
Seorang gadis yang tumbuh dengan berbagai kekurangan, kedua orang tuanya yang hidup berpetualang dari satu tempat ketempat lain membuat gadis cantik bernama Sarinah tidak mendapat pendidikan yang tinggi hanya mampu sampai sekolah menengah pertama.
Adik bungsunya malah tidak pernah mengenyam pendidikan sekalipun taman kanak kanak apalagi sekolah dasar. Tapi, berkat keinginannya yang ingin membela keluarganya dari hinaan dan penindasan dia akhirnya rela ditinggal hanya untuk belajar bela diri.
Dari belajar bela diri itulah dia bisa membaca dan menulis karena diharuskam oleh gurunya sebelum mempelajari ilmu bela diri dia harus bisa membaca dan menulis.
Gadis miskin itu yang dulu dihina dan hampir beberapa kali menjadi korban kekerasan **** kini jadi Idola pria. Setiap pria yang melihatnya langsung jatuh hati.
Pria beruntung pertama kali yang berhasil menarik hatinya dan membuatnya jatuh cinta adalah Sachio. Kini Sachio meminta orang tuanya untuk meminang sang kekasih.
Sebelum meminang sang kekasih ternyata ada dua pria juga yang berniat meminangnya padahal dua pria itu belum dikenal sama sekali oleh sang kekasih.
Alfiana yang diminta oleh pak Ruyung menunjukan kediaman Sarinah tersenyum pahit memandang pak Ruyung.
"Apa ada yang lucu dari pertanyaan saya!" tanya pak Ruyung pada Alfiana yang dilihat hanya tersenyum begitu diminta untuk menunjukkan kediaman Sarinah.
"Pak! Bukan bapak saja yang mencari kediaman Sarinah. Sebelumnya pak Jamal berani membayar dua miliar untuk mendapatkan tempat kediaman Sarinah." tutur Alfiana.
Pak Ruyung mengernyitkan dahinya begitu mendengar penuturan Alfiana dan berpikir, ternyata perempuan muda yang baru saja menginjak dewasa ini sudah pandai cara mendapatkan uang.
"Hm..., dua miliar. Berarti pak Jamal sudah tahu kediaman gadis itu kalau uang dua miliar itu sudah ditransfer." guman pak Ruyung pada Alfiana.
"Dua miliar itu baru saja di transper. Tapi, aku ditipu temanku makanya aku ditinggal dan ketemu dengan bapak dijalan tadi." tutur Alfiana.
"Jangankan dua miliar dua kali lipat akan kubayar. tapi, dengan syarat usai mereka ijab kabul." kata pak Ruyung.
"Tidak bisa dong pak! Kalau kutunjukan kediaman Sarinah kemudian lamaran bapak ditolak yang rugi aku dong, yang nunjukin jalan." timbal Alfiana.
"Nunjukin jalan saja kamu katakan rugi? Rugi apanya!" kata pak Ruyung gelengkan kepala.
"Didunia ini tak ada yang gratis pak!" ucap Alfiana tampak seperti tidak peduli.
__ADS_1
"O..., gitu ya, pengawal sekap dia dan jaga jangan sampai lepas!" perintah pak Ruyung pada pengawalnya.
"Hey..., apa apaan ini lepaskan aku..., lepaskan...." teriak Alfiana mengamuk mencoba melepaskan diri. Tapi, dia adalah perempuan apalah dayanya dia tidak bisa berbuat Apa apa.
...----------------...
Ditempat wisata kenjeran Surabaya. Tidak jauh dari tempat Wisata tampak seorang anak sedang berlatih dengan tekun olah kanuragan. Hari hari dia rajin belajar setelah bisa membaca dan juga ibadahnya luar biasa karena boncel yang lulusan pesantren memberikan ilmu yang dia miliki kepada Dolangga hingga boncel merasa kagum atas kemajuan Dolangga ketika melantunkan ayat ayat suci algur'an.
Dolangga menghentikan latihannya dan mendekati Wie lan dan Boncel yang sedang menikmati kopi hangat.
"Kek masih banyakkah ilmu yang belum saya pelajari?" tanya Dolangga setelah duduk. Boncel menuangkan teh dan menyodorkan singkong rebus kepada Dolangga.
"Kurasa ilmu yang kamu miliki dalam olah kanuragan sudah lebih dari cukup." kata kakek Wie lan.
