
Itu Eli?
Gila sih, keren banget.
Tumben gak make-up kayak tante-tante.
Biasa nya make-up.
Cantik.
Cantikan juga gue.
sok banget dia.
Hati-hati. Bisa ngamuk tuh orang nya.
Dll.
Bisikan-bisikan itu sangat tertangkap dalam telinga tajam milik Eli. Eli turun dari motor nya, kemudian pergi meninggalkan area parkiran, tanpa menghiraukan bisikan-bisikan warga AR.
"Itu benaran Eli?" Tanya Panji.
"Ia. Itu kakak Eli. Tapi kok tumben, dia bawa motor, bukan nya pernah phobia yah?" Kata dan tanya Monika.
"Setahu gue dia emang phobia." Kata bang Devin, "Gak usah di pikirin, mungkin ini hanya taktik dia saja." Lanjutnya.
"Kelas." Titah bang Davin, dan berlalu terlebih dahulu, diikuti Panji, Cakra, bang Devin, Leo, dan Monika.
Sepanjang koridor, mereka selalu di tatap dengan kekaguman. Banyak sapaan yang di berikan dari warga AR, dan di balas senyuman oleh Monika. Cakra yang sibuk tebar pesona, Panji dengan gaya cool nya, bang Davin, Devin, dan Leo, hanya memasang wajah datar.
"Belajar yang baik." Kata Leo sambil mengusap kepala Monika.
Saat ini, abang twins dan sahabatnya, beserta Monika, sedang berada di depan kelas XI IPA 2. Lebih tepat nya, kelas Monika.
"Nanti abang jemput pas istirahat." amanah bang Devin.
"Ia bang." Kata Monika sambil memberikan gaya hormatnya, "Monik masuk kelas dulu. Dah." Lanjut Monika dan langsung masuk ke dalam kelas, saat mendapatkan anggukan.
Abang twins dan sahabatnya berjalan memasuki kelas mereka, XII IPA 1. Kelas XII berada di lantai tiga, XI di lantai dua, dan X yang berada di lantai dasar.
Sekolah AR adalah sekolah terfavorit dan sangat disiplin di kota ini. Banyak siswa siswi dari keluarga yang mampu. Masuk ke sekolah AR ini, harus banyak mengeluarkan uang. Sekolah ini memungut biaya yang sangat besar, karena fasilitasnya begitu lengkap.
Gerbang sekolah berwarna hitam dengan menjulang tinggi ke atas, tentu ada pos beserta satpamnya. Saat di dalam area sekolah, lapangan yang luas pertama kali di lihat. Di sebelah kiri khusus parkiran roda dua, dan yang kanan, roda empat. Banyak bunga dan pepohonan yang menghiasi taman tersebut, jadi tidak salah lagi, sekolah ini di juluki dengan kata 'Sekolah Model.'
Masuk ke dalam sekolah, atau lebih tepat nya, koridor, bisa melihat lapangan hijau yang luas, dan terdapat tiang bendera. Yap, itu lapangan upacara. Sepanjang koridor, selalu banyak tanaman bunga dengan berbagai warna. Sebelah kanan koridor, itu adalah kelas X IPA 1-6. Sebelah kiri, itu adalah kelas X IPS 1-6. Kantin berada di tengah-tengah koridor, belakang lapangan upacara. Ruang guru, koperasi, berada di sebelah kanan, UKS di sebelah kiri. Ada lapangan olahraga (sudah termasuk semua macam-macam olahraga), tribun, biasa di gunakan untuk lomba.
Di lantai dua pun sama, bedanya, lapangan upacara, ruang guru, koperasi, tidak ada. Gantinya yaitu, ruang musik, dan dance.
Di lantai tiga sama dengan lantai dua, bedanya, tidak ada ruang dance, gantinya adalah, ruang kepala sekolah, dan ruang pribadi pemilik sekolah. Walau ruang itu sangat jauh dari kelas dan ruang lainnya, tetapi tetap ada batasan siswa siswi, maupun guru untuk tidak berjalan ke arah sana. Walau masih jauh.
__ADS_1
Dan terakhir, rooftop, hanya abang twins, sahabatnya, dan Monika lah yang boleh ke sana.
...----------------...
Di kantin, terdapat seorang gadis dengan rambut di ikat asal, sedang menikmati makanannya. Dia, Eli.
"Gue di rumah, mau makan selalu saja ada hambatannya. Dan itu berlalu juga untuk di sekolah!" Desis Eli.
Gadis itu tidak sendiri di kantin, tentu saja dia bersama dengan Anggun dan Ferni. Dan siswa siswi lain nya, yang sedikit-sedikit mencuri pandangan pada Eli.
"Elah, gue juga belum sempat sarapan El. Jadi gue minta dikit." Jawab Anggun. Yah, Anggun datang-datang langsung memakan nasi goreng milik Eli sampai habis. Sedangkan pemilik nasi itu baru makan seperempatnya.
