
Kelompok Ezra dan kawan-kawannya telah berhasil menguasai rumah pak Sampurna Wijaya. Sedangkan Alex dan kawan-kawan masih mengawasi Givano dan adiknya Dolangga makan.
Tidak lama kemudian Alex melihat dari luar Givano dan Dolangga sudah berdiri yang disusul dua kakek tua itu.
Mereka berempat keluar meninggalkan meja makan setelah terlebih dahulu Givano pergi kekasir membayar makanannya.
"Mereka sudah selesai makan!" kata Alex memberitahu kawan-kawannya.
Seluruh anak buah pak Ruyung dibawah pimpinan Alex segera masuk kemobil masing-masing mengikuti mobil yang dikendalikan Givano.
Karena ingin cepat bertemu dengan kedua orang tuanya Dolangga lebih cepat menyelesaikan makannya.
Padahal dia sangat menikmati sedapnya makanan yang dihidangkan restoran itu.
Kakek Wie lan dan kakek Boncel yang ingin menambah porsi makannya tidak dapat berbuat banyak ketika Dolangga meminta mereka agar tidak menambah porsi makan hari ini.
Selesai makan mereka berempat langsung berangkat. Kakek wie lan dan Kakek Boncel tidak tahu kemana tujuannya hari ini, mereka hanya mengikuti saja.
Givano dan Dolangga sebenarnya sama-sama gemetar hatinya dalam menemui kedua orang tua mereka. Tapi, perasaan gemetar yang menyelimuti dada mereka berbeda, Givano hari ini akan menyampaikan terus terang kepada ibu dan bapaknya kalau putra yang dicari selama ini adalah dirinya sendiri.
Sedangkan Dolangga perasaannya bergetar karena rindu ingin bertemu setelah sekian lama tidak bertemu. Mereka masing-masing membayangkan bakalan apa respon orang tuanya.
Givano segera mengambil jalan pintas agar cepat sampai walau jalan yang ditempuh agak sempit dan rusak.
Dibelakang mereka anak buah pak ruyung terus membuntuti mereka dari belakang. Alex sudah tahu kehebatan bocah kecil dimatanya.
Alex mewanti-wanti temannya agar mengurung Dolangga ramai-ramai, kalau bisa memancingnya terpisah dari tiga orang yang akan dijadikan sandra oleh Alex hingga Dolangga menyerah tanpa perlawanan.
Alex tidak tahu dua kakek ini adalah pendekar yang tidak tertandingi hingga dia mengincarnya untuk dijadikan sandra agar Dolangga menyerah.
Pada jalanan yang sempit mobil yang dikemudikan Alex meneros mendahului Givano hingga hampir saja mereka saling tabrak
Tiiit tiiiit...
Sreeet....
"Hay!" teriak Givano ngerem mendadak sebab mobil yang mendahuluinya berhenti menghadangnya.
"Kayaknya mereka sengaja menghadang kita!" seru kakek Boncel.
"Wah! Mereka mau main barongsai sama kita!" timbal kakek Wie lan.
Begitu melihat Alex keluar dari mobilnya Givanopun langsung turun dari mobilnya disusul Dolangga.
"O..., rupanya kamu?!" ujar Givano.
"Aku udah bilang sama kamu permainan kita belum selesai!" timbal Alex sambil tersenyum. Sementara kakek Wie lan dan kakek Boncel menggertak teman Alex yang mengurung dibelakang.
Hehehe....
Boncel tertawa mengejek teman-teman Alex, "Hey! Pisang busuk! Kalian tidak takut, kepalamu kubikin kelepon kencrit!" kata kakek Boncel mengejek teman-teman Alex.
"Diam kamu anak kecil! Kusikat gigimu yang kuning jadi merah!" timbal Gores teman Alex yang ikut dalam mobil belakang.
Kakek Boncel geram dipanggil anak kecil.
Hahaha....
Kakek Wie lan tertawa melihat kakek Boncel geram. "Makanya?! Sudah kuingatkan kamu gosok gigi? Tapi, kamu tidak mau mendengarkan aku?" kata kakek Wie lan tambah mengejek kakek Boncel.
__ADS_1
Kakek Boncel menatap kakek Wie lan marah, "Kenapa kamu bela gorengan bolong! Mereka mau rampok kamu!" kata kakek Boncel memandang kakek Wie lan.
"Dasar peot!" ejek kakek Boncel sambil melompat menerjang Gores,
Haiyaaat....
Plaaak...
Baaaghz....
Yang diserang Gores yang terlempar dua teman Gores yang tidak siap!
Aaaduh...!
Apek terkejut mendapat tamparan yang tidak terduga dari kakek Boncel begitu pula dengan temannya si Ozal yang terjerembab ketanah karena kakinya disambar kaki kakek Boncel.
