
"Yeh! Pantas aja gak bisa di lacak!" Seru Arya dengan kesal.
Saat ini, inti Clouts, bang Uzi dan Davin, sedang berada di tengah hutan. Soal helikopter, mereka minta untuk tunggu di bukit belakang hutan. Sebelum turun dari helikopter, mereka sudah mengelilingi hutan yang sangat besar itu. Dan mereka mendapatkan jejak, yaitu bangunan di tengah hutan, dan bukit di paling belakang.
"Ho'oh. Gak ada jaringan." Tambah Andre dengan mengangkat hp nya ke udara, kemudian membolak-baliknya.
"Lo bolak balik gitu hp nya, kagak akan ada muncul garis, biarpun satu." Kata Arya dengan jengah.
"Pintar juga mereka." Kata Lukas.
"Menjadikan alam sebagai tameng." Tambah Abi.
"Kali ini gue akui. Bahwa pencuri yang kita tangani sekarang, itu pintar dan licik." Kata Andre.
"Ia, lo benar. Kira-kira tujuan mereka apa?" Tanya Arya dengan bingung.
"Yah mencuri go*lok" Sewot Andre.
"CK! Maksud gue, kenapa desa Dirgayu yang mereka serang." Ucap Arya.
"Desa ini di buat kapan?" Tanya bang Davin.
"Gue merasa, ini desa terlarang." Ucap bang Uzi.
"Terlarang apaan dah?" Bingung Zidan.
"Gue gak pernah dengar akan ada pembuat desa baru." Ucap bang Uzi dengan serius, bahkan langkah nya pun terhenti.
Mereka berhenti di tempat, mencerna perkataan bang Uzi yang mungkin masuk akal.
"Gini deh bang, emang lo siapa yang harus tahu desa ini atau itu untuk di bangun. Sorry aja nih ye, gue cuma bingung aja gitu sama kalimat lo." Ucap Arya.
"Ia. Lo siapa bang?" Tanya bang Davin yang membenarkan ucapan Arya.
Bang Uzi menghembuskan nafasnya dengan pelan, "Gue? Gue orang yang bekerja sama dengan presiden, untuk membangun teknologi baru, di setiap desa atau pun kota." Kata bang Uzi dengan pasrah, rahasia nya harus terbongkar saat ini juga.
"Hah?" Tanya Arya dan Andre yang tidak paham.
"Hem, ternyata lo orangnya bang." Kata Abi dengan menganggukkan kepalanya.
"Lo tahu?" Tanya Lukas pada Abi.
"Tentu. Lo gak ingat? Mentri datang ke markas untuk Mengajak kerja sama?" Tanya Abi pada Lukas.
Lukas diam, mengingat kembali hal terpenting yang di lupakan nya.
"Kapan?" Tanya Zidan.
"Lo gak ada." Jawab Andre.
"Gue di mana?" Tanya Zidan.
"Lo sama Arya waktu itu ke TIMEZONE." Kata Andre dangan menekan akhir kalimatnya.
Zidan diam, seketika matanya melotot ke arah Andre, "Gue gak main di sana!" Seru Zidan.
"Siapa yang bilang lo main di sana?" Tanya Andre dengan menaikan satu alisnya.
Arya tertawa dengan memegang perut nya, "Bwahahahaha, Zidan main odong-odongan." Ucap Arya dengan semakin mengeraskan suara tawanya.
"Bang*e! Gue gak ada main odong-odongan!" Kesal Zidan.
Andre tertawa, lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celana, "Lihat nih." Kata Andre pada Zidan.
Zidan dengan kesal menarik hp Andre, dan melihat isi di dalam layar tersebut. Sedangkan Andre dan Arya tertawa puas mengingat isi di dalam layar hp Andre.
Saat Zidan melihat isi di dalam layar hp Andre, matanya melotot dengan sempurna, wajah nya merah padam menahan kesal dan malu. "ARYA!" Teriak Zidan dengan melempar hp Andre ke arah Arya.
"AH!" Teriak Arya.
"HP GUE!" Teriak Andre.
...----------------...
"Eli." Panggil Daniel.
"Yah bang?" Jawab Eli.
