
Sachio dan Sarinah sangat gelisah menunggu jawaban pak Adzriel. Dada Sachio seperti mau terbelah ketika ada Tanda tanda penolakan dari pak Adzriel. Demikian pula halnya dengan Sarinah ingin sekali dia berlari masuk kekamarnya menangis.
Semua tegang menanti jawaban pak Adzriel apakah menerima atau menolak lamaran Sachio, Sekiranya pak Adzriel menolak lamaran Sachio apa alasannya.
Dengan sangat Hati hati sekali pak Adzriel mengangkat kepalanya setelah lama tertunduk.
"Aku ingin momen bersejarah ini kalau lamaran Sachio disaksikan oleh seluruh keluarganya."
Semua masih tidak mengerti maksud pak Adzriel. mereka semua saling pandang tidak mengerti.
"Betapa menyesalnya aku menerima lamaran Sachio kalau tidak disaksikan oleh dua saudara Laki lakinya."
Semua yang mendengar ungkapan pak adzriel baru tersadar maksud pak Adriel kecuali pak Faris Komala dan Lisa.
Sarinah yang hampir saja kecewa kepada bapaknya berubah ekspresi wajahnya menjadi sedih terutama bu Zaripah yang bertahun tahun mengingat kehilangan putra pertamanya sampai sekarang.
Itulah sebabnya setiap dia melihat Givano hatinya bergetar ada keterikatan bathin diantara ibu dan anak. Begitu pula dengan pak Adzriel yang sejak pertama kali melihat Givano dirumah sakit hatinya terasa begitu dekat dengan Givano.
Keberadaan Givano yang diketahui ada di Jakarta. Dicari orang tuanya berpetualang dari satu daerah kedaerah lain dengan tujuan mencapai kota Jakarta dapat dicapai dengan cara berpindah pindah sedikit demi sedikit karena faktor kemiskinan.
Sekarang bu Zaripah dan pak Adzriel kembali menghadapi cobaan berat dengan ketidak beradaan putra bungsunya Dolangga. Sebagai orang tua, tentu beban berat yang tidak sembarang orang dapat memikulnya. Dulu kehilangan putra sulungnya sekarang kehilangan si bungsu.
...----------------...
Givano tidak mengetahui kalau hari ini Sachio temannya sedang melamar adiknya Sarinah. Tidak dapat dibayangkan sedihnya Givano sekiranya lamaran Sachio diterima bapaknya tanpa dapat disaksikan oleh dirinya.
Sekarang Givano sedang di kepung oleh gang motor yang bernama unrival master. Kebetulan Givano lewat dan istirahat disebuah warung di pinggir jalan yang tidak jauh dari rumah Wahyu.
Keributan perkelahian antara Givano dengan gang motor unrival master terdengar sampai rumah Wahyu.
"Pak! Diluar sepertinya ada keributan!" kata kakek Wie lan mendengar dengan jelas suara knalpot motor dengan teriakan warga.
Benar saja Wahyu mendengar sepertinya diluar ada keributan. Segera berlari keluar. "Aku pergi lihat!" Diapun segera berlari ketempat keributan.
Ternyata gang unrival master datang bikin ulah lagi dengan mengepung sepasang pria dan wanita. Serta tak ada yang berani menghalanginya.
"Kek! Diluar seorang pria dan wanita butuh bantuan!" kata Wahyu terengah engah.
Kakek Wie lan yang mendengar permintaan Wahyu tidak banyak tanya langsung berlari ketempat keributan disusul kakek Boncel. Hanya Dolangga yang melongo tidak mengerti.
"Maksudnya bantuan apa?!"
"geng unrival master bikin ulah lagi dan tak ada yang berani menghalanginya."
"geng unrival master itu apa?!"
__ADS_1
"geng motor, korbannya seorang pria dan wanita!"
Draeeeng...triiitiiit...tittttit...
Ngaeeeng...ngeng....
Suara ribut knalpot motor memecahkan telinga disekitar Givano dan Rista yang dikelilingi Anak anak muda.
Wuesss...
Sebuah sabetan samurai mengenai sedikit lengan kiri Sachio. Darah langsung menetes. "Aaauuu...!" suara teriakan Rista terdengar ketakutan begitu melihat lengan Givano berdarah terkena sabetan samurai.
Ngeeeng... ngeeeng....ngaeeeng....
"Awas! Ristaaa...."
Givano menarik lengan kiri Rista yang hampir saja disambar oleh salah seorang dari geng motor yang menyerang.
Givano kembali melihat salah seorang dari geng motor yang dibonceng mengangkat parang panjang yang ingin menebasnya. Givano tampak pasrah dan berdoa dan siap menerima resiko untuk menyelamatkan Rista.
