
Sebuah rumah besar yang tidak jauh dari lapangan bola gonseng cijantung pasar rebo. Rumah itu dihuni oleh pak Adzriel pak Kimin dan pak Ramlan.
Didepan rumahnya pak Adzriel dibuat bengkel sederhana. Pak Adzriel tampak gembira dengan kegiatan barunya yang dibantu oleh pak Kimin dan pak Ramlan.
Dalam hati pak Adzriel berniat akan kesurabaya memboyong istri dan putra putrinya ke Jakarta. Rasa rindu kepada keluarganya perlahan membalut hatinya.
Dua tahun lebih dia meninggalkan keluarganya tanpa kabar dan berita. Rasa malu, salah dan berdosa setiap hari jadi jeritan bathinnya. Karena tidak pernah menafkahi keluarganya lebih dari dua tahun, sebab penghasilannya cukup untuk bayar kos dan makan sehari hari.
"Pak Adzriel ini beres ya!" tanya Pak Ramlan kepada pak Adzriel yang lagi sibuk membongkar motor yang belum diservis.
"yak! ini dan yang itu juga sudah selesai kalau yang punya datang kasih aja." kata pak adzriel menunjuk Motor motor yang sudah selesai diservis.
"baik, pak!" jawab pak Ramlan.
"pak Kimin tolong ambilkan kunci delapan dan dua belas!" pinta pak Adzriel.
Dengan cekatan pak Kimin dan pak Ramlan membantu pak Adzrier bekerja. Ketiga pria yang cukup umur ini terlihat kompak dalam bekerja.
Suasana dibengkel pak Adzriel hari cukup ramai. Banyak orang yang datang menservis motornya.
🌟🌟🌟
Ditempat lain.
Hari ini Sachio menepati janjinya akan membawa ibunya untuk bertemu dengan Sarinah. Sementara ibunya berdandan dengan rapi didalam kamarnya Sachio menyibukkan diri dengan menatap foto Sarinah.
Sarinah adalah harga mati untuk dipertahankan. Setelah mempertemukan Sarinah dengan ibunya barulah nanti Sachio akan mengutarakan niatnya kepada ibunya.
Maura sepertinya sudah selesai berdandan. Tampak wajah ibunya masih muda dan cantik.
Sachio tersenyum memandang ibunya yang menggunakan gaun mahal. Seandainya ibunya menggunakan gaun biasapun tidak berpengaruh Apa apa.
Karena Sachio yakin Sarinah tidak tahu mana gaun mahal dan mana yang murah. Tetapi Sachio senang dan bangga dengan keseriusan ibunya yang ingin melihat pacarnya.
"Ayo nak! ibu sudah siap kita jalan sekarang!" rupanya Maura sudah kepingin Cepat cepat bertemu dengan pacar yang membuat putranya jatuh cinta.
Sachio segera bangun berdiri melangkah.
"Ayo!" seru Sachio
Hti Maura Berdebar debar. Rasa senang membalut hatinya dapat melangkah dengan putranya. Saat yang ditunggu tunggu akhirnya datang juga yakni berjalan dengan putra kesayangannya.
"Jauh ya dari sini kediaman!" tanya maura dengan langkah anggun nyamperin mobil yang parkir didepan rumah.
"Dia tinggal di cijantung!" jawab seraya melangkah menuju pintu mobil. tidak lama kemudian mobil Sachio telah melaju membawa mamanya menuju kediaman Sarinah.
__ADS_1
---------------------'xxxxx'------------------------
Di Kediaman Ruyung.
Ruyung sangat murka sekali kepada anak buahnya yang gagal memaksa Sampurna untuk menyerahkan batu yang diincar lama. Kegagalan ini karena adanya campur tangan orang lain. Diapun menyusun rencana untuk memusnahkan orang yang telah ikut campur urusannya.
"Ezra!"
Matannya merah menyala memanggil Ezra orang kepercayaannnya. Selama ini jarang dia minta bantuannya kecuali ketika dia dalam kesulitan seperti yang sekarang ini.
"siap, tuan!"
Ezra memberi hormat dengan merapatkan dua tangannya didepan kening sambil menundukan kepala.
"mulai sekarang aku tidak boleh gagal untuk memiliki batu giok tersebut."
"saya siap ditugaskan untuk merebutnya, tuan!"
"bawa Orang orang pilihan, rampas batu itu."
"siap! Akan saya kerjakan!" ucap Ezra berlalu.
Ezra mengumpulkan empat orang pilihan menuju kediaman pak Sampurna wijaya.
