Elena'S Transmigration Story

Elena'S Transmigration Story
Dua Puluh Dua


__ADS_3

"Sungguh, teramat sangat panas." Keluh Anggun.


Di sinilah mereka bertiga sekarang, lapangan utama, menghadap pada tiang bendera, dengan memberikan hormat.


"Semangat!" Teriak seseorang. Dengan gerakan cepat, Eli, Anggun dan Ferni mencari sumber suara tersebut.


"Belikan minum dong." Pinta Anggun tidak tahu malu.


"Enak aja. Orang yang di hukum itu, harus jalani dengan benar." Kata orang tersebut.


"Emang gak boleh minum kalau di hukum?" Tanya Anggun pada Ferni.


"Gak tahu." Jawab Ferni acuh.


"ARYA!" Panggil seseorang. "Di sini lo, ngapain?" Tanya orang itu sambil merangkul Arya. Yah, yang bersama ke tiga gadis itu adalah Arya.


"Nonton." Jawab Arya pada Andre. Yah, Andre lah yang memanggil Arya.


"Tadi izinnya ke toilet." Kata Andre.


"Udah, tapi nyasar." Jawab Andre lagi.


"Mending pergi." Suruh Eli pada Arya dan Andre.


"Lah, ada ibu bos toh. Ngapain bu? Pakai hormat segala." Kata Andre dengan senyum idiot nya.


"Kalian! Ngapain di sini?" Tanya pak botak, selaku guru BK. Nama pak botak adalah, Bondan Takwa. Karena ketakwaannya lah, dia di angkat menjadi guru BK, salah satu guru killer di AR. Anak-anak XI IPA 3, menyingkat namanya menjadi Botak. Pak botak juga tidak memiliki rambut, karena itu pak Bondan tidak keberatan, dengan alasan XI IPA 3. Karena sebenarnya, pak Botak itu orangnya humoris, dan itu hanya di ketahui oleh XI IPA 3, itu di sekolah, di tempat lain, mereka tidak tahu.


"Gak pak." Jawab Andre. "Kita pamit dulu pak." Lanjutnya dan menarik kerah seragam Arya.


"Lanjutkan. Bapak pantau." Kata pak Botak, dan berlalu dari sana.


"Enaknya jadi guru. Tinggal perintah." Kata Anggun.


"Tuh guru ada dendam sama kita?" Tanya Ferni.


"Kita yang salah." Kata Eli membuat Anggun dan Ferni menjadi lesu.


...----------------...


"Abi." Panggil Andre. Abi balik ke belakang, menghadap Andre sambil menaikan satu alisnya.


"Bu bos di hukum." Kata Andre.


Tanpa menjawab, Abi pergi keluar kelas, tanpa berpamitan dengan guru yang sedang mengajar.


"Abi, mau ke mana kamu? Abi!" Panggil guru itu, bu Nita. Panggilan bu Nita tidak di hiraukan oleh Abi.


"Bu!" Panggil Arya sambil menaikan tangannya.


"Ada apa?" Tanya bu Nita.


"Izin bolos." Kata Arya, dan segera keluar kelas, untuk menyusul Abi.


"ARYA!" Teriak bu Nita, yang tidak di hiraukan oleh Arya.


"Bu!" Panggil Andre dengan berdiri.


"Apa?!" Tanya bu Nita dengan kesal.


"Wish, santai bu. Slow. Kayak sendal Slow di kios-kios." Kata Andre.


"SWALLOW!" Teriak satu kelas, yang memperbaiki perkataan Andre.


"Yah itu sudah!" Jawab Andre.


"Ada apa Andre?" Tanya bu Nita lembut, berusaha sabar.


"Izin bolos." Kata Andre dengan senyum idiot nya, dan segera keluar kelas.


"ANDRE!" Teriak bu Nita, kemudian menghadap pada Lukas dan Zidan. "Kalian berdua tidak susul teman kalian?" Tanya bu Nita memancing kan matanya.


Lukas dan, Zidan saling pandang, kemudian menghadap pada bu Nita.


"Saya pintar gak bu?" Tanya Zidan.


"Yah. Nilai kamu dan teman-teman kamu bagus. Padahal kalian itu anak baru loh." Jawab bu Nita.


"Oh yah?" Tanya Zidan


Bu Nita jalan mendekati mereka, kemudian duduk di tempat Abi, sambil melihat Lukas dan Zidan.

