
"Oh, jadi kalian sahabatan." Kata Anggun sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
"Yah." Jawab Arya dan Andre bersamaan.
"Tunggu, kak Eli punya sahabat di luar negeri gimana caranya?" Tanya Monika.
"Emang nya kenapa?" Tanya Anggun sinis.
"Yah, gak papa. Kan selama ini kak Eli selalu di Indonesia. Kalau secara online, emang bisa bahasa asing?" Kata dan tanya Monika.
"Tahu apa lo soal Eli?" Batin seseorang.
"Bu bos ke London lah." Jawab Arya enteng.
"Kapan?" Tanya semuanya kecuali Eli, dan kelima cowok tadi bersamaan.
"Em, terakhir satu tahun yang lalu." Jawab Arya sambil mengingat-ingat kapan terakhir kali bu bos nya itu ke London.
"Hah?" Kaget mereka, yang bertanya.
"Kenapa?" Tanya Andre bingung.
"Gak papa. El, lo kok keluar negeri gak ngajak?" Tanya Anggun.
Eli hanya diam, tidak niat menjawab pertanyaan Anggun.
"Mau makan?" Tanya Eli pada Abi.
"Ia." Jawab Abi sambil menegakan tubuhnya.
"Makan apa?" Tanya Eli.
"Kamu." Jawab Abi dengan bisikan di telinga Eli.
"A... Abi, jangan gitu ih. Geli." Kata Eli yang masih berusaha tenang. Padahal mah jantung lagi disko.
"Izinkan ke guru." Kata Abi dan langsung menggandeng tangan Eli dengan lembut keluar kantin.
"Sial, Eli dapat yang lebih ganteng. Sepertinya dia sangat kaya." Batin seseorang membuat Eli geram.
"Mau kemana?" Teriak Ferni tanpa sadar.
"Biarkan aja. Mereka butuh waktu, udah lama LDR." Kata Andre. "Pesan makan Ar." Lanjut Andre.
"Kok gue?" Tanya Arya.
"Kenapa?" Tanya Andre.
"Lo juga." Kata Arya dan menarik Andre untuk ke stand makanan.
"Eli sama Abi pacaran berapa lama?" Tanya Anggun tiba-tiba.
"Empat tahun." Jawab Lukas membuat mereka kaget, tentu nya kecuali Zidan dan Lukas.
"Tapi kok nyantoli Leo?" Tanya Monika.
"Uji Abi." Jawab Zidan santai.
Monika hanya mengangguk saat mendengar jawaban Zidan.
...----------------...
"Mau kemana?" Tanya Eli.
"Apartment aku." Jawab Abi.
Hening, Eli memilih melihat pemandangan melalui jendela mobil, dan Abi fokus pada jalanan.
"Ayo." Ajak Abi sambil memberikan tangannya untuk di genggam.
"Aku mandi dulu." Kata Abi, saat ini mereka sudah tiba di dalam apartment. Apartment yang bagus, sangat luas.
"Ia. Aku buatkan kamu makan siang." Jawab Eli dan berjalan ke arah dapur.
Dua puluh menit berlalu, Abi keluar dari kamar mandi dengan telanjang dada, dan hanya menggunakan celana pendek. Perutnya yang sixpack, serta rambut yang basah, membuatnya sangat tampan.
__ADS_1
Abi jalan menuju dapur. Saat di dapur dia melihat Eli yang sedang berkutat dengan masakannya. Rambut yang di ikat asal, membuat Eli semakin imut. Pipi yang chubby, tubuh yang pendek, dan berisi. Sangat sempurna jika di lihat dari fisik.
"Masak apa hem?" Tanya Abi sambil memeluk Eli dari belakang.
"Aku masakin nasi goreng aja yah? Soal nya di kulkas, hanya ada bahan-bahan untuk buat nasi goreng. Nanti kita belanja untuk isi kulkasnya." Kata Eli.
"Ia." Jawab Abi, dengan tangan yang belum di lepaskan, bahkan semakin erat saja.
"Abi, kamu minggir dulu." Kata Eli yang jengah terhadap pacar nya ini.
"Gak mau. Aku kangen kamu Ele." Jawab Abi.
Eli tidak menjawab, tangannya terus mengaduk nasi yang di goreng itu, kemudian berjalan mengambil piring, untuk di isi.
"Udah. Ayo." Ajak Eli. Abi melepaskan pelukan nya, dan mengambil alih piring yang di bawa Eli.
"Kok cuma satu?" Tanya Abi.
"Kamu aja yang makan. Aku udah makan." Jawab Eli.
"Ta-" Perkataan Abi terpotong karena nasi yang masuk dalam mulutnya.
"Makan." Kata Eli dengan mata yang di buat melotot.
Abi hanya diam, "Bisa gawat kalau singa betina ngamuk." Batin Abi.
"Aku dengar." Kata Eli yang ternyata dengar batin Abi.
"Hehe. Maaf honey." Kata Abi lalu mencium pipi Eli, yang membuatnya diam seperti patung.
"Aduh jantung, diam ih. Malu kalau di dengar." Batin Eli.
Abi hanya tersenyum tipis saat melihat pipi Eli yang merona, oh ayo lah. Eli sangat imut.
"Cepat." Kata Eli mengalihkan suasana.
...----------------...
"Ini tasnya gimana?" Tanya Anggun.
"Ke rumahnya?" Tanya Anggun.
"Emang Eli di mana?" Tanya Ferni.
"Gak tahu." Jawab Anggun polos.
"Tuh anak main di tarik aja tadi." Kesal Ferni.