🌟🌟🌟
"Maaf, pak! bapak siapa! dan hendak kemana?"
Sariman menghadang Givano yang berjalan menuju kediaman Sarinah dan Zaripah.
"Bapak, Siapa?!" Givano balik bertanya.
"Kami berdua suami istri pembantu dirumah ini!"
Haryani langsung menjawab, setelah melihat suaminya menghadang orang asing yang tidak dikenal, hendak datang nyamperin kediaman Sarinah dan ibunya Zaripah.
"Kalian berdua asistennya nona Sarinah dan ibu Zaripah!"
"Betul pak!"
"Saya disuruh pak Sachio untuk merenovasi semua pintu dan jendela rumah ini. Karena dirumah ini katanya perempuan semua!"
"Betul, pak! disini memang ada dua perempuan!" ucap Haryani.
"Itulah sebabnya, saya datang kemari mau ngukur jendela dan pintu buat dipasangkan besi baja. biar kuat tak bisa dibuka oleh orang yang mau berbuat jahat."
__ADS_1
Usai menjelaskan alasannya Givano melangkahkan kakinya menuju kediaman Sarinah. Rupanya Givano berhasil mengelabui Haryani dan Sariman.
Sepertinya Bu Zaripah mendengar percakapan asisten rumah tangganya Sariman dan Haryani dengan seseorang diluar kediamannya. Diapun keluar melihat.
"Pagi, bu?" sapa Givano dengan Hormat.
"Pagi, ada apa ya?"
"Saya disuruh Sachio untuk merenovasi pintu rumah ibu. Sebab, Sachio khawatir karena yang tinggal disini perempuan semua!" ucap Givano sambil masuk kedalam rumah memeriksa pintu dan jendela.
Dada Givano berdetak kencang ditatap bu Zalipah. Sejak kecil dia tidak tahu kedua ibu bapaknya, sudah sering dia menanyakannya kepada kakeknya. Namun jawaban Kakeknya adalah nanti setelah kamu dewasa kakek akan beri tahu.
Rasa rindu ingin bertemu dengan bu Zaripah terbayar sudah. Sejak pertama kali bertemu dengan ibu ini membuatnya terasa aneh. Mungkin karena dia tak pernah merasakan hangatnya belaian kasih sayang ibu.
Setelah keinginannya untuk bertemu dengan bu Zaripah sudah terpenuhi. Givano minta pamit pergi.
"bu...saya sudah selesai." ucap Givano menatap bu zaripah.
"kalau begitu kamu dibuatkan minum dulu!" kata bu Zaripah.
"Tidak usah bu saya mau pamit saya masih ada urusan ditempat lain." jawab Givano.
"Ya sudah, tidak Apa apa. Karena kamu masih ada urusan, Kamu harus selesaikan. Biar tidak jadi beban pikiranmu." kata bu Zaripah tidak bisa menahan orang yang disuruh Sachio merenovasi pintu dan jendela kediamannya.
Givano keluar berjalan kaki. Karena mobilnya diparkir dimobil mall graha cijantung yang cukup lumayan jauh kalau jalan kaki.
Givano terkejut melihat mobil sachio melintas didepannya. Givano merasa bersukur Cepat cepat pergi dari sana. kalau tidak entah apa alasannya kepada Sachio.
Sachio telah tiba di kediaman Sarinah dan Zaripah. Sariman berlari kecil nyamperin bosnya yang baru tiba.
"Bos! Orang yang kamu suruh untuk merenovasi pintu dan jendala baru saja pergi." lapor Sariman dengan semangat biar bosnya tahu kalau dia kerja Betul betul profesional.
"Hah! Apa?" betapa terkejutnya Sachio mendengar laporan Sariman.
"Ada orang yang mau merenovasi pintu dan jendela?!" tanya Sachio terperanjat luar biasa. Sarimanpun jadi bingung dengan melihat bosnya yang terkejut.
"Tadi dia bilang bos yang suruh!" ucap Sariman agak ketakutan.
"terus, kamu percaya begitu saja?!" timbal Sachio seperti menyakahkan Sariman.
"tadinya kami tidak percaya. Tapi, dia sebut nama bos akhirnya kami percaya!" ucap Haryani bela diri.
"Baiklah nanti kita lanjutkan. Sebab saya dan ibu saya mau kedalam."
Sachio mulai tidak tenang, ada orang Ngaku ngaku merenovasi rumah. Karena tidak tega dengan ibunya yang masih menunggu didalam mobil Sachiopun jadi berpikir lebih baik nanti akan dibicarakan lagi.
__ADS_1
💘💘💘💘💘
BERSAMBUNG.