
Givano merasa gembira melihat adiknya yang tidak menolak untuk dimasukan sekolah. Ada kebanggan dalam hatinya kalau besok dia bisa menyekolahkan adiknya.
Givano tahu kalau hari ini adiknya sudah diatas tujuh tahun, Dia tahu dari ibunya sendiri bu Zaripah dan adiknya Sarinah ketika menceritakannya kalau dia ke Jakarta untuk mencari suaminya yang sudah dua tahun lebih menghilang karena mencari putra sulungnya yang dibawa kakeknya.
Putra sulung yang dicari adalah dirinya sendiri dan sampai sekarang kedua orang tuanya belum menemukannya.
Ketika mereka ke Jakarta mencari suaminya anaknya yang bungsu ditinggal pergi karena tidak mau ikut sebab mempelajari ilmu bela diri.
"Kak! Kakak beli apa lagi!" tegur Dolangga membuyarkan lamunannya.
"Eh, kayaknya cukup," jawab Givano gelagapan.
"Terimakasih kak! Kakak memberikan kejutan! Ternyata mau memasukan aku sekolah!" ucap Dolangga kelihatan senang, wajahnya berseri-seri.
"Yang lebih berterimakasih lagi saya, karena kamu mau menuruti permintaan kakak!" kata Givano menimbali adiknya.
"Aku sudah tidak tahan! Mau menyampaikan kepada dua kakek dirumah!" kata Dolangga.
"Kalau gitu, kita cepat-cepat pulang yo'." ajak Givano menatap Dolangga
"Ayo!" timbal Dolangga.
Seribu lantunan puisi indah bersemayam di kalbu Dolangga karena sebentar lagi dia akan dimasukan sekolah sebagaimana anak-anak lainnya.
Senang, bahagia bercampur menjadi satu. Biasanya dia hanya bisa memandang sedih anak lain yang diantar oleh orang tuanya kesekolah.
Sebentar lagi dia akan diantar oleh orang yang baru dikenal beberapa pekan yang lalu dan sampai detik ini dia belum tahu kalau Givano adalah kakak kandungnya sendiri.
Begitu pula dengan Givano yang dipertemukan Allah dengan adik kandungnya merasa prihatin melihat adiknya yang sudah hampir delapan tahun belum masuk sekolah.
Ini disebabkan karena kondisi kedua orang tuanya yang tidak mampu menyekolahkan adik-adiknya.
Sementara itu Pak Jamal yang masih berharap bisa menjadikan Sarinah sebagai isterinya menemukan harapan baru untuk bisa memilikinya.
"Pokoknya kalau Sarinah sudah menjadi isteriku bonus besar deh kalian dapatkan!" kata pak Jamal yang tadinya sudah putus asa mulai bersemangat lagi.
"Pasti bos...., pasti kami akan bisa mempertemukan bos dengan pujaan hati bos!" jawab Fado
"Begitu bos! Berikan kami uang itu kami langsung kerja! Dan hasilnya ini!" tunjuk Fado membanggakan diri.
Padahal itu hanyalah sebuah vidio, dan anehnya pak Jamal bisa dibodohi oleh orang bodoh. Padahal dia adalah bos yang berpengetahuan luas.
"Tidak seperti Faid, adik bos itu. Tujuannya hanya moroti uang bos!" kata Fado membanggakan diri.
Tampak pak Jamal terpancing emosinya dan dendam kepada Faid. "Awas kau Faid! Kakakmu sendiri kamu bohongi!" ujar pak Jamal dengan gigi gemeretak.
Fado dan Nabil tertawa cekikikan karena telah berhasil mengelabui bosnya.
...----------------...
__ADS_1
Begitu pula dengan saingannya Shaugi putra pak Ruyung masih belum bisa menerima kegagalannya.
Hari ini dia nekat datang kerumah Sarinah sendirian. Semalam dia tidak bisa tidur karena terbayang-bayang wajah Sarinah.
Ketika akan sampai kerumah Sarinah dia melihat Alfiana keluar dari rumah Sarinah yang diantar sendiri oleh Sarinah.
Shaugi sangat terkejut melihat kedekatan Sarinah, gadis yang didambakan dengan Alfiana.
Aduh! itu kan Alfiana? Ngapain dia dirumah sarinah! Guman Shaugi dalam hati.
Ketika Alfiana pergi dengan mobil yang diparkir didepan rumahnya dipinggir jalan, Shaugi tiba dan sempat dilihat Sarinah. Tapi, Sarinah tidak tahu itu adalah Shaugi.
Belum Sarinah masuk melewati gerbang halaman rumahnya Shaugi cepat-cepat lebih dahulu menghadangnya, tanpa sungkan-sungkan Shaugi langsung memohon-mohon dihadapan Sarinah, "Sayang, percayalah padaku! Aku janji akan membahagiakanmu! Aku terlanjur jatuh cinta kepadamu, kamu bersedia kan jadi pacarku!" ucap Shaugi didepan Sarinah.
