DOA IBU

DOA IBU
MIRIP SEPERTI ADIK DAN KAKAK.


__ADS_3

Givano kembali masuk kedalam rumahnya dan memanggil Rianah. "Bi Anah...," teriak Givano perlahan dari ruangan depan.


"Iya Vano...," timbal bi Rianah dari dalam.


"Ada yang ketinggalan!" kata Rianah yang sudah berdiri didepan Givano.


"Tidak ada bi, tolong panggilkan Dolangga sebentar!" kata Givano menatap bi Rianah.


"Baik, Van!"


Bi Rianah putar badannya menuju bilik Dolangga. "Lan, dipanggil kak Givano." kata bi Rianah dari luar pintu bilik Dolangga.


Dolangga yang lagi ngelamun bertemu ibu dan kakaknya segera bangun dan berdiri membuka pintu. "Selamat pagi? Bi Anah...?"


"Pagi? Olan..., nak Olan dipanggil kak di Vano," kata bi Rianah.


Bi Rianah sejak kedatangan Dolangga dan dua kakek yang membantu mencari ibu dan kakaknya ini terheran heran mengapa Givano yang dirawat sejak kecil sangat mirip sekali dengan Dolangga.


Kadang dia sering memperhatikan mereka berdua secara Diam diam dan diperhatikan, Betul betul mirip sekali. Apalagi dia yang merawat dan membesarkan Givano dari kecil.


Kecilnya Givano tak ada bedanya ketika melihat Dolangga sekarang. Ada kecurigaan dalam hati bi Anah kalau mereka bersaudara. Dan pernah mendengar kalau Givano masih punya Ayah dan Ibu.


"Kak, Vano mana?"


"Diluar!"


"O..., ya, baik bi!"


Dolangga keluar menuju Givano yang lagi duduk di shopa. "Kakak panggil saya?!" kata Dolangga yang berdiri didepan Givano.


Givano tersenyum kepada Dolangga, lalu mengatakan; "Kamu ikut kakak, kekantor kakak," tatap Givano.


"Baik, kak! Saya bilang dulu sama kakek dibelakang!"


Givano anggukan kepalanya, "Silahkan dik!" Givano mempersilahkan Dolangga dengan mengangkat kedua tangannya.


Dolangga memutar tubuhnya perlahan menuju kebelakang halaman rumah yang sangat luas. "Pagi kek...!" sapa Dolangga kepada dua kakek yang lagi Bincang bincang di gardu belakang sambil menikmat kopi wedang jahe dan kue.


"Selamat pagi Dolan, mari gabung dengan kakek," sambut kakek Wie lan tampak bersemangat memanggil Dolangga.


Dengan santai Dolangga mengayunkan langkahnya mendekati kakek Wie lan yang tampak gembira hari ini. "Kek, hari ini Dolangga diajak kak Vano," kata Dolangga.


"Kemana?" tanya kakek Boncel.


"Tidak tahu juga kek," sahut Dolangga.

__ADS_1


"Ya, dah! Mungkin Vano pingin ajak kamu Jalan jalan!" suruh kakek Wie lan.


Lalu Dolangga pergi meninggalkan dua kakek yang selalu setia mengawalnya setelah memberi salam terlebih dahulu.


...----------------...


Fado dan Nabil masih membuntuti Alfiana dan Sarinah dari jauh. "Kita samperin aja mereka," usul Fado Lama lama merasa bosan ngikuti dari jauh.


"Jangan, nanti mereka paniki" cegah Nabil khawatir.


Fado sedikit tersentak mendengar Nabil. "Panik? Kamu pikir aku macan!" tatap Fado.


Jelas sekali raut wajah Nabil terlihat ketakutan ketika mendengar Fado yang ingin menghampiri Alfiana dan Sarinah.


"Heh, Jangan jangan dengan Gara gara kamu yang mendekati mereka rencana kita jadi gagal," tatap Nabil dengan mata melotot.


"Aaa, kalau tidak melakukannya bagaimana kita bawa Alfiana kedepan bos!"


Alfiana yang sedang selfi bersama Sarinah tak sengaja melihat Fado dan Nabil yang sedang bertengkar. Sepertinya Alfiana sedikit panik dengan adanya mereka ditempat ini.


Jangan sampai mereka berdua disini sedang mengawasiku. Tapi, Alfiana kembali tenang mengingat uang yang di transfer kepada Faid satu senpun tak dinikmatinya.


Saat teringat apa yang dilakukan Faid terhadap dirinya dadanya terasa sesak. Aku harus tahu sedang apa mereka disini, apakah sengaja mengawasiku atau tidak kata Alfiana dalam hati.