Eli dan Daniel tidak akan bersikap formal, jika hanya berdua, beda lagi kalau sama anggota.
"Masi ingat sama Hanes?" Tanya Daniel.
Saat ini, Eli dan Daniel sedang berjalan untuk keluar dari desa Dirgayu. Dan menuju helikopter yang berada di bukit depan desa tersebut.
Eli nampak seperti orang yang sedang berpikir, Dan saat mengingat sesuatu, kakinya berhenti untuk berjalan.
__ADS_1
Eli dan Daniel saling pandang, "ANES!" Seru mereka berdua.
"Suruh warga dan anggota Clouts keluar kesekarang!" Suruh Eli dengan tegas.
"Baik!" Jawab Daniel, dan berlari kembali kedalam desa.
Eli mengambil HT yang terikat di pinggangnya, kemudian berlari keluar dari desa Dirgayu. "Tim satu masuk! Tim satu masuk!" Seru Eli dengan kaki yang terus berlari, mengingat jalan keluar dari desa cukup jauh.
"Masuk-masuk!"
"Kembali! Ke bukit di mana helikopter berada! Segera!"
"Siap Queen!"
Saat sampai di luar desa, Eli melangkahkan kakinya arah kios yang berada di sebelah nya.
"Permisi." Panggil Eli, saat tidak melihat ada nya penjaga kios tersebut.
"Permisi!" Panggil Eli dengan menaikan oktaf suaranya.
"Tunggu." Balas orang dari dalam kios tersebut.
Sementara menunggu, Eli kembali mengambil HT nya dan berjalan menjauhi kios tersebut, "Daniel masuk! Daniel!" Seru Eli.
"Masuk Queen!"
"Sudah berjalan?"
"Sudah, kami sedang berjalan."
"Nanti masuk ke bus anggota."
"Siap!"
Eli meletakkan kembali HT nya di tempat, kemudian berjalan mendekati kios tadi.
"Eh, eneng. Mau beli apa?" Tanya penjaga kios tersebut.
"Tiga karton gelas air. Sama semua snack yang di jual." Jawab Eli.
"Oke. Tunggu yah." Kata penjual tersebut, dan kembali memasuki kios besar nya.
"Pak!" Panggil Eli saat melihat supir bus anggotanya.
"Eh, ia. Ada apa non?" Tanya supir bus itu dengan ramah.
"Siap." Jawabnya dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kios.
"Eh pak." Panggil Eli, dan sedikit berlari ke arah supir tersebut.
"Ia?" Tanyanya.
"Nanti Daniel datang sama warga, langsung suruh masuk bus dan jalan ke Bandung. Ini perintah dari Queen." Kata Eli dengan tegas.
"Baik." Jawab supir tadi.
"Dan ini uang belanjaan itu, sama bensin." Kata Eli lagi dengan memberikan uang merah berlembar-lembar.
"Oke nona." Kata sang supir.
Eli berlari ke arah bukit yang tidak terlalu tinggi itu, kemudian dapat melihat anggota yang sedang berlari kearahnya.
Eli mengambil hp nya yang berada di saku celana, kemudian mengotak-atik nya dengan cepat.
"Halo Queen."
"Bawa anggota dengan jumlah lima puluh ke desa Dirgayu."
"Baik."
Tut.... Tut.... Tut....
Panggilan terputus, Eli mengambil kertas dan bolpoin yang berada di dalam helikopter.
Tangan Eli mulai menari-nari di atas kertas berwarna putih tersebut, kegiatannya itu tidak lama. Selesai menulis, bertepatan dengan anggotanya yang datang.
"Queen!" Seru anggotanya.
Eli berbalik, "Dengar, teman kita sedang dalam bahaya. Kita akan menolong mereka, beserta inti Clouts, dan kalian segera pakai baju pelindung." Suruh Eli, kemudian turun dari bukit, ke arah supir bus yang sedang menaikan barang.
"Pak!" Panggil Eli dengan sedikit berteriak.
"Astaga." Kaget supir tersebut.
"Maaf buat kaget. Ini tolong kasi ke Arnol." Ucap Eli, dengan memberikan kertas yang sudah di lipat-lipat olehnya.
