
Pertarungan geng motor dengan kakek wie lan dan kakek Boncel kini melibatkan warga. Banyak warga berdatangan membantu kakek Wie lan dan kakek Boncel.
Geng motor unrival master mendapat pelajaran dengan perlawanan warga. Mereka dibuat tidak berkutik oleh kakek Wie lan dan kakek Boncel yang dibantu oleh warga.
Dirumah Wahyu Givano sedang diobati oleh dokter.
"Lengannya hanya mendapat goresan saja!" kata dokter yang telah selesai membalut luka lengannya Givano.
Wahyu yang lama tinggal dipondok bambu sudah tahu sepak terjang geng motor unrival master. Dia penasaran dan bertanya kepada Givano; "Gimana ceritanya geng motor itu menyerangmu."
Givano menarik napas panjang mengingat peristiwa yang baru dialaminya. Untung saja datang dua orang kakek menolongnya.
"Aku dan Rista sedang istirahat makan, Kemudian masuk tiga orang mengancam dan memeras kami yang sedang makan!" tatap Givano.
"Lalu kamu menolak permintaannya."
"Ya!" kata Givano.
Wahyu memandang Givano dan Rista. Dia sangat bersukur sekali dengan ketajaman pendengaran kakek Wie lan.
"Sebenarnya yang pertamakali mendengar suara keributan adalah kakek Wie lan." kata Wahyu.
"Lalu aku keluar melihat apa yang terjadi dan kembali minta pertolongan kakek wie lan dan kakek Boncel!" lanjut cerita Wahyu.
"Siapa? Mereka!" Givano langsung pingin tahu.
"Mereka kesini membantu Dolangga mencari kedua orang tuanya."
Dada Givano Deg degan begitu mendengar nama Dolangga. Dia berusaha menyembunyikan kegugupannya, dan menatap Dolangga dengan seksama.
Givano Cepat cepat mengalihkan pandangannya, saat wahyu memandangnya.
"Untung mereka tidak berhasil membunuhmu, mereka ini sangat kejam!" kata Wahyu kepada Givano.
Sementara itu diluar para geng motor yang tadi beringas tak kenal ampun sudah tidak dapat berbuat Apa apa. Mereka kini jadi Bulan bulanan kemarahan warga.
Tidak beberapa lama polisi datang mengamankan mereka. Tak sedikit warga yang mengucapkan terima kasih kepada kakek Wie lan dan kakek Boncel.
Begitu polisi datang kakek Wie lan dan kakek Boncel langsung segera menyingkir pergi bergegas kembali kerumah Wahyu.
...----------------...
Tidak ada yang mengetahui kedatangan Alfiana. Dia menyelinap masuk keruangan tengah dan dengan leluasa mendengar percakapan lamaran Sachio.
Pak Kimin dan pak Ramlan sibuk menjamu tamunya yang datang. Setiap pak Kimin keluar dia melihat sesuatu yang bergerak dibalik tabir panjang jendela dekat lemari. Pada awalnya pak Kimin mengira angin yang menerpa tabir itu.
__ADS_1
Lama lama akhirnya pak Kimin jadi curiga. Ketika dia masuk dia melihat tabir itu bergerak begitu ketika keluar. Diam diam pak Kimin mengintai ada apa dibalik tabir tersebut.
Pak Kimin sangat terkejut ketika matanya melihat sepatu kaki wanita sedikit menyembul keluar. Diapun segera membisik telinga pak Adzriel.
Dengan sangat Hati hati pak Adzriel menyingkap tabir yang dicurigai pak Kimin. Betapa terkejutnya pak Kimin dan pak Adzriel melihat seorang wanita berdiri dengan tenang tanpa rasa takut sedikitpun walau dia sempat terkejut ketika tabir tempatnya bersembunyi disingkap.
"Siapa kamu?"
Mata pak Adzriel melotot memandang Alfiana.
"Maaf, aku terpaksa dengan cara ini."
Alfiana berpura pura ketakutan. Sedang pak Adzriel tidak mau menuduh orang maling, sebab perempuan ini tak ada tampang pencuri dimatanya.
"Sebentar, pak! Kayaknya ini orang pernah aku lihat!" ucap pak Kimin.
Pak Adzriel baru tersadar dan pernah juga merasa melihat perempuan yang menyelinap di rumahnya ini.
"Iya, sepertinya aku juga pernah melihat!"
"Coba kita Ingat ingat!"
