DOA IBU

DOA IBU
DAFTAR MASUK SEKOLAH.


__ADS_3

Alfiana masih meragukan ucapan Fado dan Nabil. Namun benar juga apa yang dikatakan Fado, kalau kedatangannya kekafe ini untuk membahas apa yang mereka rencanakan.


Untuk kali ini aku harus mengalah, guman Alfiana dalam hati. "Okey tadi kamu bilang kamu telah meluruskan permasalahannya, yang kutanyakan apa rencana pak Jamal selanjutnya setelah dia tahu aku tidak pernah makan uangnya satu senpun!" kata Alfiana menurunkan kemarahannya.


"Apa? Non Ana bisa makan uang?" tanya Fado bingung dengan mata terbelalak dan mulut menganga.


"Maksudku menggunakan uang yang dia transfer!" jelas Alfiana.


"O..., ngomong yang jelas dong!" ucap Fado.


"Lu yang bloon, omongan yang seperti itu saja tidak ngerti!" timbal Nabil kesal.


"Ya, sudah! Kamu saja yang jelaskan apa rencana pak Jamal selanjutnya!" kata Fado memandang Nabil.


"Yang jelas pak Jamal masih menginginkan Sarinah! Dan aku yakin dia tidak takut merogoh simpanannya untuk bayar kita!" tatap Nabil kepada Alfiana.


"Bilang sama dia, aku siap mempertemukannya!" timbal Alfiana.


"Bagaimana kalau kupertemukan kamu dengan pak Jamal sekarang!" pinta Nabil.


Alfiana terdiam memikirkan permintaan Nabil. Timbul berbagai rencana dalam hatinya.


Aku yakin, pak Jamal cinta berat sama Sarinah aku harus bisa mamfaatkan ini, guman Alfiana.


"Katakan saja dulu sama dia, kalau memang dia benar-benar mengunginkan Sarinah, suruh dia menghubungi aku!" pinta Alfiana.


"Baiklah kalau itu maumu, akan kusampaikan!" timbal Nabil.


"Tadinya kami berharap hari ini kamu mau menemui pak Jamal!" sahut Fado.


Alfiana mulai mengatur siasat saat didesak oleh kaki tangan pak Jamal ini,


"Kalian dengar ya! Aku tidak tipu kalian berdua! Justru sekarang kita kerja sama untuk mendapatkan uang pak Jamal! Dan aku tahu apa yang aku lakukan!" ucap Alfiana membisikan Fado dan Nabil yang tampak serius mendengarkannya.


"Ini..., ini yang aku harapkan. Kalau begitu kamu yang arahkan kami dan kami siap menjalankan apa yang kamu arahkan kepada kami!" ucap Fado bersemangat.


"Beneran..., ini," ucap Alfiana minta kesungguhan mereka.


"Suer, kami siap!" jawab Fado.


"Fado siap, bagaimana dengan kamu!" tatap Alfiana kepada Nabil.


"Sudah puluhan tahun aku menjadi kaki tangannya, tapi sampai sekarang aku belum memiliki apa-apa!" jawab Nabil


"Jadi...," kedip Alfiana.


"Okey siap!"


"Gitu, dong...!" kata Alfiana berhasil mengelabui kedua kaki tangan pak Jamal.


"Sekarang apa yang harus kami lakukan!" tanya Nabil.


"Kalian pulang! Akting didepan pak Jamal. Pastikan dia, aku bisa mempertemukannya dengan Sarinah! Asal uang dua miliar dia transfer sekarang!" ucap Alfiana sambil menyedot jusnya.


...----------------...

__ADS_1


Keesokan harinya Dolangga didaftarkan masuk sekolah. Berkat bantuan Amir dan Silvia, Dolangga diterima disebuah sekolah favorit di jakarta timur.


Tampak Givano dan Dolangga baru keluar dari ruang pendaftaran siswa baru yang ditemani Amir dan Silvia.


"Minggu depan ya, anak-anak masuk sekolah!" ucap Givano sambil berjalan mendapingi Dolangga.


"Iya, seluruh siswa aktif masuk sekolah minggu depan!" jawab Silvia yang kebetulan juga guru sekolah ditempat Dolangga dimasukan sekolah.


"Yang mengantar Dolangga sekolah siapa?!" tanya Amir.


"Untuk sementara aku yang antar!" jawab Givano.


"Aku bisa carikan kamu sopir!" ucap Amir.


"Tidak usah! Ini saja sudah banyak kusita waktu kalian!" tolak Givano tidak tega.


"Vano! Tidak seharusnya kamu bilang begitu!" kata Amir kecewa.


"Melihatmu gembira, kami sangat senang sekali!" jelas Amir.


