
Satu tendang menyusul mengenai Dada Zafar hingga tersungkur dua meter kebelakang dan Zafar meringis kesakitan. Bukan hanya itu Dolangga kembali menerjangnya dengan satu pukulan keras.
Buuughk....
Aaaauughk..., huk..., huk....
Darah segar langsung muncrat dari mulut Zafar, Lelaki bejat yang sudah berapa kali hendak memperkosa kakaknya Sarinah tapi selalu gagal. Tak heran begitu Dolangga melihatnya dia langsung benci dan darahnya mendudih.
Empat orang preman temannya Zafar segera bergerak cepat mengurung Dolangga. Kakek Wie lan dan kakek Boncel terkekeh kekeh punya permainan.
Salah seorang preman yang hendak menerjang Dolangga ditepuk pundaknya dari belakang oleh kakek Wie lan.
Puk puk puk...
Ketika si preman menoleh kakek Wie lan yang menepuk pundaknya langsung kena hantam tangan kakek Wie lan.
Tpeees....
Satu hantaman kakek Wie lan mendarat mengenai rahang si preman dan pasti sangat menyakitkan sekali. Pandangannya berkunang kunang dengan kepaka pusing seperti berputar putar sipreman berdiri sempoyongan bagai orang mabuk.
Sedangkan Boncel langsung melompat dengan ringan berdiri dipundak seorang preman lainnya kemudian menggepit kepalanya lalu tubuhnya diputar dan,
Aaaeeeghk...
lehernya seperti mau putus rasanya si preman menjerit kesakitan. perkelahian berlangsung cukup lama dan para prema berlari luntang lantung meninggalkan tempat perkelahian.
Para penumpang yang mau diperas berterima kasih kepada Dolangga.
"Waaah..., adik hebat Kecil kecil terimakasih ya telah menolong kakak!" ucap seorang gadis remaja berlari menghampiri Dolangga.
"Sama sama...." jawab Dolangga sopan membungkukan tubuhnya. Para penumpang tujuan semarang itu begitu kagum melihat kesopanan dan kerendahan hati Dolangga.
"Anak ini hendak ke Jakarta menemui orang tuanya. Tapi, dia tak punya ongkos pergi ke Jakarta." kata Boncel.
Orang orang yang mendengar pernyataan Boncel tersentak iba. Salah seorang ibu menghampiri Dolangga.
"Ibumu dimana? nak...?" tatap ibu itu memegang pundak Dolangga. Dolangga tertunduk malu, Si ibu membuka dompetnya dan memberikan lima lembaran merah kepada Dolangga.
"Tidak usah bu..., terimakasih!" Dolangga menolaknya. Tapi, si ibu yang terlanjur iba pada Dolangga memaksanya.
"Ibu ihklas nak! ambilah nanti ibu kecewa!" kata si ibu menaruh uang ditelapak tangan Dolangga.
"Saya juga, ada rejeki dari saya dua ratus." seorang wanita lain juga datang memberi Dolangga.
"Ambillah!" seorang pria juga memberi berapa lembar warna merah dan biru. Akhirnya Orang orang lain juga pada ikut menyumbangkan uangnya pada Dolangga.
Dolangga berdiri mematung dan malu tidak bisa menolak pemberian Orang orang itu.
...----------------...
__ADS_1
Hari ini Alfiana merasa sial dan Marah marah. Dia dikurung dalam sebuah kamar oleh pak Ruyung karena tidak mau menunjukan kediaman Sarinah. Ezra datang mendekati Alfiana. Matanya menelusuri tubuh seksi yang dimiliki Sarinah.
"Besok, bos akan memaksamu, untuk menunjukkan kediaman Sarinah!" kata Ezra.
"Ternyata bosmu bodoh! Dia hanya mengandalkan kekuatan, tidak mengandalkan pikiran."
"Itu persepsimu, tapi persepsi bosku lain." jawab Ezra.
"Kamu pikir dengan menunjukan kediamannya Sarinah persoalannya selesai, tidak!"
"Itulah makanya dia tidak mau membayarmu." timbal Ezra
"Tapi, aku punya pemikiran untuk membantunya mendapatkan Sarinah."
"Dia tak perlu pemikiranmu, besok dia bisa memaksa kedua orang tuanya untuk menerima lamaran Shaugi." jawab Ezra merasa yakin.
"Kita lihat besok! Akan kutunjukan dia kediaman Sarinah. Tapi aku yakin dia tak akan bisa mendapatkan Sarinah." ucap Alfiana.
Sementara Faid sekarang telah bersama Kakaknya pak Jamal di kediaman ibunya.
"Temanmu mana?!" tanya pak Jamal.
