Elena'S Transmigration Story

Elena'S Transmigration Story
Empat Belas


__ADS_3

"Karena gue hebat." Kata Eli mantap.


"CK! Hebat nempeli orang." Cibir bang Devin.


"Cibir aja mulut lo bang." Sinis Anggun.


"Mulut gue, lo yang sewot." Sensi bang Devin.


"Mulut gitu aja bangga." Sinis Anggun.


"Lah, lo juga! Mulut sinis mulu. Gitu aja bangga." Sambar bang Devin.


"Bangga lah! Orang mulut gue di jaga." Jawab Anggun dengan lantang.


"Apa nya yang di jaga? Mulut lo nyinyir mulu." Kata bang Devin lagi.


"Setidaknya nyinyiran dari mulut gue masih bisa nyindir orang yang salah. Dari pada nyindir orang yang di salahkan?" Jelas Anggun, yang buat bang Devin diam.


Hening. Abang twins dan sahabatnya, kecuali Cakra, masih mencerna perkataan Anggun. Mereka tahu, Anggun tidak pernah salah dalam ucapan, jadilah mereka berpikir dengan keras.


"Wish. Pada diam nih. Kenapa?" Tanya Cakra yang tiba-tiba datang membawa nampan berisi bakso.


"Ngagetin! Lo kayak jalangkung aja." Tajam Panji.


"Jalangkung mata lo! Gue manusia." Sambar Panji.


"Siapa bilang lo Kerbau?!" Tanya Panji tak mau kalah.


"Lama-lama mulut lo gue jahit juga nih!" Ancam Cakra, sambil meletakan nampan di meja.


"Wish. Santai. Gue gak ada kibarkan bendera untuk musuhan Cak!" Balas Panji dengan sabar.


"Gue bukan cicak!" Tajam Cakra.


"SIAPA YANG NGATAIN LO CICAK CAK?!" Frustasi Panji.


"Anjing! Maluin govlok!" Kata Cakra dengan muka menunduk, karena malu.


"Sejak kapan urat malu lo di jahit? Bukan nya udah putus yah?" Tanya Panji polos.


PLAK.


"******! Gue pengen geplak pala lo." Tajam Cakra.


"Asu. Lo udah geplak Cak!" Sentak Panji sambil mengelus kepalanya, yang di pukul oleh Cakra.


"His. Gue malas sama lo!" Jawab Cakra sambil bergidik ngeri.


"Lah! Lo pikir gue mau sama lo?! Gue masih normal Cak! Gak mau sama muka tai sapi." Tajam Panji.


"CK! Lo ngatai gue?" Tanya Cakra.


"Ia! Kenapa? Gak terima? Sini kalau berani." Tantang Panji, pada Cakra yang duduk di sampingnya.


"Diam." Tajam bang Davin.


Cakra yang hendak menjawab perkataan Panji pun tidak jadi karena perkataan tajam milik sahabatnya itu.


Saat ini, hanya keheningan yang melanda, abang twins dan sahabatnya sibuk dengan makanan.


"Leo, aku mau di suapin dong." Pinta Monika dengan manja.


"Ia." Jawab Leo, dan langsung menyuapi Monika.


Eli yang tidak sengaja melihat Monika pun di perlihatkan muka aslinya. Yah, Monika tersenyum sinis terhadap Eli, dan di balas dengan muka datar saja.


Eli mengalihkan perhatian nya pada hp, kemudian melihat Leo yang di cium bibirnya oleh Monika. Dih, gak tahu malu lo jadi cewek! Murahan bener dah lo. Pikir Eli geli.


"Anjay! Monika pakai cium depan gue segala." Batin Panji.


"Aduh. Hati gue kok geli? Padahal sering buat gitu sama mantan." Batin Cakra.


"Bit*h." Batin Ferni.


"Geli gue!" Batin Anggun.


"Kok gitu?" Batin abang twins.


Eli masih menatap Leo, yang memasang muka datar, tetapi tubuh yang tegang. Sungguh! Memalukan. Pikir Eli, dan langsung mengalihkan pandangan nya pada hp.


"Jaga mata jaga hati." Nyanyi seseorang.


Mendengar suara yang tidak asking di telinga Eli, membuatnya tegang di tempat.


Banyak teriakan histeris dari kantin, karena melihat lima pria berjalan dengan santai, tetapi berkelas.


