
"Bang!" Teriak Sila dari lantai atas.
Ando yang sedang minum teh nya di lantai dasar terkejut, membuat gelasnya jatuh dan pecah.
Di tangga, Sila dapat melihat apa yang baru saja terjadi dengan abang nya itu. "Ais, habis lah aku." Pikir Sila dengan meringis.
Saat ini, Ando dan Sila sedang berada di rumah orang tuanya, mereka pulang malam dari kediaman Prayaga, sebelum adanya rencana ke Puncak.
"Bisa gak, kalau panggil jangan berteriak?" Tanya Ando dengan kesal. "Ingat! Ini rumah, bukan kebun binatang. Kayak orang berteriak karena melihat hewan aja lo." Lanjut Ando dengan mencibir.
"Lah, emang ada orang berteriak di kebun binatang?" Tanya Sila dengan bingung, kakinya melangkah ke arah sofa di samping rak-rak boneka.
Ando mengambil pecahan kaca itu, "Ada." Jawab Ando.
"Siapa?" Tanya Sila dengan tangan yang mengambil kue bolu di atas meja.
"Lo lah!" Sewot Ando karena adik nya itu terlalu banyak tanya.
"Loh, kok gue bang? Emang kapan gue teriak?" Tanya Sila dengan kesal, tidak terima jika dirinya yang berteriak di kebun binatang.
Ando memutar bola matanya dengan malas, pecahan kaca tadi dia letakkan dalam tempat sampah yang ada di samping sofa. Pecahan kaca itu akan dia buang, sesudah berbicara dengan adik cerewetnya itu.
Ando berdiri di samping sofa tempat duduknya tadi. Tangannya ia masuk kan dalam saku celana, dan menatap Sila dengan serius. "Tadi lo teriak." Jawab Ando.
Sial memikirkan sesuatu, "Tadi kan abang bilang ini rumah, bukan kebun binatang. Kenapa sekarang namanya jadi kebun binatang?" Tanya Sila dengan bingung, sedang kan Ando memijit keningnya sendiri.
"Kalau abang bilang Sila teriak di kebun binatang. Dan kebun binatang nya adalah rumah mommy dan daddy, maka...." Lanjut Sila dengan menggantung di akhir kalimatnya.
"Salah jawab gue." Batin Ando.
"Maka abang adalah hewannya." Sambung Sila dengan mata tajam serta wajah serius buatannya.
Ando melotot kan matanya, "bisanya dia mengatakan seperti itu." Pikir Ando.
"Lo bilang abang hewannya?" Tanya Ando yang masi belum percaya.
Sila menegakan tubuhnya, "Tadi abang bilang rumah ini adalah kebun binatang. Dan Sila berteriak kayak di kebun binatang. Di sini hanya ada abang dan Sila. Dan tadi kan Sila yang berteriak. Jadi kan abang yang hewannya. Gimana sih????" Jelas Sila dengan terbelit-belit, membuat Ando semakin bingung.
"Tapi kenapa abang yang hewannya?" Tanya Ando, sekarang dia sudah berdiri dengan tegap.
Sila menyandarkan tubuh nya di sofa dengan kasar, "Tadi kan abang bilang ini kebun binatang." Jawab Sila.
"Yah tapi kan di sini ada abang dan Sila." Balas Ando.
"Ia. Sayangnya Sila yang berteriak, berarti kan manusia. Ia kan?" Kata dan tanya Sila.
"Ia." Jawab Ando, karena Sila memang manusia kan?
"Berarti abang hewannya!" Sambar Sila dengan cepat.
Ando menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tidak setuju dengan pemikiran adiknya itu. "Abang manusia." Kata Ando dengan tegas.
Sila memutar bola matanya dengan malas, "Dalam cerita tadi, abang berperang sebagai hewan. Rumah sebagai kebun binatang. Dan Sila manusia." Jelas Sila dengan pelan.
Ando berjalan mendekati Sila, dan duduk di sampingnya, "Jangan abang juga lah." Kata Ando.
"Lah bang, kalau kebun binatang gak ada hewannya. Namanya jadi apa dong?" Tanya Sila.
Ando memikirkan jawaban yang pas. Takut jika jawabannya kembali memakan dirinya sendiri.
"Lama." Cibir Sila, dan berdiri dari duduknya.
"Mau ke mana?" Tanya Ando.
"Kebun binatang!" Teriak Sila dengan berlari keluar dari rumah.
Ando memikirkan sesuatu, sepertinya ada yang kurang, tapi apa?
"SILA! MOBIL KAMU ABANG SITA KARENA TADI KASI PECAH GELAS!" Teriak Ando.
