
"Astaga, ini udah telat!" Kata Anggun sambil mondar mandir tidak jelas.
"Mangkanya cepat!" Kata Ferni sambil memakai kaos kaki dengan cepat.
"Lo gak lihat? Gue udah siap dari tadi." Kata Anggun dengan sombong. "Karena kalian kebablasan tidurnya, buat gue nungguin lo pada. Jadinya kita telat berjamaah kan?" Lanjut Anggun yang sudah mulai cerewetnya.
"Masih pagi Nggun." Peringat Eli.
"Lo juga! Bukannya cepat malah pakai sepatunya santai." Kesal Anggun.
"Lo juga! Tuh rambut kayak genderuwo!" Kata Ferni membuat Anggun langsung memegang rambutnya.
"Astaga! Gue belum sisir rambut!" Heboh Anggun. "Eh! Lo lagi ikut MOS?" Tanya Anggun pada Ferni. Ferni hanya memandang Anggun dengan bingung. "Itu kaos kaki lo kenapa warna nya beda?" Tanya Anggun dengan tertawa kecil, kemudian segera mengurus rambutnya.
"OMG!" Kesal Ferni, dan kembali memakai kaos kaki yang benar.
"Is! Lama!" Kata Eli, dan mengambil tasya, kemudian keluar dari kamar.
"ELI, TUNGGU!" Teriak Anggun dan Ferni bersama. Dengan segera, mereka mengejar Eli.
"Pagi!" Sapa Eli, Anggun dan Ferni pada mamah Fana dan bibi Siska. Saat ini mereka bertiga sudah tiba di ruang tamu, dan melihat mamah Fana beserta bibi Siska yang sedang duduk santai.
"Pagi sayang. Kalian mau berangkat?" Tanya mamah Fana.
"Ia mah." Jawab Anggun.
"Tapi kalian udah telat setengah jam." Kata bibi Siska sambil melirik jam yang berada di dinding.
"Gak papa." Jawab Ferni. "Kita pamit." Lanjut Ferni, sambil mencium punggung tangan mamah Fana dan bibi Siska, di ikuti Eli kemudian Anggun.
"Gak makan dulu?" Tanya mamah Fana.
"Gak mah!" Teriak Eli, Anggun dan Ferni sambil berlari.
"Anak-anak ini!" Gereget mamah Fana.
"Bilang abangnya untuk suruh mereka makan." Kata bibi Siska.
"Kalau mau. Tahu kan mereka bagaimana?" Kata mamah Fana sedih.
"Sabar aja, semua akan berakhir, entah itu cepat, atau lambat." Kata bibi Siska menenangkan, sedangkan mamah Fana hanya mengangguk.
...----------------...
"Ini gerbang di tutup segala." Gerutu Anggun. Saat ini, mereka sudah tiba di depan sekolah AR, dan jelas, mereka terlambat.
"Gimana ini?" Tanya Ferni bingung.
"Ini si bapak penjaga ke mana? Astaga!" Anggun terus berbicara tidak jelas.
"Manjat!" Usul Eli tiba-tiba.
"Pagar?" Tanya Anggun dan Ferni.
"Tembok!" Jawab Eli, dan segera berjalan untuk mengelilingi sekolah.
"Aduh. Nih sekolah pakai luas banget!" Oceh Anggun.
"Lo ngoceh mulu!" Kesal Ferni karena sepanjang perjalanan, suara Anggun lah yang menjadi pengiringnya.
"Yah gue nya kesel." Jawab Anggun sambil menghentak-hentakan kakinya.
"Ini juga salah kita, pakai telat." Kata Ferni sambil terus berjalan di belakang Eli.
"Kita? Lo aja kali!" Kata Anggun.
"Heh saropah! Kalau lo bangunkan kita pagi tadi. Saat ini kita udah di kelas." Sambar Ferni.
"Yah kan gue gak ingat." Bela Anggun.
"Parah lo! Sama sahabat sendiri gak ingat!" Cibir Ferni.
"Yah kan lo tahu! Kalau mata gue udah sesat, maka waktu gue terjun!" Kata Anggun.
"Aduh!" Kata Anggun dan Ferni kompak.
