Elena'S Transmigration Story

Elena'S Transmigration Story
Empat Puluh Dua (Hantu?)


__ADS_3

Keluarga Prayaga saat ini sedang berkumpul di ruang keluarga, dengan berbagai macam kegiatan.


"Mah, ke puncak besok yah." Bujuk Monik dengan memeluk tante Ghea dari samping.


"Ngapain?" Tanya tante Ghea dengan bingung.


"Liburan." Jawab Monik dengan girang.


"Belum waktunya liburan." Jawab tante Ghea.


"Mamah, Monik mau kita semua liburan ke puncak. Tiga hari aja." Kata Monik dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tidak, besok kamu sekolah." Kata tante Ghea.


Monik melepaskan pelukannya, kemudian beralih ke uncle Rizky. "Pah, liburan yah...." Bujuk Monik.


"Besok kan kamu sekolah." Kata uncle Rizky dengan mengelus puncak kepala Monik.


"Yah pah, tiga hari aja." Ucap Monik dengan tetap membujuk."


"Ya udah, besok kita ke puncak." Jawab uncle Rizky karena tidak tahan saat melihat air mata Monik yang akan jatuh.


"Tidak." Jawab tante Ghea dengan cepat.


Tes. Air mata Monik berhasil meluncur dengan bebas, kepalanya menunduk dengan sedih, membuat keluarga kasihan.


"Tante, gak papah yah. Besok kita semua liburan." Kata bang Devin yang memihak pada adik tersayang.


"Tidak bisa Devin. Besok kalian sekolah." Jawab tante Ghea yang berusaha membuat bang Devin dan Monik mengerti.


"Kita kan bisa izin." Jawab bang Devin.


"Tetap saja, membuat nilai kalian di kurangi karena tidak memasuki kelas." Jawab tante Ghea dengan malas.


"I**a kah?" Pikir anak-anak muda keluarga Prayaga itu.


"Biar saja mereka izin, lagian cuma tiga hari." Kata uncle Rizky dengan menghapus air mata Monik.


"Tidak." Jawab tante Ghea.


"Ayolah mah...." Bujuk Monik yang tidak di hiraukan oleh tante Ghea.


"Mah...."


"Mah...."


"Ia yah?"


"Mamah kan baik."


Tante Ghea mendelik saat mendengar perkataan terakhir putrinya itu.


"Kamu bilang apa?" Tanya tante Ghea, memastikan telinganya sedang baik-baik saja.


"Mamah kan baik." Ulang Monik dengan memegang pergelangan tangan tante Ghea.


"Oh, berarti selama ini mamah gak baik?" Tanya tante Ghea dengan meningkatkan oktaf suaranya.


Monik yang kaget langsung menjauhi sang mamah, dan berlindung di balik papahnya.


"Mamah baik dari dulu kok." Jawab Monik dengan pelan.


"Ia, baik di saat kamu mau meminta sesuatu kan?" Tanya tante Ghea.


"Tidak mah." Jawab Monik dengan cepat.


Tante Ghea mengangguk saja, lalu kembali membaca majalah, karena tidak mau meningkatkan dara tingginya itu.


"Mamah, kita pergi ke puncak kan besok?" Tanya Monik dengan senyum manisnya.


"Tidak." Jawab tante Ghea.


Jawaban dari sang mamah membuat senyuman Monik pudar, dan kembali memasang wajah sedihnya.


"Mah...." Kata Monik dengan rayuan, tetapi tidak di hiraukan oleh tante Ghea.


"Mah."


"Mamah."


"Mamah...."


"Ia kan saja Ghea." Kata uncle Rizky pada tante Ghea.


Tante Ghea menurunkan majalahnya, lalu menatap suaminya itu, "Kamu tahu besok sekolah?" Tanya tante Ghea.


"Ia, tahu, tapi gak ada salahnya izin kan?" Tanya uncle Rizky.


Tante Ghea memutar bola matanya dengan malas, lalu kembali membaca majalahnya itu.


"Mamah."


"Tante, izin aja yah."


"Mamah."


"kita kan cuma tiga hari saja tan."

__ADS_1


"Mamah...."


"Mah."


"Mah."


"Mah."


Buk.


Suara buku yang di tutup dengan kasar. Kemudian di letakkan di atas meja.