__ADS_1


"Ia." Jawab bu Nita dengan senyumnya.


"Berarti boleh bolos dong bu." Kata Zidan sambil berdiri, di ikuti Lukas. Sedangkan bu Nita masih mencerna perkataan Zidan.


"Permisi bu." Pamit Lukas, dan berlalu, di ikuti Zidan.


"KALIAN BERLIMA! AWAS SAJA NANTI!" Teriak bu Nita. "Kalian, lanjutkan pelajarannya." Kata Bu Nita pada murid-murid XII IPA 4. Kelas Abi dan sahabatnya adalah XII IPA 4.


Semua murid kembali mengerjakan soal yang tadi di terangkan oleh bu Nita.


...----------------...


"Kalian ngapain?" Tanya Ferni frustasi, saat melihat Lukas dan Zidan yang berjalan santai ke arah mereka. Mereka? Yah, Eli, Anggun, Ferni, Abi, Arya, dan Andre. Sekarang di tambah Lukas dan Zidan.


"Kenapa?" Tanya Zidan, sedangkan Lukas menaikan satu alisnya.


"Mending kalian berlima pergi deh!" Usir Ferni.


"Dih, ogah!" Sambar Arya cepat.


"Ngapain hormat?" Tanya Zidan pada Abi, Arya den Andre.


"Di hukum." Jawab Andre.


"Karena?" Tanya Zidan lagi.


"Ke sini." Jawab Andre.


"Siapa suruh lo kesini." Cibir Arya.


"Eh, kalian berdua ngapain?" Tanya pak Botak, yang tiba-tiba datang.


"Gak pak." Jawab Zidan yang mulai waspada.


"Kalian bolos juga kan? Kayak mereka bertiga?" Tanya pak Botak sambil menunjuk Abi, Arya dan Andre.


"Gak pak." Jawab Zidan dan Lukas cepat.


"Hormat bendera, sampai jam istirahat!" Perintah pak Botak.


"Tapi pak," perkataan Zidan yang terputus.


"Tidak ada tapi-tapi! Kalau tidak mau di hukum, jangan berulah!" Kata pak Botak, dan berlalu dari hadapan mereka berdelapan.


"Aku mau bawa kamu ke kantin." Jawab Abi sambil menatap Eli.


"Masalahnya, kita gak jadi ke kantin." Kesal Eli.


"Karena Arya!" Sambar Anggun dan Ferni cepat.


"Lah, kok gue?" Tanya Arya yang tidak terima.


"Nyatanya itu lo!" Sambar Andre.


"Kalau lo gak jujur buat ngerjain pak Botak, kita udah di kantin!" Kesal Ferni. Jujur saja, dia sudah sangat setuju dengan rencana Abi dan Andre untuk mengerjai pak Botak.


"Tapi kan itu bukan rencana gue." Kesal Arya.


"Tapi lo juga terlibat kan sekarang?" Tanya Andre dengan senyumnya.


"Seharusnya tidak!" Kata Arya yang tidak menerima keadaan.


"Siapa suruh lo pakai jujur segala." Kata Anggun.


"Bapak gue bilang harus jujur!" Sombong Arya.


"Emang lo jujur selama ini sama bapak lo?" Tanya Andre.


"Yah Indak lah!" Jawab Arya dengan senyum idiot nya.


"Itu masalahnya!" Sambar Andre.


"Apa?" Tanya Arya yang gak ngerti.


"Lo sok jujur!" Tekan Ferni.


"Lo kok yang paling sensi? Lagi PMS yah?" Kata Arya.


"Kalau ia kenapa?" Tanya Ferni menantang.


"Gak! Gue udah pernah dapat pelajaran dari cewek yang PMS." Tolak Arya.

__ADS_1


"Diam." Perintah Lukas.


"Emang rencana lo apa? Dan kenapa tidak berakhir dengan sempurna?" Tanya Zidan yang tidak memperdulikan perkataan Lukas.


"Jadi, tadi gue sama Abi, pengen ngerjain pak Botak, dengan cara baik-baik. Maksudnya, sengaja membelikan air minum, tapi di campur obat sakit perut, biar bolak-balik kamar mandi. Kan jadinya kita bisa bawa ibu bos dan sahabatnya ke kantin, istirahat. Kasihan tahu."Jedanya. "Sayangnya pas pak Botak tanya, 'gak di campur apa-apakan?' Arya jawab, 'cuma di kasi obat sakit perut doang pak.' Karena itu, pak Botak marah, dan berakhir kita di hukum!" Jelas Andre sambil melototi Arya.


