DOA IBU

DOA IBU
BODY GUARD DI MARKAS JUDI.


__ADS_3

Faid dan Alfiana pergi kehotel untuk berunding. merundingkan kemana uang dua miliar itu di transper. tapi, ini adalah akalannya Faid untuk mengelabui Alfiana. Sesampai di hotel, Faid bukannya mengajak Alfiana berunding melainkan mencairkan hasrat nalurinya.


Ketika sampai didalam kamar hotel Faid langsung tertidur telentang. Faid tahu apa yang harus dilakukan agar Alfiana lupa apa yang telah disepakati. Apabila dihotel mereka akan membahas tentang kemana uang dua miliar itu di transper dan Faid tak mau berdebat dengan Alfiana sebab apapun alasan yang diajukan Faid akan ditolak Alfiana dan Alfiana sangat keras kepala.


Alfiana yang tadinya bersemangat betul tentang merundingkan uang yang akan ditransfer akhirnya lupa ketika melihat tumbukan besar dicelana Faid. Tanpa pikir panjang dia langsung menindih Faid dan memag*t bibir Faid.


Faid membiarkan Alfiana menel*njanginya dengan meloroti pakaian Faid satu persatu. Lalu kemudian Alfiana melepas semua pakaianmya sampai dia tel*njang bul*t tak ada satupun benang yang melekat di tubuhnya.


Kita tinggalkan apa yang dilakukan Alfiana dan Faid didalam hotel dan sekarang kita menuju kediaman pak Ruyung.


Ezra yang dipanggil pak Ruyung langsung menghadap.


"Bapak, panggil saya?" tanya Ezra dihadapan pak Ruyung.


"Kau ingat bandar judi yang terletak tidak jauh dari plaza city?" tanya pak Ruyung.


"Seluruh tempat perjudian di Jakarta saya tahu pak!" jawab Ezra.


"Bagus! kau ajak Lembong dan Arfah tunjukin aku Tempat tempat judi itu." kata pak Ruyung mengajak pergi.


"Eh, pak! Bapak mau kemana?" tanya Shaugi tampak bingung melihat bapaknya. Dia berharap mendengar bapaknya mengenai gadis impiannya itu, malah pergi.


"Kamu diam saja disini, tidak usah kemana mana. Pokoknya kamu terima beres, gadis yang kamu inginkan itu sudah ada disini." jawab pak Ruyung.


Shaugi yang mendengar jawabannya bapaknya langsung gembira.


Mereka berempat menuju Tempat tempat judi untuk mencari Orang orang yang di anggap hebat. Tempat pertama yang dituju adalah kawasan Sudirman tempatnya tidak jauh dari sebuah hotel yang terbesar di Jakarta.


...----------------...


Hari ini Sachio tampak bahagia setelah berhasil menemukan Ayahnya Sarinah. Lampu hijau sudah menyala, ini berarti harapan untuk melamar Sarinah sudah dekat. Saat dia melintas disebuah hotel tempat Faid dan Alfiana menginap dia melihat Alfiana tengah bertengkar dengan seorang pria yang tak lain adalah Faid. padahal mereka baru saja selesai bersenang senang.


Diam diam dia mendekati mereka setelah memarkirkan mobilnya. Sachio pingin tahu apa yang mereka dipertengkarkan.


"Enak saja kamu Diam diam menyuruh kakakmu mentransfer uang dua miliar itu ke rekeningmu." Alfiana menghadang Faid yang mau pergi.


"Uang itu lebih aman ditanganku dari pada ditangamu." ucap Faid berusaha mendinginkan kemarahan Alfiana.

__ADS_1


"Apapun alasanmu aku tidak mempercayaimu." kata Alfiana mendorong tubuh Faid. Dia Betul betul marah setelah tahu Diam diam Faid meminta pak Jamal mentransfer uang dua miliar itu ke rekeningnya.


"Kamu mengenal Sarinah karena aku kan...?" kata Faid.


"Pinter ya..., kamu. Ingin membodohi aku, aku yang lebih dahulu melihat Sachio lalu memintamu untuk membuntutinya." Alfiana bela diri.


Sachio baru sadar setelah mendengar pernyataan Alfiana, ternyata mereka membuntutinya ketika mengantar Sarinah bertemu Ayahnya.


"Habis bagaimana lagi? Uang itu sudah masuk ke rekeningku."


"Tapi, aku tidak mau uang dua miliar itu masuk ke rekeningmu."


