Elena'S Transmigration Story

Elena'S Transmigration Story
Lima Puluh (Siapa?)


__ADS_3

"Jadi?" Tanya Ferni to the poin.


"Gue mau kita kerja sama menghancurkan dia." Ucap orang satu.


Ferni menatap dengan bingung perempuan yang ada di hadapannya itu. Anggun melihat ponselnya dengan sesekali memperhatikan empat perempuan cantik di hadapannya. Cakra dan Panji, dia hanya diam saja, mereka berdua akan mengikuti alur nanti.


Ting.


Ponsel Arya bergetar menandakan adanya pesan masuk. Arya mengerutkan kening saat mendapatkan pesan dari, Andre.


"CK! Duduk di sebelah, tapi kirim pesan." Kesal Arya, tetapi tetap membalas pesan dari Andre itu.


Andre


Lo kenal mereka berempat?


^^^Kagak.^^^


Selesai membalas pesan Andre, Arya izin ke toilet karena tidak tahan untuk menyelesaikan panggilan alamnya.


Saat sampai di toilet, Arya memasuki salah satunya, "Huh, lega." Ucap Arya saat selesai menyelesaikan panggilan alamnya.


Saat Arya akan keluar dari toilet, tidak sengaja pandangannya melihat ke atas pembatas dinding. "Nih orang ngapain?" Tanya Arya dengan bingung saat mendapatkan celana pria yang tergantung.


Dengan pelan, Arya memanjat dan melihat di sebelah toilet yang berada di samping nya. "Gue emang liar. Gak sopan banget!" Ucap Arya dan turun dari kegiatan manjat, sebelum melihat orang yang berada di samping toilet nya.


Saat Arya akan membuka pintu toilet, ia di kaget kan dengan flashdisk berwarna hitam, serta kartu memori yang berukuran kecil. "Rio?" Tanya Arya dengan memutar-putarkan flashdisk berwarna hitam itu, yang terdapat nama Rio.


"Nih lagi kartu memori, kenapa gak di masukin hp coba?!" Ucap Arya dengan misa-misu sendiri.


"Dih. Gue napa dah? Orang punya barang kok gue yang sewot." Ucap Arya pada dirinya sendiri, kemudian keluar dari toilet.


"Lah, orang tadi sudah gak ada?" Tanya Arya pada dirinya sendiri, saat melihat toilet yang di samping nya tadi telah kosong.


"Ngeri!" Kata Arya dengan bergidik, kemudian lari keluar toilet.


...----------------...


Ting.


Bang Uzi membuka pesan yang baru saja masuk, dan ternyata dari Andre. "Tumben." Ucapnya dengan pelan saat melihat nama Andre.


Andre


Bang, ada empat orang yang ajak kerja sama.


Bang Uzi yang membaca pesan singkat itu hanya mengangguk, kemudian menggerakkan ibu jari jempolnya di atas layar hp.


^^^Bikin pertemuan lagi besok.^^^


Selesai membalas, bang Uzi berjalan ke arah Eli yang sedang duduk bersama di meja makan restoran.


"Kamu mau ke puncak?" Tanya bang Uzi pada Eli.


Eli yang di tanya hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Jawaban Eli tentu saja membuat bang Davin bingung.


"Kenapa?" Tanya bang Davin.

__ADS_1


"Mau istirahat." Jawab Eli, kemudian menyandarkan kepalanya pada dada bang bang Uzi.


Abi yang melihat Eli sandar di bang Uzi, langsung menarik nya dalam dekapan. Hal itu membuat Eli harus memejamkan matanya dengan erat, karena merasakan pusing.


"Lo bisa untuk tidak tarik dia terlalu kencang?" Tanya bang Uzi dengan datar pada Abi.


Abi menatap bang Uzi dengan datar, lalu beralih untuk melihat Eli, "Aku kasar?" Tanya Abi pada Eli.


Eli mengangguk sebagai jawaban, kemudian menjauhkan dirinya dari dekapan Abi, "Aku mau ke toilet." Pamit Eli, kemudian pergi ke toilet.


Untuk saat ini, inti Clouts, bang Uzi, Davin, dan tentunya Eli, sedang berada di Jakarta, yah mereka telah kembali. Selesai pembantaian di desa Dirgayu, mereka memutuskan untuk kembali. Daniel? Dia ke AR Hospital, untuk mengontrol pasukan yang terluka, dan melihat para sandra. Riyan? Dia juga berada di AR Hospital untuk melihat para sandra.


Ting.


Ponsel Eli bergetar, dan melihat adanya pesan masuk di aplikasi WhatsApp. Eli lap tangannya dengan tisu, kemudian mengambil hp nya dan melihat pesan dari....


"Sila?" Tanya Eli dengan bingung.


Sila


Hay kakak ipar.