"Bohong dosa." Kata Arya memperingati.


"Lebih dosa lagi kalau cuma ngomong! Karena gak di lakukan." Tambah Zidan.


"Sejak kapan gue gak lakukan?" Tanya Arya.


"Sejak dulu-dulu." Jawab Andre.


"Tahu apa lo?" Tanya Arya pada Andre.


"Tahu soal aib mu." Jawab Andre dengan smirknya.


"Heleh." Ejek Arya. "Eh, gue mau tanya dari tadi, tapi lupa." Kata Arya.


"Apa?" Tanya Andre.


"Lo kok bawa obat sakit perut?" Tanya Arya.


"Gue mau kerjain lo!" Kata Andre dengan ngegas.


"Lah, kenapa?" Tanya Arya bingung.


"Soal semalam." Balas Andre cepat.


"Dih! Gak boleh gitu lah! Itu kan sudah di setujui bersama." Kata Arya.


"Tapi itu kelewatan! Masa ia, wajah tampan gue di coret-coret, terus di suruh joget, pas lo live lagi." Kata Andre menggebu-gebu.


"Itu kan permintaan yang menang." Kata Arya dengan nada mengejeknya. "Yang kalah terima aja kali." Lanjutnya ngeledek.


"Oh yah!" Kata Eli tiba-tiba sambil menatap Abi tajam.


"Apa sayang?" Tanya Abi waspada. Dia tahu, pasti Eli akan membahas soal semalam.


"Kenapa harus live kayak gitu?" Tanya Eli dingin.


"Itu permintaan Arya." Kata Abi sambil menajamkan pandangannya pada Arya dan Andre. Sedangkan Arya dan Andre bersikap tidak tahu apa-apa.


"Tapi kan kamu bisa tolak Abi! Kamu gak lihat, banyak komentar yang membahas kamu." Tanya Eli dengan menggebu-gebu.


"Emang bahas gimana?" Tanya Abi yang buat Eli semakin panas.


"Tahu ah!" Jawab Eli dan berjalan untuk berdiri di dekat Lukas.


"Kok pindah?" Tanya Abi bingung, tetapi tidak mendapatkan jawaban.


"Bu bos marah." Batin Arya.


"Aduh, bisa di cincang gue sama Abi." Batin Andre ngeri.


"Gak peka banget! Gak tahu gue cemburu apa pas baca komentar." Batin Eli dengan perasaan bercampur aduk.


"Dia cemburu." Kata Ferni tiba-tiba.


"Hah?" Tanya Abi yang masih belum mengerti.


"Gini amat ketua Clouts." Batin Lukas.


"Kayak bukan teman gue." Batin Zidan.


"Komentar. Banyak yang bilang lo ganteng, pengen di miliki. Di ajak bertemu, apa lagi lo pas gak pakai baju, sorry yah El, tapi perut Abi emang bagus." Kata Anggun.


"Lo kenapa gak pakai baju?" Tanya Ferni pada Abi. Ferni gak akan munafik, jika di taya 'bagus gak perut gue yang kotak-kotak?' Dengan gerakan cepat, Ferni jawab 'bagus. Bagus banget malah.' Gak akan munafik!


"Andre tumpahkan Coca-Cola di baju gue." Jawab Abi datar.


"Emang yah! Biang keroknya tuh lo pada!" Kata Anggun sambil menunjuk Arya dan Andre.


"Kenapa lo nya yang marah? Itu biar jadi urusan gue, Andre dan Abi." Kata Arya.


"Tapi karena lo, sahabat gue gak tidur semalam! Dia tidur jam empat pagi, bayangin! Karena itu kita telat." jelas Anggun menggebu-gebu.


Arya diam, kemudian melihat Eli yang memasang wajah datarnya. "Bu bos." panggil Arya, tetapi gak ada jawaban.


Abi menghampiri Eli yang berada di tengah-tengah Zidan dan Lukas. "Sayang. Ak-" Perkataan Abi terpotong.

__ADS_1


"Gak usah dekat-dekat." Peringat Eli dengan nada datarnya.


"Kenapa gue gak pakai baju sih semalam? Gue juga pakai acara lupa segala!" Batin Abi yang frustasi.


__ADS_2