Sarinah yang dihadang oleh Shaugi sangat terkejut, tidak menduga tiba-tiba muncul Shaugi menghadangnya.
"Cepat pergi! Pergi tidak! Sebelum bapakku melihatmu!" usir Sarinah ketakutan.
"Inah! Aku pingin ngomong dong..., sama kamu, bentar aja." pinta Shaugi.
"Kamu sudah membuatku takut! Sudah berapa kali kamu bikin aku takut?!" ucap Sarinah sambil berusaha menghindar dari Shaugi.
"Sekarang jangan takut dong...," pinta Shaugi sambil tetap menghadang Sarinah.
Pak Kimin yang tidak sengaja hendak pergi kekamarnya dibelakang mau ambil pelumas motor yang disimpan melihat Sarinah sedang di hadang Shaugi.
Serentak orang yang ada dibengkel terkejut termasuk pak Adzriel bapaknya Sarinah.
"Ada apa? Pak Kimin!"
Baru saja pak Adzriel keluar bertanya kepada pak Kimin, pak Adzriel melihat putrinya sedang dihadang Shaugi.
Pak Adzriel mendekati putrinya dengan lembut, "Masuklah!" sambil membelai rambut putrinya yang tampak ketakutan pak Adzriel menyuruh putrinya masuk dengan lembut.
"Tunggu dulu sayang!" Shaugi masih menghadang Sarinah walau didepan bapaknya.
Tanpa pikir panjang pak Adzriel langsung menghajar Shaugi.
Plaaak!
Satu tamparan melayang dipipi Shaugi.
Aduuuh....
Shaugi meringis kesakitan memegang pipinya.
Pak Adzriel tidak suka melihat keturunan pak Ruyung, diapun menarik tangan Shaugi keluar sampai hampir saja terpental.
Sarinah yang berlari masuk ketakutan membuat bu Zaripah kaget dan bertanya; "Ada apa nak...?" tanya bu Zaripah khawatir.
__ADS_1
"Laki-laki itu datang lagi ganggu aku ma...," kata Sarinah hampir menangis.
Bu Zaripah segera berlari keluar melihat apa sebenarnya yang membuat putrinya ketakutan.
Betapa kagetnya bu Zaripah yang melihat suaminya menarik tangan Shaugi untuk mengusirnya.
...----------------...
Sore harinya Alfiana mendatangi kafe twenty four untuk memenuhi pertemuan membahas kerja sama dengan Fado dan Nabil untuk memoroti uang pak Jamal.
Sesampai di kafe ternyata Fado dan Nabil sudah menunggu duluan.
"Sudah lama?!" sapa Alfiana.
"Baru saja duduk!" jawab Nabil.
"Kami sudah kasih tahu pak Jamal, kalau uang dua miliar yang dicairkan itu. Satu senpun tidak diberikan kepadamu!" tutur Fado
"Oh, ya! Apa responnya!" tanya Alfiana penasaran.
"Beliau marah besar!" jawab Fado.
"Aku memperlihatkan vidiomu bersama Sarinah ketika kamu ditaman!" tambah Nabil.
Mata Alfiana terbelalak mendengar cerita Nabil, "Jadi kalian merekam saya berdua?!" tatap Alfiana kesal memandang Nabil yang merekamnya kedalam vidio tanpa sepengetahuannya.
"Sorry!" jawab Nabil menggaruk kepalanya.
Waaaduh! gawat kenapa cerita..., dasar goblok! guman Fado dalam hati!
"Maksudnya photo kalian berdua bukan vidio!" timbal Fado.
"Aku tidak! percaya, coba kuperiksa hpmu!" bentak Alfiana meminta hp Nabil.
"Hpku tidak boleh dibuka orang lain. Lasingan kita kan sudah partner kenapa musti saling mencurigai!" tatap Nabil.
"Aku yakin ada niat buruk pada kalian berdua!" kata Alfiana curiga.
"Sumpah?! Beneran! Kami tidak ada niat itu!" bantah Nabil menunjukan dua jarinya kepada Alfiana.
"Kita kesini bukan untuk berdebat kawan! Mari kita pokus pada rencana kita!" seru Fado berusaha menenangkan Alfiana.
"Baiklah, biar rencana yang telah kita sepakati tidak sia-sia, terus terang kami berdua disuruh pak Jamal untuk menyeretmu kehadapannya. Karena pak Jamal menuduhmu menipunya!" kata Nabil terus terang.
"Lalu kami datang meluruskan permasalahanmu!" tambah Fado menjelaskan Alfiana.
💟💟💟💟💟.
BERSAMBUNG.
__ADS_1