"Maksudku mencari sopir tidak perlu terburu-buru. Biar itu nanti aku cari sendiri!" jawab Givano.


"Bila nanti kamu perlu bantuanku, hubungi saja aku!" ucap Amir setelah sampai dikuar.


"Sil, tolong ya? perhatikan Dolangga!" pinta Amir kepada Silvia.


"Pasti!" jawab Silvia mengiyakan Amir.


"Terimakasih, atas waktu kalian!" ucap Givano.


Baru berjalan sekitar empat ratusan meter Givano dan Dolangga melihat sebuah mobil warna biru diserepet dan dihadang oleh dua buah mobil.


Tidak beberapa lama keluar pak Ruyung dengan dikawal oleh Alex dan Ezra.


"Kalian langsung saja pergi!" perintah pak Ruyung kepada mobil yang dikendarai Shaugi.


Shaugi langsung tancap gas meninggalkan bapaknya.


Pak Ruyung menghampiri mobil yang dihadang, "Keluar!" teriak pak Ruyung menyuruh Sopir mobil warna biru.


Di pintu sebelah kiri keluar seorang bapak berpakaian rapi dengan stelan jas warna hijau yang bernama pak Erlangga. Dia menghampiri pak Ruyung, "Pak! Ada apa? ini," tanya pak Erlangga.


"Aku tidak ada urusan dengan kamu!" kata pak Ruyung mengusir pak Erlangga.


"Pak! Bagaimanapun juga, pak Fasa adalah sopirku. Tentu tanggung jawabku!" protes pak Erlangga.


Sebelum pak Fasa keluar dari dalam mobilnya. Givano dan Dolangga turun dari mobilnya setelah memarkirkan mobilnya ditempat yang baik dan aman.


Pak Fasa keluar dari dalam mobilnya dengan wajah pucat dan takut.


"Hehehe, kamu tak kan mungkin bisa lari dariku!" tatap pak Ruyung dengan tajam dan telujuknya digoyang-goyang.


"Bapak sendiri sudah janji, jika aku bisa tunjukkan tempat batu giok itu berada, maka semua utang-utangku lunas! Dan batu giok itu sudah aku tunjukan tempatnya!" ucap pak Fasa dengan gemetar.


Givano yang mendengar penuturan pak Fasa sangat terkejut. Siapa pak Fasa ini, guman Givano dalam hati sampai tahu batu giok itu berada ditangan pak Sam, ucapnya lagi.

__ADS_1


Aku harus cari tahu siapa pak Fasa ini, kata Givano lagi dalam hati.


"Hutangmu baru lunas kalau batu giok itu sudah aku miliki!" kata pak Ruyung memutar ucapannya.


"Berarti bapak sendiri yang ingkar janji, bukan aku!" ucap pak Fasa bela diri.


"Kalau aku ingkar janji kenapa kamu kabur, hah!" bentak pak Ruyung.


"Aku kabur, karena kamu tekan agar aku bayar hutangku! Padahal hutangku sudah lunas," ucap pak Fasa bela dirinya lagi.


"Lunas dari mana! Alex seret dia masuk kedalam mobil!" perintah pak Ruyung.


Baru saja pak Erlangga hendak membantu pak Fasa. Ezra menghadang dan melepaskan pukulannya.


Bughk!


Tangan kanan Ezra bersarang diperut pak Erlangga.


Aagk!


pak Erlangga menjerit kesakitan.


Dengan satu genggaman tangan, Alex mencengkram baju leher pak Fasa. Lalu diangkat dan ditarik oleh Alex.


Belum tiga langkah Alex menyeret pak Fasa sebuah bayangan memutar diudara menghantam pipi Alex dengan keras.


Plak!


Genggaman tangan Alex terlepas dan bayangan yang menghantam pipi Alex mendarat dengan sempurna didepan pak Fasa.


pak Fasa yang melihat orang yang menolongnya sangat terkejut. Dia terkejut karena yang menolongnya anak kecil.


Belum selesai pak Fasa terkejut kembali terdengar teriakan,


Aaaah...!


ternyat tendangan Dolangga kembali beraksi menghajar dada Ezra.


Givano yang sudah tahu kehebatan adiknya, dia tidak perlu mengkhawatirkannya. Maka, dengan cepat dia menghajar pak Ruyung.


Weeesss...


Sebuah tendangan memburu wajah pak Ruyung.


Paaak!


Satu tendang kaki Givano telak mengenai dagu pak Ruyung.


Auugh!


Pak Ruyung terhuyung kebelakang, penglihatannya berkunang-kunang dan kepalanya terasa pusing. Dia berdiri sempoyongan tidak bisa menguasai tubuhnya.


💟💟💟💟💟


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2