DOA IBU

DOA IBU
ISTIRAHAT DIRUMAH KITA.


__ADS_3

Setelah mandi mensucikan diri Alfiana dan Faid keluar dari hotel pulang kerumah Masing masing dengan wajah berseri seri.


Ditempat lain di Taman Wisata Alam Mangrove, Sarinah duduk termangu dengan sabar memperhatikan Sachio yang tertidur.


Entah apa sebabnya. Begitu, sampai di penginapan Sachio terlelap tak sadar. Padahal dia bersama sang pujaan sengaja datang untuk saling memadu kasih berdua.


Saat Sarinah melangkah menuju jendela Sachio membuka matanya dan terkejut seakan seperti mimpi dia terbangun tidurnya dan mendapatkan Sarinah melihat keindahan Taman Mangrove dari jendela.


"Sayang.. !"


"Akh!"


Sarinah terkejut menyepak tangan yang menyentuh tubuhnya.


"Maaf, kak! Aku pikir siapa?"


Dada Sarinah berdebar debar, dia sangat terkejut Tiba tiba ada tangan menyentuh tubuhnya. Ekspresi Wajahnya memerah dengan tatapan mata tajam melebar.


"Maafkan aku sayang! Aku telah membuatmu terkejut!" Sachio tak kalah terkejutnya melihat Sarinah tersentak kaget.


"Sachio! aku kaget!" ucap Sarinah dengan bibir pucat.


"Maafkan aku sayang .. !"


Sachio memeluk Sarinah minta maaf.


"Tadi .. ! Aku tertidur ya?"


Sachio memandang Sarinah.


"Tidak Apa apa sayang, tidurlah. Anggaplah dirimu istirahat dirumah kita."


Au... Dada Sachio melayang layang mendengar ungkapan Sarinah begitu romantis ditelinganya.


...ΩΩ *Istirahat di rumah kita* ΩΩ...


Sachio mendekap Sarinah, dibelainya rambut Sarinah dengan lembut, dengan penuh kasih sayang.


"Aku akan meminta kedua orang tuaku untuk meminangmu secepatnya, sehingga Kata kata manis yang kudengar tadi Betul betul kenyataan, istirahat di rumah kita,"


"Kita tak kan mungkin menikah kalau bapakku belum ketemu!"


Sachio termenung memikirkan pernyataan Sarinah. Apa yang dikatakan kekasihnya ini sangatlah benar. Dia harus mengusahakan bisa menemui bapaknya Sarinah.


Sachio berpikir kalau dirinya terlalu ego, Dia takkan bisa menemui bapaknya Sarinah tanpa bantuan Teman temannya. Diapun akhirnya minta bantuan Gavino dan Amir


...--Menelpon Gavino--...


"Hai .. Akhirnya kamu menghubungiku juga." ejek Gavino langsung ketika dihubungi Sachio.


"Jangan berpikiran Aneh aneh kamu." timbal Sachio.


"Kamunya yang Aneh, takut Sarinahnya hilang...," ejek Gavino lagi.


"Vin, aku butuh bantuanmu!" ucap Sachio lirih.

__ADS_1


"Yang begini nih, seperti orang nangis, Emangnya Sarinah mutusin lu." gurau Gavino.


"Serius ni vin!"


"oke, siap! Saya bantuin, bicaralah!"


Lalu Sachio menceritakan semuanya tanpa dikurang kurangi dan ditambah tambah oleh Sachio apa tujuan Sarinah dan ibunya Zaripah datang ke Jakarta.


"Tolong minta bantuan sama Amir, ya!" Kata Sachio.


Gavino yang mendapat penuturan dadanya berdebar debar kepingin berjumpa dengan tiga orang yang disebut Sachio.


Gavino merasa heran kenapa setiap teringat Zaripah dan Sarinah dia sangat rindu pingin berjumpa dengan dua orang itu.


"Baik, Sachio aku akan usahakan untuk mencari bapaknya Sarinah!" jawab Gavino.


"Terimakasih, kamu bersedia membantu!" ucap Sachio.


"Sachio!"


"Hm, apa, Vin!"


"Chat nama dan fotonya!"


"Baik, akan saya kirim!"


Sarinah yang melihat dan mendengar percakapan Sachio dan temannya menyimak dengan serius dan berharap Teman temannya Sachio bisa menemui bapaknya.


...----------------...


"Bi, bisakah bibi membantuku untuk mencari foto kakek!"


Rianah sangat terkejut mendengar pernyataan Givano yang secara Tiba tiba menyuruhnya untuk mencari foto kakeknya.


"Kamu kangen ya? Sama kakekmu!" bisik bi rianah iba melihat Givano yang tampak sedih.


