
Shaugi jatuh pingsan kena pukulan keras tangan pak Jamal. Fado dan Nabil tertawa tepingkal pingkal melihat bosnya berhasil menipu saingannya.
Tidak beberapa lama polisi datang mengamankan pak Jamal dan mengangkat Shaugi yang pingsan dibawa kekantor polisi.
Sedangkan Sarinah yang berlari bersama mamanya dan ibu Sachio sudah sampai ketempat mobil mereka yang masih terparkir.
Betapa terkejutnya Sachio yang melihat Sarinah Maura dan Zaripah datang seperti orang berlari. Di turunkannya kaca mobilnya Cepat cepat.
"Sarinah...! Kenapa lari?" tanya Sachio sambil buka pintunya keluar menatap Sarinah yang nampak ketakutan. Sachio merangkul Sarinah sangat cemas.
"Ayo sudah! Sebaiknya kita cepat pulang!" ajak Maura berusaha tenang.
"Tunggu dulu bu..., jalaskan dulu kenapa kalian lari." pinta Sachio penasaran.
Merasa tidak enak melihat Sachio yang tampak penasaran Zaripah akhirnya menjelaskan Sachio.
"Didalam ada orang yang mau mengganggu Sarinah!" jawab bu Zaripah.
Darah Sachio langsung mendidih mendengar penuturan Zaripah. Tanpa banyak tanya lagi Sachio langsung segera mengejar orang yang mau mengganggu Sarinah.
"E, tunggu dulu Sachio!" cegah Maura. Tetapi, Sachio tidak peduli dia langsung berlari. Belum dia masuk kedalam Mall, Sachio melihat beberapa polisi sedang menggiring pak Jamal dan dibelakangnya terlihat beberapa orang sedang mengangkat tubuh seseorang yang pingsan.
Sachio baru sadar kalau dia belum tahu siapa yang mengganggu Sarinah. Maka diapun kembali dengan lemah dan menyesal tidak mengikuti Sarinah masuk kedalam Mall.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=πππ\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Alfiana yang mengetahui kepulangan Sachio merasa senang dan langsung menghubungi Lisa. Berkali kali dia mencoba Lisa. Tetapi, Lisa tidak mau mengangkat smart phonenya.
Tiìiin....tiiiin.....taaan.....taaan.
"Lisa! telpon dari siapa?" tanya Komala mamanya.
"Dari alfiana, malas!" jawab Lisa dengan ekspresi wajah dongkol setelah tahu kejelekannya.
"Itu perempuan memang tidak tahu malu." timbal Komala juga merasa nek.
Tidak beberapa lama pak Faris datang dari luar.
"Lis! Tidak hubungi kakakmu!" tanya Faris pada Lisa.
"Barusan saja selesai ngobrol!" jawab Lisa.
"Yang barusan bapak dengar!"
"Bukan, Kalau yang barusan dari Alfiana!"
"Ngapain dia telpon kamu!" tatap pak Faris tampaknya juga tidak suka.
"tau!" jawab Lisa.
Mereka menyadari, kalau Alfiana ini gadis kurang baik.
Alfiana tidak putus asa, sekarang dia mencoba menghubungi pak Faris.
geeer...geeer...geeer....
__ADS_1
Pak Faris melihat layar smart phonenya.
"Alfiana menghubungi aku," ucap pak Faris.
"Halo..."
"Selamat pagi pak?! Lisa mana?" tanya Alfiana tampak bersemangat karena pak Faris mau ngangkat smart phonenya.
"Ni....Ada didepan saya!" jawab pak Faris.
"Mungkin lagi kurang mut ya pak!" ucap Alfiana.
"bukannya kurang mut, lagian siapa mau berhubungan dengan kamu? Dasar musang berbulu ayam!" timbal pak Faris seraya merijek smart phonenya.
Alfiana yang tadinya sangat gembira dan bersemangat berubah dua ratus derajat. Mukanya masam menyimpan dendam.
Awas kamu semua, bapak sama anak Sama sama menyebalkan. Ancam Alfiana dalam hati sambil melempar smart phonenya keatas bantal tidurnya.
Dendam benci bergelut jadi satu dalam hati Alfiana. Dan Diam diam dia membuat rencana buruk buat Sachio dan semua keluarganya.
Dengan langkah sedih berbaur benci dia melangkah keluar kamar tidurnya. ekspresi wajahnya menyimpan sejuta kebencian. Bola matanya dipenuhi air bening yang hendak menetes tetapi ditahannya.
Maimunah yang secara kebetulan juga keluar dari kamar tidurnya, berbarengan dengan putrinya menuju Shopa jadi terkejut melihat putrinya.
