
Givano cepat-cepat membawa laju mobilnya agar segera tiba di Mall yang dituju. Dia tak ingin adiknya berpikiran aneh terhadap dirinya, untung saja adiknya masih kecil, hingga adiknya tidak menaruh rasa curiga siapa dirinya.
"Okey sekarang kita telah tiba! Nanti Olan akan tahu sendiri, kenapa Olan saya ajak!" tatap Givano kepada adiknya yang masih penasaran untuk apa dia diajak dan kemana dia diajak.
"Kak! Kakak tidak perlu susah-susah untuk belanjakan saya sesuatu, saya kesini untuk mencari orang tuaku bukan untuk merepotkan kakak!" ungkap Dolangga kepada Givano.
Givano tidak menduga adiknya yang masih kecil bisa bicara kaya orang dewasa, gaya bicaranya tidak sesuai dengan umurnya yang masih anak-anak.
"Kakak janji akan mempertemukanmu dengan mama dan kakakmu dalam waktu dekat ini!" Janji Givano.
"Benarkah!" tanya Dolangga tampak gembira.
"Tapi ada syaratnya!" ucap Givano.
"Syaratnya apa?" tanya Dolangga tatap Givano serius.
"Janji dulu apa Olan bersedia memenuhi syarat yang kakak ajukan!" tanya Givano.
"Janji kak!" jawab Dolangga polos, maklum dia masih anak kecil belum mengerti apa-apa.
"Gitu dong..., sepuluh orang besar kayak kakak bisa kamu kalahkan apalagi cuman syarat yang kecil kayak gini," kata Givano menunjukan tiga jari-jarinya.
"Ayo kita masuk!" ucap Givano mengajak adiknya masuk kedalam Mall.
...----------------...
Alfiana dan Sarinah sudah selesai sarapan di kafe, mereka tampak sudah siap-siap beranjak meninggalkan meja makan mereka.
Setelah selesai membayar dikasir. Alfiana dan Sarinah naik taksi menuju kediaman Sarinah. "Terimakasih telah mentraktir saya!" ucap Sarinah kelihatan senang punya sahabat yang selama ini hanya adik dan ibunya yang selalu menemaninya.
"Seharusnya aku yang berterimakasih karena kamu sudah tidak mencurigaiku lagi!" jawab Alfiana.
"Pak! Kami turun didepan bengkel itu!" kata Alfiana memberitahu Sopir taksi.
"Baik, non!"
Taksi kemudian berhenti di seberang jalan depan bengkel milik bapaknya Sarinah!
Pak Adzriei sangat gembira melihat putrinya yang tampak ceria dan bersemangat. Begitu pula dengan bu Zaripah, dari balik jendela pintu kamar dia melihat Sarinah dan Alfiana berjalan memasuki halaman rumahnya.
"Salamualaikum bu...!" teriak Sarinah dari luar tidak tahu dirinya diperhatikan oleh ibunya sendiri dari dalam.
"Wa'alaikumsalam!" jawab bu Zaripah dari dalam segera keluar menyambut putrinya. "Mari!" ucap bu Zaripah menyuruh dua dara yang baru tiba.
"Kalian tunggu sebentar!" Pinta bu Zaripah meninggalkan dua anak gadis itu lalu kembali datang membawa dua gelas jus dan kue.
"Bu..., kami sudah sarapan dikafe," ucap Sarinah menatap mamanya.
"Aduuuh," tatap bu Zaripah pada Alfiana dan Sarinah, "Begitu kalian pergi, Aku langsung buru-buru buat ini kue," kata bu Zaripah.
__ADS_1
"Aku kepikiran kalian kalau sudah pulang dari taman!" lanjut bu Zaripah.
"Kalau begitu, ini buat bapak dan teman-temannya ya!" ucap bu Zaripah.
Alfiana bergeser mendekati bu Zaripah. "Kebetulan juga aku buru-buru bu, aku harus pulang, karena aku juga takut mama dan bapakku kepikiran." kata Alfiana berdiri didepan bu Zaripah.
...----------------...
...🌜-Di kediaman pak Jamal-🌛...
Pak Jamal yang duduk santai dilantai dua depan rumahnya tampak geram melihat dua pria yang dipercaya selama ini mengendap-endap memasuki rumahnya.
Apa yang dilakukan oleh dua tikus piaraanku ini guman pak Jamal dalam hati.
Hm..., mereka pikir mereka bisa mempermainkan aku. Awas ya..., guman pak Jamal dalam hati.
Pak Jamal segera turun kebawah menghadang Fado dan Nabil.
"Ngaong...," pak Jamal meneriaki Fado dan Nabil yang mengendap-endap masuk.