Semua menatap tante Ghea yang Kelihatan marah itu. Monik menundukkan kepalanya dengan takut.


"Oke, kita semua akan ke puncak besok." Pasrah tante Ghea dengan suara lembutnya.


Semua keluarga masi mencerna perkataan tante Ghea, tidak lama.


"Yes! Makasih mah." Kata Monik dengan gembira, lalu memeluk tante Ghea.


"Yes." Senang bang Devin.


"Liburan!" Kata bang Bendra dengan gembira.


"Besok pagi." Kata uncle Rizky dengan mengelus puncak kepala Monik.


"Makasih pah." Jawab Monik dengan gembira.


"Kalau gitu kita berkemas, besok kan berangkat pagi." Ucap papah Abson.


"Hem ia, tapi Monik bisa ajak Leo?" Tanya Monik dengan hati-hati.


Keluarga saling pandang, lalu mengangguk sebagai jawaban.


"Makasih." Jawab Monik dengan gembira.


"Sekalian sama Cakra dan Panji yah." Tambah bang Devin.


"Ia." Jawab uncle Rizky.


"Ya udah, ayo berkemas." Kata papah Abson lagi.


"Hem, apakah kita tidak tunggu Eli, Devin, dan Uzi?" Tanya mamah Fitri.


"Lebih bagus jika mereka menyusul." Usul papah Abson.


"Ku rasa Abson benar." Tambah uncle Rizky.


Mamah Fitri diam, "Kalau gitu aku menunggu mereka dan jalan bersama." Ucap mamah Fitri.


Mau tidak mau mamah Fana harus mengikuti perkataan suaminya itu, "Baiklah." Jawab mamah Fana, kemudian berjalan ke arah kamarnya.


Bibi Siska yang melihat mamah Fana pergi hanya bisa diam, dia tidak bisa melakukan apapun untuk adik iparnya itu.


"Abson, ku rasa kita harus menunggu merek bertiga." Kata bibi Siska yang berusaha membantu mamah Fana.


"Siska, biarkan saja mereka menyusul." Kata tante Ghea pada Siska.


"Ta-"


"Sudah lah kak. Biarkan saja mereka ikut dari belakang." Kata papah Abson.


Bibi Siska diam, kemudian mengangguk lalu mengajak sang suami untuk ke kamar.


"Grandma dan granpa ke kamar yuk, Monik antar." Kata Monik dengan senyum manisnya.


"Aku jadi merindukan pribadimu yang periang sayang. Kapan kamu kembali seperti itu?" Batin grandma Esti dengan pertanyaan di akhir kalimatnya.


"Ayo nak." Kata grandpa Arga.


"Andai aku memiliki anak seperti Monik." Kata papah Abson yang masi bisa di dengar oleh Monik.


Monika menghentikan langkah kakinya, lalu Berhadapan dengan papah Abson, "Monik bukan hanya anak mamah Ghea dan papah Ardan. Monik juga anak papah Abson kok." Kata Monik dengan senyum manisnya.


Papah Abson terkekeh, lalu mengangguk, "Yah, anak papah Abson juga." Jawab papah Abson.


Monik tersenyum, kemudian ia melanjutkan langkahnya untuk mengantar grandpa dan grandma ke kamar.


"Kalian berkemas." Suruh uncle Rizky pada keponakan-keponakannya itu.


"Ia uncle." Jawab bang Bendra, lalu pergi dari ruang keluarga menuju kamarnya, di ikuti oleh para abangnya.


"Abson, berkemas lah." Suruh uncle Rizky.


Papah Abson mengangguk, kemudian berlalu dari sana, meninggalkan tante Ghea dan uncle Ardan.


...----------------...


"Besok keluarga ke puncak." Kata bang Davin pada Eli dan Uzi, saat mendapatkan pesan dari kembarannya itu.


"Lalu?" Tanya bang Uzi.


"Kita nyusul, besok." Jawab bang Davin.


"Tidak bisa." Jawab Eli.


"Kenapa?" Tanya bang Uzi.

__ADS_1


"Besok aku mau cari tahu lebih dalam lagi soal peristiwa yang terjadi di kampung ini." Jawab Eli.


"Mending tidak usah. Kita tujuannya kesini untuk membantu perekonomian atau memperbaiki sesuatu." Kata bang Davin.