Kyaaa, genteng banget!


Kelihatan bulenya coy!

__ADS_1


Astaga itu murid baru kah?


Ganteng banget sih.


Bisa gak aku jadi pacar kamu?


Wih, ada tambahan prince ice nih.


Adu gile! Manis-manis.


Dll.


"Jangan cari yang lain lagi." Lanjut teman yang nyanyi tadi.


"Sumpah, sa pun cinta untuk ko." Lanjut orang yang nyanyi pertama tadi.


"Sa tunggu sampai ko pulang." Sambung teman nya yang sedari tadi diam.


"Jang dengar yang dorang bilang." Nyanyi orang kedua.


"Sumpah hanya ko yang sa sayang." Lanjut orang ke satu.


Eli masih diam di tempat nya, dengan mata yang fokus pada hp, sedangkan sahabatnya, sudah linglung karena melihat lima cowok tampan di depan mereka. Abang twins dan sahabatnya di buat bingung dengan kehadirannya mereka, siswa baru? Pikir diri sendiri. Monika? Ganteng! Bisa lah di embat diam-diam. Pikir wanita itu tanpa malu.


"Anjing! Sudah ada Leo masih aja mau embat orang punya." Batin Eli yang jengah terhadap Monika.


"Siapa mereka?" Tanya Anggun.


"Manusia." Jawab Cakra sewot.


"Kok sewot sih lo? Gue kan cuma tanya." Sinis Anggun.


"Anak baru?" Taya Panji.


"Mungkin." Jawab Ferni yang membenarkan.


"Dari luar negeri kayaknya." Tambah bang Devin.


"Blasteran. Namun sangat ke baratan." Nilai Panji.


Eli hanya diam mendengarkan, dengan pikiran yang berpetualangan.


"Eh, dia ke sini dong." Heboh Anggun.


"Heboh bener lo!" Tajam Cakra.


"Kenapa pakai muka polos sih? Gue jadi pengen meluk lo lagi." Batin Cakra, sambil membuang mukanya kearah lain.


"Hah? Anggun sama Cakra ada hubungan kah?" Tanya Eli pada diri sendiri.


"Boleh gabung?" Tanya seseorang dengan rambut yang lumayan keriting. Ternyata orang pertama yang nyanyi tadi.


"Silahkan." Jawab Anggun cepat, membuat bola mata Cakra semakin besar.


"Cak. Awas bola mata lo keluar." Kata Panji tiba-tiba.


"Apa sih lo!" Peringat Cakra.


"Kalian anak baru?" Taya Anggun, saat kelima cowok tersebut sudah duduk.


"Ia." Jawab cowok yang minta izin tadi.


"Pindahan dari mana?" Tanya Fani.


"Padahal gue yang mau tanya." Batin Anggun.


Cakra yang melihat raut sedih Anggun hanya bisa tersenyum tipis.


"London." Jawab Cowok kedua, yang memiliki bola mata berwarna abu-abu.


Ferni hanya mengangguk-angguk kepalanya.


"Kita belum kenalan. Ayo kenalan." Kata dan ajak cowok rambut yang lumayan keriting.


"Ayo." Jawab Anggun cepat.


"Oke. Kalian aja yang duluan." Kata cowok yang memiliki bola mata warna abu-abu.


"Baiklah. Gue Anggun Kristalika. Panggil nya Anggun. " Perkenalan Anggun.


"Gue Fernisia Erlanda. Panggil Ferni." Perkenalan Ferni.


"Lanjut. Kalian juga. Karena sudah duduk di tempat kita." Kata Anggun pada abang twins dan sahabatnya.


"Gue Panji Prayoga. Panji." Perkenalan Panji. Panji tahu, Cakra akan sembur Anggun tadi, tetapi lebih baik dia alihkan dari pada malu.


"Cakra Terix. Cakra." Perkenalan Cakra, dengan muka malasnya.


"Devin Prayaga. Devin." Perkenalan

__ADS_1


bang Devin.


"Leonald Felix Mith. Leo." Perkenalan Leo, dengan muka datar nya.


"Davin Prayaga. Davin." Perkenalan bang Davin.


"Aku Monika Sendra. Monika. " Perkenalan Monika dengan nada centilnya. Namun hanya bisa di dengar oleh Eli, Ferni, Anggun, Panji, dan kelima cowok tadi.


