DOA IBU

DOA IBU
TIGA PRIA KAYA MELAMAR GADIS MISKIN.


__ADS_3

Wahyu tidak jadi menunda perjalanannya malam ini. Kebetulan saja dia melintas dan melihat perkelahian antara tiga orang dengan para preman yang hendak memeras penumpang tujuan solo semarang.


Wahyu yang seorang diri Buru buru ke Jakarta tidak jadi menunda perjalanannya karena tidak ada yang perlu ditakutkan lagi. Sebenarnya tidak ada yang ditakutkan karena jalan yang dilalui adalah jalan tol yang resiko kejahatannya jarang didengar tapi asal Jaga jaga saja.


Mobil wahyu sekarang melintas dengan kecepatan dibawa seratus meter perjam. memasuki rest area lima satu sembilan, Wahyu mengajak Dolangga dan dua kakek yang menemaninya.


"Kita sudah sampai kah?" kata kakek Boncel kaget.


"Belum, kek!" sahut Wahyu.


"Kita dimana ini?" tanya kakek Boncel.


"Ini wilayah solo, kita sholat isya dan istirahat makan baru kita melanjutkan perjalanan." jawab Wahyu.


Wahyu mengajak tiga penumpangnya ini menuju masjid, lalu kerumah makan dan melanjutkan perjalanannya lagi.


Ketika sampai di gerbang palimanan kira kira tiga kilo perjalanan dari gerbang tol apa yang ditakutkan Wahyu jadi kenyataan. tiga sepeda motor menghadang laju motornya.


"Pak! Bangun ada begal!" kata Wahyu membangunkan tiga penumpangnya.


Dolangga yang duduk didepan membuka matanya dan melihat enam perampok menggedor pintu mobilnya dari arah kiri dan kanan.


"Pak! Tidak usah keluar!" kata Dolangga kepada Wahyu.


Baru saja Dolangga keluar para perampok langsung mengancam.


"Serahkan uang dan barang berharga kalian cepat!" bentak salah seorang perampok kepada Wahyu yang didalam mobil bukan kepada Dolangga didepannya karena dia dianggap anak kecil.


"Ini ada uang ambil!" kata Dolangga.


Disaat tangan perampok itu hendak mengambil uang yang disodorkan Dolangga. Secepat kilat Dolangga menangkap pergelangan tangan si perampok, dan memiting tangannya sambil merampas golok panjang dan lebar dari tangan si perampok.


Aaagh...


teriak siperampok kesakitan.


Duuughk.....


Satu tendangan menghantam perut siperampok.


Traaang...


Taaaang taaang...


Suara besi baja golok yang dipegang Dolangga menangkis serangan para perampok yang lain


Wie lan dan Boncel yang melesat keluar segera menerjang para perampok. Wahyu yang tadi ketakutan tertawa gembira bisa menyaksikan pertarungan yang sesungguhnya bukan film atau sinetron televisi.

__ADS_1


uwaaaah..., tiga orang ini disamping sholeh juga hebat sekali bela diri, guman Wahyu dalam hati.


Enam perampok itu dihajar habis jatuh bangun oleh Dolangga dan dua Kakek kakek temannya. Disamping itu enam senjata dari berbagai jenis yang digunakan untuk merampok sudah berpindah tangan ketangan kakek Wie lan dan kakek Boncel.


"Ampuuun pak! kami ngaku kalah!" kata salah seorang perampok yang berbadan besar dan gemuk.


Enam perampok itu duduk tidak berkutik setelah dilumpuhkan.


"Heh! sakit ya...?" ejek Boncel sambil menyodorkan Samurai milik mereka.


"Hayo ambil ini, panjang dan tajam. Aku tidak perlu pakai senjata lawan aku!" tantang Boncel. Para perampok itu tidak ada yang berani mendongakkan kepalanya. mereka tertunduk ketakutan.


"Kalau cuman andalkan keberanian saja tidak usah jadi perampok! Memalukan!" bentak kakek Wie lan.


Wahyu yang dari tadi didalam mobilnya keluar menghampiri enam perampok itu.


Pak pak..., pak pak..., pak pak...,


Plak..., plak..., plak....,


Enam perampok itu ditampar satu persatu.


"Ayo dah pak, kita tinggalkan mereka." kata Wahyu mengajak Dolangga, kakek wie lan dan Boncel.


