk membuat minuman tamunya.
Sedangkan Rianah masuk kekamarnya yang ditempati oleh suaminya sampai sekarang. Tidak beberapa lama keluar membawa kotak yang terbuat dari perak warna silver.
"Alhamdulillah kotak ini masih tersimpan dengan baik!" ucap Rianah.
Hati Givano berdebar debar melihat kotak segi empat berukuran dua puluh lima kali lima belas centimeter bentuknya indah seperti kado kue.
Givano langsung menerima kotak yang dititip Kakeknya kepada Rianah. Yang hari ini disodorkan oleh Rianah kepadanya dan diterima dengan tangan gemetar.
Givano langsung sujud sungkem dan menangis di kedua lutut asisten rumahnya yang sudah di anggap seperti ibunya.
"Terimakasih bi anah telah menyimpan kotak ini dengan baik." ucap Givano menangis dipangkuan Rianah.
"Ini sudah kewajiban bibi untuk menjalankan amanah yang dipercayakan kepada bibi." jawab Rianah meneteskan air matanya terharu melihat kegembiraan Givano.
"Sekali lagi terimakasih bi anah!" ucap Givano lirih yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Rianah sambil mengangkat tubuh Givano kembali duduk di kursi.
__ADS_1
"Sekarang kamu boleh buka apa isinya," suruh Rianah.
"Lain hari saja bi sekarang tidak bisa jantung saya berdebar debar." jawab Givano sambil memegang erat kotak itu.
Rawdah tampak sibuk dan meminta seorang tetangga membantunya menyiap masakan yang enak untuk tamunya.
...----------------...
Ditempat lain,
Terlihat Fado dan Nabil berjalan berkeliling mengitari Mall graha cijantung, mereka berharap bisa melihat Sarinah, karena Sarinah pertamakali dilihat dan jumpa di Mall graha ini. Begitu pula dengan Ezra yang ditemani langsung oleh Shaugi berkililing mengitari Mall graha.
Tampak mereka sadari mereka bertemu di sebuah sudut percis didepan cafe.
"Heh! Shaugi dan kamu Ezra ngapain disini...." tatap Fado curiga sambil bertolak pinggang.
"Lha, lo ngapain disini? Jangan jangan kalian, lagi cari pacar gua." tuduh Shaugi langsung.
"Apa, kamu bilang pacar lu, sejak kapan lu pacaran...." ledek Fado sambil terkekeh kekeh.
"Heh! lu dengar ya, gua orang kaya, semua gadis gadis cantik disini milik gua." bentak Shaugi.
"Sembarang aja kalau ngomong, Mentang mentang kaya semua gadis jadi miliknya emangnya kamu mbah Sontang!" bentak balik Fado.
"Mbah Sontang, mbah yang istrinya tiga ratus...."
Ha ha ha ...
He he he...
Fado dan Nabil tertawa mengejek Shaugi.
"Kurang Ajar kamu mengejek bos gua...!" teriak Ezra mau menghajar Fado.
"Heh! lu kalau berani lawan gua jangan disini!" Fado menunjuk mata Ezra.
"Tampang lu mau lawan gua," Ezra remehkan Fado.
"Kalau berani ayo kita duel diluar!" tantang Fado pergi melangkah keluar dengan membusungkan dada padahal badannya kurus kerempeng.
"Ayo," timbal Shaugi mengajak Ezra berjalan dibelakang Fado dan Nabil.
"Eh, jangan mukul dari belakang ya? Itu pengecut namanya." kata Nabil yang memang merasa curiga dan merasa takut kalau dua orang dibelakangnya menyerangnya secara Diam diam.
Sementara itu, pak Jamal dikediamannya yang menugaskan Fado dan Nabil tidak sabar menunggu hasil kerja anak buahnya yang sejak semalam tidak bisa tidur terbayang bayang wajah Sarinah yang cantik
__ADS_1
"Aku tidak akan menikah dengan gadis lain, selain dirimu." ucap jamal kepada foto Sarinah di hpnya. Pak Jamak berbicara sendiri seperti orang gila.
Hari hari dia memandang foto Sarinah di hpnya, yang didapat dari seseorang yang bernama Sudaryo. Dia lupa kalau dia pernah iseng memberi bonus dua puluh miliar rupiah kalau ada yang bisa menunjukkan foto seorang gadis yang membuatnya tertarik dan siap menikahinya.
Dan sekarang dia mendapatkan foto seorang gadis dan dia Benar benar mau menikahi foto seorang gadis yang ternyata Sarinah.
Apakah karena aku tidak menempati janji ya? sehingga aku tidak dapat menemui gadis itu. Gumannya dalam hati. Mungkin, kalau aku menepati nazarku itu? Kemungkinan gadis itu pasti datang sendiri kepadaku, gumannya lagi.
Pantas saja aku tidak bisa bertemu gadis itu karena aku belum menempati janji walau waktu itu sebenarnya aku iseng. Karena keisenganku itu tuhan menjodohkan aku dengan Sarinah gumannya lagi melamun. Akhirnya dia menghubungi Sudaryo.
"Halo, siapa ya?" tanya Sudaryo yang sekarang lagi susah memikirkan biaya bayaran bulanan putrinya disalah satu sekolah menengah atas negeri Surabaya.
"Aku pak Jamal!"
"Pak Jamal siapa?" rupanya Sudaryo sudah lupa.
"Pak Jamal yang janjikan dua puluh miliar bagi siapa saja yang bisa tunjukan gadis cantik yang beda dari pada Gadis gadis pada umumnya. Tapi, salah ucap!" kata pak Jamal.
Begitulah kalau orang tamak pelit dan kikir. Masa ada orang salah ucap ketika bernazar walaupun dia cuman iseng.
"Terus sekarang bagaimana!" tanya Sudaryo lemah.
"Itu kan Nazar, harus kupenuhi tapi dua ratus ribu ya? Aku transper sekarang!" jawab pak Jamal.
Sudaryo yang tadinya lemah tidak bersemangat langsung jadi bersemangat. Sudaryo takut untuk menolak nanti pak jamal tidak jadi mengirimkan uang sebanyak itu. Tapi sekarang dia yang iseng.
"Kalau mau pernikahan lancar dan langgeng kirim dua miliarlah!" ucap Sudaryo iseng.
"Jadi kamu dua miliar!"
"Ya..., kalau mau rumah tangganya mulus."
"Okey deh, aku kirim dua miliar, kirim nomor rekeningmu sekarang!" pinta pak Jamal.
Walau hati Sudaryo ragu dan tidak percaya diapun mengirim nomor rekeningnya.
...----------------...
Di sebuah tempat yang lapang terjadi duel dua lawan dua. Sebelum perkelahian berlangsung mereka melakukan perjanjian. Dalam perjanjiannya mereka boleh saling menyerang siapa saja. asal jangan menyerang kawan sendiri.
perkelahian berlangsung seru dan menjadi tontonan orang ramai. Dan memang benar kata pepatah kalah jadi abu, menang jadi arang. Kalah menang Sama sama saja, Sama sama merugi
💟💟💟💟💟
BERSAMBUNG.
__ADS_1