"Itu, Banyak." Tekan Eli dengan mata tajam nya.
"Ia. Ma-maaf." Jawab Anggun gagap.
"Gue pesan. Lo mau apa El?" Tanya Ferni. Sangat malas dia melihat Anggun yang sembarang itu.
"Tidak usah. Dikit lagi bel." Jawab Eli malas, dan berdiri dari tempat nya.
"Dan nanti upacara." Tambah Anggun enteng.
"Gue bolos." Jawab Eli, dan hendak melangkah.
"Eli." Panggil Ferni. "Sebentar yang jadi pembina, bu Dona, guru matematika sombong. Lo gak mau ngerjain?" Tanyanya lagi.
Oh, ayolah, jangan buat sifat bar-barnya muncul.
"Dia kan kelas pertama kita, bisa di urus nanti. Bolos aja sekarang, ini panas." Kata Anggun dengan lebay.
"Gue upacara." Jawab Eli, dan tepat dengan lonceng pertanda kumpul di lapangan, untuk upacara.
Mau tidak mau, Anggun harus ikut upacara, tidak mungkin dia bolos sendiri bukan? Jika sudah lama melakukan sesuatu dengan orang yang sangat dekat, maka mustahil bisa melakukan nya sendiri, walau kadang emang bisa. Tapi namanya manusia, pasti butuh pertolongan, sandaran, dll.
Anggun mengikuti kedua sahabatnya itu menuju lapangan, tas mereka titip di warung bu Ijah. Warung langganan Eli dkk. Tidak mungkin mereka melangkah ke kelas dulu, kantin dan kelas mereka sangat jauh.
...----------------...
"Panas oy. Mana lama banget lagi nih ngepidato." Gerutu Cakra.
Abang twins dan sahabatnya berbaris paling belakang, mana mau mereka jadi anak rajin untuk baris di depan.
"Wah, ini guru cari gara-gara. Udah tahu kita bu! Sampah di bang pada tempatnya!" Sungut Panji kesal.
"Gue mau bolos nanti." Kata Cakra pelan.
Panji yang di belakang nya langsung nyaut, "Gue juga. Mabar nanti yok!" Ajak Panji.
"Ayolah." Jawab Cakra senang. "Lo pada gak ikut?" Tanya Cakra kepada sahabat kembarnya dan Leo.
__ADS_1
"M." Jawab mereka.
"Nanti gue ke kantin dulu, beli makanan." Kata Panji.
"Di kantin kelas XII saja. Biar langsung." Usul Cakra.
"Oke lah." Sahut Panji.
Karena mereka sibuk berbicara pasal bolos, telinga mereka lambat mendengar berita yang kata warga AR heboh.
"Diam." Pinta bang Devan.
"Ibu lupa?" Tanya seorang siswi.
"Kayak kenal suaranya." Kata Cakra sambil celingak-celinguk mencari asal usul suara tersebut.
"Itu bukannya suara Eli?" Tanya Panji, membuat para sahabat diam, "Eli?" Monolog mereka.
...----------------...
"Wah, parah nih guru. Masih sempat-sempatnya yah sombong kan diri!" Kesal Anggun.
"Ia tuh. Muak banget gue. Suer!" Kesal seorang siswa, yang satu kelas dengan nya. Dia, Dino, ketua kelas.
"Cara apa yang buat dia jerah yah?" Tanya seorang siswi, dia Lala, sekertaris kelas.
"El. Lo biasa bar-bar. Kok sekarang diam. Itu kepala abis kejentus?" Tanya Dino.
Biarpun semua warga AR tidak suka dengan Eli, tetapi kelas XI IPA 3, sangat mengidolakan Eli. Yah, Eli kelas XI IPA 3.
Di kelas, Eli selalu membuat solidaritas. Dan semua warga AR, termasuk guru, mengetahui solidaritas itu.
"Kepala lo kok ada plester nya? Lo beneran ke jentus? Di mana?" Tanya Reyhan, bendahara kelas.
"Oh ia. baru nyadar." Serempak XI IPA 3 dengan pelan.
"Dia kecelakaan waktu itu, dan, lupa ingatan." Jelas Anggun, dengan nada sedih di akhir kalimatnya.
XI IPA 3 kaget dengan kabar itu, mereka melihat Eli dengan prihatin, buat yang di perhatikan risih.
"Buang tatapan prihatin kalian!" Tajam Eli!
"Ia." Dengan serempak lagi mereka menjawab.
"Kalian harus kayak XI IPA 2, prestasinya sudah membawa nama sekolah." Perkataan itu terdengar oleh telinga XI IPA 3, mereka jadi lupa, bahwa masih di lapangan.
"Jangan terlalu bangga." Kata Eli lantang, dan berjalan untuk berdiri di barisan paling depan. Seringai XI IPA 3, tampak terlihat.
"Mulai lagi." Serempak mereka dengan senyuman kecil, walau nada bicara dengan teramat pelan, hampir bisikan.
__ADS_1