DOA IBU

DOA IBU
BOS DI CULIK


__ADS_3

Dua Kakek tua yang diajak pak Adzriel menemaninya menuju rumah pak Sampurna terus bertengkar tak ada yang mau mengalah.


Kakek Boncel tidak dikenal oleh pak Adzriel, yang dia tahu putranya punya dua guru kakek-kakek yang mengajarnya bela diri.


Berkat kakek Boncel Dolangga pandai membaca dan menulis serta mahir melantunkan ayat-ayat suci alqur'an.


Syarat yang ditekan oleh kakek Wie lan agar cepat mengerti bela diri adalah harus bisa membaca dan menulus, itulah sebabnya kakek Wie lan minta Kakek Boncel yang mwngajarkannya.


Dan kebetulan sekali kakek Boncel pernah mengenyam pendidikan disebuah pesanteran didaerah Surabaya.


"Pak Wie lan sebentar lagi kita sampai pelankan laju mobilnya," pinta pak Wie lan.


"Dimana rumahnya?" tanya kakek Wie lan.


"Kau lihat? Rumah bercat putih itu?" tunjuk pak Adzriel disebelah kiri jalan yang lurus kesebelah barat.


"Yang itu?" tanya kakek Wie lan yang kira-kira lima ratus meter dari tangannya yang menunjuk.


"Ya!" jawab pak Adzriel anggukan kepalanya.


Tanpa tunggu lama kakek Wie lan langsung berhenti didepan pintu gerbang rumahnya pak Sampurna.


Pal adzriel langsung turun dari mobil untuk menghindari kecurigaan security karena adanya kejadian penculikan.


"Pak Adzriel!" sapa salah seorang pembantu pak Sam yang melihat pak Adzriel berdiri lama menunggu memanggil-manggil penghuni rumah.


Bukannya security yang keluar, kelihatan suasana rumah sepi.


"Security mana?!" tanya pak Adzriel membantu mendorong gerbang pintu setelah dibukakan oleh pembantu pak Sam agar mobil masuk kedalam.


"Didalam pak Adzriel!" sahut si pembantu kelihatan masih ketakutan.


"Yang chat saya tadi siapa?!" tanya pak Adzriel.


"Saya pak Adzriel!" jawab sipembantu.


"Kami semua ketakutan pak Adzriel mereka membawa Bapak, nyonya, Tito dan Tina!" tutur sipembantu tampak stres dan trauma.


Kakek Wie lan dan Boncel turun ikut mendengar pembicaraan.


"Siapa? Yang membawa Bapak!" tanya pak Adzriel bingung tidak tahu mesti tanya apa.


"Kelihatannya orang jahat pak!" jawab sipembantu.


Kakek Wie lan yang mendengar pembicaraan tertarik juga. Sepertinya disini telah terjadi penculikan, guman Wie lan dalam hati. Melihat sipembantu ketakutan.


"Sisecurity didalam?!" tanya pak Adzriel.


Pembantu pak Sam anggukan kepala. Pak Adzriel lalu masuk kedalam, Dilihatnya security pak Sam seperti sulit bernapas.


"Pak Wie lan tolong longgarkan pernapasannya!" pinta pak Adzriel minta tolong sama kakek Wie lan.

__ADS_1


"Ayo cepat! Nanti orang keburu mati!" bentak kakek Wie lan menyuruh kakek Boncel.


"Bilang aja tidak bisa!" timbal kakek Boncel memberi totokan pada urat-urat tertentu disekitar leher dan punggung sisecurity.


"Hooaa...,"


Sisecurity langsung longgar pernapasannya.


"Terimakasih telah menyelamatkan saya. Saya sepertinya hampir mati!" kata si security mencium tangan kakek Boncel.


"Ini sepertinya ada apa? Sih! Sampai kamu tidak bisa bernapas dan yang lain sepertinya ketakutan!"


Lalu si security menceritakan kejadiannya, "Bos! Dipaksa nunjukan batu giok, entah batu giok apa! Saya tidak paham pak Adzriel!" kata si security menceritakan sedikit yang di ketahui.


"O..., aku tahu pelakunya!" kata pak Adzriel.


"Pak Adzriel tahu pekakunya?" tanya pembantu pak Sam.


"Ya!" jawab pak Adzriel.


"Kita lapor polisi!" sahut si security.


"Tunggu!" kata pak Adzriel.


"Kalau kita lapor polisi prosesnya lama! Sedang aku yakin pak Sam butuh bantuan kita secepatnya." lanjut pak Adzriel.


"Ngapain lapor polisi, kita porak porandakan kediamannya!" kata kakek Wie lan.