__ADS_1
"Ba-"
"Permisi!" Kata Eli dengan cepat, lalu berlari kembali ke atas bukit.
"Sudah Queen." Ucap anggotanya yang sudah selesai memakai baju pelindung.
"Masuk." Suruh Eli, dan mereka memasuki helikopter tersebut.
"Pak, ke arah Barat." Komando Eli.
"Siap."
Helikopter sudah terbang di udara, dan Eli mulai mengatur strategi bersama lima anggotanya.
"Sebaiknya Queen minum dahulu." Suruh anggotanya, dan di lakukan Eli.
"Biar bisa berteriak di medan tempur nanti." Lanjut anggotanya, kemudian tertawa, termasuk Eli.
...----------------...
"Pak." Panggil Daniel.
"Eh, aden. Ayo cepat masuk, ini perintah Queen." Ucap supir bus.
Daniel menggelengkan kepalanya, "Tidak pak dua anggota Clouts saja yang ikut." Kata Daniel.
Anggota Clouts saling pandang, "Kemana?" Tanya Arnol.
"Amankan warga." Jawab Daniel.
"Ini sebenarnya ada apa?" Tanya Bayu dengan bingung.
"Ia. Ini ada apa? dan di mana nak Eli?" Tanya bu Lia.
"Maaf, saya membawa kalian dengan terburu-buru untuk keluar. Keadaan saat ini sangatlah tidak aman." Jawab Daniel yang berusaha tenang.
"Maksud nya apa? Dan lo siapa?" Tanya Arnol dengan sedikit sinis.
"Kasus yang terjadi di desa ini, kami kenal orang nya, dan dia sangat berbahaya." Jawab Daniel.
"Tahu apa lo?" Tanya Bayu.
"Gue tahu, karena pernah berhadapan dengan dia." Jawab Daniel.
"Siapa lo?" Tanya Arnol.
"Tangan kanan Morgenster." Jawab Daniel.
"Morgenster? Lo tangan kanannya?" Tanya Arnol dan Bayu.
"Ia. Cabang Jayapura." Jawab Daniel.
"Hem, sorry bang!" Kata Bayu dan Daniel yang tidak enak hati, karena menganggap remeh sebelum nya.
"Tidak masalah. Dan gue mau, dua orang dari kalian jaga warga." Ucap Daniel dengan tegas.
"Saya dan Arnol saja." Jawab Bayu. "Dan anggota yang lain, kembali ke markas." Lanjut Bayu.
"Oke, cepat." Suruh Daniel.
"Eh, tunggu den. Maaf, ini ada titipan buat yang namanya Arnol." Kata supir dengan memperlihatkan kertas yang di lipat-lipat.
"Saya?" Tanya Arnol.
"Ia. Emang ada nama Arnol lagi den?" Jawab dan tanya supir bus.
"Hanya saya." Jawab Arnol, dan mengambil kertas dari supir bus.
Arnol membuka kertas tersebut, dan membacanya dengan teliti.
...Anggota Clouts ke hutan arah barat, di mana inti kalian berada. Buat strategi pengepungan, dan siap-siap bertempur di sana. Ambil senjata di bagasi bus Morgenster. ...
"Ujang dan Erwin yang ikut warga." Kata Arnol yang sudah selesai membaca surat dari Eli.
"Oke bang." Jawab Ujang dan Erwin.
"Ayo masuk ke bus." Suruh Daniel.
Warga, Ujang dan Daniel masuk ke dalam bus. Arnol dan Daniel jalan ke arah bagasi, untuk mengambil senjata.
Ingat, dua geng tersebut bukan seperti biasanya, mereka hampir sama seperti mafia. Namun di sini, mereka lebih suka membangun geng motor, untuk menyatukan geng lain, agar menjadi satu. Karena dasarnya, geng motor sebelum nya adalah satu, dan ini akan di bahas pada part yang akan datang.
"Hati-hati pak." Seru Bayu dan Arnol.
"Ayo." Ajak Daniel saat bus sudah jalan, dan senjata di tangan masing-masing.
__ADS_1
"Kali ini lo akan musnah." Batin Daniel.
Bersambung....