"Ha ah, nanti kita tes kemampuanmu pada preman preman di bungurasih." sambung Boncel.
"Kata kakek hari ini kita mulai berpetualang mencari keluargaku di Jakarta, kenapa ditunda?" tanya Dolangga.
"Kami berbeda pendapat, kakek Wie lan mu ingin kita pergi cukup dengan pakaian di badan saja. Tapi, aku tidak mau." timbal Boncel.
"Bagaimana kalau kita Masing masing bawa sarung sekalian kita jadikan selimut satu, celana dan baju satu sebagai salinan kalau kotor serta perbekalan tidak perlu kita pikirkan kita mulai jalan malam ini." kata Dolangga menawarkan.
"Kalau Dolangga yang mengusulkan aku ikut saja." jawab Boncel.
"Kamu pikir kamu saja yang bisa ngikuti Dolangga akupun juga ikut!" timbak Kakek Wie lan tak mau kalah. Kalau dua kakek ini mau bicara mereka selalu bertengkar tak ada yang mau ngalah.
"Okey, nanti malam kita Siap siap berangkat." kata Dolangga.
Merekapun siap berangkat nanti malam usai sholat magrib tanpa persiapan Apa apa. tak ada uang tak bekal makanan yang mereka bawa untuk berpetualang mencari keluarga Dolangga yang telah terlebih dahulu berangkat ke Jakarta.
Malamnya usai sholat magrib merekapun bergerak bertiga menyusuri tepi pantai menuju kota surabaya. Sesampai di kota surabaya mereka duduk bertiga memikirkan apa yang dilakukan untuk naik kendaraan karena mereka tidak punya uang untuk beli tiket.
__ADS_1
Ditengah tengah lalu lalangnya mobil angkot taksi dan bis kota Mereka duduk terus duduk bertiga sambil mengawasi keramaian. Mata Dolangga melihat lima orang preman sedang memeras seorang penumpang tujuan semarang ditempat yang agak sepi.
Dolangga tampak membisik kakek Wie lan dan kakek Boncel mereka berdua anggukkan kepala.
"Wilayah ini kekuasaan saya, siapa saja yang tidak mau bayar uang keamanan maka kami tidak bertanggung jawab kalau terjadi Apa apa." kata salah seorang preman yang menggunakan ikat kepala
"Sekarang kamu bayar uang keamanan seratus ribu perorang." pinta preman yang memakai baju rompi warna hitam.
Sedang tiga orang berjaga jaga tidak jauh dari dua temannya. Baru saja Orang orang tujuan semarang itu hendak memberikan uangnya Dolangga melarang mereka.
"Pak! Bu..., jangan berikan mereka. Mereka itu mau memeras kalian." kata Dolangga kepada Orang orang yang mau diperas oleh para preman itu.
Pria ikat kepala itu ternyata mengenal Dolangga.
"Heh! kamu Dolangga kan adiknya perempuan yang menjijikan itu." kata preman yang menggunakan ikat kepala yang ternyata adalah Zafar yang sering menghina dan melecehkan kakaknya.
"Ho..., ternyata kamu Zafar senang bertemu denganmu." jawab Dolangga dengan tenang. Kalau dahulu Dolangga sering ketakutan melihat Zafar. Tapi, kali ini timbul keinginan untuk membalas semua yang telah dilakukan terhadap kakaknya.
"Kemarin tinggimu segini, sekarang kamu tambah tinggi. Cepat sekali pertumbuhan tubuhmu. Minggir anak kecil berani sekali menghalangi pekerjaanku." bentak Zafar.
"Kamu pikir aku takut kepadamu sekarang dasar pemeras!" jawab Dolangga berkacak pinggang menantang Zafar.
Sekarang Zafar Benar benar marah sama Dolangga. "Berani sekali kamu menghalangi kerjaku!" kata Zafar sambil melayangkan tangan kanannya. Tapi, Dolangga dengan mudah menangkap pergelangan tangan Zafar dan memitingnya memutar kearah kiri.
Aaaaghk.....
Zafar ikut memutar tubuhnya searah dengan pergelangan tangannya yang diputar Dolangga. Gila! Anak ini bisa sekuat ini, guman Zafar dalam hati.
💟💟💟💟💟
BERSAMBUNG.
__ADS_1