DOA IBU

DOA IBU
MELAMARMU HANYALAH MIMPI.


__ADS_3

Pak Jamal kegirangan melihat bapaknya Sarinah mengusir pak Ruyung dan Shaugi.


"Enyahlah kamu!" kata pak Jamal yang masih berdiri diluar pagar halaman rumah pak Adzriel mulutnya nyerocos tak sadar saking senangnya.


"Diam kamu!" bentak Shaugi kepada pak Jamal.


"He he he..., sebentar lagi aku akan jadi suaminya Sarinah!" ejek pak Jamal membuat hati Shaugi deg degan panas dingin.


"Tidak mungkin Sarinah mau jadikan kamu jadi suaminya. Tua, udah bau tanah!" timbal Shaugi menghina pak Jamal.


Pak Ruyung yang mendapat penolakan malahan diusir oleh pak Adzriel tidak bisa menerima penghinaan seperti itu. Raut sinar matanya memancarkan dendam yang penuh kebencian.


"Awas kamu, Hati hati." tatap pak Ruyung sambil menunjuk pak Adzriel dengan tangan kanannya disertai tatapan mata sinis. Lalu menarik tangan Shaugi putranya. "Ayo Shaugi kita keluar, diluar sana..., masih banyak ribuan gadis yang bisa kita dapatkan!" ucap pak Ruyung mengancam, lalu keluar dari halaman rumahnya pak Adzriel dengan penuh dendam.


Pak Faris yang melihat pak Adzriel dan pak Ruyung bertengkar sedikit terkejut dan berpikir keras memikirkan pak Adzriel.


"Laki laki pemilik rumah itu sepertinya bapak kenal. Tapi, dimana? Ya!" pikir pak Faris.


"Dia itu bapaknya Sarinah namanya pak Adzriel!" timbal Sachio.


"Oh, ya itu pak Adzriel!" kata pak Faris teringat.


"Bapak kenal?!" tanya Sachio.


"Diakan orang yang bapak tolong, ketika dia ditabrak lari oleh motor waktu saya telpon kamu di Surabaya." tutur pak Faris.


"Jadi suara keras di smart phone saya itu adalah Pak Adzriel sedang ketabrak motor pak!" tanya Sachio.


"Iya!" jawab pak Faris anggukan kepalanya.


"Saya kepikiran lo, pak! waktu itu!" ucap Sachio.


"Ayo udah turun semua!" ajak pak Faris merintahkan semua didalam mobil turun.


Pak Jamal girangnya bukan main melihat Shaugi yang tidak diterima oleh bapaknya Sarinah. Ketika hendak melangkah memasuki halaman rumah itu, Sachio dan keluarganya mendahuluinya masuk.


"Salamualaikum pak...," sapa Sachio.


"Wa alaikumsalam, Sachio mari masuk!" sambut pak Adzriel menyalami Sachio. Ketika menyalami pak Faris, pak Adzriel terkejut.


"Pak Faris!" ucap pak Adzriel memandang pak Faris.


"Kupikir kamu lupa sama saya!" sahut pak Faris.


"Masya Alloh..., benar pak Faris kan!" pak Adzriel langsung merangkul pak Faris.

__ADS_1


"Jadi kamu bapaknya Sarinah!" tanya pak Faris.


"Benar pak! Saya bapaknya Sarinah." jawab pak Adzriel.


"O...," kata pak Faris senang. Sedang Sarinah dan bu Zaripah berlari menyambut Sachio serta bu Zaripah memeluk Maura.


"Aku senang sekali mendengar cerita Sachio, kalau Sarinah sudah ketemu bapaknya." ungkap Maura.


Pak Faris heran melihat Maura yang sudah saling kenal dan tampak akrab dengan mamanya Sarinah.


"Kok, bisa kalian sudah saling kenal!" tanya pak Faris kepada mantan istrinya ini.


Zaripah dan Maura tidak ada yang menjawab pertanyaan pak Faris. Mereka berdua saling pandang dan tersenyum.


...----------------...


Tidak lama Wahyu sudah kembali dari warung membawa kantung plastik besar berwarna hitam berisi empat bungkus nasi dan beberapa botol minuman air mineral, jus, kopi serta berbagai macam kue.


"Dolangga dan kakek Wie lan mana?" tanya Wahyu kepada kakek Boncel yang lagi duduk sendirian.


"Lagi mandi!" jawab Kakek Boncel.


"Kakek udah mandi?!" tanya Wahyu.


"Belum!" jawab kakek Boncel.


"Nunggu mereka selesai!" jawab kakek Boncel.


"Di belakang, kamar mandinya banyak?! Belum lagi di setiap kamar, ada kamar mandinya. Semua kamar ini kan, kosong? jadi..., bisa dipakailah!" kata Wahyu memberitahu kakek Boncel.


