
Dua mobil berhenti didepan rumah pak Adzriel. Pak Ruyung belum keluar dari mobilnya, memastikan dulu apakah benar ini rumah Sarinah atau tidak.
"Ingat! jika kamu berbohong maka celaka besar yang kamu dapatkan." tatap sinis mata pak Ruyung kearah Alfiana.
"A, itu ibunya pak! mungkin ini benar rumahnya." seru Shaugi kepada bapaknya.
Pak Ruyung melihat seorang ibu yang sedang berdiri menyiram tanaman bunga dihalaman rumahnya.
"Benar?! Itu ibunya?" tanya pak Ruyung.
"Iya, pak! benar." jawab Shaugi.
Tidak lama kemudian seorang gadis cantik keluar dari dalam rumahnya memandang tanaman bunga yang disiram ibunya.
"Apakah itu gadisnya?" tunjuk pak Ruyung kearah Sarinah yang berdiri melihat ibunya menyiram tanaman bunga halaman rumahnya.
"Iya, itu benar pak!" Shaugi tampak matanya berbinar binar melihat Sarinah.
"Kalau begitu lepaskan perempuan itu!" perintah pak Ruyung menyuruh anak buahnya melepaskan Alfiana sambil menyodorkan hp miliknya yang ditahan.
Begitu Alfiana dilepas dia langsung menjauh meninggalkan pak Ruyung dan anak buahnya.
Pak Adzriel tahu ada dua mobil berhenti didepan rumahnya. Dia tetap sibuk mengerjakan motor yang sedang di servis.
"Pak Adzriel itu mobil siapa?" tanya pak Ramlan.
"Entahlah!" jawab pak Adzriel mengangkat kedua bahunya.
Sedangkan pak Ruyung sebelum keluar dari mobilnya dia memperingatkan anak buahnya tidak ikut keluar agar tidak menaruh curiga kepada tuan rumah.
"Okey aku keluar bersama Shaugi yang lain tetap didalam mobil kecuali kuperintahkan." ucap pak Ruyung kepada anak buahnya.
Baru saja pak Ruyung keluar bersama Shaugi muncul dua mobil dari arah yang berbeda datang parkir didepan rumah pak Adzriel.
"aduh, itu pak Ruyung dan putranya Shaugi ngapain disini." ucap pak Jamal geram.
Pak Adzriel sangat terkejut begitu melihat pak Ruyung yang keluar dari mobilnya. Tampak pak Ruyung seperti menuju rumahnya. Tetapi, terhenti langkahnya karena disapa oleh orang yang baru tiba juga.
"Hey bangkotan! Ngapain pula kamu kesini!"
Mendengar ada orang yang menyapanya dengan nada tidak bersahabat, pak Ruyung menghentikan langakahnya dan menolah kearah tersebut. Pak Ruyung terkejut ketika matanya melihat orang yang menyapanya adalah pak Jamal.
"Woey ! Buaya, kamu yang ngapain disini!" timbal Shaugi.
"Aku datang kesini mau memperkenalkan diri dengan calon mertuaku." timbal pak Jamal.
"Tidak bisa! Aku calon mantunya!" Hadang Shaugi.
__ADS_1
Bu Zaripah yang tadi asyik menyirami tanaman bunganya segera menghentikan kegiatannya.
"Ma, sini..., itu orang pada ngapain!" tanya Sarinah.
"Kudengar mereka nyebut calon mertua, calon mantu pada gila itu orang!" ucap bu Zaripah.
"Maaf, kalau mau ribut jangan didepan rumah orang!" sapa pak Adzriel kepada pak Jamal dan Shaugi.
Belum habis rasa terkejutnya melihat pak Jamal. Pak Ruyung kembali terkejut melihat keberadaan pak Adzriel didalam rumah yang dituju.
"Ada keperluan apa kamu disini?!" tanya pak Ruyung kepada pak Adzriel.
"Ini rumahku!" jawab pak Adzriel.
"Rumahmu?" tanya pak Ruyung heran, karena yang diketahui pak Adzriel tinggal dicondet.
pak Ruyung tambah terkejut ketika pak Kimin dan pak Ramlan datang menghampiri pak Adzriel.
...----------------...
Dolangga, kakek Wie lan dan kakek Boncel yang mendapat tumpangan di mobil Wahyu telah melewati gerbang tol cikampek. Mereka bertiga belum turun dari mobil Wahyu.
Wahyu sudah tahu, kalau kepergian tiga orang ini ke Jakarta tidak tahu tujuannya karena mereka tidak punya alamat tujuan. Diperjalanan Wahyu menanyakan alamat tujuan mereka ke Jakarta dan katanya mereka tidak punya alamatnya.
