
Pak Adzriel merasa heran kepada dirinya sendiri, mengapa tangannya gemetar membuka kotak yang disodorkan Givano.
Crak...!
Kunci kotak itu terdengar terbuka yang berarti kotak itu sudah tidak terkunci dan bisa dibuka.
Mata pak Adzriel terbelalak begitu kotak dibuka. Kebetulan sekali saat kotak dibuka yang terlihat pertama kali adalah photo sewaktu dia bersama anak pertamanya dan bu Zaripah semasa kecil Givano. sarinah dan Dolangga belum lahir waktu itu.
Dia hampir gila bersama istrinya Zaripah merindukan putranya yang dibawa pergi bapaknya.
Mata pak Adzriel berkaca-kaca memandang Givano, "Vano, ini kamu kan saat kecil?" tanya pak Adzriel tidak bisa keluar suaranya.
"Ya, pak!" sahut Givano menundukkan kepalanya.
"Berarti kamu putraku yang telah terpisah dua puluh tahun yang lalu," tutur sedih pak Adzriel.
"Selama dua puluh tahun kami merindukanmu peluk bapak, nak!" pinta pak Adzriel tak kuasa menahan keharuan.
Givano memeluk bapaknya dengan hati pilu. Begitu pula dengan pak Adzriel.
Bu Zaripah tampak serba salah, rasanya ingin melompat memeluk Givano tapi dia serba bingung tidak tahu apa yang diperbuat.
Apalagi dia yang paling tersiksa merasakan kehilangan putranya selama puluhan tahun.
photo yang ada dalam pegangan tangan pak Adzriel ditarik oleh Sarinah saat bapaknya merangkul Givano.
Sarinah dan bu Zaripah melihat photo satu pemuda tampan dan seorang wanita cantik bersama putranya yang masih kecil.
Zaripah teriak terperanjat melihat photonya bersama Givano yang dulu kecil mirip sekali dengan Dolangga.
Zaripah cepat-cepat menghampiri Givano dan menarik tangan Givano sampai Adzriel melepaskan pelukannya.
"Aku sudah yakin kamu putraku sejak pertama kali melihatmu dibandara, u..., hu hu!"
Zaripah memeluk erat putranya yang hilang puluhan tahun yang lalu, dia tak mau melepaskan pelukannya dan terus mendekap Givano.
Lelah bu Zaripah berdiri dia menarik Givano duduk di sopha dan membelai wajah dan rambut Givano.
"Berpuluh-puluh tahun aku merindukan membelai wajahmu, rambut dan menciummu nak!" kata bu Zaripah sambil membelai dan mencium Givano.
"Ternyata kakakmu yang kita curigai betul dia! Ayo peluk kakak kalian?" pinta bu Zaripah.
Sarinah malu malu merangkul Givano, Givano cepat-cepat memeluk Sarinah adiknya.
"Lho, kamu kenapa kamu tidak peluk kakakmu?" tanya bu Zaripah memandang Dolangga.
"Aku telah lebih dulu kak Givano kakakku dan telah lebih dulu memeluknya!" jawab Dolangga.
"Wah..., iri aku!" timbal bu Zaripah.
__ADS_1
"Ketika aku melihatmu dirumah sakit aku sangat terkejut!" kata pak Adzriel.
"Sebenarnya aku kerumah sakit sengaja mencarimu!" kata Givano terus terang.
"Kamu kan ngakunya youtuber, mau buat vidio dan bersedia menanggung seluruh biaya kepulangan bapak kesurabaya!" kata pak Adzriel.
"Bapak masuk kerumah sakit kenapa?" tanya bu Zaripah kaget.
Terlihat Sarinah dan Dolangga sok mengetahui bapaknya masuk rumah sakit dan tak satupun sanak pamili yang dia punya di Jakarta ini.
"Dia tabrak lari!" jawab pak Ramlan.
"Hu...,"
Serempak Zaripah dan anak-anaknya merinding menutup mulutnya membayangkan peristiwa itu.
"Kasihan bapak!" seru Sarinah.
"Ternyata Allah kuasa, masih banyak orang yang kasihan sama bapak!" jawab pak Adzriel.
"Gimana ceritanya kamu tahu bapakmu dirumah sakit!" tanya bu Zaripah penasaran pingin tahu.
Givano memandang bapaknya dengan mata berkaca-kaca.
"Aku pelaku yang menabrak bapak!" jawab Givano terus terang.
Seluruh isi ruangan itu terkejut mendengar pengakuan Givano.
