
Sachio tidak tahu Dolangga ada di mobil Givano begitu pula halnya Dengan Dolangga. Dolangga sempat melihat punggung Sachio. Namun, dia tidak kepikiran kalau punggung yang dilhat itu adalah Sachio orang yang membawa ibu dan kakaknya Sarinah.
Tidak beberapa lama Givano sudah kembali naik kedalam mobilnya. "Kak, sebenarnya kakak hendak bawa Olan kemana?" tanya Dolangga penasaran menatap Givano yang baru saja naik kedalam mobil.
Givano hanya tersenyum, "Nanti adik Olan akan tahu sendiri," jawab Givano menatap adiknya.
Hari ini Givano tampak segar bugar, padahal semalam dia tidur hanya beberapa jam saja. Semalam setelah bangun tengah malam dia habiskan waktunya untuk bersujud kepada Allah subhanahuwata'ala.
Sebagai mana Malam malam sebelumnya dia selalu bangun sholat sunat tengah malam, usai bangun tengah malam dia langsung ambil air wudhu lalu sholat tahajut, witir, istiharah dan sholat sunat hajat. Lalu berdoa dengan khusuk dan linangan air mata. Dia bersukur dipertemukan dengan keluarganya yang telah lama berpisah. Walau dia belum terus terang kepada ibu dan bapaknya bahwa putra yang mereka cari adalah dirinya.
Menjelang datang waktu subuh dia pergi kemasjid untuk sholat berjamaah subuh, dijumpainya Dolangga dan kakek Wie lan serta kakek Boncel setelah keluar dari masjid.
Sekarang Givano telah meninggalkan perusahaan tempatnya bekerja menuju Mall untuk membeli perlengkapan sekolah adiknya Dolangga.
Sebelum dia sampai di Mall dia mampir dulu di kafe untuk sarapan. "Kita sarapan dulu," kata Givano membelokkan mobilnya masuk kehalaman parkir kafe. "Adik rindu ya? Kepingin ketemu dengan Bapak dan mama!" tatap Givano sebelum turun dari mobilnya.
Dolangga diam sebentar dan balik bertanya; "Kenapa dirumah! Kakak hidup sendirian tidak bersama ayah dan ibu kakak!" tatap Dolangga.
"Ayo, kita turun! Nanti saya jelaskan usai sarapan!" jawab Givano.
Givano tetap memuji muji Allah dalam hatinya atas dipertemukannya dirinya dengan adiknya dan adiknya belum tahu kalau dirinya adalah kakak kandungnya.
Tidak jauh dari tempat duduknya tampak Fado dan Nabil sarapan seperti orang lapar. "Mumpung ada uang ngapain takut makan Banyak!" kata Fado sambil menyantap makanannya
"Hรจ em, apalagi makanannya enak!" jawab Nabil.
Mereka puaskan sarapannya pagi ini dengan kenyang. "Bang tolong pindahkan minuman kami keruangan merokok!" pinta Fado pada pelayan kafe.
"Baik," jawab si pelayan kafe segera memindahkan sisa minuman yang belum dihabiskan. "Makanan ini juga semua!" tanya sipelayan.
"Ya, itu semua!" timbak Nabil sambil berjalan menuju ruanga khusus merokok yang ada didalam kafe itu.
Setelah duduk diruangan khusus merokok Fado dan Nabil mengeluarkan bungkusan rokoknya dan membakar rokoknya sambil menikmati kue dan minuman yang belum dihabiskan. "Kalau kerja sama kita berjalan lancar dengan Alfiana aku akan membeli sawah dikampung," kata Nabil berkhayal sambil menghisap rokoknya.
Fado yang mendengar perkataan Nabil akan membeli sawah apabila kerja samanya dengan Alfiana berhasil memoroti uang pak Jamal langsung menghayal.
Sudah lama dia meninggalkan kampung halamanya dan ada gadis yang di incar bernama Halimah. Fadopun menghayal apabila dia punya uang banyak maka, dia akan melamar dan menikahi Halimah.
Untuk menghidupi anak dan istrinya dia membangun kios dan berjualan sembako, Fado tersenyum dan bahagia.
__ADS_1
Nabil yang melihat Fado tersenyum sendiri, "Hey! ngapain kamu tersenyum sendiri! Ngelamun ya," tanya Nabil menepuk pundak Fado.
"Ah! kamu bicara apa?!"
"Kamu pasti melamun...," tunjuk Nabil.
Fado memandang Nabil yang menunjuknya, "Ya," jawab Fado tersenyum.
"Ngelamunkan uang banyak kan...," kata Nabil.