"Membantu mencari tahu tentang kasus-kasus di desa ini juga termasuk." Kata Eli.


"Ta-" Perkataan bang Uzi yang terpotong.


"Kalau abang-abang tidak mau. Pergi saja kepuncak besok, karena Eli mau mau di sini dengan yang lain." Kata Eli, lalu berjalan memasuki bangunan balai desa.


Tadi Eli, bang Uzi, dan Davin berada di luar, sambil meminum teh hangat yang di buat oleh ibu janda.


"Ya udah bang, besok kita di sini aja sama Eli. Kita bantu juga, supaya cepat kelar, dan bisa liburan." Kata bang Davin.


"Hem." Dehem bang Uzi.


Hening, mereka sibuk dengan hp masing-masing, tiba-tiba.


"Apa itu?!" Tanya bang Davin saat melihat sosok hitam yang berada di rumah tetangga.


"Diam." Suruh bang Uzi, kemudian melangkah ke belakang pohon.


"Takut juga kan lo bang?" Tanya bang Davin dengan remeh.


Bang Uzi tidak menghiraukan Davin, mata tajamnya terus menatap sosok bayangan hitam itu. Namun bayangan itu tiba-tiba lenyap begitu saja.


"Ku rasa dia hantu." Kata bang Uzi tanpa sadar.


Abang Uzi dan Davin saling pandang, wajah datar mereka terlihat sangat pasi, kemudian berlari memasuki balai desa.


"Kenapa?" Tanya Andre lalu meminum teh hangatnya itu.


"Hantu." Jawab bang Uzi dan Davin.


Byurrrrrrrrrr.


Teh yang di minum Andre langsung di semprot keluar, dan mengenai kaki Arya yang di lipat.


"Jorok!" Kata Arya lalu mengelap kakinya di baju Andre.


Andre tidak pusing dengan Arya, "Di mana?" Tanya Andre dengan pelan.


"Di rumah warga yang ada di depan balai desa, tapi di sampingnya." Jawab bang Davin.


"Itu bukan rumah nya Raya?" Tanya Eli.


"Raya mana?" Tanya Abi.


"Anak kecil yang baru berusia satu tahun. Mau masuk dua tahun bulan depan." Jawab Eli.


"Ada apa yah?" Taya Arya.


"Nak! Nak!" Panggil ibu-ibu dengan berlari, bahkan sampai hampir jatuh.


Eli yang melihat ibu-ibu itu, langsung berlari ke arah nya, "Ada apa bu?" Tanya Eli.


"Ra-Raya nak." Jawab ibu itu tadi dengan nafas yang tidak beraturan.


"Bayu! Ambil air." Suruh Eli.


"Bu, ayo duduk dulu." Suruh Eli.


Teng teng teng teng.


Suara ketukkan dari luar balai desa membuat mereka semua berlari untuk melihat nya.


"Ya ampun." Kata Arya dengan membuka lebar mulutnya, saat melihat saringan makanan dan sutil yang menjadi bahan tepukan mereka.


"Good!" Kata Andre dengan takjub.


"Ada apa yah pak, bu?" Tanya Zidan saat melihat semua warga berkumpul.


"Anak saya hilang." Kata seorang bapak.


"Abi! Raya hilang!" Teriak Eli dari dalam dengan berlari ke arah Abi.


"Bapak-bapak dan ibu-ibu silahkan masuk dulu." Kata Abi dengan mempersilahkan para warga masuk.


"Abi, Raya hilang...." Kata Eli dengan air mata yang sudah jatuh dari kelopaknya.


"Tenang, kita akan cari bersama. Kamu kalau kayak gini, tidak bisa mendapatkan Raya." Ucap Abi, membuat Eli menenangkan dirinya.


"Kalian bangun tenda di halaman." Suruh Abi pada anggota Clouts, dan langsung di jalan kan.


"Untuk kalian, meretas jejak Raya." Suruh Abi pada inti Clouts, bang Uzi dan Davin.


"Baik." Jawab mereka, lalu kembali masuk untuk mengambil tas.


"Abi." Panggil bang Uzi saat teringat sesuatu.


"Ada apa?" Tanya Abi.


"Apa semua ini ada sangkut pautnya dengan hantu tadi?" Tanya bang Uzi.


"Hantu?" Beo Eli dan Abi.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2