"Kata kakek aku masih punya orang tua!" timbal Givano memandang Rianah.


"Maksudmu ibu bapakmu!" tanya Rianah kaget.


"Iya, bi."


"Masya Allah, masya Allah!"


Bi Rianah memukul mukul jidadnya. Mengapa pak Sambara tidak menceritakan dirinya kalau Givano masih punya kedua orang tua.


"Kakekmu pernah memberikan aku sebuah kotak kecil. tapi kotak kecil itu aku simpan Baik baik dikampungku, Karena aku takut kotak itu hilang!" tutur Rianah.


Givano langsung terperangah mendengar penuturan bi Anah. Ada harapan bagi dirinya untuk mengetahui siapa keluarganya. Atau setidak tidaknya Ada foto kakeknya bisa jadi penunjuk kepada Orang orang di Sikumana Nusa tenggara timur.


"Bi, minta tolong bi! Agar kotak itu kita ambil. mungkin kotak itu bisa memberi petunujuk bagi saya, siapa keluarga saya." tatap Givano.


"Pasti Van saya ambil, karena itu hakmu!"


"Besok kita kekampung bi!"

__ADS_1


"Terserah Givano, saya mah, nurut aja."


...----------------...


Pak Ruyung yang mengejar mobilnya pak Jamal kehilangan jejak. Pak Jamal tertawa memuji muji Nabil yang bisa membawa mobil dengan lihai dan gesit sampai tak terkejar pak Ruyung.


"Hebat, kamu Bil, mereka tak berhasil mengejar kita." puji pak Jamal terkekeh kekeh tertawa girang.


"Lihat dulu, yang bawa mobilnya." timbal Nabil menyombongkan diri.


"Mampuslah kau Ruyung, pasti dia sekarang lagi kesel banget hehehe." pak Jamal tertawa girang.


"Sekarang bagaimana dengan gadis itu pak!" tanya Fado.


"Oh, ya calon pacar gua, calon istri gua gimana ini..." ucap pak Jamal ngambek.


"Begini aja pak!" Fado mulai buat siasat untuk memoroti uang pak Jamal


"Tugas saya berdua dengan Nabil untuk mempertemukan bapak dengan gadis itu?" kata Fado.


"Bagus itu, kalian berdua harus bisa mencari tahu alamat dan nama gadis itu!" tatap pak Jamal kepada Fado dengan serius.


"Tapi, itu kan, kami tak semangat kerja kalau tak ada ini." ucap Fado sambil menunjukan Jari jari tangannya kepada pak Jamal memberi kode duit.


"Soal itu gampang...! Masa aku suruh kalian Cuma cuma." timbal pak Jamal.


Fado merasa gembira mendengar jawaban pak Jamal.


"Mulai sekarang setelah mengantar bapak kami bekerja!" ungkap Fado.


Sedangkan pak Ruyung sepanjang perjalanan mengumpat dan menyumpah nyumpah pak Jamal akan menyesal dadanya sesak penuh dengan amarah. Sementara Shaugi tidak bisa melupakan wajah Sarinah dan berjanji kepada bapaknya kalau dia mau menikah hanya dengan gadis yang dilihat di Mall tadi.


"Pak! Bapak kan pingin saya kawin." tanya Shaugi kepada bapaknya.


"Hm..., memang ya? Saya kan mau punya cucu?!" timbal pak Ruyung.


"Saya mau kawin, pak! Tapi dengan gadis yang saya lihat di Mall tadi." ungkap Shaugi serius kepada bapaknya.


"Betul kamu mau kawin!" tanya pak Ruyung serius menatap putranya.


"Kali ini juta serius pak! Sungguh pak!" Jawab Shaugi.


Betapa senangnya pak Ruyung mendengar ungkapan putranya, yang selama ini dia beberapa kalu membujuk putranya segera menikah dengan gadis pilihannya. Tapi baru kali ini dia melihat keseriusan dari Shaugi putranya.


"Kalian dengar semua ya? siapa yang bisa memberi tahu saya alamat dan nama sigadis akan saya berikan bonus dua ratus juta." ungkap pak Ruyung kepada semua anak buahnya yang berada dalam mobil tersebut.


Semua anak buah pak Ruyung yang mendengar pernyataan pak Ruyung bergembira dan bersemangat sekali untuk berlomba lomba hanya mencari tempat tinggal dan nama sigadis saja.


"Bagaimana? Apakah kalian siap untuk melakukannya!" tanya pak Ruyung Sungguh sungguh.


"Siap, pak!" jawab mereka semua.


"Mulai sekarang, setelah saya pulang, kalian langsung kerja!" ucap pak Ruyung.


💟💟💟💟💟

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2