"Pokoknya jangan sampai kita Sia siakan kesempatan ini dan dekati terus Alfiana!" bisik Fado sambil tersenyum
"Apalagi kita lihat sendiri Alfiana bersama Sarinah!" ucap Nabil bersemangat.
"Bukti kebersamaannya kita tunjukan kepada pak Jamal dengan memperlihatkan vidio rekaman hp kita!" kata Fado.
Mulailah didalam hati mereka timbul untuk bermain curang apabila telah memperoleh uang dari pak Jamal.
Sedangkan dikafe yang sama Fado dan Nabil tidak mengetahui kalau kakak dan adik Sarinah sedang sarapan pagi juga di kafe ini.
Kemudian Givano mengajak Dolangga ketujuan semula yakni pergi ke Mall membeli perlengkapan sekolah.
Sarinah yang Duduk sendirian menunggu Alfiana menelpon orang tuanya tampak dengan sabar menunggu. "Maaf ya? Aku terlalu lama bicara dengan mamaku. Habis mamaku cerewet sih..., dia tanya; kamu dimana? Sama siapa? Sedang apa! Pokoknya banyak deh!" kata Alfiana berakting kepada Sarinah.
"Sudah..., tidak Apa apa! Sekarang kita pulang yok." ajak Sarinah minta pulang.
"Kita sarapan dulu di kafe itu!" tunjuk Alfiana kearah kafe twenty four yang tidak jauh dari taman tempat mereka Jalan jalan. "baru kita pulang!" pinta Alfiana.
"Aduh...! Aku tidak bawa uang!" tolak Sarinah.
"Aku yang ngajak, harus aku yang traktir dong!" jawab Alfiana.
"Aduh...,"
Sarinah masih merasa keberatan untuk menerima tawaran Alfiana. "udah tak Apa apa yo," kata Alfiana menarik Sarinah menuju kafe.
Baru saja Givano dan Dolangga keluar dari kafe, Alfiana dan Sarinah memasuki gerbang halaman pas berpapasan dengan mobil yang di kendarai Givano dan Dolangga. "Tidak usah sungkan, kita kan belum sarapan?" ucap Alfiana.
"Mm..., gimana ya?" kata Sarinah masih merasakan kurang merasa enak walau dia sepertinya lapar juga pagi ini.
__ADS_1
Sarinah menoleh kebelakang melihat mobil yang baru saja keluar dari gerbang pintu kafe.
Itu kan mobil Givano?, guman Sarinah dalam hati. sementara mobil yang ditoleh Sarinah telah menghilang ditelan jalan raya.
Ditengah perjalanan Dolangga banyak juga melihat pemulung pengemis dan anak jalanan tidak ubahnya seperti di Surabaya.
Setiap dia melihat pemulung pandangannya tak akan lepas sampai apa yang dilihat menghilang. "Olan lihat siapa?" tanya Givano melihat adiknya agak aneh.
"Setiap aku melihat pemulung kupikir kak Sarinah!" jawab Dolangga pada Givano.
"Memang di Surabaya kerja kak Sarinah mulung!" kata Givano sedikit gemetar.
"Bapak dan mama juga mulung." jawab Dolangga.
Saking kagetnya mendengar cerita adiknya, Givano tak sadar menginjak rem mobilnya
Ssreeet....
"Hay..., Hati hati bang!" tegur pengendara disampingnya.
Mobil Givano berjalan seperti ular, Cepat cepat dia meminggirkan mobilnya dan berhenti. "Kamu tidak Apa apa! Dik!" tatap Givano.
"Kakak kenapa?" tanya Dolangga heran.
"Tidak Apa apa, maafkan kakak ya?!" pinta Givano.
Dolangga menduga Givano kurang sehat, Dia tidak tahu ucapannya itu membuat hati Givano sedih.
Ternyata selama ini kehidupan kedua orang tua dan adik adiknya sangat memprihatinkan.
Pantas saja adik perempuannya Sarinah hanya mampu sekolah sampai sekolah menengah pertama, dan yang disampingnya ini tak pernah merasakan bangku sekolah taman kanak kanak.
"Kak! Kita pulang saja kalau kakak kurang sehat!" kata Dolangga kepada Givano.
"Tidak kok, kakak baik baik saja." kata Givano berusaha menyembunyikan kegalauan batinnya.
Betapa malang perjalanan hidupmu guman Givano menjerit dalam hatinya. "Mall yang kita tuju sudah dekat, tu..., terlihat dari sini!" tunjuk Givano.
๐๐๐๐๐.
__ADS_1
BERSAMBUNG.