
Wajah sangar penuh Dendam tampak pada raut mukanya, tatapan mata sadis terlihat dikedua bola matanya.
Dia berjalan dengan satu tongkat tertatih-tatih menyangga tubuh tuanya, Dia dikelilingi puluhan anak buah yang siap membunuh siapa saja dengan satu ucapan perintah.
Pak Ruyung tampak meninggalkan lobi rumah sakit naik mobil menuju kediamannya.
"Alex! Herman! Kalian bawa sepuluh orang pergi cari orang yang telah menganiayaku bawa kesini!" ucap pak Ruyung memerintahkan Alex dan Herman
"Chang bao, Reymozi dan kamu Ezra, bawa anak buah kalian. Paksa pak Sam menyerahkan batu giok yang berada ditangannya!" kata pak Ruyung.
Empat mobil langsung bergerak menuju sasaran masing-masing. Dua mobil dibawah petunjuk Alex mengarah mencari Givano dan Dolangga.
Givano dan Dolangga yang dicari Alex dan anak buahnya sedang siap-siap pergi menuju kedua orang tuan.
"Kakek mau dibawa kemana? Ini!" tanya Boncel kepada Givano dan Dolangga.
"Mau dibawa kejurang jadi umpan piton!" timbal Wie lan nyerocos.
"Lu, yang udah tua! Dijilati harimau sumatra!" balas Boncel tak mau kalah.
"Lu, kalau diajak tidak usah cerewet!" seru wie lan.
"Aku kan pingi tahu...? Akan di ajak kerestoran mana?!" timbal Boncel.
"Pikiranmu makan..., melulu, memangnya kalau disebutin restorannya, kamu tahu? Gitu! kamu baru baru berapa bulan disini..., itupun di rumah melulu!" ucap Wie lan.
"Sudah, sudah! Kalian jangan bertengkar! Nanti kita mampir direstoran yang paling enak makanannya!" ucap Givano kepada mereka berdua.
Begitu disebutin akan diajak makan direstoran, kakek Wie lan tampak gembira.
"Kenapa lu, senang diajak makan direstoran? Tadi lu marahi gua!" sindir kakek Boncel.
"Ya, senenglah! Orang diajak makan!" timbal kakek Wie lan membuka pintu mobil.
"Makanya, jangan suka protes!" sahut kakek Boncel berdiri didekat pintu mobil menunggu kakek Wie lan naik.
"Diam, lu!" tatap kakek Wie lan melototi kakek Boncel sambil masuk naik kedalam mobil.
Givano mengajak mereka bertiga menuju rumah makan sebelum menuju kerumah kedua orang tuanya.
Ketika sampai disebuah restoran, Givano dan Dolangga tidak melihat Alex yang secara tidak sengaja melihatnya turun dari mobil.
"Aha, kita tidak perlu susah-susah mencarinya. Orang yang kita cari sudah didepan mata kita!" ucap Alex memberi tahu Herman.
__ADS_1
"Mana mereka!" tanya Herman.
"Itu!" tunjuk Alex menuju arah Givano, Dolangga dan Dua Kakek-kakek yang sedang berjalan masuk kearah restoran.
Mereka baru saja selesai makan siang beserta temannya, duduk santai merokok sambil menikmati minumannya diluar. disamping kanan restoran yang menghadap kebarat.
"Kalian jangan anggap remeh anak kecil yang bersama anak muda itu! Kehebatannya dalam bela diri sungguh luar biasa! Dia bisa meremukan kalian semua kalau kalian tidak hati-hati!" kata Alex memperingati teman-temannya.
"Masa anak kecil bisa meremukan aku!" kata Herman tidak percaya.
"Kalau kamu tidak percaya! Nanti kamu rasakan kehebatan kaki dan tangannya!" ucap Alex.
Tak ada satupun diantara mereka yang percayai ucapan Alex.
Givano dan Dolangga yang sedang diperhatikan dan diawasi oleh Alex beserta teman-temannya, tampak menikmati makan siangnya. mereka tidak menyadari ada yang mengawasi.
...----------------...
Ditempat yang berbeda Chang bao dan Reymozi beserta beberapa teman-temannya sedang dalam perjalanan menuju kediaman pak Sampurna Wijaya, yang diperintahkan oleh pak Ruyung untuk merebut batu giok yang berada ditangannya dibawah petunjuk Ezra.
Lima ratus meter sebelum kediaman pak Sam, Ezra menghentikan mobilnya.