"Berarti aku bisa mandi kan...? Di kamar kosong itu!" tanya Kakek Boncel memastikan karena dia masih berasa ragu sebab belum terbiasa dirumah orqng.


"Bisa? Ayolah mandi tak Apa apa!" suruh Wahyu. Dan Wahyupun juga pergi mandi.


Setelah mereka selesai mandi, Wahyu menyiapkan sarapan yang telah dibeli diwarung.


"Nah, Mari kita sarapan ala kadarnya. Maklum nasi warung." ajak Wahyu mempersilahkan Dolangga kakek Wie lan dan Boncel.


Wahyu membuka kantong plastik dan mengeluarkan empat nasi bungkus minuman dan kue. Kemudian nasi bungkus dibagi bagi dan kue diletakkan diatas piring.


...----------------...


Alfiana yang sudah dilepas oleh pak Ruyung ternyata tidak pergi dari tempat itu. Malah dia mengintip dari jauh dan melihat semua kejadian.


Alfiana sangat senang dan berpikir membuat rencana untuk memeras Orang orang yang tergila gila sama Sarinah.

__ADS_1


Hm..., tunggu permainanku. Aku akan membuat kalian semua yang telah meremehkanku. Jadi, menyesal dan memerlukan bantuanku. Keluh Alfiana sendiri dalam hati.


Sedangkan pak Jamal yang melihat Sarinah begitu lengket dengan seorang pria tidak dapat berbuat Apa apa.


"Bagaimana, kak! Apakah jadi kita masuk berkenalan dengan keluarga Sarinah!"


"Aduuuh, mana mungkin saya bisa melakukannya. Dia sudah punya pacar, lihatlah dia sepertinya menyintai pria itu." kata pak Jamal menatap Faid adiknya dengan sedih.


Pak Jamal kelihatan sedih dan putus asa.


"Lalu apa yang harus kita lakukan!"


"Kita pulang! Dan kembalikan uangku yang dua miliar itu." keluh pak Jamal menagih Faid adiknya.


"Disini bukan tempatnya membicarakan uangmu. Nanti kita bicarakan dirumah!"


"Baiklah, ayok!"


Pak Jamal melangkah pulang dengan lesu dan kecewa. khayalannya untuk mempersunting Sarinah hanyalah mimpi.


Sementara keluarga pak Faris tampak bahagia mendapat sambutan dari keluarga Sarinah.


"Pak..., bu...," dengan pelan tapi sangat sopan bu Zaripah berkata; "Terimakasih telah bersedia silaturahmi ketempat kami."


Pak Faris sangat kagum dengan keramah tamahan serta tutur kata yang sopan dari keluarga Sarinah


"Justru sayalah yang harus berterimakasih atas penyambutan yang luar biasa ini." kata pak Faris.


"Pak! Ayolah bicara!" rupanya Maura sudah sudah tidak tahan lagi, ingin melihat putranya meminang perempuan cantik dan anggun yang didepannya.


Begitu pula dengan Sarinah. Dia berharap kalau kedatangan keluarga Sachio datang kerumahnya untuk melamarnya.


"Pak Adzriel! Sebelumnya aku minta maaf. Mudah mudahan apa yang akan kami sampaikan ini, tidak menyinggung perasaan kalian sekeluarga. Tujuan kedatangan kami kesini, disamping silaturahmi saling berkenalan. Juga untuk menyampaikan niat putra saya Sachio, yang ingin meminang putri bapak. Sarinah!" kata pak Faris sangat Hati hati.


Mata pak Adzriel Berbinar binar tampak ada Butiran butiran bening tertahan di kedua bola matanya begitu mendengar permintaan orang yang pertama kali mrnolongnya ketika mendapat kecelakaan.


"Pak! bukannya saya menolak permintaan Sachio. Malahan saya sangat senang dan bahagia putri saya dilamar oleh putra orang terhormat seperti bapak. Tapi..."


Pak Adzriel tidak meneruskan alasannya dia tertunduk lesu, dia tidak tega menolak lamaran Sachio. Sachio putra pak Faris, orang yang telah menyelamatkan nyawanya.


"Katakanlah apa alasanmu menolak lamaran putraku." kata pak Faris gelisah.


"Aku tidak menolak. Tapi...," Lagi lagi pak Adzriel tidak mampu menyampaikan alasannya.


💟💟💟💟💟

__ADS_1


Bersambung.


Halo semuanya. saya ingin sekali menulis dengan sempurna. Tapi, itu tidak dapat saya lakukan. untuk itu saya mohon maaf karena banyak sekali kekurangan. Mungkin saya akan banyak merevisi dalam waktu dekat terutama karya saya preman jalanan yang sangat amburadul.


__ADS_2