"Jijik bener dah." Batin Eli.


"Lo siapa?" Tanya cowok yang memiliki bola mata berwarna abu-abu.


Eli mendongak, dan saat melihat kelima cowok dihadapannya dengan ekspresi yang tidak dapat di katakan.


"Eli." Jawab Eli.


"Masih sama." Batin kelima cowok tersebut.


"Gue Arya Samuel. Keturunan Indonesia dan Spanyol. Panggil saja Arya." Perkenalan cowok dengan bola mata berwarna abu-abu. Dia, Arya.


"Gue Andre Lenandra. Keturunan Afrika dan Indonesia. Panggil Andre." Perkenalan cowok yang memiliki rambut sedikit keriting. Cowok yang menyanyi pertama tadi.


"Gue Lukas Abraham. Dan Lo tahu gue." Perkenalan Lukas, sambil melihat Eli. Perkataan Lukas membuat semuanya bingung, kecuali kelima cowok tadi.


"Gue Zidan Arseneo." Perkenalan Zidan.


"Abdiel Yoga Aldebaran." Perkenalan Abi. Memiliki rambut yang lebat berwarna hitam pekat.


Abi berjalan mendekati Eli. Kemudian duduk di sampingnya dan membawa Eli ke pangkuannya. Perlakuan Abi membuat seluruh kantin terkejut.


"Aku merindukanmu Ele." Kata Abi dengan bisikan yang membuat Eli bergidik sendiri.


"Kau tahu?" Tanya Eli pelan.


"Tentu saja honey." Jawab Abi, dan menduel-duel leher Eli.


"Astaga bos. Gak bisa sabar aja. Itu bu bos nya kita belum sapaan." Kata Arya dengan malas.


"Bucin." Sambar Lukas.


"Nyesel gue bawa lo." Sungut Zidan.


"Oh, abang yang bawa mereka kesini?" Taya Eli dengan mata tajam nya. Sementara Abi? Memeluk pinggang Eli dengan posesif.


"Hehe. Maaf dek." Kata bang Zidan, dan langsung berjalan mendekati Eli untuk ke dekapannya.


"Stop." Kata Abi tajam, saat Eli akan di sentuh.


"Apaan sih lo! Gue juga kangen dia yah!" Kata Zidan tak mau kalah.


"Gak usah dekat cewek gue." Tajam Abi. Perkataan Abi membuat seluruh kantin kembali terkejut.


"Kok sakit?" Batin seseorang.


"Dia adik gue! Mau gak dapat restu lo?!" Ancam Zidan.


Abi mau tak mau merelakan Eli yang saat ini sudah di peluk Zidan. Eli yang melihat Abi lesu pun hanya terkikik geli.


"Abang, Ele kangen." Perkataan Eli mampu membuat hati dua orang tersakiti.


"Abang lebih kangen kamu." Kata Zidan sambil mencium puncak kepala Eli.


"Oh, ayolah. Dia bu bos kita." Sambar Arya jengah.


Eli yang melihat Arya dengan muka kesal nya hanya bisa mengukir senyum tipis.


"Apa kabar?" Tanya Eli sambil bertos ala-ala mereka.


"Bain bu bos! Astaga, ibu bos masih cantik saja." Kata Arya dengan gombalan di akhir kalimat.


"Terimakasih." Jawab Eli.


"Wish. Apa kabar bu bos?" Tanya Andre.


"Baik Ndre." Jawab Eli sambil bertos ala-ala mereka.


"Apa kabar lo? Masih ingat gue gak? Jangan bilang otak lo tertinggal." Kata Lukas dengan senyum tipis nya.


"CK! Gue baek." Jawab Eli dan memeluk Lukas.


"Gue kangen lo." Kata Lukas sambil memeluk erat Eli, seakan tidak mau melepaskannya. "Jangan pergi lagi." Katanya lagi dengan lirihan.


"Gak janji." Jawab Eli. "Gak usah cengeng." Lanjut Eli, saat merasakan punggung Lukas yang bergetar.


"CK! Gue gak selemah itu." Kata Lukas sambil melepaskan pelukan nya.


"Tunggu, lo pada saling kenal?" Tanya Anggun penasaran.


"Ia, kita...

__ADS_1


__ADS_2