Hyaaat.....
Buuugk...
Sebuah bayangan melesat menerjang sipengendara yang hendak menebas Givano dan Rista tanpa ampun dan kejam.
Praaak....
Dua orang dengan satu kendaraan terjatuh dan terseret motornya. Kedua duanya menjerit kesakitan.
Kakek Wie lan yang menerjang geng motor yang mau menebas Givano dan Rista kembali mendarat dengan sempurna ketanah.
Seorang anak kecil berusia tujuh tahun datang menghampiri dua pengendara dan mencabut helm yang dipakai.
"Itu kan Tandy dan banyu...!" kata salah seorang warga yang mengenal gang motor itu begitu helmnya dibuka.
Tak ada yang berani mendekati Tandi dan Banyu yang terjatuh karena kelompok gengnya masih mengamuk.
Dolangga yang dengan berani membuka helm Tandy dan Banyu membuat murka kawanan yang lain. Sekarang sasaran geng motor mengarah kepada Dolangga. Warga sangat ketakutan sekali melihat Dolangga yang masih kecil segera dihabisi.
Dolangga dengan tenang menghadapi para geng motor yang sekarang semuanya mengarah kepadanya.
...----------------...
Dikediaman pak Adzriel Sarinah menghampiri dan memeluk bapaknya. Kemudian berbalik memutar badannya kearah ibunya dan memeluknya juga.
__ADS_1
"Sachio, bu Maura, bapak!" tatap Sarinah satu persatu. "Juga bu komala dan Lisa. Tadinya saya hampir saja berlari masuk kekamar menangis, tapi setelah mendengar alasan bapak! Aku menjadi iba setelah bertahun tahun lamanya mencari kakakku sampai sekarang belum ketemu." kata Sarinah tertunduk sedih.
Pak Faris yang baru tahu kisah kehidupan pak Adzriel yang berjuang mencari putranya yang hilang, masih mencoba berpikir jernih untuk mencari solusi terbaik bagi putranya.
"Bagaimana pertimbanganmu Say!"
"Setelah mendengar alasan bapak!" tunjuk Sachio kearah pak Adzriel. "Rasanya aku juga tidak tega kepada beliau berdua." ucap Sachio.
"Kalau aku sih tergantung yang menjalani hubungan." kata pak Faris. "Bila mereka berdua, bersedia lamaran Sachio ditunda sampai bertemu saudaranya, aku sih ikut saja."
"Baik, aku punya solusinya bagaimana kalian bertunangan saja dulu. Baru nanti kita bahas hari pernikahannya, tanpa perlu Sachio melamar lagi." kata pak Adzriel memberi usul.
"Aku setuju sekali!"
Bu Maura langsung angkat tangan menerima usulan pak Adzriel yang diikuti oleh yang lain terutama Sarinah dan Sachio.
...----------------...
Kita kembali ketempat penyerangan geng motor.
Saat salah seorang mengangkat Samurainya Tinggi tinggi dan segera menghabisi anak kecil yang telah berani mengungkap identitas temannya di depan umum, langsung mengayunkan samurainya.
Beberapa warga sempat histeris melihat kekejaman geng motor yang mau menghabisi seorang anak kecil.
Ketika ayunan tebasan samurai itu terjadi, semua mata terbelalak melihat sebuah atraksi mengagumkan yang diperlihatkan Dolangga. Yang melesat terbang bagai burung elang yang sedang bertarung diudara.
Sebuah tendangan diudara menyentuh dua punggung dari dua si pengendara sekali gus. membuat dua pengendara itu tidak bisa mengendalikan motornya dan menabrak dinding tembok.
Sedangkan Dolangga dengan manis hinggap kembali berdiri dengan sempurna.
Melihat antraksi yang dipertontonkan oleh Dolangga membuat gang motor yang lain jadi ciut. Beberapa diantara mereka ada yang mau kabur. Tapi, tidak dibiarkan oleh kakek wie lan dan kakek Boncel. Sehingga, pertarungan tetap berlangsung.
Sementara Dolangga segera menghampiri Givano.
"Kakak tidak Apa apa!"
Givano yang memegang lengan kirinya meringis kesakitan memandang Dolangga yang memegang lengannya yang terluka.
"Kamu hebat, terimakasih telah menolong kakak!" balas Givano menepuk lengan Dolangga.
"Kita bawa kerumah!"
Wahyu yang hampir bersamaan tiba dengan Dolangga, menghampiri Givano segera mengajak Givano kerumahnya.
Rista dan Dolangga segera memapah Givano menuju rumahnya yang berjarak Kira kira kurang lebih lima ratusan meter.
__ADS_1
💟💟💟💟💟
BERSAMBUNG.