"Dimana? rumah pak Sam!" tanya Reymozi.
"Itu rumah lantai tiga, yang halamannya luas yang cat dinding berwarna putih!" tunjuk Ezra.
"Kita jangan buat mereka curiga. Sebab dia bisa menyuruh satu kampung ini menghalau kita!" jelas Ezra mengingatkan Chang bao dan Reymozi.
"Kita harus bergerak cepat, jangan sampai orang kampung ini tahu!" lanjut Ezra mengingatkan semua teman-temannya.
"Kalau begitu, dengarkan aku!" ucap Chang bao.
"Kita bertiga masuk terlebih dahulu, Reymozi lumpuhkan security. Kamu dan aku amankan yang didalam! Kalau sudah aman, perintahkan dua mobil ini masuk!" ucap Chang bao menyusun penyerangan.
"Berarti, sekarang kita jalan kaki!" timbal Reymozi mengerti maksud Chang bao.
"Sip!" Chang bao acungkan jempol kanannya.
Ezra segera turun menghampiri mobil dibelakangnya untuk memberitahu apa yang telah mereka rencanakan tadi.
"Dengar! Kalian tetap stand by disini! Tidak boleh bergerak sebelum ada perintah dari kami!" ucap Ezra mengingatkan teman-temannya.
"Siap!" jawab Arfah.
__ADS_1
Lalu mereka bertiga bergerak mendekati kediaman pak Sam. Tinggal beberapa meter mendekati pintu gerbang rumah pak Sam, tiba-tiba mobil pak Sam datang dari arah belakang mereka.
Ezra segera menahan langkah teman-temannya, lalu berpura-pura membagi rokok dan membakarnya.
"Tunggu! dulu, biarkan dia masuk!" pinta Ezra.
Mereka bertiga berjalan menghampiri rumah tetangganya yang bersebelahan dengan rumahnya pak Sam. Mereka berdiri menunggu mobil pak Sam yang baru datang masuk.
Lima menit kemudian Reymozi lalu mendekati security yang berada didalam pintu gerbang rumahnya pak Sam.
"Pak minta tolong keluar sebentar!" pinta Reymozi.
"Minta tolong apa! ngomong saja dari situ!" timbal pak Sabar security rumah pak Sam.
"Kantor lantas jauh enggak dari sini!" tanya Reymozi pura-pura menanyakan kantor lantas polisi.
"Lantas apa? Pak!" tanya pak Sabar.
"Lantas polisi! motor saya barusan diangkut karena parkir liar!" jawab Reymozi.
Pak sabar lalu keluar hendak menunjukan jalan menuju kantor polisi kepada Reymozi. Dia merasa kurang sopan kalau memberitahu orang yang sedang bertanya dari dalam.
Pada saat pak Sabar hendak keluar, Reymozi bergerak masuk kedalam dengan cepat langsung mencekik leher pak Sabar dengan pergelangan tangannya sambil menariknya masuk kedalam pos tempatnya berjaga.
Chang bao dan Ezra melesat bergerak menuju lobi depan rumahnya pak Sam.
Tito dan Tina yang melihat ada dua orang masuk mencurigakan segera berteriak, "Siapa! Kalian!" teriak Tina.
"Jangan berteriak!" ucap Chang bao memutar badannya seperti roda dan menyambar Tina lalu menyekapnya.
Mendengar ada suara keributan pak Sam dan bu Nisya keluar bersamaan dengan itu Reymozi masuk.
Ezra cepat-cepat memerintahkan teman-temannya yang masih diluar segera masuk kerumah pak Sam.
"Halo! Kalian sekarang masuk! Hati-hati!" pinta Ezra langsung merijek hpnya.
Teman-temannya yang masih menunggu diluar segera masuk. Tanpa diperintah mereka semua langsung berpencar.
Dua orang menjaga pintu gerbang untuk mencegah orang masuk, yang lain ada yang bergerak mengumpulkan para pekerja yang bekerja dirumah pak Sam lalu dikumpulkan menjadi satu disatu tempat.
"Hayo kalian kumpul disini, jangan coba-coba berteriak minta tolong atau melakukan yang aneh-aneh!" bentak Arfah.
"Kami tidak segan-segan menghabisi kalian kalau kalian bertindak macam-macam!" lanjut Arfah mengancam semua pekerja pak Sam.
__ADS_1
💜💜💜💜💜
BERSAMBUNG.