Melihat Apek dan Ozal mendapat serangan diluar dugaannya. Gores dan teman-temannya langsung siaga.
Sedangkan didepan Dolangga menghadang Alex dan Herman yang mau membantu temannya.
Weees...
Sebuah tendang melesat menyerang Alex.
Eiiit...
Alex memiringkan badannya menghidari tendangan Dolangga yang datang dengan cepat. Selamat dari serangan Dolangga, Alex hati-hati tidak mau gegabah menghadapinya.
Ini anak sungguh membuatku terpukau, guman Alex dalam hati. cara berdiri dan ketenangannya yang menghadapi lawan benar-benar mempesona dimata Alex.
Dolangga tahu kalau Alex berhati-hati menghadapinya. Maka, Dolangga mulai menggunakan serangan menipu dengan cara memancingnya dengan serangan.
Sweees...
Alex terpancing dengan tipuan pancingan tendangan kirinya.
Huuup...
Kaki kiri Dolangga langsung disambar oleh tangan kanan Alex.
Eit...!
Dengan cepat Dolangga melesat menggepit leher Alex kedua kakinya lalu tubuhnya diputar diudara hingga genggaman tangannya terlepas.
Praakgs....
Tubuh Alex terhempas dijalan aspal rusak. pada saat tubuh Alex terhempas dijalan aspal rusak, Dolangga tidak mau membuang kesempatan untuk terus menyerang Alex.
Beeeghs...
Satu kaki kanan Dolangga yang diayunkan dari atas lalu di hempaskan kebawah dan mengenai kepala Alex.
Aagk...!
Alex meringis menahan sakit.
Demikian pula halnya Herman yang dihadang Givano.
"Eeit...! Tempatmu bukan disana. Tapi, disini!" cegat Givano.
__ADS_1
"Baik, iyaaat...!" Herman langsung menyerang Givano bertubi-tubi tanpa memberi peluang Givano menyerang balik, yang akhirnya satu hantaman bersarang dipelipis kiri Givano.
Paaak...!
Hampir Givano terjatuh, untung saja dia mampu menyeimbangkan tubuhnya hingga dia tidak jadi jatuh.
Herman kembali melayangkan tangan kanannya, dengan cepat Givano menangkis pukulan Herman dan balik menyerang dengan menghantam perut Herman.
Buuugk!
"Rasakan ini!" kata Givano kembali menghantam pipi kiri Herman.
Plaaak...!
Aaaa...!
Herman menjerit kesakitan merasakan hantaman keras dipipi kirinya.
Sementara kakek Wie lan dan Boncel membuat permainan tubuh Gores dan kawan-kawanya. Mereka semua dibuat jatuh bangun.
Hehehe...
Blaagk...! Baaagk...! Paaak...!
Tendangan dan pukulan kakek Wie lan mendarat telak pada tiga orang kawan Gores.
Sementara kakek Boncel menerjang Gores sampai terlempar jatuh ketanah becek yang berlumpur,
Bluuuus...
"Hehehe...! Itu hukumanmu yang mengatakan gigiku kuning!" kata Kakek Boncel tertawa girang.
Semua anak buah pak Ruyung yang ditugaskan menangkap dan membawa Givano dan Dolangga dibuat tidak berkutik.
"Sekali lagi kulihat bosmu! Akan kucincang tubuhnya!" kata Givano geram menatap semua anak buah pak Ruyung.
"Ayo kita pergi!" kata Givano.
Lalu Givano meninggalkan Alex dan kawan-kawannya melanjutkan perjalanannya.
...----------------...
Dikediaman pak Sampurna, Chang bao, Reymozi dan Ezra beserta kawan-kawannya mengobrak-abrik kediamam pak Sampurna, mencari keberadaan batu giok disembunyikan.
Tak ada satupun mereka menemukan batu giok itu disembunyikan.
Pak Sampurna babak belur dianiaya karena tidak mau menunjukan keberadaan batu giok itu disembunyikan.
"Kami tidak menemukan dimana batu giok itu disembunyikan!" kata salah satu kawannya memberitahu Ezra.
"Kamu tidak menyayang nyawamu ya!" bentak Ezra menatap pak Sam.
"Kawan-kawan bawa pak Sam dan seluruh keluarganya kehadapan bos! Biar bos yang membuka mulutnya!" kata Ezra.
Pak Sam dan seluruh keluarganya dibawa kerumah pak Ruyung. Mereka digiring dengan tubuh terikat naik kedalam mobil, sedang para pekerja yang bekerja dirumah pak Sam dibiarkan tidak dibawa.
💜💜💜💜💜
BERSAMBUNG.
__ADS_1