"Dia tidak ikut kak!" timbal Faid.
"Kenapa?"
"Dia ada kesibukan lain." kata Faid berbohong. Faid tampak bersemangat setelah memperoleh uang dua miliar dari kakaknya.
"Kita ajak Nabil dan Fado."
"Kenapa dari keluarga tidak kakak ajak!"
"Nanti ketika kita melakukan proses lamaran."
"Ok, dah kah semoga berjalan lancar besok."
Faid pergi meninggalkan kakaknya setelah minta pamit.
Begitu pula halnya dengan Sachio. Sekarang dia telah berkumpul dengan semua keluarganya untuk membahas proses lamarannya.
"Aku mau dengar dulu sama kamu, apa saja yang kamu persiapkan untuk anakmu." tanya pak Faris kepada Maura.
"Kalau aku, aku telah siap segalanya untuk Sachio." jawab Maura.
"Siap apa saja!" tegas pak Faris.
"Baik, aku jawab. Tapi, mohon maaf sebelumnya jangan sampai kalian punya pikiran lain. Aku telah siapkan rumah mewah lantai empat di Menteng dan perusahaan besar. Jika Sachio menikah, itu semua kuberikan kepadanya. Juga ada simpanan uang triliunan rupiah beserta saham dan masih banyak aset lainnya." jawab Maura.
Faris terdiam, karena berpikir keras langkah apa yang akan dilakukan agar adil jangan sampai Maura saja yang berkorban. Bagaimanapun juga Sachio adalah darah dagingnya juga.
__ADS_1
"Kalau begitu bagianku adalah menyelesaikan segala urusan pernikahannya mulai dari proses lamaran persepsi pernikahan dan lain lainya adalah aku yang menyelesaikannya." usul Faris.
"Pak! Bu..., juga mama komala dan adikku lisa mohon maaf. Aku minta maaf sebesar besarnya kepada kalian semua, sebab apa yang kudengar tadi semuanya sangat bertentangan dengan keinginanku." jawab Sachio.
"Aku dan Sarinah saling menyintai. Sarinah adalah gadis biasa, sederhana tak suka kemewahan. Kami mau menikah dengan cara sederhana dan biasa." ucap Sachio.
"Lalu bagaimana kita melamarnya." tanya pak Faris.
"Nanti kita diskusikan secara kekeluargaan." jawab Sachio.
"Maksud!" tanya pak Faris belum mengerti.
"Besok kita kerumahnya untuk memperkenalkan kalian semua sambil bincangkan tujuan saya yang mau melamar Sarinah."
"Jadi maksudmu kita silaturahmi dulu." tegas pak Faris.
"Iya, pak!" Sachio anggukan kepala.
"Bagaimana menurut kalian!" tanya pak Faris kepada yang lain.
"Kalau aku mana yang terbaik menurut Sachio." jawab Komala.
"Kalau kamu bagaimana!" tatap pak Faris kepada Maura ibunya Sachio.
"Biar semuanya lancar dan tak ada hambatan aku ikuti kamu dan Sachio." jawab Maura.
"Kalau aku ikutin kemauan Sachio karena dia yang menikah dan menjalaninya.
"Sepakat!" celetuk Lisa sambil tutup mulutnya ketakutan karena dipikir ucapannya salah sebab dia masih kecil untuk urusan ini.
...----------------...
Boncel dan Wie lan mengumpulkan dan memegang uang pemberian Orang orang yang mau diperas oleh para preman itu. Tidak beberapa lama seseorang datang menawarkan mereka untuk pergi bareng ke Jakarta.
"Ku dengar katanya kalian mau ke Jakarta! Benar?" tanya orang itu.
"Kebetulan aku juga mau ke Jakarta. Tapi, karena keburu malam aku tunda. kalau kaliam mau menemani aku?! Tidak Apa apa kulanjutkan perjalanan malam ini juga!" tawar orang itu.
Kakek Wie lan kakek Bincel dan Dolangga saling tatap.
"Kalau tidak merepotkan bapak tentu kami bersedia!" ucap kakek Wie lan tampak senang mendengar tawaran orabg itu.
"Tentu tidak pak, sebab aku Buru buru. Cuman karena takut aku tunda. Sekarang aku tidak takut karena kulihat kalian hebat berkelahi." jawab orang itu.
"Ayo kalau begitu kita berangkat sekarang!" ajak orang itu. Kemudian dia memperkenalkan diri setelah mobil mereka melaju di jalan raya.
"Namaku Wahyu asli gubeng surabaya sini." kata Wahyu memperkenalkan diri tanpa menyebut tujuannya ke Jakarta.
💟💟💟💟💟
__ADS_1
BERSAMBUNG.