
Sudah seminggu Dolangga dan dua kakek yang membantunya mencari keberadaan ibunya berada dirumah Givano. Mereka sangat nyaman tinggal dirumah Givano.
Tahun ini tahun ajaran baru dimana banyak orang tua memasukkan anaknya masuk sekolah. Givano yang hendak pergi kerja mengurungkan niatnya.
Givano melihat tetangganya pada pergi mendaftarkan anak mereka masuk sekolah. Diraihnya smart phonenya lalu vidio call dengan seseorang.
"Hai, Vano! ada apa Pagi pagi vidio call saya," sapa Amir dari kediamannya yang segera menuju kantor.
"Uwah! Pagi ini kelihatan kece. Jangan jangan udah kecantol cewek pelarian!" ejek Givano.
"Cewek pelarian, enak aja. Kamu belum tahu dikantor ada karyawan baru," kata Amir.
"Pasti cewek!"
"Iyyalah..., kamu lihat aku berpakaian rapi begini," jawab Amir dengan senyum percaya diri dan memainkan alis sebelah kirinya didepan layar smart phone Givano.
"Ha..., iyyalah. sebaiknya aku langsung saja ketujuanku yang sebenarnya. Susah menghadapi orang sedang jatuh cinta," Kata Amir.
"Wiiih..., ada job baru untukku, kenapa mesti Mutar mutar kayak kucing nangkap tali mainannya!" ledek Amir.
"Mir, aku minta tolong sama kamu," kata Givano tampak serius.
Amir tertawa melihat Givano dilayar smart phonenya yang kelihatan sekali seperti kebingungan.
"Ngomong aja langsung apa persoalannya," tanya Amir.
"Aku mau masukkan adiku sekolah di SD. Tapi, dia tidak pernah sekolah di TK bisa?" tanya Givano.
Amir tertawa mendengar perkataan Givano, "Hahaha, masih saja kamu bercanda sejak kapan kamu punya adik!" ejek Amir. Dia pikir Amir mau ngerjainnya.
"Tidak! Mir, aku serius! Aku tidak bercanda!" kata Givano Sungguh sungguh. Aduh! kali ini dia serius, guman Amir dalam hati. Amir tahu tatkala apa Givano bercanda dan tidak!.
"Sekolah mana tidak menerimanya, aku protes dia!" jawab Amir.
"Berarti bisa," tanya Givano.
"Bisalah!"
Givano menjelaskan separuh riwayat kehidupan Dolangga. "Aku kan tidak pernah memasukan anak kecil sekolah, jadi aku tidak tahu apa saja yang aku persiapkan untuk memasukan anak kecil sekolah," kata Givano.
"Daftarkan saja dahulu nanti kuminta silvia membantumu kebetulan dia mengajar di salah satu sekolah dasar yang tidak jauh dari kediamanmu!" jawab Amir.
...----------------...
__ADS_1
Sejak Sarinah memaafkannya, Alfiana sering berkunjung kerumah pak Adzriel. Dan Alfiana mulai memainkan akal busuknya.
Jangankan Sarinah, Sachio saja sekarang sudah mulai mempercayai Alfiana. Hari ini Alfiana datang lagi menemui Sarinah,
"Salamualaikum, Sarinah...!" manis sekali mulut Alfiana menyapa Sarinah yang sedang duduk sendirian ditaman depan rumahnya.
"Wa alaikumsalam! E..., Alfiana mari!" sambut Sarinah senang.
"Sachio mana?! Sendirian saja," kata Alfiana.
"Pagi pagi begini Sachio pasti sudah dikantor!" sahut Sarinah melirik Alfiana sebentar sambil merapikan rambutnya yang tertiup angin.
"Sarinah! kita Jalan jalan ditaman yo" biar badan sehat kalau dirumah terus pikiran beku," ajak Alfiana.
"Em..., bagaimana ya? Ntar aku minta ijin mama dulu ya," kata Sarinah berpikir lama.
Sarinah masuk kedalam rumahnya, tidak lama kemudian dia keluar lalu menghampiri bapaknya yang sedang bekerja. "Pak! Aku mau Jalan jalan ditaman, boleh ya pak!" tanya Sarinah.
"Boleh! Hati hati ya," jawab pak Adzriel tanpa menoleh kearah Sarinah karena pokus menyambung kabel motor yang sedang diservis.
...*🔥🔥🔥*...
Fado dan Nabil Sekarang sedang dilema. Mereka tidak Tanggung tanggung memperoleh uang lima ratus juta dari pak Jamal. Uang untuk membawa Alfiana kedepan pak Jamal. Namun, dengan persaratan bila gagal uang yang lima ratus juta harus dikembalikan lagi.