"O..., aku ingat sekarang!"
"siapa?!" tanya pak Kimin penasaran.
"Oh, ya aku ingat sekarang. Yang nyiram dia wanita gendut, siapa namanya pak!" tanya pak Kimin.
"Aku juga tidak tahu!" jawab pak Adzriel.
Sarinah dan Sachio yang mendengar ada suara perbincangan dikamar tengah nongol juga melihat kedalam dan sangat terkejut melihat Alfiana.
"Pak! kenapa ini orang Tiba tiba didalam!"
"Tidaj tahu Tiba tiba saja dia ada didalam!" jawab pak Adzriel.
Sachio Benar benar merasa curiga kepada Alfiana. "Sekarang katakan apa maksudmu menyelinap masuk Diam diam!" tatap Sachio geram.
Alfiana malah tersenyum. "Kalau aku hadir terus terang apa aku diijinkan!"
"Disini tak seorangpun yang menginginkan kehadiranmu?!" tatap sinis Sachio.
"Kalau begitu tak salah kan aku Diam diam masuk!" tatap balik Alfiana tanpa rasa takut dan malu sedikitpun.
Mendengar ada keributan didalam kamar dalam pak Faris penasaran dan masuk disusul Komala, Lisa dan Maura.
__ADS_1
Betapa terkejutnya mereka berempat begitu tahu Alfiana ada didalam. "Pak Adzriel! Kenapa perempuan ini bisa ada disini!" kata pak Faris.
"Pak Adztiel tidak tahu pak! Tiba tiba saja dia ada didalam!" timbal Sachio.
"Perempuan ini mencurigakan kita laporkan saja kepolisi!" sahut bu Komala.
Ah, ha ha ha
Alfiana malah tertawa mendengar ancaman bu Komala.
"Hey, kamu kira kami Main main?! Pak laporkan saja!" pinta bu Komala kepada pak Faris.
"Memangnya bisa, dengan hadirnya aku secara Diam diam kalian bisa penjarakan aku!" tantang Alfiana.
"Kalau begitu silahkan pergi dari rumah saya, sebelum saya usir secara paksa!" kata pak Adzriel menyuruh Alfiana pergi.
"Tujuanku kemari adalah untuk minta maaf kepada kalian semua, terutama kepada Sarinah! Aku tidak ada maksud lain kok!" tepis Alfiana.
"Kalau memang benar kamu mau Baik baik minta maaf kenapa dengan cara ini?" kata pak Faris tidak percaya.
"Sarinah! Sungguh aku kesini Benar benar minta maaf! Terutama sama kamu!" kata Alfiana Pura pura menyesal.
Sarinah kemudian membisikan Sachio. Tampaknya Sarinah mempercayai ucapan Alfiana. Sebab, kalau tidak pasti dari awal dia sudah membuat keributan.
Setelah mendengar pertimbangan Sarinah Sachio sepertinya membenarkan apa yang dikatakan Sarinah!
...----------------...
Givano Benar benar yakin Dolangga yang ditinggal oleh ibu dan adiknya Sarinah adalah Dolangga yang sekarang didepannya. Apalagi kakek yang mengajarinya adalah sama yakni kakek Wie lan.
Givano merasa bersukur kepada Allah yang mempertemukannya dengan adik kandungnya.
Givano yang dari tadi memperhatikan rumah yang ditempati Wahyu tidak ada Apa apanya. "Maaf dari tadi kuperhatikan rumah ini seperti kosong tidak ada Apa apanya!" kata Givano memperhatikan seluruh rumah disekitarnya.
Wahyu melirik Givano yang terus memperhatikan ruangan yang mereka tempati sekarang. "Rumah ini sudah ku jual dan besok pagi aku sudah kembali ke Surabaya!"
"Lalu kenapa Dolangga, kakek Wie lan dan kakek Boncel bisa kenal dengan pak Wahyu."
Baru saja Wahyu mau menjawab pertanyaan Givano Tiba tiba kakek Wie lan mendahului memberi jawaban. "Wahyu memberi tumpangan kepada kami ketika kami ke Jakarta ini."
Mereka berempat menoleh kearah kakek wie lan dan kakek Boncel yang baru tiba.
"Kakek Wie lan, apakah urusan dengan geng motor sudah selesai!"
"Mereka sekarang sudah ditangani polisi." kata kakek wie lan melangkah masuk bersama kakek Boncel.
__ADS_1
💟💟💟💟💟
BERSAMBUNG.