"Sayang....Kenapa nak!" tanya Maimunah khawatir melihat putrinya.
Pak Irfan yang sejak tadi duduk diluar juga terkejut melihat ekspresi wajah putrinya yang bermuka masam.
"Kalau ada Apa apa harus ngomong nak!"
"Ayo....Ada apa nak...?" tanya pak Irfan.
"Pak Faris pak!"
"Kenapa dengan pak Faris?" tanya pak Irfan lagi.
"Dia bilang Alfiana musang berbulu ayam." tutur Alfiana sambil terisak isak menangis.
"Apa? Kurang ajar si Faris! Berani ngatain putri saya musang berbulu ayam?" ucap pak Irfan geram.
Maimunah yang tidak mengerti maksud pernyataan pak Faris tampak tenang.
"Apa sih, maksudnya pak!" tanya Maimunah.
"Pak Faris menuduh putri kita penjahat yang berpura pura baik." jawab pak Irfan.
Mata bu Maimunah langsung melotot dan tidak terima putrinya dituduh jahat.
"Putranyalah yang jahat! Tidak bertanggung jawab, nelantarin putri saya malah menganiaya Alfiana." dada Maimunah Betul betul sesak rasanya.
"Kita samperin kerumahnya, saya tidak terima putri saya dikatain begitu!" ucap Maimunah geram.
"Ayo!" kata pak Irfan berdiri lalu malangkahkan kakinya disusul Maimunah.
Sedangkan Alfiana tak ada gairah. Hanya duduk lemah menatap lantai rumahnya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=πππ\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sesampai dirumah Sarinah tidak menyangka bakal menemui kejadian seperti ini.
"Bu....Maafkan Sarinah! Gara gara aku ibu jadi diremehkan orang." ucap Sarinah sedih.
"Sayang...?" Maura bangkit dari duduknya nyamperin Sarinah dan memeluk Sarinah.
"Kamu tidak bersalah sama sekali nak! Tidak nak!" Maura mau menangis rasanya melihat gadis polos seperti ini.
"Kalau kamu berpikiran seperti itu? Ibu sedih, loh!" ucap Maura mencium rambut Sarinah.
Untuk mengalihkan pembicaraan, agar Sarinah tidak sedih dan kepikiran atas kejadian tadi.
"Bi...!" Maura memanggil Haryani pembantu yang bekerja dirumah itu.
Haryani yang kebetulan berada dihalaman rumah segera berlari mendengar dirinya dipanggil.
"Ya, bu...!" timbal Haryani dari luar.
"Tolong kamu dan Sariman ambilkan Barang barang dimobil!" suruh Maura.
"Baik, bu!" jawab Haryani segera nyari suaminya dan mengambil Barang barang yang baru dibeli.
Sachio sebenarnya agak riskan memeluk Sarinah didepan ibunya dan ibu Zaripah. Tetapi, dia merasa harus menenangkan Sarinah mau tak mau dia harus duduk disampingnya.
"Sudahlah jangan pikirkan kejadian tadi, menyesal aku tidak ikut menemani kalian!" ucap Sachio kesal. Ingin rasanya dia menghajar habis Orang yang telah membuat kekasihnya tidak tenang.
Saking kesalnya giginya gemeretak tidak tenang. Dadanya berdebar debar, kekasih yang disayangi diganggu orang.
Haryani dan Sariman datang membawa Barang barang yang dibeli Maura.
"Ini bu Barang barangnya!" ucap Haryani datang membawa Barang barang yang dibeli tadi.
Lalu Maura membagi bagi belanjaannya kepada Haryani dan Sariman.
"Ini untuk kamu Haryani dan ini untuk suamimu. Saya belum sempat beli yang lain Gara gara kejadian tadi." kata Maura.
"Yang ini untuk Maura dan Yang ini untuk Ibu Zaripah!" ucap Maura tersenyum.
Sarinah yang dari tadi memikirkan kejadian di Mall terperangah memandang ibu Maura.
"Katanya untuk belikan seseorang dirumah?!" tanya Sarinah tidak percaya.
"Dirumah kan cuman kamu dan ibumu, masa belikan pembantu pakaian mahal. Dirumahku tidak ada Siapa siapa? Selain aku dan Sachio serta aku tidak ada pembantu dirumah!" ucap Maura.
"Ini semua mahal bu!" ucap Sarinah.
"Sayang....masih sembilan belas jutaan, belum nanti ibu belikan berlian yang harga miliaran rupiah."
Sarinah terperanjat mendengar ibu Maura yang menyebut miliaran rupiah. Dia memandang ibunya lalu menoleh Sachio sambil menutup mulutnya yang menganga kaget.
πππππ
BERSAMBUNG.
__ADS_1