"Aku tak mau ikut," kata Nabil tak mau ambil resiko, sebab kalau dia tidak bisa bawa Alfiana kedepan pak Jamal. Maka, dia tak akan mampu untuk balikin uang pak Jamal bila sudah habis.
"Lha, kalau uangnya habis dan Alfiana tidak kita temukan bagaimana?"
Fado juga punya pertanyaan yang sama dengan Nabil. Jadi dia hanya menatapnya tidak bisa menjawab pertanyaannya.
"Kalau kita tak bisa menemukan Alfiana, kita kabur balik kampung tidak balik Jakarta lagi," jawab Fado asal jawab.
"Aduuuh, kenapa aku tidak kepikiran ya, kalau begitu mari kita bagi uangnya," kata Nabil tampak senang.
Taman tempat mereka duduk berdua pagi ini tidak terlalu ramai. Hanya beberapa orang saja yang lalu lalang.
"Kita cari tempat makan yang enak lalu kita lakukan pencarian, bagaimana!" kata Nabil mengajak Fado.
"Tawaran yang menarik, yo'" mereka serempak berdiri hendak pergi.
Mata Nabil tertuju kearah sosok cantik yang seperti di kenalnya ditambah temannya yang satu lagi seperti tidak asing dimata Nabil. "Tunggu!" tahan Nabil.
"Perut udah bunyi ini, Nanti kita bahas lagi," kata Fado.
__ADS_1
Saat Fado hendak jalan. "Tunggu dulu!" kembali Nabil menarik baju bahu Fado.
"Kenapa, sih! Apa kamu tidak lapar!" toleh Fado menatap Nabil.
"Sst...," Nabil menarik baju Fado kebalik bunga disampingnya.
Fado baru sadar kalau Nabil seperti melihat sesuatu. "Kamu lihat apa!" bisik Fado penasaran.
"Lihat itu!" tunjuk Nabil kearah dua perempuan yang berjalan santai menuju tempatnya bersembunyi.
Mata Fado terbelalak melihat. "Kita rekam mereka, aku pakai hpku. Kamu pakai hpmu biar dua hp sekali gus merekamnya!" kata Fado sambil Cepat cepat meraih hpnya.
Fado dan Nabil terus merekam Sarinah dan Alfiana yang berjalan dengan santai penuh akrab. "Tumben aku bisa Jalan bareng dengan sahabat baikku," ungkap Sarinah tampak menikmati Jalan jalannya.
"Ini adalah momen yang tak bisa kulupakan," balas ucap Alfiana.
Ketika mencari tempat selvi yang baik, hampir saja Fado dan Nabil terlihat yang merekamnya. "Merunduk!" Fado tarik Cepat cepat lengan Nabil. Hampir saja hpnya nabil jatuh.
"Inah! Kita selvi disana yo," tunjuk Alviana pada bunga Rambusa mini tempat Fado dan Nabil ngumpet.
"Ayo," Sarinah menuruti ajakan Alfiana.
Ketika telah sampai pada bunga Rambusa mini yang ditunjuk, "Kita cari tempat lain!" kata Alfiana mengajak Sarinah karena melihat dua pasang pria bermesraan. "Sial, pria homo!" bentak Alfiana kesal.
Nabil mendorong tubuh Fado. "Geli tahu...," tolak Nabil marah.
"Aduuuh, untung saja aku punya ide!" Fado memegang dadanya.
Nabil menggigil kedinginan tumben dipeluk mesra oleh sesama pria, "Ide konyol," bentak Nabil ngumpat Fado marah.
"Lho, kok marahi aku," tatap Fado.
"Kalau yang meluk cewek kan seneng, ini yang meluk kamu?!" Nabil melototi Fado.
"Seneng, ya?" ejek Fado tertawa
"Matamu yang seneng!" kemarahan Nabil semakin memuncak!.
"Udaaah, enggak usah dipikirin. Itu kan terpaksa, aku juga mana mau meluk kamu..., bau lagi." ucap Fado.
Nabil tambah jengkel melihat Fado. Dia dikatai bau, pingin sekali sumpah serapahin Fado. Tapi, Fado keburu pergi dan terpaksa membututinya.
Kini mereka tak ada lagi yang perlu ditakutin. Malahan, mereka menemukan ide baru untuk tambahin isi kantongnya untuk moroti pak Jamal.
__ADS_1
💟💟💟💟💟
BERSAMBUNG.