Saat ini, jam sekolah sudah berakhir, Anggun dan Ferni masih diam di dalam kelas.
"Ayo ke parkiran. Nanti kita telpon dia." Usul Ferni dan berjalan meninggalkan Anggun di dalam kelas.
"Tunggu Er!" Teriak Anggun, kemudian mengambil tas Eli lalu mengejar Ferni.
"Ferni!" Teriak Anggun di koridor.
"Eh bangsul! Si Ferni malah lari. Nih anak cari gara-gara." Kata Anggun yang geregetan.
"FERNI!" Teriak Anggun lagi, tetapi tidak di perduli kan Ferni.
"Ini gue pengen timpuk dia." Kesal Anggun.
"Gue bisa tua di sini gara-gara Ferni!" Anggun terus saja bicara tanpa henti. "Mulut gue capek." Keluh Anggun.
"Eh, lo bicara sama siapa?" Tanya seseorang yang tepat di belakang Anggun, sambil memegang pundaknya.
"Anjrot! Kaget gue!" Kata Anggun sambil memegang dadanya.
"Lo kenapa dah?" Tanya Cakra. Yah, dia Cakra.
"Lo ngapain di sini?" Tanya Anggun. Bukannya menjawab tetapi bertanya.
"Ini kan sekolah, bebas dong gue di sini. Gue kan salah satu siswanya." Kata Cakra.
Anggun hanya memutar bola mata nya dengan malas. Sungguh sangat lelah dirinya selalu berdebat dengan Cakra. Mau berteman tetapi niat itu selalu hangus saat Cakra selalu mengganggu dirinya.
__ADS_1
"Kenapa bola mata lo? Mau copot?" Tanya Cakra.
"Gue malas debat sama lo." Kata Anggun, dan hendak pergi dari hadapan Cakra, tetapi kalah cepat. Karena Cakra menggenggam pergelangan tangan Anggun dengan lembut.
"Nggun." Panggil Cakra.
"Apa?" Jawab Anggun. "Aduh, ini jantung. Gue harus periksa." Batin Anggun, yang jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Lo masih marah gue soal itu?" Taya Cakra hati-hati.
"Ia lah! Lo pikir apaan? Kalau gak niat mending menjauh. Jangan jadikan itu permainan." Kata Anggun dengan lirihan di akhir kalimatnya.
"Maaf." Kata Cakra pelan. "Gue benar-benar minta maaf." Lanjutnya sambil berlutut di hadapan Anggun, membuatnya kaget.
"Eh, lo ngapain?" Tanya Anggun.
"Gue minta maaf Nggun. Gue tahu, kesalahan gue waktu itu sangat fatal." Kata Cakra yang terlihat putus asa.
"Kalau lo tahu itu kesalahan fatal, kenapa di lakukan?" Tanya Anggun getir.
"Gue khilaf." Jawab Cakra.
"Lo berdiri. Gue bukan siapa-siapa lo yang harus di lututin." Kata Anggun dan segera berlalu dari hadapan Cakra.
"Anggun!" Teriak Cakra, membuat langkah Anggun terhenti. Namun tidak berbalik.
"GUE SAYANG LO!" Teriak Cakra.
"Gue juga. Tapi lo hancurin rasa sayang gue Cakra." Kata Anggun dengan lirihan.
Anggun hendak melangkah, tetapi perkataan Cakra kembali membuat langkah nya terhenti.
"Gue akan buktikan. Kalau gue hanya sayang dan cinta sama lo." Kata Cakra, membuat senyuman terbit di bibir tipis Anggun.
"Gue tunggu." Jawab Anggun, dan berlalu dari sana, meninggalkan Cakra yang tersenyum bahagia.
"Gue akan buktikan Anggun. Gue bener-bener sayang dan cinta sama lo." Kata Cakra entah pada siapa.
...----------------...
"Anjay!" Si kuyang main gituan kagak tahu tempat!" Kata Ferni dengan terkejut. Ferni keluar kan hp nya dari saku rok, kemudian video hal yang sedang di lihat saat ini.
"Aduh. Terlalu lama ini. Gue udah capek." Keluh Ferni.
"Persetan! Gue udah sejam di sini." Kata Ferni dan menghentikan acara videonya, kemudian berlalu dari sana.
"Dari mana lo?" Tanya Anggun tiba-tiba.
"******! Ngagetin lo!" Sentak Ferni.
"Lo tahu, gue udah nungguin lo satu jam dua puluh menit. Lo nya malah marah-marah. Tinggalin gue lagi lo." Kata Anggun menggebu-gebu.
"Siapa yang nyuruh lo nungguin gue? Gue bawa mobil kok." Kata Ferni malas.
"MASALAHNYA KUNCI MOBIL GUE LO AMBIL TADI NYET!" Teriak Anggun.
"Ais. Gue lupa." Jawab Ferni dengan meringis.
Anggun hanya diam, sambil mengatur nafasnya. OMG, saat ini Anggun sedang datang bulan, jadi di maklumi oleh Ferni.
"Tadi lo dari mana?" Tanya Anggun kepo.
"Oh, gue tadi ikutin si kuyang, sampai di, gudang belakang sekolah." Jawab Ferni.
"Kuyang siapa?" Tanya Anggun.
"Monika lah!" Sambar Ferni.
"Kok namanya kuyang?" Tanya Anggun polos.
"Dia selalu berkibar dimana-mana." Jawab Ferni malas, dan di jawab dengan anggukan kepala oleh Anggun.
"Ngapain dia di sana?" Tanya Anggun.
"Dia...
__ADS_1