Eli yang membaca pesan tersebut langsung bergidik ngeri. "Nih orang napa?" Tangannya pada diri sendiri, dengan pandangan yang menjelajah isi kamar mandi, "Pas lagi sendiri di dalam kamar mandi." Ucap Eli, lalu memainkan ibu jarinya di atas layar hp.


^^^Inti.^^^


Eli membalas pesan tersebut, kemudian berjalan keluar dari kamar mandi. Baru saja tiga meter dan.


Ting.


Temui gue di AR Cafe, jam 19.00. Jika telat, lo akan menyesal.


Eli yang membaca pesan itu, mengerutkan dahinya dengan bingung, kemudian membalas.


^^^Hem.^^^


Selesai membalas, Eli kembali memfokuskan pandangan pada jalanan, tetapi saat baru saja mengangkat kepala.


Bugh.


"Sial." Batin Eli dengan mengumpat.


Tidak sengaja, Eli bertabrakan dengan orang yang juga tidak fokus pada jalanan yang berada di depan.


"Auh, ini sakit banget." Ucap Eli dengan memegang kakinya yang seperti, terkilir?


"Mengapa harus terkilir?" Tanya Eli dengan membatin.


"Sorry. Sini gue bantu." Ucap orang yang menabrak Eli tadi hingga jatuh.


"Itu?" Pikir Eli dengan ingatan yang di pertajam kan.


"Halo." Sapa orang tadi dengan melambaikan tangan di hadapan Eli, membuat kesadarannya terpenuhi.


Dengan pelan, tetapi pasti, pandangannya mengarah pada orang tadi yang sedang berjongkok di hadapannya.


"Maaf, saya tidak sengaja. Mari saya bantu." Ucap orang tadi dengan senyum tulusnya. Orang tadi menggendong Eli, dan membawanya ke ruang khusus pemilik restoran itu.

__ADS_1


Saat sampai di ruangan khusus pemilik restoran itu, Eli di letakan atas sofa. "Sorry." Ucap orang tadi, lalu memegang pergelangan kaki Eli.


Sedangkan dari tadi, Eli hanya diam saja seperti terhipnotis. "Siapa?" Tanya Eli yang baru saja mengambil alih kesadarannya.


Orang tadi menatap Eli, kemudian tersenyum tipis, "Kevin. Kevin Arga Dirgantara." Jawabnya, membuat Eli menegang di tempat, tetapi.


"Auh. Sakit." Ucap Eli dengan meringis.


Orang tadi yang ternyata bernama Kevin, hanya tersenyum sebagai penangkapannya, "Sorry. Kaki lo udah baikan. Coba putar, atau tidak jalan." Ucap Kevin, lalu berdiri dari jongkoknya tadi.


Eli memutarkan pergelangan kakinya, kemudian berdiri dari duduk untuk mencoba berjalan.


Kevin yang berada di meja khusus pemilik restoran itu dapat melihat Eli yang sedang mencoba berjalan, "Bagaimana? Apa masi sakit?" Tanya Kevin.


Eli berdiri di tempatnya, kemudian menatap Kevin dengan senyum tipisnya, "Tidak. Terimakasih." Ucap Eli dengan tulus.


"Sama-sama." Jawab Kevin.


"Kamu pemilik restoran ini?" Tanya Eli.


Kevin mengangguk, "Ia." Jawabnya.


"Oke. Kalau begitu, saya kembali. Terimakasih, dan maaf." Ucap Eli, kemudian berjalan untuk keluar dari ruangan tersebut.


"Tunggu." Cegah Kevin, dan berdiri dari duduknya.


Eli berbalik untuk menatap Kevin, kemudian mengangkat satu alisnya, sebagai pertanyaan.


"Terimakasih untuk apa?" Tanya Kevin dengan bingung.


"Tadi saya juga menabrak mu karena tidak fokus pada jalan." Jawab Eli.


Kevin tertawa kecil, "Ia yah. Tidak masalah." Jawab Kevin.


"Oke. Saya keluar dulu, terimakasih." Kata Eli, kemudian keluar dari ruangan tersebut.


...----------------...


"Kenapa kamu bisa kenal sama Monik?" Tanya Anggun dengan santai.


"Hem, gak bisa di jawab." Jawab orang stau.


"Kenapa?" Tanya Ferni.


"Gak papa." Jawab orang satu.


"Bisa di jawab, saat rencana kita berhasil." Ucap orang dua, yang sedang memainkan ponselnya.


"Tunggu. Gue kayak kenal lo." Ucap Anggun dengan memperhatikan wajah orang dua.


Orang dua mengangkat kepalanya, dan menerbitkan senyum manis, "Masa?" Tanya orang dua.


"Lo Sila kan?" Tanya Ferni dan Anggun bersama.


Bersambung....


- Untuk pernyataan siapa Kevin, dan empat orang tadi, akan di bahas pada part selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2