
Tidak lama kemudian pak Ruyung ambruk jatuh pingsan. Givano tidak memberi ampun pak Ruyung yang telah membantai keluarganya.
Sekiranya Dolangga mengetahui juga, kalau keluarga bapaknya telah dibunuh semua oleh pak Ruyung mungkin dia akan melakukan hal yang sama terhadap pak Ruyung.
Melihat adiknya dikeroyok, Givano segera mencegat Ezra.
"Hadapi aku penjilat!" hadang Givano.
"Berani kamu menghajar bosku sampai pingsan! rasakan pembalasanku! hiyaat...!"
Ezra menyerang Givano dengan geram setelah menoleh bosnya terkapar.
Hiyat hiyat...!
Kiri kanan tangan Ezra menghantam tubuh Givano.
Hut hut...!
Givano menepis hantaman Ezra.
Weees..., shooots...
Tendangan kaki Ezra memutar menyerang kepala, disusul satu pukulan lurus mengarah kelambung Givano.
Huuup! plaks!
Givano menunduk dan mengangkat tangan kirinya menangkis pukulan Ezra yang mengarah kelambungnya.
Serangan Ezra semuanya dapat digagalkan oleh Givano.
Dolangga yang berhadapan dengan Alex, sambil melompat-lompat seperti burung dara menghidari terjangan-terjangan Alex, melirik dan menghawatirkan Givano.
Dolangga tersenyum senang melihat Givano berhasil mengatasi serangan Ezra.
Jurus-jurus yang diajarkan kakek Wie lan dan kakek Boncel disesuai kan dengan lawan yang dihadapi.
Pada setiap perguruan pasti memiliki nama-nama jurus yang diajarkan. Demikian pula dengan kakek Wie lan dan kakek Boncel.
Kali ini Dolangga menggunakan jurus burung dara mematuk serangga. Jurus ini jurus yang paling ringan yang diajarkan gurunya.
Ketika Alex menyerangnya dengan ganas, sangat berpengaruh bila mengenai sasarannya. Tapi, tubuh Dolangga ringan dan gesit menghindarinya.
Alex tambah garang dan beringas karena semua serangannya luput.
"Hai, bocah ingusan siapa namamu!" tanya Alex sambil menyiapkan kuda-kudanya dan tangan kanan lurus dibelakang tangan kiri dengan semua jari-jari terbuka.
"Aku tidak perlu memperkenalkan namaku didepan penjahat sepertimu!" timbal Dolangga yang berdiri siaga didepan Alex.
Diam-diam Alex kagum dengan kecerdasan Dolangga. Pukulan dan tendangan diatas rata-rata orang dewasa. Putra siapa ini, gumannya dalam hati.
Alex tampak menghentikan serangannya. Dia lebih memikirkan bosnya yang terkapar pingsan.
"Ezra cukup!" teriak Alex, ketika hendak menyerang Givano lagi.
__ADS_1
"Lain waktu kita balas mereka!" ucap Alex menghampiri pak Ruyung dan mengangkatnya masuk kedalam mobil.
"Awas kau!" tunjuk Ezra mengancam Givano.
Hu...,
Givano mau menghajar Ezra yang mengancamnya.
Ezra mengemudikan mobil dengan kesal.
"Sudah...! Keselamatan bos lebih penting! Bisa gawat kalau tidak kita bawa pergi!" bentak Alex.
Sementara pak Erlangga dan pak Fasa berterimakasih kepada Dolangga dan Givano yang telah menyelamatkannya.
"Kau hebat nak! Siapa namamu!" ucap pak Erlangga sambil menanyakan nama Dolangga.
"Dia adikku namanya Dolangga!" jawab Givano bangga.
"Hm..., pantas! Kalian mirip!" ucap pak Erlangga.
"Aku mau bicara empat mata dengan bapak ini!" pinta Givano menunjuk pak Fasa.
"Kalian mirip dengan Azriel menantu misanku suami dari putrinya yang bernama Zaripah!" ucap pak Fasa.
Givano dan Dolangga tersentak kaget mendengar pak Fasa menyebut nama kedua orang tuanya.
"Darimana kamu tahu! nama ibu dan bapakku!" ucap Givano tidak sadar.
Dolangga tambah kaget lagi mendengar Givano menyebut pak Adzriel dan bu Zaripah ibu bapaknya.
Pantas saja kak Givano ngotot memasukkanku sekolah karena dia adalah kakak kandungku, guman Dolangga dalam hati.
Ingin rasanya dia memeluk dan merangkul kakaknya yang selama ini dicari kedua orang tuanya.
Ya, Allah...! Terimakasih telah mempertemukan aku dengan kakak kandungku!, jeritnya dalam hati.
"Jadi betul...?! Pak Adzriel dan bu Zaripah orang tuamu?!" tanya pak Fasa.