"Masalahnya aku tidak tahu! kediamannya!" ucap pak Adzriel.


Pak Adzriel berpikir keras apa yang harus dilakukan untuk mengetahui tempat pak Ruyung menyekap dan mengurung pak Sam dan keluarganya.


...----------------...


Pak Adzriel kebingungan harus minta bantuan kepada siapa. Yang dia tahu adalah pekerja pak Sam seperti Sachio, Amir dan Givano tahu kalau pak Sam berkomplik dengan pak Ruyung, tapi masalahnya dia tidak mau putranya yang baru di jumpai ikut terlibat dalam membantu pak Sam.


Akhirnya pak Adzriel mencoba peruntungan dengan menghubungi pak Faris bapaknya Sachio.


"Halo pak Adzriel selamat siang menjelang sore? Senang bertemu denganmu!" kata pak Faris menerima telpon pak Adzriel.


"Salamu'alaikum pak Faris gimana kabarnya siang ini!" sambut pak Adzriel.


"Wa'alaikumsalam! pak Adzriel Alhamdulillah saya baik-baik saja, mudah-mudahan pak Adzrielpun demikian adanya!" balas pak Faris dengan ramah.


"Pak Faris! Saya tidak bisa cerita lewat hp, boleh tidak jumpai saya di kafe twenty four tidak jauh dari taman!" kata pak Adzriel.


"O, twenty four saya tahu! Tidak jauh juga dari rumahmu!" timbal pak Faris.


"Ya, sekarang saya disitu!" kata pak Adzriel.


"Oke, tak sampai sepuluh menit kok, saya pasti sudah disitu. Kebetulan saya juga ada urusan!" timbal pak Faris.

__ADS_1


Betul juga, tidak lama pak Adzriel menunggu lama pak Faris sudah memakirkan mobilnya didekat mobil yang dibawa pak Adzriel.


"Ini kan mobil Givano, Givanonya mana?" tanya pak Faris.


"Kebetulan kami yang pakai karena perlu, itulah sebabnya saya hubungi bapak untuk cari solusinya pak Sam diculik oleh pak Ruyung!" kata pak Adzriel langsung pada pokok persoalannya.


Belum selesai pak Adzriel bicara pak Faris tersentak kaget.


"Pak Sam?, pak Sam bosnya anak-anak!" tanya pak Faris.


"Ya, betul! Bosnya Sachio dan Givano!" jawab pak Adzriel.


Pak Faris terdiam sebentar seperti sedang memikirkan sesuatu. Dia tampak sok juga mendengar pak Adzriel menceritakan pak Sam diculik oleh pak Ruyung.


"Pak Ruyung menculik pak Sam pasti ada alasannya!" kata pak Faris pingin tahu.


"Pak Ruyung menginginkan batu giok yang dipegang oleh pak Sam!"


"Apa? Batu giok?" tanya pak Faris.


"Entah, aku juga tidak tahu! kenapa pak Ruyung menginginkannya!" kata pak Adzriel merahasiakannya.


"Yang aku tahu! pak Ruyung itu kawan bisnis pak Jamal. Namun karena peristiwa kemarin gara-gara putra pak Ruyung dan pak Jamal sama-sama suka dengan Sarinah! Akhirnya mereka bentrok!" tutur pak Faris.


"Yang tahu pak Jamal adalah Alfiana, Karena Alfiana pacarnya Faid adiknya pak Jamal." lanjut cerita pak Faris.


"Pak Adzriel tahukan Alfiana?" tanya pak Faris.


"Ya, saya tahu!" jawab pak Adzriel.


"Berarti pak Jamal tahu kediamannya pak Ruyung!" tanya pak Adzriel.


"Pasti dong..., segala-galanya pasti tahu menurutku!" timbal pak Faris.


"Oke, pak Faris! Saya minta pak Faris agar merahasiakan ini. Jangan sampai anak-anak tahu!" pinta pak Adzriel.


"Oke, anak-anak tidak boleh tahu! Tapi, aku tentu tidak bisa tinggal diam! Aku akan laporkan kejadian ini kepolisi!" ucap pak Faris.


"Jangan lapor polisi dulu karena kita belum lengkap buktinya!" kata pak Adzriel.


"Kalau begitu aku mau cari tahu impormasi lain yang mungkin bisa jadi masukan kita untuk menyeret pak Ruyung kepolisi!" lanjut pak Adzriel.


"Nanti kabarkan aku perkembangan selanjutnya!" pinta pak Faris.


"Pasti pak!" jawab pak Adzriel.


Pak Adzriel telah menemukan solusinya setelah mendapat masukan dari pak Faris.


💜💜💜💜💜


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2