"Lo kalau mau berhenti bilang!" Kesal Anggun pada Ferni.
"Ini si Eli yang berhenti mendadak." Kesal Ferni sambil mengelus kepalanya.
"Berisik." Kesal Eli.
"Lo ngapain berhenti?" Tanya Anggun yang belum paham situasi.
"Udah nyampe." Sambar Ferni.
Anggun melihat tembok di hadapannya yang sangat tinggi, "ini manjat?" Tanya Anggun memastikan.
"Ia." Jawab Eli.
__ADS_1
"Caranya?" Tanya Ferni.
"Ada tangga?" Tanya Anggun.
"Lo lihat tangga?" Tanya Ferni.
Anggun mengedarkan pandangannya ke seluruhnya penjuru, "tidak." Jawab sambil menggeleng polos.
"Yah berarti gak ada Nggun!" Kesal Ferni.
"Lempar tas cepat!" Kata Eli, kemudian melempar tasnya sendiri, di ikuti Anggun dan Ferni.
"Lo berdua jongkok." Pinta Eli.
"Buat?" Tanya Anggun dan Ferni bersama.
"Cepat." Kesal Eli.
Anggun dan Ferni jongkok, kemudian Eli menginjak bahu mereka berdua. "Eh!" Kaget Anggun dan Ferni.
"Diam. Enter gue jatuh." Kata Eli sambil memegang tembok dengan benar.
"Aduh! Lo ngapain nyasar di pundak gue segala?" Tanya Anggun malas.
"Berdiri." Perintah Eli.
"Enak aja lo! Lo itu berat Eli!" Kesal Anggun.
"Diam. Ayo cepat!" Kata Ferni, kemudian perlahan berdiri, di ikuti Anggun.
"Oke, dikit lagi." Kata Eli senang. "Cepat berdirinya." Kata Eli mendesak.
"Sabar elah! Lo itu gak ringan yah!" Kesal Ferni.
"Kalau ringan, ada angin dikit udah terbang melayang dia." Kata Anggun sambil cekikikan, di ikuti oleh Ferni.
"Kayak layang-layang." Tambah Ferni sambil tertawa.
"Kita pasang tali rapiah aja, supaya bisa di geser sana-sini." Kata Anggun lagi sambil tertawa besar.
"Eh, diam! Enter gue jatuh!" Peringat Eli yang tidak di hiraukan oleh mereka berdua.
"Terus tiba-tiba nyangkut di pohon!" Lanjut Ferni.
"BWAHAHAHA. Gue langsung tarik-tarik tali nya." Lanjut Anggun.
"Woy! Gue jatuh entar!" Kata Eli karena tubuhnya yang sudah bergerak ke sana-sini.
"Aah!" Teriak Eli.
"Bebek!" Kata Ferni.
"Kampret!" Umpat Anggun.
"Lo ngapain?" Tanya Ferni pada Eli yang berada di atasnya.
"Berdiri Eli!" Suruh Anggun.
Saat Anggun tanpa sadar mendorong kaki Eli yang berada di pundaknya tadi, sekarang mereka sedang berlabuh di rumput hijau. Karena tidak seimbang tadi, Eli jatuh, kemudian menimpah Anggun dan Ferni.
"Abisnya lo dorong gue!" Kesal Eli, dan berdiri dari rebahan nya.
"Soalnya pundak gue udah sakit!" Kata Anggun, kemudian mendorong kasar tubuh Ferni yang berada di atasnya.
"Santai dong! Ini badan gue juga sakit." Kesal Ferni.
"Gue yang lebih!" Kata Anggun sambil menepuk-nepuk dadanya.
"Kita jatuh juga karena lo!" Kesal Ferni sambil mengibas-ibas kan tangannya yang kotor.
"Eli nya tuh. Terlalu lama naiknya." Bela Anggun.
"Karena lo ketawa mulu!" Sambar Eli dengan mata tajamnya. "Lo juga! Malah ngikut tertawa." Kata Eli lagi sambil menatap Ferni.
"Ya udah. Pakai tangga aja." Usul Anggun.
"Kalau ada, udah di pakai dari tadi." Kata Ferni.
"Ais. Gue gak mau serahkan bahu lagi." Kata Anggun memperingati.