"Iya, betul!" jawab Givano keceplosan lagi.
Givano menutup mulutnya begitu sadar dia keceplosan.
Betapa terkejutnya dia memandang adiknya berdiri mematung dengan mata berkaca-kaca.
"Pak! kuminta tanda pengenal bapak! Agar bisa kuhubungi lain waktu, kulihat bapak sepertinya terburu-buru," ucap Givano cepat-cepat mengakhiri pembicaraannya.
"Ini nama dan alamatku serta nomor hp, nomor rumah dan nomor kantor!" ucap pak Erlangga memberikan kartu card identitasnya kepada Givano.
"Sekali lagi terimakasih saya ucapkan kepada kalian berdua karena telah menolong kami dari orang jahat!" ucap pak Erlangga sambil memerintahkan pak Fasa naik kemobil.
Givano memandang Dolangga yang berdiri mematung setelah kepergian pak Erlangga dan pak Fasa.
Givano langsung memeluk adiknya sambil menangis, "Maafkan kakak!" ucap Givano memeluk adiknya.
__ADS_1
"Kakak juga tahu dimana mama, bapak dan Sarinah tinggal," ucap Givano.
Dolangga terkesimak lagi mendengar penuturan kakaknya yang tahu segalanya.
"Kenapa kakak sembunyikan ini semua kepadaku kak!" tatap Dolangga dengan mata berbinar-binar.
"Nanti kuceritakan didalam mobil!" tuntun Givano mengajak adiknya menuju tempat mobilnya diparkirkan.
"Aku tidak menyangka mulutku keceplosan, mungkin ini cara Allah mempertemukan kita. Karena aku sudah lama ingin memberitahumu kalau aku kakak kandungmu, tapi belum kutemukan cara untuk mengungkapkannya!" tutur Givano.
"Bapak, mama dan Sarinah juga masih mencariku sampai sekarang!" lanjut cerita Givano.
"Jadi bapak!, mama dan kak Sarinah masih belum mengenal kakak!" tanya Dolangga terperanjat.
"Kasihan mereka sangat merindukan kakak!" lanjut Dolangga dengan tetesan air mata yang tidak disengaja.
"Sudah saatnya mereka tahu dengan mempertemukanmu!" jawab Givano.
"Kalau begitu sekarang kakak bawa aku ketempat ibu dan bapak!" pinta Dolangga tidak sabar kepingin ketemu kedua orang tuanya.
"Kita harus pulang dulu menjemput kakek Wie lan dan kakek Boncel!" tolak Givano.
Rasa rindu ingin bertemu dengan kedua orang tuanya, Dolangga tampak tidak sabar.
Sedangkan pak Ruyung yang dihajar habis-habisan oleh Givano tampak meringis menahan sakit didalam mobil.
"Bawa mobilnya lebih cepat lagi Ezra!" pinta Alex.
Ezra semakin membawa laju mobilnya dengan cepat sambil menggerutu mengumpat dan mengomeli motor dan mobil yang menghalangi laju mobilnya.
Pak Ruyung masih pingsan tak sadarkan diri sementara telponnya berdering didalam kantong jasnya. Alex mengambil smart phonenya dan mengangkat telpon milik pak Ruyung.
"Halo Shaugi kami sedang menuju rumah sakit, bapak terluka parah!" ucap Alex memberitahu Shaugi.
Shaugi tentu kaget dan terkejut kenapa bapaknya sampai terluka dan kerumah sakit mana bapaknya dibawa.
Tadinya mereka yang berencana pergi kerumah pak Sam untuk mengambil paksa batu giok yang disimpannya.
Dengan adanya insiden maka gagalah rencananya karena ulahnya sendiri yang pandai memutar balik lidahnya.
Bapaknya Fasa yang kehilangan kontak dengan keponakannya yang hilang dibawa pergi oleh Adzriel suaminya, akhirnya sakit dan berpulang kerahmatullah
Semua keluarga dikupang tahu Zaripah dan suaminya pergi meninggalkan kampung halamannya untuk mencari putranya yang dibawa pergi oleh bapaknya Adzriel untuk menyelamatkan diri dari keganasan penjahat yang menghabisi seluruh keluarganya.
Penjahat itu tidak lain adalah pak Ruyung yang dihajar habis-habisan oleh Givano.
Setelah bapaknya Fasa meninggal dunia karena sakit memikirkan keponakannya, Akhirnya Fasa pergi ke Jakarta mencari keberadaan sepupunya yang bernama Zaripah.
Sesampai di Jakarta dia menghadapi kejamnya kota Jakarta dan banyak meminjam uang kepada pak Ruyung yang kemudian jatuh menjadi puluhan miliar rupaiah.
Padahal uang yang dipinjam tidak lebih dari dua ratus juta.
💟💟💟💟💟
__ADS_1
BERSAMBUNG.