Tapi, dia tidak kepikiran sampai kesana, padahal dia sudah menemukan tanda-tanda kalau Givano sangat mirip dengannya dan dengan putra bungsunya.
"Kamu tidak perlu menyesali apa yang terjadi dimasa itu nak! Aku yang salah, waktu itu aku sangat rapuh merisaukan dirimu yang tidak bisa kutemukan dan aku sangat putus asa saat itu!" kata pak Adzriel.
Lalu Givano menceritakan kisah pencariannya dalam mencari mereka.
"Berhari-hari batinku menjerit ingin bertemu kalian berdua, sebelum kakek menghembuskan napas terakhirnya beliau menyampaikan pesan kalau aku masih memiliki orang tua. Sejak itu aku terus memikirkan bagaimana cara menemukan kalian. Sampai aku putus asa bawa motor dengan kencang dan tidak memikirkan keselamatan orang lain dan diriku sendiri." kata Givano menceritakan mereka semua diruangan itu.
"Ternyata kamu juga mencari mama dan bapakmu! Oh..., anakku! Kasihan kamu!" kata bu Zaripah kembali merangkul Givano.
Disela-sela bahagianya pertemuannya, smart phonenya bergetar terkirim chat dari orang yang tidak dikenal,
---Pak! Aku sudah tidak tahu lagi kepada siapa aku minta bantuan. Hanya nomor ini yang kebetulan kutemukan, pak Sampurna dan seluruh keluarganya diculik dari dirumahnya tadi antara pukul sebelas dan dua belas.
Baru saja menemukan putranya yang hilang dua puluhan tahun. Tiba-tiba datang cobaan baru lagi, dengan datangnya berita baru.
Pak Adzriel berusaha menyembunyikan apa yang ditemukan hari ini. Dia tidak mau mengusik kebahagiaan istri dan anak-anaknya.
"Ma..., aku dipanggil pak Sam!" kata pak Adzriel.
"Pergilah! Mungkin ada yang dibicarakan denganmu!" suruh bu Zaripah.
__ADS_1
"Aku minta pak Wie lan dan pak Boncel menemaniku!" pinta Adzriel.
"Aku ikut ya," pinta pak Kimin.
"Tidak usah tunggu bengkel saja!" tolak pak Adzriel.
Pak Adzriel keluar dengan tenang berusaha semampunya mengelabui Givano. Sedang dia tidak tahu betapa hebatnya putranya yang bungsu bela diri.
"Oh, ya pak wie lan kan bisa bawa mobil?" tanya pak Adzriel
"Tentu saja tetap bisa!" timbal Kakek Wie lan.
"Sejak kapan? Wie lan bisa bawa mobil?" sanggah kakek Boncel.
"Dia kan nasab keturunannya china, karena dibuang keluarganya dia jadi gelandangan!" tutur pak Adzriel.
"O..., pantas namanya Wie lan kupikir k.w." kata kakek Boncel.
"Ya, sudah kamu masuk minta kunci mobil Givano!" kata kakek Wie lan kepada kakek Boncel.
Lalu mereka pergi menuju kediaman pak Sam. Ternyata kakek Wie lan walaupun sudah tua dia masih bisa membawa mobil dengan kecepatan tinggi.
"Tumben ngemudikan mobil, setelah puluhan tahun aku tidak sentuh mobil!" kata kakek Wie lan masih lihai mengemudikan mobil.
Boncel merasa senang dan bangga melihat kakek Wie lan bawa mobil dengan lihai.
"Aku mau belajar nyetir!" ucap kakek Boncel.
"Sepeda aja lu enggak bisa boro-boro lu mau bawa mobil!" ejek kakek Wie lan.
"Enak aja lu bilang aku tidak bisa sempada!" tatap kakek Boncel.
"Iyalah, kalau sepeda anak-anak, tapi sepeda orang dewasa kakimu nyampe endak!" kata kakek Wie lan senang ngejek kakek Boncel.
Kali ini kakek Boncel betul-betul dibuat kalah.
"Mau bawa mobil kakinya enggak nyampe!" ejek kakek Wie lan.
"Banyak omong kumu ya, kusumpal mulutmu!" kata kakek Boncel kesal.
"Eh, lu berani sama aku!" timbal kakek Wie lan marah.
Pak Adzriel tersenyum melihat dua kakek didekatnya bertengkar.
💜💜💜💜💜
BERSAMBUNG.
Oke, gays bagaimana reaksi pak Adzriel setelah tahu pak Sam dan keluarganya diculik.
__ADS_1
Ikuti terus ceritanya.