"Gak ada cara lain Nggun!" Kata Ferni yang gereget.
"Cepat!" Pinta Eli.
"Lo nyuruhnya enak!" Sambar Anggun cepat.
"Cepat elah! Udah satu jam kita telat ini." Kata Eli jengah.
"Ayo!" Ajak Ferni.
__ADS_1
Anggun dan Ferni kembali jongkok, kemudian dengan cepat, Eli naik ke punggung mereka.
"Cepat!" Kata Anggun.
"Lo berdua diam!" Tajam Eli.
Saat Anggun dan Ferni sudah berdiri dengan sempurna, Eli segera naik ke atas pagar.
"Akhirnya." Kata Anggun sambil menyandarkan tubuhnya di pagar itu.
"Cepat." Perintah Eli.
"Apa?" Tanya Ferni.
"Naik." Kesal Eli.
"Nggun, pinjam pundak lo." Kata Ferni pada Anggun.
"Dih! Ogah gue! Sakit ini." Tolak Anggun.
"Terus gimana?" Tanya Ferni.
"Yah pakai pundak lo aja!" Usul Anggun dan membalikan tubuh Ferni, menjadi berhadapan dengan dinding pagar.
"Malas gue! Kalau lo yang di atas duluan, bisa kebalik gue!" Kata Ferni sambil menapis tangan Anggun yang berada di pundaknya.
"Maksudnya?" Tanya Anggun bingung.
"Lo ga bisa narik gue nanti di atas." Kata Ferni mencoba sabar.
"Kan ada Eli." Jawab Anggun.
"Masalahnya, lo gak bisa di ajak serius!" Kesal Ferni.
"Lo mau seriusin gue? Tap-
"Lo diam! Dan cepat jongkok!" Perintah Ferni dengan tatapan membunuhnya. Mau tidak mau, Anggun terpaksa merelakan kembali pundaknya.
Ferni naik ke pundak Anggun.
Dengan cepat, Ferni naik ke atas pagar di bantu dengan Eli.
"Sakit!" Keluh Anggun, sambil duduk di rumput dengan memandang tembok yang besar itu.
"Cepat Anggun! Naik!" Kata Ferni.
"Gimana? Pakai pundak gue?" Tanya Anggun yang sudah bleng.
"Tangan lo gue dan Eli pegang. Kaki lo manjat temboknya." Kata Ferni lagi. Anggun bangkit dari duduknya. Kemudian memberikan kedua tangannya kepada Eli dan Ferni.
"Yang betul! Jangan lepas. Bisa remuk badan gue." Peringat Anggun.
"Lo juga naik yang benar." Peringat Ferni.
"Cepat!" Kata Eli.
Dengan segera, Anggun manjat tembok tersebut.
"Berat bener." Kata Ferni dengan pelan. Jika Anggun dengar bisa gagal acara manjat mereka nanti.
"Astaga! Cepat. Anggun!" Kesal Ferni.
"Tangan lo berdua licin." Alasan Anggun.
"Jangan di licin kan." Kata Ferni ngaco.
"Oke!" Jawab Anggun semangat!
"Gas kuy!" Semangat Ferni. Dengan cepat, Anggun manjat tembok tersebut.
"Jangan lupa re-"
Perkataan Eli harus terpotong dengan terjadinya kecelakaan.
Untuk kedua kalinya, mereka jatuh sambil saling menindis. Bedanya, Ferni yang paling bawah, lalu Eli, kemudian Anggun.
"M." Kata Eli sambil menutup matanya.
"Woy! Bangun elah!" Kata Ferni sambil menggoyangkan tubuhnya ke kanan-kiri.
Anggun dengan segera bangun, kemudian menarik Eli untuk berdiri.
"Bantuin." Sungut Ferni. Eli dan Anggun menarik Ferni untuk berdiri.
"Untung gue di atas." Kata Anggun dengan senyum idiot nya.
"Gara-gara lo." Kata Eli cepat, sebelum ada kalimat yang keluar dari bibir Ferni.
"KALIAN! IKUT SAYA!" Tegas seseorang membuat mereka bertiga menatap ke arah sumber suara.
__ADS_1
"Eh...