"Sekarang kita sudah didalam kota Jakarta! Kalian mau turun dimana!" tanya Wahyu.
"Kalau begitu ikut saja ketempatku. Jakarta itu luas." tutur Wahyu.
Mobil Wahyu terus berjalan dan sekarang memasuki duren sawit menuju pondok bambu. tidak beberapa lama dia berhenti disebuah rumah ditepi jalan raya.
"Disini tempat tinggalku. Tapi, sudah kujual sekarang aku pindah tinggal di surabaya." kata Wahyu.
Mereka bertiga turun dan istirahat.
"Disini tidak ada Siapa siapa!" ucap kakek Wie lan ketika memasuki rumah tersebut.
"Anak dan istriku sudah pindah ke Surabaya dan besok pagi aku balik lagi ke Surabaya." kata Wahyu.
"Yang beli rumahmu sekarang dimana!" tanya kakek Boncel.
"Setelah semua Barang barangku ku ambil dia mungkin pindah kesini!" jawab Restu.
"Kami boleh istirahat ya? Sementara yang punya rumah datang!" kata Boncel.
"Istirahat saja, Nanti aku ngomong kalau yang punya rumah datang!" jawab Wahyu.
Lalu mereka istirahat diruang tamu yang kosong.
__ADS_1
"Kalian tunggu disini! Aku mau ke warung beli sarapan." ucap Wahyu.
"Ini kami titip bertiga!" kata kakek Wie lan menyodorkan selembar ratusan ribu hasil pemberian Orang orang yang diperas oleh preman diterminal surabaya.
"Tidak usah! biar aku yang beli. Simpan saja uang itu, mungkin bisa digunakan nanti!" kata Wahyu.
Dolangga, kakek Wie lan dan Boncel dapat istirahat. Sementara Wahyu pergi beli makanan untuk sarapan mereka pagi ini.
...----------------...
Dari jauh Sachio melihat empat mobil parkir didepan rumah Sarinah dan melihat tampak seperti ada keributan.
"Gadis itu siapa?" tanya pak Ruyung tunjuk Sarinah.
"Untuk apa kau tahu putri saya!" tanya balik pak Adzriel.
"Itu putri bapak!" tanya Shaugi.
"Memangnya ada apa, dengan putri saya dan kamu siapa?" tanya pak Adzriel mengalihkan pandangannya kepada Shaugi.
Shaugi langsung mengangkat tangannya memberi salam kepada pak Adzriel. Tetapi, pak Adzriel tidak menyambutnya.
"Pak saya putranya pak Ruyung ingin berkenalan dengan keluarga bapak dan putri bapak!" kata Shaugi santun penuh hormat.
"O..., kamu putra pak Ruyung?"
"Betul pak! orang kaya di Jakarta ini." jawab Shaugi sombong.
Pak Jamal yang melihat kesombongan Shaugi dadanya terasa sesak, ingin sekali menabrak Shaugi. Tetapi, Faid menahannya.
"Saya tidak mengerti, apa tujuan kalian mendatangi rumah saya." tatap pak Adzriel seperti malas dan ingin sekali menghajar orang tua yang bernama pak Ruyung didepannya ini. Orang tua inilah yang telah menghabisi seluruh keluarga kakeknya sampai dia terpisah dengan bapak dan putra sulungnya.
"Saya..., dan bapak saya, ingin silaturahmi, sekalian berkenalan dengan seluruh keluarga bapak, dan ingin melamar putri bapak yaitu Sarinah!" ucap Shaugi dengan nada gemetaran tetapi, tetap terlihat ekspresi wajah sombongnya.
Sarinah yang mendengar pernyataan Shaugi sangat terkejut. Bukan Sarinah saja yang terkejut tetapi seluruh yang mendengar pernyataan Shaugi termasuk diantaranya pak Jamal dan Sachio serta pak Adzriel sendiri.
"Dengar ya..., aku tak suka putriku di lamar dengan putra seorang pembunuh seperti bapakmu!" tunjuk pak Adzriel dengan tatapan tajam kearah pak Ruyung.
"Tutup mulutmu, sombong sekali kamu!" bentak pak Ruyung memandang pak Adzriel dengan tatapan mata menyala nyala.
"Kamu yang sombong, sekarang keluar kamu sebelum kupanggilkan polisi!" usir pak Adzriel.
Pak Jamal yang mendengar dan melihat sendiri bapaknya Sarinah mengusir pak Ruyung dan Shaugi bergembira kegirangan.
💟💟💟💟💟
BERSAMBUNG.
__ADS_1