Mereka berempat naik mobil dan meninggalkan enam perampok itu, dengan mengangkut semua senjata yang dipakai merampok.


...----------------...


Pagi ini Ezra dan Arfah menghampiri kamar tempat Alfiana dikurung dan disekap.


"Pagi ini bos minta kamu tunjukin kediaman Sarinah dan keluarganya, jangan banyak ulah kalau mau selamat." ucap Ezra.


Tatapan benci dan muak melihat semua anak buah pak Ruyung terpancar dari sinar mata Alfiana. Dalam hati dia bisa membalas perlakuan bosnya terhadap dirinya.


"Kamu Siap siap!" tatap Ezra dengan mata sinis.


"Aku mau mandi, badanku bau, aku tidak terbiasa hidup bau kotor seperti kalian!" bentak Alfiana.


"Silahkan! Tapi, jangan Macam macam!" ancam Ezra.


Alfiana di tunjukin kamar mandi oleh Ezra dan tetap ditunggu diluar oleh mereka berdua. Sedangkan pak Ruyung diruangan depan sedang Bincang bincang dengan tiga jagoan barunya yang baru direkrut.


"Kalian tahu apa yang kalian harus kerjakan nanti ketika sampai di kediamannya Sarinah!" tanya pak Ruyung kepada tiga anak buahnya yang baru.


"Tahu pak!" jawab Alex.


"bagus! kalian harus kerja profesianal!" kata pak Ruyung.

__ADS_1


"Siap!" kata mereka bertiga.


Tidak lama Shaugi datang dengan pakaian rapi. Dengan langkah penuh percaya diri dia menuju shopa tempat bapak dan ketiga anak buahnya itu.


"Pagi pak! pagi semua...!" sapa Shaugi dengan wajah berseri seri.


"Pagi!" jawab bapaknya.


"Pagi..." sahut Alex, Reymozi dan A chang alias chang bao.


"Hari ini kita datang silaturahmi untuk berkenalan dulu, baru kita adakan lamaran" kata pak Ruyung pada Shaugi.


"Lalu kapan bapak melamarkan saya," ucap Shaugi sepertinya ingin Cepat cepat.


"Nanti kita musyawarahkan dengan keluarga Sarinah disaat kita silaturami saling berkenalan." jawab pak Ruyung berasa sangat pasti bisa mendapatkan Sarinah jadi calon mantunya.


Tidak lama kemudian muncul Alfiana yang dikawal Ezra dan Arfah.


"Ingat! kalau mau selamat, jangan Macam macam!" ancam pak Ruyung dengan serius.


"Ayo berangkat semua!" perintah pak Ruyung.


Mereka berangkat menuju kediaman Sarinah. Dengan membawa tanda mata berupa perhiasan mahal baju mahal dan yang lainya.


...----------------...


Demikian pula halnya dengan pak Jamal. Pagi dia berangkat menuju kediaman Sarinah ditemani oleh Fado, Nabi dan Faid serta dua orang anak buahnya.


"Pak Jamal disamping membawa perhisan mahal dia juga membawa foto rumah mewah lantai tiga dan satu mobil mewah khusus untuk dihadiahkan kepada gadis yang didambakan.


"Mobil mewah kamu yang kendarai bersama aku!" kata pak Jamal penuh semangat, dia merasa yakin dirinya akan diterima oleh keluarga Sarinah dengan hadiah mahal yang dibawanya.


"uwah..., ini mobil keren kak!" kata Faid kagum dengan mobil BMW i8 dengan harga fantastis dibawah lima miliar ini. mobil dengan warna putih metalik sangat memukau mata Faid.


"Mobil ini hadiah untuk Sarinah!" ucap pak Jamal bangga. Faid terkejut mendengar ucapan kakaknya.


"Ini...? Hadiah untuk Sarinah...!" kata Faid hampir tidak percaya, matanya tidak berkedip memandang pak Jamal.


"Makanya, bawanya Hati hati, ini khusus buat pujaanku!" kata pak Jamal memesan Faid.


Rombongan pak Jamalpun berangkat pergi menuju kediaman Sarinah di pasar rebo.


Terakhir,


Sachio berangkat dengan rombongan keluarganya, pergi tidak membawa Apa apa. Mereka berangkat dengan sederhana tidak menunjukan kesan mewah yang berlebihan karena dia sudah tahu, dengan sifat sederhana keluarga Sarinah.


💟💟💟💟💟

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2