
Sarinah dan Sachio menghabiskan sisa hari ini dengan berdua di taman wisata alam mangrove. Mereka berjalan berdua saling bergandengan tangan Kadang kadang Sachio merangkul dan memeluk Sarinah dengan erat. Begitu juga dengan Sarinah yang memperlihatkan kemanjaannya dengan merebahkan kepalanya dibahu Sachio.
Inilah yang namanya bersemayamnya cinta. Semua terasa indah. Dunia seakan tersenyum, terangnya cahaya matahari seakan akan melukiskan alam sedang bersenandung merdu. Indahnya cahaya rembulan seakan akan sedang mengukir mekarnya bunga dihati mereka yang sedang harum beraroma asmara.
Puas Jalan jalan mengelilingi taman Sachio mengajak Sarinah kembali kepenginapan.
"Waduh.... Pegal juga kaki berjalan!" ucap Sachio berbaring diatas dipan.
"Pegal, ya? Kak!" kata Sarinah nyamperin Sachio lalu memijit mijit kaki Sachio.
"Weiiih.... Enak juga pijitanmu sayang!"
Sachio kenikmatan merasakan pijitan tangan Sarinah. Sampai sampai Sachio mau tidur.
"Udahlah sayang, nanti tanganmu capek!" ucap Sachio tidak mau melihat Sarinah kecapean.
"Tidak! kok, kak!" timbal Sarinah.
"Udahlah...!"
Sachio menyambar tangan Sarinah agar berhenti memijitnya karena dia takut, Sarinah nantinya capai. Sarinah yang disambar tangannya terjerembab jatuh kebibir Sachio.
Dua mata akhirnya bertatapan, senyum indah bibir tipis milik Sarinah sungguh menggemaskan Sachio. sudah menggemaskan malah memejamkan mata dengan membuka sedikit bibirnya semakin membuat Sachio jadi terbawa arus menggairahkan. Sudah lama bibir ini dibiarkan merekah, tanpa ditaburi pupuk l*matan manis bibir Sachio.
Sachio meng*lum bibir Sarinah yang sedikit terbuka. Sarinah membalasnya dengan mer*ngkul erat tubuh Sachio dengan mengh*sap bibir Sachio. Sachio mengerang ken*kmatan.
Sachio memangku Sarinah duduk dipangkuannya dan dua b*bir mereka tetap meny*tu tak terlepas atau mengalah.
Suara margasatwa datang saling menyahut menyuruh mereka untuk saling melepaskan. merekapun akhirnya saling melepaskan pelukan mereka.
"Kita pulang ya? takut mama kepikiran kamu!" ucap Sachio.
Lalu mereka Siap siap meninggalkan Taman wisata alam mangrove.
...----------------...
Keesokan paginya, Givano Pagi pagi betul. Setelah sarapan, pergi kekampung bi Anah. Kampung Cisaar sukabumi. Dalam hati Givano berdoa semoga kotak yang dititip Almarhum kakeknya kepada bi Anah Aman aman saja.
Rianah yang sudah siap, duduk dishopa menunggu Givano.
"Ayo sudah bibi duluan tunggu dimobil!" ucap Givano menyuruh bi Anah duluan naik mobil.
"Baik, Van!" jawab Rianah segera beranjak keluar dan naik kedalam mobil.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Givano segera memindahkan mobilnya keluar lalu menutup dan mengunci pintu gerbang dulu sebelum berangkat menuju kampung Rianah.
"Bi, Cisaar itu kan daerah pantai ya?" tanya Givano saat mobilnya baru saja pergi.
"Ya, Cisaar itu pantai yang indah dan banyak dikunjungi wisatawan, baik lokal atau asing." jawab bi Anah.
"Kira kira sekarang dipantai ramai tidak!" tanya Givano.
"Ramai sih ramai. Tapi, tidak seramai Hari hari libur." jawab bi Anah.
"Apakah disana ada penginapan!" tanya Givano.
"Hotel disana sudah ada!"
"Kapan kapan saya ajak Rista liburan kepantai Cisaar!"
"pelabuhannya tidak jauh dari rumah bibi, jadi bisa parkirkan mobilnya dirumah!" kata Rianah.
Disela sela pembicaraannya Givano tak bisa lepas dari kekhawatirannya terhadap kotak yang dititipkan. Karena itu sangat penting baginya. Kalau kotak itu hilang boleh jadi Givano akan mengalami kesulitan untuk jumpa kedua orang tuanya. Dan dia akan tetap merasa hidup sebatang kara, tidak punya sanak keluarga dan itu akan sangatlah menyedihkan.
"Bi, aku berharap kotak itu Aman aman saja dirumah bibi." kata Givano sangat khawatir sekali.