Sedangkan Sila yang sudah berada di dalam mobil langsung menutup raat-rapat telinganya. "Buset dah, suara abang kayak singa mengaung. Gede." Kata Sila lalu tertawa.
Sila mengeluarkan mobilnya dari garasi, sebelum sang abang menyita. Sebenarnya Sila sudah tahu apa yang akan di lakukan Ando karena berteriak, dan gelasnya pecah. Untungnya, otak dan mulut cerewet Sila sedang bekerja sama tadi, jadinya bisa melabuhi Ando.
"Maafin Sila yah bang." Kata Sila saat sudah membawa mobilnya keluar dari gerbang rumah.
__ADS_1
...----------------...
"Maaf lama." Kata Monik pada cowok yang sedang duduk santai, namanya Dimas.
"Tidak masalah. Tadi masi urus Leo?" Tanya Dimas
"Ia." Jawab Monik.
"Aku udah pesan makanan, tunggu aja." Kata Dimas.
Yah, saat ini Monik sedang berada di kafe bersama Dimas.
Ting.
Ponsel Monik berbunyi, tangannya membuka pesan tersebut, yang ternyata dari Bela.
Bela
Lo di mana? Leo mau ke rumah gue.
Monik yang membaca pesan tersebut, langsung ling-lung.
"Kenapa?" Tanya Dimas.
"Bela tanya aku ada di mana. Leo juga katanya mau ke rumah Bela." Jawab Monik dengan panik.
"Tenang, jangan dulu panik." Kata Dimas yang menenangkan Monik.
Monik menenangkan dirinya, seraya memikirkan sesuatu.
"Telpon guru itu, bilang kalau kamu bersamanya, jika ada yang bertanya. Kemudian bilang pada Bela, kalau kamu sibuk sama guru, lalu mati kan hp mu." Kata Dimas dengan pelan.
"Oke." Jawab Monik, dan melakukan apa yang tadi di katakan oleh Dimas.
"Sudah." Kata Monik saat sudah selesai menelpon guru, dan mengirimnya pesan pada Bela.
"Bilang pekerja di rumah mu cuti selamat sehari." Suruh Dimas.
"Buat apa?" Tanya Monik dengan bingung.
"Kamu udah janji akan menghabiskan waktu satu hari penuh bersama ku." Jelas Dimas dengan datar.
"Dan aku mau itu di rumah mu." Jawab Dimas lagi, dengan wajah datarnya. Jujur saja, Dimas merasa kesal karena Monik yang tidak ingat pada janji nya.
Monik tertawa, tangannya mengelus wajah Dimas yang datar itu, kemudian mencium pipinya.
"Aku bercanda sayang." Kata Monik dengan sisa tawanya. "Aku tidak lupa dengan janjiku." Lanjut Monik.
"Hem." Dehem Dimas.
"Jangan marah." Kata Monik.
"Tidak." Jawab Dimas.
"Permisi, ini pesan nya." Kata pelayan kafe itu dengan meletakkan dua pirang spaghetti beserta jus mangga.
"Terimakasih." Jawab Dimas dan Monik.
"Ia, selamat menikmati. Saya permisi." Kata pelayan kafe itu kemudian berlalu dari tempat Dimas dan Monik.
"Makan, habis itu kita pulang." Kata Dimas yang di angguki oleh Monik.
Jika kalian bertanya, "Dimas dan Monik mempunyai hubungan?" Maka jawabannya adalah ia. Ingat saat Ferni mengikuti Monik dan merekam adegan 21+ mereka berdua? Di saat Leo dan sahabatnya mencari Monik? Saat Anggun menanyakan nama cowok itu, tetapi tidak jadi di katakan. Ingat? Jika ingat cowok itu adalah Dimas, kekasih Monik.
...----------------...
"Udah lo foto?" Tanya orang satu.
"Sudah." Jawab orang dua.
"Suruh dia mematikan CCTV." Suruh orang tiga.
"Oke." Jawab orang dua.
"Sudah?" Tanya orang satu.
__ADS_1
"Hem, tunggu." Jawab orang dua, "Sudah." Lanjut orang dua.
"Ayo." Ajak orang empat.
"Kali ini, lo akan habis secara perlahan." Batin ke empat orang tadi.
...----------------...
"Minum tehnya." Suruh Lia, ibu nya Raya.
"Ia bu. Makasih." Ucap Eli, dengan menerima segelas teh hangat.
Bu Lia duduk di samping Eli, "Apa mereka sudah menemui Raya?" Tanya bu Lia.
Eli menatap bu Lia yang berada di sampingnya, mengambil pergelangan tangan, kemudian mengelus nya dengan lembut. "Bu, kita berdoa saja, supaya pencariannya berhasil. Kalau ibu tanya seperti itu ke Eli, jawabannya adalah gak tahu. Karena Eli tidak bisa menghubungi mereka." Jawab Eli.