Fado dan Nabil tersentak luar biasa terkejut. "Aduh ebos pakai ngagetin segala," ucap Fado garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Kalian ngapain masuk rumah gua kayak maling!" bentak pak Jamal.
"Takut ketahuan Faid! bos,"
Fado menyikut Nabil agar bicara. Tapi Nabil memilih diam dari pada salah bicara. Lebih baik menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya.
"Itu dia bos! Yang mau kami laporkan!" sahut Nabil sudah mulai menemukan kata-kata yang akan disampaikan.
Pak Jamal malahan bingung dengan ungkapan Nabil. "Laporkan apa! Mau melaporkan kalau Faid sembunyikan Alfiana?! Gitu?!" mata pak Jamal tambah garang.
Nabil menoleh kearah Fado, "Sst! Ayo?!" kata Nabil menyuruh Fado agar memperlihatkan rekaman vidio Alfiana bersama Sarinah.
Fado tampak seperti orang bingung dia memandang Nabil lalu melihat pak Jamal.
"Heh! kenapa matamu lirik sana lirik sini!" bentak pak Jamal.
Nabil merogoh kantongnya meraih smart phonenya lalu membuka vidio yang direkam kemudian diperlihatkan kepada pak Jamal.
Mata pak Jamal terbelalak melihat Sarinah bersama Alfiana jalan-jalan ditaman, "Dimana kamu dapatkan vidio ini!" kata pak Jamal kaget bukannya senang.
"Barusan bos! Kami sendiri yang merekam mereka!" timbal Fado.
"Malah kami sempat bincang-bincang sama mereka!" tambah Nabil.
Tampak pak Jamal kelihatan kesal, dia memandang Nabil, "Berarti Alfiana sengaja menipuku!" ucap pak Jamal betul-betul marah.
"Bukan bos! Malahan Alfiana mau membantu bos...!" kata Nabil menjelaskan.
__ADS_1
"Membantu bagaimana?! Sudah kuberikan dua miliar yang diminta, kenyataannya apa!" tatap pak Jamal kepada Nabil.
"Tapi uangnya dinikmati sendiri oleh Faid, kata Alfiana satu senpun tidak diberikan kepadanya." jelas Nabil.
Kemarahan pak Jamal mulai menurun setelah mendapat penjelasan dari Nabil.
"Uang yang kuberikan kepada Faid tidak diberikan kepada Alfiana?" tatap pak Jamal.
"Ceritanya Alfiana begitu! Pertemukan mereka! Dan aku bisa datangkan Alfiana!" kata Nabil.
"Kamu bisa datangkan Alfiana!" tatap pak Jamal seperti tidak percaya.
"Makanya jangan cepat percaya walau dia adik bos sendiri." kata Fado.
...----------------...
Di Mall,
Givano mengajak Dolangga ketempat penjualan perlengkapan sekolah, "Pak! Tas sekolah untuk anak sekolah dasar kelas satu!" kata Givano kepada pelayan.
"Adiknya ini ya?" kata pelayan menunjuk Dolangga.
"Bukan! Dia sendiri!" sahut Givano
"Ini? Besarnya macam anak kelas lima dan enam!" seru sipelayan terheran-heran.
Dolangga tampak bengong, dia memandang Givano penuh tanda tanya siapa yang dibelikan tas sekolah.
Dolangga juga melihat Givano membeli buku seragam sekolah dan mengambil sepasang sepatu lalu dibawa kepadanya.
"Olan coba sepatu ini pas tidak dikakimu!" ucap Givano.
"Kakak! Untuk siapa ini semua!" tanya Dolangga.
"Besok kakak akan masukkan kamu sekolah! Dan kamu belum terlambat! untuk masuk sekolah!" kata Givano terus terang.
Dolangga tidak menyangka kalau orang yang baru dikenal beberapa pekan yang lalu begitu peduli kepadanya. Apa yang di impikan selama ini akan jadi kenyataan.
Givano yang melihat ekspresi wajah adiknya yang sedih segera membujuk adiknya.
"Kakak akan sedih kalau adik menolak permintaan kakak!" kata Givano lagi.
Dolangga langsung mencoba sepatu didepannya, "Sepatunya pas dikaki saya!" ucap Dolangga.
Givano tersenyum dan duduk jongkok didepan Dolangga, "Kamu adikku! Sebagai kakak aku harus menyekolahkanmu!" ucap Givano kepada Dolangga lalu mencium kening Dolangga.
Betapa bahagia rasanya Dolangga dicium Givano. Dia seperti benar-benar merasakan kalau dirinya dicium oleh kakak kandungnya sendiri.
💟💟💟💟💟
__ADS_1
BERSAMBUNG.