
Kakek Wie lan duduk menceritakan perjalanannya ke Jakarta bersama kakek Boncel dalam menemani Donggala mencari orang tuanya, kepada Givano dan Rista.
Dia tampak tenang, walau mulai besok mereka akan berpetualang mengelilingi Jakarta mencari kediaman orang yang membawa bu Zaripah dan Sarinah mencari suaminya.
"Malam itu, pak Wahyu melihat kami memberi pelajaran kepada para preman yang memeras penumpang tujuan Solo!" tutur kakek wie lan menceritakan Givano.
"Aku menawarkan tumpangan kepada mereka setelah aku tahu mereka mau ke Jakarta!" timbal pak Wahyu.
Givano sekarang paham apa yang di ceritakan kakek Wie lan percis sama seperti apa yang didengar dari bu Zaripah ibunya. "Kalau begitu kalian bertiga ikut aku kerumahku!" tawar Givano kepada kakek Wie lan.
Mendengar tawaran Givano yang meminta mereka tinggal dirumahnya, kakek Wie lan mengerutkan dahinya. "Apa kami tidak merepotkanmu!" tatap kakek Wie lan.
Tatapan Givano kembali kepada Dolangga yang sudah pasti diyakini adik kandungnya. Serta dengan serius dia mengatakan; "Dirumah aku tinggal seorang diri, aku hidup sebatang kara tidak punya Ayah dan ibu," kata Givano menceritakan kakek Wie lan.
Mendengar penuturan Givano kakek Wie lan berpikir ini orang tampaknya ikhlas Benar benar ingin membantu." Kami tentu senang mendapat tumpangan, sementara Dolangga menemukan ibunya," jawab kakek Wei lan.
"Aku akan membantu mencari keberadaan ibunya Dolangga!" kata Givano.
Dolangga tampak gembira mendengar pernyataan Givano yang akan membantunya mencari keberadaan ibunya.
"Kalau begitu saya mau ambil mobil saya," ucap Givano.
"Dimana kamu parkirkan mobilmu," tanya pak Wahyu.
"Didepan warung bu Harjo," jawab Givano, lalu mengalihkan pandangannya kepada Rista. "Kamu tunggu disini, ya?" pinta Givano kepada Rista.
Rista anggukan kepalanya dengan tatapan masih trauma dengan kejadian yang barusan dialaminya. Kemudian Givano minta pamit kepada mereka semua. Lalu beranjak pergi keluar menuju mobilnya yang diparkirkan didepan warung bu Harjo.
...----------------...
Rupanya Alfiana berhasil mempengaruhi Sarinah. Dilihat dari raut wajahnya Sarinah akan mudah sekali memaafkan orang, Dia tampak iba melihat Alfiana yang Betul betul minta maaf. Kesempatan ini tidak disia siakan Alfiana.
"Sungguh! Aku minta maaf atas apa yang pernah kulakukan kepadamu, itu kulakukan karena aku cemburu. Tapi, sekarang aku telah sadar kalau Sachio tidak menyintaiku!"
Dengan ekspresi memelas Alfiana mencoba mengelabui Sarinah! Senyumpun mengembang dibibir Sarinah, "Tidak Apa apa, aku tidak pernah menyimpan dendam kepadamu, kok!" timbal Sarinah menyambut tangan Alfiana dan memeluknya dengan penuh persahabatan.
__ADS_1
Hi hi hi ternyata tidak sulit untuk mengelabuimu, ucap Alfiana dalam hati."Terimakasih, ternyata kamu memang baik hati. Mulai sekarang aku akan menjadikanmu sahabatku!" tatap Alfiana.
Dengan anggukan perlahan disertai dengan senyuman yang ikhlas Sarinah menyambut tawaran Alfiana sebagai sahabatnya.
Sarinah jarang memiliki teman wanita, dia malahan dijauhi karena dianggap menjijikan. Tidak heran ketika Alfiana menawarkan diri jadi sahabatnya dia sangat senang sekali.
Beda dengan pak Faris, Komala dan Lisa yang sudah tahu tabiat Alfiana yang buruk.
Dengan wajah tampak kesal dia menasehati Sarinah, "Sarinah! Kamu harus Hati hati dengan senyum palsunya Alfiana!" nasehat pak Faris.
"Baiklah, pak! Tidak Apa apa kalau kita mestinya saling memaafkan. Apalagi Alfiana sudah minta maaf kepada kita!" timbal Sarinah.