Rianah tidak merasa heran dengan kekhawatiran Givano. Karena kotak itu mungkin bisa jadi petunjuk dalam sejarah kehidupan keluarga Givano.
Givano menarik napas panjang sambil melamun membayangkan siapa ibu dan bapaknya. Dia mencoba mengingat masa kecilnya yang penuh dengan drama peristiwa berdarah.
Yang di ingat ketika waktu kecil, Kakeknya menyekolahkannya pertama kali sekolah di taman kanak kanak raudatul athfal di sumbawa besar. pernah sekolah dasar di lombok. Tapi, tamat di surabaya. Dan ketika sekolah, di sekolah menengah atas, aku dipindahkan dari surabaya kelas dua dan menyelesaikannya di Jakarta.
...----------------...
Pagi ini Bu Zaripah melihat putrinya tampak bahagia dari Hari hari sebelumnya. ini sedikit memberi hiburan dihatinya. Tapi, kesedihan kembali mendera dirinya pabila teringat suami dan Anak anaknya yang lain. Hati seorang ibu pasti teriris iris luka kerinduan untuk bertemu Anak anaknya.
Putra sulungnya yang amat sangat disayangi hilang dibawa kabur kakeknya untuk menyelamatkan diri dari sifat serakah seorang manusia yang menginginkan yang bukan haknya.
Dan sibungsu tidak mau diajak ikut ke Jakarta karena ingin belajar ilmu bela diri untuk melindungi keluarganya dari tindasan orang orang yang menghina dan melecehkan keluarganya.
"Bu..., nona...! Sarapan paginya sudah siap diruang makan!" ucap Haryani pada Bu Zaripah dan Sarinah.
Sejak dibawa ke Jakarta oleh Sachio kehidupan bu Zaripah dan Sarinah berubah total. Dulu di Surabaya hidupnya sangat memprihatinkan. Bu Zaripah bekerja sebagai pembantu pada salah seorang warga. Sedangkan Sarinah ditemani adiknya Dolangga mulung untuk membantu ibunya menyambung hidup.
Sarinah hanya sekolah dengan lulusan sekolah menengah pertama dengan nilai dua angka delapan dan yang lainya semua angka sembilan. Hingga ada seorang guru sampai pingsan memintan kepada kedua orang tuanya untuk diangkat jadi anak angkat mereka untuk disekolahkan sampai selesai. Tapi, Bapaknya pak Adzriel menolak.
"Ayo bu..., non! Nanti saya lho yang kena kalau ibu dan nona tidak sarapan." kata Haryani lagi.
__ADS_1
"Kita makan Bareng bareng, panggil suamimu!" suruh bu Zaripah.
Bu Zaripah masih merasa sungkan dilayani oleh Haryani seperti seorang majikan. Dia merasa dirinya tidak pantas diperlakukan seperti orang kaya. Itu terlalu berlebihan menurutnya karena dia merasa masih orang rendahan dan hanya menumoang sebentar sekedar mencari pak Adzriel suaminya.
"O, gitu.... Tidak Apa apakah!" tanya Haryani Ragu ragu.
"Tidak Apa apa, aku juga sama seperti kamu..., seorang pembantu..."
"Tapi...."
"Sudahlah, tidak usah takut, ayo kita makan Bareng." potong bu Zaripah.
Haryani pergi mengajak suaminya sarapan pagi bersama sama.
"Hari ini saya tidak dengar suaranya non Sarinah, kenapa?" celetuk Haryani membuyarkan lamunan Sarinah.
Sarinah tersentak kaget mendengar perkataannya Haryani.
"Ih, bibi bikin orang baper aja," wajah Sarinah sedikit cemberut.
"Eh, non! Nona tidak cocok baper! Yang baper itu adalah Laki laki yang lihat wajah nona!" kata Haryani.
"Emang aku cantik...?"
"Bukan cantik lagi? Tapi, cuaaatik banget!"
Haryani senang candain Sarinah! Karena Sarinah tidak pernah marah. Malah Sarinah membuat Haryani berdoa dalam hati kalau Sarinah adalah majikannya selamanya.
"Non, makanannya enak ya?" tanya Haryani.
"Enak!" jawab Sarinah
"Setiap aku tanya pasti jawabannya enak, kalau memang tidak enak, bilang aja tidak enak non!" ujar Haryani.
"Memang enak! Ya ma, ya...." tatap Sarinah kemamanya.
"He em, memang enak!" jawab bu Zaripah.
"Alhamdulillah...!"
Haryani senang sekali mendengar ucapan ibu dan anak ini.
💟💟💟💟💟
__ADS_1
BERSAMBUNG.