
Givano dan Dolangga lolos dari sergapan anak buah pak Ruyung, malah mereka pulang dengan membawa kekalahan yang memalukan.
Entah kekecewaa apa yang akan dilihat dari raut wajah bosnya yang melihat mereka pulang dengan hasil kosong.
pada pihak Givano dan Dolangga yang hendak disergap, kembali dengan tenang pergi melanjutkan perjalanannya menjumpai orang tua mereka dengan perasaan tidak tenang.
Dada Givano semakin berdebar tatkala dia berhenti didekat bengkel motor yang didekatnya sebuah rumah cukup besar bagi ukuran orang biasa.
Dolangga tidak menyangka rumah indah didepannya adalah tempat tinggal kedua orang tuanya yang dulu tinggal diruangan kecil dan kumuh.
"Kak! Kenapa kita diam disini? Mobilnya mogok?" tanya Dolangga. Dolangga terkejut melihat perubahan wajah Givano, pucat dan tampak bergetar.
"Kak, kak Vano sakit? Apa kakak terluka?" tanya Dolangga panik mengira Givano terluka karena perkelahian dengan anak buah pak Ruyung tadi.
"Tidak!, aku baik-baik saja," jawab Givano segera mengatasi kepanikan Dolangga. Belum usai Givano menutupi kegelisahannya dia dkejutkan lagi oleh pak Adzriel, "Vano masuk! Mamamu dan Sarinah!, didalam!" sapa pak Adzriel tiba-tiba muncul dari dekat pintu mobil depan tempat Dolangga duduk.
Dolangga terkejut mendengar seorang laki-laki diluar menyebut nama kakaknya Sarinah dan tidak mengenal sama sekali bapaknya yang meninggalkannya dua tahun yang lalu.
Kakek Wie lan yang mengenal betul Adzriel segera turun keluar mobil.
"Adzriel!" sapa kakek Wie lan.
"Pak Wie lan!" kepala Adzriel sampai tersentak kebelakang, kaget melihat kakek Wie lan ada bersama Givano.
"Kamu kerja disini! dan kamu sudah jumpa Givano!" kata kakek Wie lan salah sangka. Dia mengira pak Adriel sudah bertemu putra yang dicarinya.
"Ini rumahku! Dan bengkel ini milikku! Sampai sekarang Givano belum kuketemukan!" jawab pak Adzriel tampak senang bertemu kakek Wie lan.
"Zaripah dan Sarinah didalam dan anakku Dolangga mana?" tanya pak Adzriel kepada kakek Wie lan
"Zaripah dan Sarinah sudah ketemu kamu!" kata kakek Wie lan dengan mata terbelalak dan mulut menganga sambil geleng-gelengkan kepala melihat rumah besar milik Adzriel.
Kakek Wie lan tidak menyangka kalau pak Adzriel telah sukses sampai bisa memiliki rumah dan bengkel dan langsung bisa ketemu istri dan putrinya yang mencarinya ke Jakarta.
Dolangga langsung keluar dari dalam mobil begitu tahu orang yang menyapa Givano adalah bapaknya.
Sekarang Dolangga bisa ingat kalau dihadapannya adalah bapaknya.
"Itu! Anakmu!" tunjuk kakek Wie lan kearah Dolangga yang berdiri kaku didepannya sambil jahil nginjak kaki kakek Boncel yang berdiri didekatnya. Boncel tidak berani menjerit.
Tubuh pak Adzriel langsung lemas, kakinya yang berdiri bergetar menatap anak kecil yang dulu ditinggal dua tahun yang lalu. Kini berdiri jangkung didepannya seperti anak usia dua belasan tahun sampai tidak mengenalnya.
Pak Adzriel melangkahkan kakinya perlahan dua langkah mendekati putranya dan duduk jongkok dihadapan Dolangga.
__ADS_1
"Kamu sudah besar nak!" ucap pak Adzriel lirih dengan mata berkaca-kaca langsung memeluk Dolangga.
Dolangga menangis memeluk bapaknya. "Gimana ceritanya Givano membawa kalian kesini!" kata pak Adzriel heran kepada Givano.
Dulu Givano yang mengantar istrinya Zaripah dan putrinya Sarinah kerumah ini. Dan sekarang dia juga yang mengantar putra bungsunya kerumahnya putra yang menjadi pikirannya siang dan malam.
Kakek Wie lan masih kepikiran dengan cerita pak Adzriel yang mengatakan sampai sekarang dia belum menjumpai putra sulungnya Givano.
Kakek Wie lan yakin Givano sembunyikan identitasnya didepan kedua orang tuanya.
"Mama dan kakakmu pasti terkejut melihatmu! Ayo kita kedalam!" ajak pak Adzriel.