Pak Faris terdiam sambil terus memandang Alfiana dengan raut wajah masih belum percaya.
Alfiana tahu dirinya jadi pusat perhatian. Dia begitu pinter memainkan sandiwaranya, seolah olah dia Benar benar menyesal atas apa yang pernah diperbuat sebelumnya.
...----------------...
Pak Jamal menyumpah nyumpah dirinya menyesal sepanjang jalan. Yang disesalkan adalah mengapa dirinya kehilangan banyak uang tanpa memperoleh gadis yang diimpikan itu.
Fado yang sedang duduk menyandarkan punggungnya didinding tembok tersentak ketika diminta memberi pengumuman kepada semua orang untuk membawa Alfiana Hidup hidup.
"Waduh, giliran lagi merana aku. Tapi, yang dapat duit banyak orang lain," ucap Fado menggerutu perlahan. Tapi, didengar oleh pak Jamal.
"Apa kamu bilang!" tatap pak Jamal melotot.
Fado terkejut lagi, dia pikir pak Jamal tidak mendengarnya, "Anu pak! Bu, bukan. Maksud saya kenapa tidak kami saja yang disuruh!" jawab Fado mengelak.
"It's okey kalau kamu bisa lakukan, silahkan!"
Dua tangan pak Jamal terbuka mempersilahkan Fado.
Fado menoleh kearah Nabil, ketika mendapat lampu hijau dari pak Jamal. Nabil langsung memberikan kode agar berani memoroti pak Jamal sebagaimana yang dilakukan Faid dan Alfiana.
Tampaknya Fado bleng tak punya cara untuk merayu pak Jamal dan minta bantuan Nabil yang bicara.
__ADS_1
"Begini bos! Alfiana itu tak perlu kita bawa kehadapan bapak dengan cara kekerasan," ucap Nabil Cepat cepat menutupi kebingungan Fado.
"Maksud saya, gini bos! ikan itu kan kalau kita pancing tentu dengan umpan yang paling dia suka pasti kena. Demikian pula halnya dengan Alfiana mancingnya dengan uang bos!" lanjut Nabil dengan hati ketakutan.
"Betul bos! kalau kita suruh orang lain Ujung ujungnya uang bos yang kena," tambah Fado.
Betul juga kata Fado dan Nabil kata pak Jamal dalam hati. "Okey bagaimana caramu mancing dia kalau kamu kuberikan uang," kata pak Jamal.
"Itu gampang bos! Intinya dia lihat uang maka dia pasti dia mau ikut kami. Begitu dia naik mobil kami? Dia udah kena umpannya." jawab Nabil.
Pak Jamal tampak gembira dengan jawaban Nabil. "Uwah, ini baru pancingan yang menipu. Bagus! Aku setuju!" kata pak Jamal.
Kemudian pak Jamal memandang Faid adiknya dan berkata; "Faid! balikan uang yang dua miliar itu."
Faid tidak menyangka pak Jamal kakaknya akan menyuruhnya mengembalikan uang yang sudah di transfer diminta kembali.
"Aduuuh kak! uang dua miliar itu sudah kutransfer lagi kerekening Alfiana," kata Faid pura pura bingung.
🌟🌟🌟
Beda lagi dengan pak Ruyung. Diperjalanan dia tidak menerima dirinya diusir didepan orang banyak.
Yang tidak bisa dilupakan oleh pak Ruyung adalah ucapan pak Adzriel yang menyebutnya pembunuh. Darimana dia tahu aku seorang pembunuh! Tapi, bunuh siapa? tanya pak Ruyung pada dirinya sendiri dalam hati.
"Pak! kenapa kita tidak paksa pak Adzriel menikahi putrinya dengan Aku," kata Shaugi.
"Kalau kita paksa mereka, sama artinya kita serahkan diri kepolisi," jawab pak Ruyung.
Shaugi tidak tahu kalau pak Adzriel bisa bela diri. "Pak! kita ancam bapaknya pasti dia ketakutan dan menyerahkan Sarinah kepada kita," kata Shaugi tidak mengerti dengan pemikiran bapaknya.
Pak Ruyung tidak mau menceritan Shaugi tentang pak Adzriel bisa bela diri. Sebab, kalau diceritakanpun percuma dia tidak akan bisa mengerti.
💟💟💟💟💟
BERSAMBUNG.
__ADS_1