Alfiana mengajak Sarinah duduk istirahat pada bangku panjang yang tersedia ditaman. "Tunggu bentar ya?" Pinta Alfiana dengan ekspresi wajah resah.


"Aku lupa ngasih tahu mama dan bapakku!" sahut Alfiana.


"Ngasih tahu apa?"


Wajah Sarinah heran penuh tanda tanya. Tapi, Alfiana pandai memerankan mimik wajahnya agar tidak Sarinah salah duga.


"Aku keluar tidak bilang dulu, Aku takut mereka kepikiran," kata Alfiana dengan gelisah yang dibuat buat biar dia tampak kalau dia wanita Baik baik.


"O, itu masalahnya. Kalau begitu bilangin mamamu dong!" suruh Sarinah.


"Bentar ya!" Alfiana bangkit berdiri pergi meninggalkan Sarinah sambil Pura pura call mamanya.


"A, ah!" Sarinah anggukan kepala mengiyakan.


"Halo ma..., maaf aku lupa ngasih tahu mama...," kata Alfiana berpura pura sambil melangkah menjauhi Sarinah. Padahal yang diajak bicara tidak ada.


Sarinah memperhatikan satu dua orang berdatangan Jalan jalan ditaman. Ada yang joging sendirian ada juga yang dengan pasangannya. Entah pacar, teman atau suami istri.


Sedang Alfiana langsung mengagetkan Fado dan Nabil yang sedang bertengkar, "Na..., ngapain kalian disini! sengaja ngikuti aku ya," kata Alfiana bertolak pinggang didepan Fado dan Nabil.

__ADS_1


"Ternyata kalian yang pura pura bermesraan dibalik pohon bunga itu!" tunjuk Alfiana geram.


Fado dan Nabil tampak pucat tidak seperti biasanya. biasanya mereka tidak takut apalagi sama wanita. "Non! Non kan dapat bonus dari bos dua M, minta jatahnya dong!" pinter sekali Fado mengelabui Alfiana


Alfiana tertawa dan sedikit kesel melihat Fado dan Nabil. "Kalian pikir aku pernah nikmati bonus yang diberikan bosmu," tatap Alfiana nyengir memandang Fado dan Nabil. "satu senpun tak diberikan Faid sama aku, padahal aku bisa membantu pak Jamal untuk mendapatkan Sarinah!" kata Alfiana menceritakan Fado dan Nabil.


"Jadi uang dua miliar itu dimakan sendiri oleh Faid!" tatap Fado kaget.


"Uwah..., rakus itu Faid!" timbal Nabil.


"Nanti kami lapor sama bos!" kata Fado jengkel.


Alfiana tersenyum memandang Fado dan Nabil, tampak kesel. "Bilang sama bosmu tidak ada gunanya percaya sama Faid," kata Alfiana.


"Pasti non akan kami lapor nanti!" sahut Nabil.


"Katakan kepada pak Jamal kalau dia ingin memiliki Sarinah dia harus bayar sepuluh miliar!"


"Gimana kalau kita yang kerja sama," tawar Fado.


Mendapat tawaran Alfiana tampak tambah serius dan bergairah. "Bisa, asalkan kalian jujur!" terima Alfiana Sungguh sungguh tawaran Fado dan Nabil.


"Bagaimana kalau kita ketemuan nanti sore untuk membahas ini!" usul Nabil.


"Kita ketemuannya di kafe itu!" tunjuk Fado pada kafe twenty four.


"Gimana!" kata Nabil anggukkan kepala menatap Alfiana.


"Bisa!" jawab Alfiana. "Biar Sarinah tidak berprasangka buruk kepada kita kalian tinggalkan tempat ini." kata Alfiana seraya pergi meninggalkan Fado dan Nabil.


...----------------...


Givano baru nyampai diperusahaannya. "Dik Olan tunggu sebentar ya, sebentar kakak kembali lagi," kata Givano sambil membuka pintu mobilnya dan keluar meninggalkan Dolangga sendirian.


"Ya, kak!" jawab Dolangga anggukan kepalanya.


Tidak beberapa lama Sachio juga baru tiba dan turun dari mobilnya mengejar Givano. "Tunggu Vano tampaknya kamu seperti Buru buru. minta ijin cuti lagi ya hari ini." kata Sachio sambil mereka melangkah bareng masuk kedalam kantor perusahaan mereka kerja.


"Ya, ada urusan penting!" jawab Givano.


"Kalau aku hari ini mau mengundurkan diri!" kata Sachio.


"Serius!" tatap Givano mengernyitkan alisnya heran.


"Ya," jawab Sachio tanpa menjelaskan alasannya mengundurkan diri.

__ADS_1


💟💟💟💟💟


Bersambung,


__ADS_2