Dada Sachio deg degan setelah si pria menyebut nama Sarinah! Dan uang dua miliar. Sachio tambah penasaran dan terus menguping pertengkaran mereka, uang dua miliar itu uang apa? guman Sachio dalam hati.


"Kalau uang itu tidak kamu bagi dua dan tidak kamu transper ke rekeningku sekarang juga. Aku akan memberi tahu pak Ruyung keberadaan Sarinah dan keluarganya." ancam Alfiana.


"O..., gitu ya? Pantes saja Sachio mencampakkanmu. Padahal aku tak ada niat untuk menipumu dan ini uang kakakku." jawab Faid menyepak Alfiana hingga tersungkur jatuh.


Faid naik ke mobilnya dan kabur meninggalkan Alfiana sendirian.


"Hei..., brengsek kamu!" teriak Alfiana mencoba mengejar mobil Faid.


...----------------...


"Stop! Kalau mau masuk kawasan ini kamu harus tunjukan identitas dirimu!" hadang dua bodi guard.


Ezra mempetlihatkan sandi telunjuk dan jari tengah beserta ibu jari berbentuk pistol ditempelkan didada, lalu di jawab dengan sandi tangan kanan melingkar ke bahu kiri dengan lima jari terbuka yang berarti kamu selamat silahkan masuk.


Saat Ezra menekan pedal gas mobilnya perlahan hendak masuk salah satu bodi guard menghadangnya.


"Kamu harus memperlihatkan sandi terimakasih!" kata bodi guard itu. Tapi, Ezra tidak tahu tanda terimakasih.


"Keluar kalian semua, sebelum kami rontokkan tulang belulangmu." ancam bodi guard itu.


"Labrak mereka!" perintah pak Ruyung.


Ezra tancapkan gas melabrak bodi guard yang menghadangnya. Dengan gesit bodi guard itu memutarkan tubuhnya seperti roda berputar dua kali.

__ADS_1


Cuiiiittt....


Satu cuitan, puluhah orang keluar menyerbu hendak menghancurkan mobil yang di kendarai pak Ruyung dan anak buahnya.


Lembong dan Arfah dua rekrutan baru pak Ruyung berlompatan menerjang Orang orang yang mau menghancurkan mobil pak Ruyung.


Plakk...,plak...plak....


perkelahian tak bisa dihindarkan. Ezra segera turun membantu Lembong dan Arfah. Satu dua gerakan Lembong dan Arfah berhasil menghantam anak buah Jian lay. Begitu, pula sebaliknya beberapa anak buah Jian lay bethasil membalas.


Tidak beberapa lama Jian lay keluar. "Hentikan!" teriak Jian lay yang dikawal oleh empat body guard.


Pak Ruyung keluar lalu menyapa Jian lay dengan ramah. "Maafkan saya yang memaksa masuk!" ucap Pak Ruyung sambil memberi hormat kepada Jian lay.


"Siapa kamu!" tanya Jian lay menatap pak Ruyung dengan tajam dan tidak curiga karena melihat tampang pak Ruyung yang bukan dari pihak keamanan.


"Kamu pernah dengar nama pak Ruyung?" tanya pak Ruyung menaikkan alis sebelah kirinya.


"Kalau Ruyung pengusaha besar dan sukses sering aku dengar. Tapi, aku tidak pernah jumpa orangnya." jawab Jian lay.


"Sekarang kamu lihat orangnya!" ucap pak Ruyung.


"O..., ada perlu apa bapak kesini!" tanya Jian lay.


"Aku mau orang terkuat yang tak tertandingi!" jawab pak Ruyung.


"Untuk keperluan apa!" tanya Jian lagi.


"Untuk jadi pengawalku!" jawab pak Ruyung.


"Baiklah, kita bicara didalam!" ajak Jian lay.


Pak Ruyung melangkah dengan tenang disamping Jian lay yang dikawal bodi guard sadis. Didalam tampak banyak orang yang sedang bermain judi dengan ratusan macam permainan.


Pak Ruyung tidak mendapat kesulitan mendapat bodi guard yang paling kuat dan tidak tertandingi, malahah tiga anak buah pak Ruyung dapat dengan mudah dipatahkan.


Pak Ruyungpun menyanggupi permintaan Jian lay dan bersedia menggaji mahal Chang bao nama bodi guard yang direkrut.

__ADS_1


💟💟💟💟💟


BERSAMBUNG.


__ADS_2