Air mata bu Lia mengalir, dia takut jika Raya sedang tidak baik-baik saja. Raya adalah anak satu-satunya, seorang putri kecil yang di nanti kan kehadiran nya. Namun, sekarang putri nya hilang, entah berada di mana.
Ting.
Ponsel Eli berbunyi, dengan cepat dia membuka pesan yang baru saja masuk.
Daniel
Kami sudah berada di desa Dirgayu.
Jari jempol Eli menari-nari di atas layar hpnya, mengetik balasan pesan untuk Daniel.
^^^Ke balai desa. ^^^
Eli meletakkan hp di atas laptopnya, kemudian mengajak bu Lia berdiri, "Ayo bu ke dalam, istirahat. Eli mau urus sesuatu." Kata Eli.
Bu Lia dan Eli memasuki gedung balai desa, tidak lama dua puluh dua orang berdiri di tempat Eli duduk tadi.
"Salam Queen." Ucap dua Puluh dua orang tadi, saat melihat Eli keluar dari gedung dengan menggunakan masker kainnya.
"Hem." Dehem Eli dengan menganggukkan kepalanya.
Eli mengambil sebuah kertas yang di gulung-gulung, kemudian membukanya, "Daniel, bantu saya." Kata Eli dengan memberikan kertas tadi pada Daniel.
"Semuanya, perhatikan." Ucap Eli dengan tegas. "Ini adalah peta desa Dirgayu. Cari anak-anak yang hilang melalui peta ini. Saya butuh lima orang saja. Buat barisan sendiri." Ucap Eli.
Lima orang telah membuat barisan nya sendiri. Eli kembali mengambil kertas yang di gulung-gulung cukup besar dan panjang, kemudian memberikan nya pada Daniel. "Satu orang bantu Daniel untuk pegang." Suruh Eli, dan dengan cepat satu orang maju membantu Daniel.
"Ini adalah peta hutan, yang mengelilingi desa Dirgayu. Saya butuh setiap lima orang, ke arah selatan, barat, dan utara. Buat barisan sendiri." Ucap Eli, dan dengan cepat, mereka membuat baris yang terdiri atas lima orang.
"Saya mau ingatkan, berhati-hati dalam pencarian ini. Karena ini tidak cuma satu kasus, tetapi tiga, ada pencurian anak, maling, dan hantu palsu." Jelas Eli yah di angguki mereka.
"Berdoa." Suruh Eli, kemudian mereka membuat lingkaran dengan tangan yang saling bergandengan, kemudian berdoa sesuai keyakinan.
"Amin." Serempak mereka.
"Baik, kalian berhati-hati, saya dan Daniel akan menyusul." Kata Eli, lalu melangkahkan kakinya ke arah tumpukan gulungan kertas.
"Siap." Jawab mereka dengan serempak.
"Ini peta khusus tiap tim." Kata Eli dan memberikan peta pada masing-masing tim, dan di terima oleh mereka.
"Terimakasih, tetapi per tim bisa dapat satu peta saja." Kata orang satu.
"Untuk jaga-jaga. Jika kalian terpisah, maka aman. Tiap Tim membuat tanda pertemuan, sebelum terpisah." Jelas Eli dan di mengerti dengan baik oleh mereka.
"MORGENSTER?!" Ucap Eli dengan lantang.
"ETERNAL!" Jawab mereka dengan tegas, sambil mengepalkan tangannya di udara.
"Hati-hati." Kata Eli, kemudian mereka meninggal kan tempat tadi.
"Daniel, siap kan barang-barang nya." Suruh Eli.
"Baik." Jawab Daniel dan berlalu dari tempat itu.
Daniel? Yah, dia Daniel Chandrayaga, tangan kanan Morgenster. Ingat saat Eli di datangi oleh seseorang bertubuh tegap di kediaman Prayaga? Saat itu Eli meminta seseorang untuk merenovasi ruangan di lantai tiga, yang sekarang menjadi kamar. Ingat? Jika ia, maka orang misteri itu adalah Daniel.
Morgenster? Morgenster adalah geng motor yang di diri kan oleh Aurora Elena Keyson, dan pusatnya berada di Belanda. Morgenster sendiri dari bahasa Belanda, yang artinya, Bintang Kejora. Morgenster adalah geng yang di kenal baik oleh masyarakat, tetapi kata kejam ada di di dalam jiwa anggota Morgenster, apa lagi sang ketua. Simbol dari geng Morgenster yaitu, tiga bintang dengan pedang di samping kanan kirinya.
__ADS_1
MOTO MORGENSTER: BERANI MENGUSIK? SIAP DI TERKAM!
Bersambung....