Pak Kimin dan pak Ramlan segera menutup bengkel walau tidak disuruh pak Adzriel. Mereka berdua ikut mengawal keluarga pak Adzriel masuk.
"Salamualaikum...!" ucap pak Adzriel sambil membuka pintunya mendorong perlahan.
"Wa alaikumsalam!" jawab Sarinah menoleh kearah Dolangga Givano dan pak Adzriel.
Aneh, bu Zaripah dan Sarinah tidak terkejut melihat Dolangga datang. Putra yang membuatnya tidak bisa tidur siang dan malam karena memikirkannya.
Sarinah baru teriak ketika kakek Wie lan dan kakek Boncel yang muncul belakangan.
"Astaga ma...! Kakek Wie lan dan kakek Boncel!" teriak Sarinah berdiri dan tertegun memandang Dolangga.
"Ma..., ini Dolangga! Ma...!" teriak Sarinah tapi masih ragu. Dia berdiri memandang laki-laki yang tingginya kayak anak sd.
Dolangga sampai ingin menangis karena mama dan kakaknya yang selalu dekat dengannya hanya memandang dan melihatnya saja. Tidak menyambut kedatangannya.
"Ipah! ini putramu?! Kenapa tidak disambut?!" tegur kakek Wie lan pada bu Zaripah.
Auuuu..., huk..., huk...
Zaripah langsung meraung menangis berlari merangkul Dolangga yang sedang dipeluk Sarinah.
Tangis Sarinah terdengar pilu karena tidak mengenal adik yang sangat disayanginya. begitu pula Zaripah ibunya.
"Sungguh! Dik, kamu tinggi dan tampan! Sampai kami tidak mengenalmu!" kata Sarinah memeluk dan mencium adiknya.
"Tadi, aku bilang dalam hati. Ini anak siapa..., mirip Dolangga! kataku dalam hati!" tutur Zaripah terharu.
"Aku juga ma..., mama tidak lihat aku bilang, ini Dolangga ma...," timbal Sarinah senang sekali.
"Siapa yang nunjukan kamu rumah bapak!" tanya bu Zaripah.
__ADS_1
"Kakak Givano!" jawab Dolangga.
Dalam hati bu Zaripah, berguman;
Mungkin kamu putraku yang hilang puluhan tahun yang lalu jerit hati bu Zaripah memandang Givano berkaca-kaca.
"Dulu kamu yang menunjukan kami rumah bapakmu! dan sekarang kamu yang mengantar adikmu mempertemukan kami!" kata bu Zaripah dengan mata berkaca-kaca memandang Givano.
Ya, Allah! jangan-jangan malaikat penolong ini adalah putraku juga! jerit bu Zaripah dalam hati.
"Pak!"
Panggilan terlontar keluar dari mulut Givano, dan anehnya semua mata mengarah kepadanya.
Givano menyodorkan sebuah kotak indah yang terbuat dari perak berwarna silver ukuran dua puluh lima kali lima belas centimeter kepada pak Adzriel.
Pak Adzriel memandang Givano sambil menerima kotak yang disodorkan Givano.
"Kotak apa ini?!" tanya pak Adzriel.
"Kotak itu disimpan bu Rianah dan baru ku ambil beberapa minggu yang lalu!" kata Givano.
"Bu Rianah itu siapa?" tanya pak Adzriel lagi.
"Pembantu kakekku yang merawat dan membesarkanku!" jawab Givano.
"Lalu kenapa kotak ini kamu sodorkan kepadaku dan apa hubungannya!" kata pak Adzriel merasa curiga.
Terlihat tangan pak Adzriel gemetaran memandang kotak indah yang terbuat dari perak ini.
"Boleh kubuka dan kulihat apa isinya?" tanya pak Adzriel penasaran. Mengapa kotak itu disodorkan kepadanya.
Dari pertama Givano menyodorkan kotak itu, bu zaripah sudah mulai curiga dan berharap kalau kotak yang disodorkan Givano itu adalah petunjuk. kalau Givano adalah putranya.
Ikatan batin ibu terhadap anaknya adalah sangat kuat sekali karena mereka satu darah.
Dada bu Zaripah semakin terguncang hebat ketika pak Adzriel mulai membuka kotak yang terkunci rapat itu.
💜💜💜💜💜
BERSAMBUNG.
Hai semuanya apa yang terjadi selanjutnya setelah tahu kalau Givano yang dicari puluhan tahun oleh keduanya orang tuanya ternyata Givano yang mempertemukan ibunya dengan bapaknya dan mempertemukan adiknya dengan mereka semua.
__ADS_1
ikuti terus kelanjutannya.